Sebuah tragedi memilukan menghancurkan hidup gadis ini. Pernikahan impiannya hancur dalam waktu yang teramat singkat. Ia dicerai di malam pertama karena sudah tidak suci lagi.
Tidak hanya sampai di situ, Keluarga mantan suaminya pun dengan tega menyebarkan aibnya ke seluruh warga desa. Puncak dari tragedi itu, ia hamil kemudian diusir oleh kakak iparnya.
Bagaimana kisah hidup gadis itu selanjutnya?
Ikuti terus ceritanya, ya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aysha Siti Akmal Ali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Akibat kejadian itu, Susi sampai jatuh sakit. Ia begitu malu dan bahkan tidak berani keluar rumah untuk menampakkan wajahnya di hadapan para warga Muara Asri. Bukan hanya itu, Susi pun melarang Virna untuk bermain bersama teman-temannya dan hal itu membuat Virna makin kesal kepada Dea.
"Ini semua salah Tante Dea! Gara-gara tante, aku sampai diledekin teman-temannya!" kesal Virna sambil menghentakkan kakinya dengan keras ke lantai.
"Ya. Kamu benar, Virna! Semua ini salah Tantemu itu. Seandainya saja dia mendengarkan kata-kata Ibu pada malam itu, mungkin hal ini tidak akan pernah terjadi. Bahkan pernikahannya bersama Julian pun akan baik-baik saja," sambung Susi yang saat itu sedang duduk di ruang televisi bersama Virna.
Plaster pereda sakit kepala masih menempel di kedua sisi kening Susi dan wajahnya pun terlihat memucat.
Dea yang sedang duduk termenung di salah satu sudut sofa, tidak bisa berkata apa-apa. Sebab ia pun sadar, apa yang dikatakan oleh Susi barusan memang benar adanya. Semua ini terjadi karena kesalahannya. Karena ia tidak mendengarkan apa yang diucapkan oleh Susi pada malam itu. Dea bersikeras menemui Julian dan sekarang ini lah akibatnya.
Jika Susi memilih mengurung diri di rumahnya dan menjauh dari warga desa untuk sementara, berbeda dengan Herman. Lelaki itu tetap melakukan rutinitasnya sama seperti biasa. Ia tidak peduli apapun yang dibicarakan oleh warga desa tentang keluarga kecilnya. Karena yang ada di pikirannya saat itu hanya satu. Anak, istri serta adiknya masih membutuhkan makan dan minum. Jika ia tidak bekerja, maka keluarga kecilnya pun akan terancam kelaparan.
Tok ... tok ... tok ....! Terdengar suara ketukan dari luar.
"Siapa itu?" gumam Susi dengan alis berkerut. Dia memasang telinganya dengan baik untuk mendengarkan suara dari balik pintu tersebut.
"Biar aku saja yang bukain pintunya ya, Bu," pinta Virna tanpa di suruh.
"Ya, tapi sebelum membuka pintunya, intip dulu dari balik kaca. Siapa tahu orang itu berniat jahat!" sahut Susi lagi.
"Baik, Bu!"
Virna pun bergegas menuju pintu utama rumahnya. Dan seperti pesan Ibunya barusan, ia pun mulai mengintip dari balik kaca jendela untuk melihat siapa yang menjadi tamunya.
Virna membulatkan matanya dengan sempurna setelah tahu siapa yang sedang berdiri di balik pintu tersebut. Virna kembali berlari menuju ruang televisi untuk memberitahu siapa tamu mereka kali ini kepada Susi.
"Bu! Bu!" panggil Virna dengan setengah berbisik. Virna menghampiri Ibunya kemudian menepuk-nepuk lengan wanita itu berulang-ulang.
"Apa, sih!" kesal Susi sambil melototkan mata kepada anak perempuannya itu.
"Bu, apa Ibu tahu siapa yang menjadi tamu kita kali ini?" ucap Virna dengan sangat antusias.
"Kalau Ibu tahu tidak mungkin Ibu menunggu jawabanmu sejak tadi, Virna!" sahut Susi yang semakin kesal. Kepalanya sudah sakit dan rasanya mau pecah, sekarang anak perempuannya itu mulai mengajaknya bermain tebak-tebakkan.
Sementara Dea masih diam sambil memperhatikan dan mendengarkan perbincangan kedua wanita beda generasi di ruangan tersebut.
"Sudah! Jangan bermain teka-teki lagi, Virna! Katakan saja siapa yang ingin bertamu ke rumah kita sekarang," kesal Susi lagi.
"Baiklah, baiklah!" Virna pun akhirnya mengalah. "Di luar ada suaminya Tante Dea bersama seorang wanita dan juga seorang laki-laki."
"Apa?!" pekik Dea dan Susi bersamaan.
"Julian maksudmu, Vir? Lalu, siapa wanita dan laki-laki itu?" sambung Susi dengan wajah serius.
"Ya, Bu. Om Julian. Dan Virna tidak tahu siapa laki-laki dan wanita yang datang bersama Om Julian barusan. Pokoknya Virna tidak pernah melihat mereka dan mereka bukan orang kampung sini," sahut Virna.
Mendengar penjelasan Virna barusan, Dea pun segera bangkit dari posisinya kemudian bergegas menuju pintu utama. Suara ketukan itu terdengar semakin kuat dan semakin cepat saja.
Ternyata Susi dan Virna pun penasaran. Mereka mengikuti langkah Dea dari belakang dan berhenti di jarak yang cukup aman. Di mana mereka masih bisa memantau tamu-tamunya tersebut dari tempat itu.
"Kita di sini saja, Virna. Biar saja Dea yang menghadapi tamu-tamunya," bisik Susi kepada Virna.
"Baik, Bu."
Setibanya di sana, Dea pun bergegas membuka pintu tersebut. Dea memperhatikan ketiga tamunya dengan seksama. Ya, apa yang disampaikan oleh Virna memang benar. Tamunya kali ini adalah Julian, seorang wanita cantik yang kini tersenyum padanya, dan seorang laki-laki dengan pakaian yang begitu rapi.
"Boleh kami masuk? Ada sesuatu yang ingin kami bicarakan padamu dan ini sangat penting!" ucap Julian dengan tatapan dingin menatap Dea.
Dea pun mengangguk pelan kemudian membukakan pintu rumahnya lebih lebar lagi. "Silakan masuk, tapi berjanjilah untuk tidak membuat keributan lagi," sahut Dea.
"Ya, kami berjanji tidak akan membuat keributan."
...***...