Rey adalah manusia yang diubah menjadi anomali-monster kanibal yang sengaja dijadikan tameng oleh para penjajah halus di Paradise. Menganggap nasibnya sebagai hukuman atas dosa masa lalu, ia menemukan sosok yang ia anggap sebagai ibu keduanya. Namun, kasih sayang Dwi ternyata hanyalah manipulasi. Perlahan, jati diri dan kewarasan Rey dihancurkan hingga melahirkan The Luna, seorang psikopat yang rela mempertaruhkan sisa kemanusiaannya demi melindungi Dwi dari hukuman mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon likaa0_0, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 30 surga ini terlihat seperti neraka
"setelah kejadian itu PKA atau penjara khusus anak. aku disini diminta untuk mendekam sekaligus mempertanggungjawabkan semua kesalahan dan dosa apa yang aku perbuat, aku disana benar-benar di didik keras menjadi seorang anak yang patuh serta taat terhadap hukum.
Selama melakukan kegiatan disana aku selalu di hantui oleh sesosok mendiang mamaku. Hingga suatu hari seorang pria misterius menjemputku di penjara, yang awalnya aku mengira orang itu adalah orang baik, pria itu menjanjikan sebuah tempat seperti surga. Namun itu semuanya salah. diriku malah di bawa ke sebuah laboratorium untuk menjadi kelinci percobaan, dan aku merasa pantas atas semua penyiksaan ini untuk menebus semua dosaku."
Di sebuah laboratorium putra sedang terkurung di dalam tempat yang di pasang oleh sekat-sekat pelindung. Putra sedang duduk disana sendirian di dalam "setelah kejadian itu PKA atau penjara khusus anak. aku disini diminta untuk mendekam sekaligus mempertanggungjawabkan semua kesalahan dan dosa apa yang aku perbuat, aku disana benar-benar di didik keras menjadi seorang anak yang patuh serta taat terhadap hukum.
Selama melakukan kegiatan disana aku selalu di hantui oleh sesosok mendiang mamaku. Hingga suatu hari seorang pria misterius menjemputku di penjara, yang awalnya aku mengira orang itu adalah orang baik, pria menjanjikan sebuah tempat seperti surga. Namun itu semuanya salah diriku malah di bawa ke sebuah laboratorium untuk menjadi kelinci percobaan, dan aku merasa pantas atas semua penyiksaan ini untuk menebus semua dosaku."
Di sebuah laboratorium putra sedang terkurung di dalam ruangan yang di pasang oleh sekat-sekat pelindung, serta tempat itu lebih mirip sebuah kandang. Putra sedang duduk disana sendirian dengan kedua kakinya di tekuk kedepan, di dalam ruangan tersebut dengan mengenakan gelang elektronik bertuliskan nomor 090.
tiba-tiba... Seseorang membuka pintu dan masuk kedalam.
Seorang pria dewasa memakai jas berwarna putih polos masuk kedalam. pria tersebut menanyakan kondisiku setelah semalam putra menerima obat yang di suntikkan ke dalam tubuhnya.
"kosong sembilan kosong. Bagaimana kondisimu?"
Putra tidak menjawab dirinya hanya menatap pria sebentar kemudian memalingkan kembali wajahnya.
Pria tersebut kemudian jongkok lalu pria memegang dagu putra lalu, mengarahkan wajah putra menghadap dirinya.
"sepertinya kamu tidak suka di panggil kosong sembilan kosong."
pria itu melepaskan dagu putra
"baiklah mulai sekarang aku panggil dirimu putra"
"itukan emang nama asliku" (ujar putra menggerutu)
Pria itu berdiri.
"putra. Bagaimana kondisi dirimu setelah semalam menerima suntikkan, apakah menimbulkan ruam?"
putra tidak menjawab. dirinya hanya mengangkat satu lengan kanannya kemudian menggulung ujung kain, putra menunjukkan bahwa di lengan kanannya terdapat sebuah ruam merah sebagai untuk menunjukkan reaksi terhadap obat yang di suntikkan ke tubuhnya semalam.
pria tersebut langsung melihat ruam merah lengan kanan putra, pria tersebut langsung tersadar bahwa obat semalam memberikan reaksi alergi bagi putra.
"sepertinya putra punya alergi terhadap obat kemarin, Tenang saja. ini normal itu akan hilang dengan sendirinya nanti"
pria tersebut segera mengenalkan dirinya kepada putra. Karena melihat ekspresi putra yang terlihat muak.
"perkenalkan aku seorang dokter yang bekerja di laboratorium milik athena. Putra bisa memanggilku dokter Haris"
Putra hanya menatap dokter haris. Ia tidak memberikan respon apa-apa, segera dokter Haris mengajaknya keluar ruangan.
Dokter Haris menggandeng tangan putra.
"ayo ikut aku. Mungkin dirimu bosan berada disini"
Putra pun segera berdiri. Dan mulai berjalan mengikuti dokter haris, segera haris mengajaknya keluar dari ruangan yang mirip kandang, Segera dokter Haris membawanya ke taman indoor. Setibanya di taman indoor, Segera dokter haris menanyakan suasana putra setelah mengajaknya ke taman indoor.
"putra. Bagaimana perasaanmu setelah melihat taman ini?"
putra segera meresponnya sambil menggaruk-garuk lengan kanannya yang mengalami ruam kemerahan akibat alergi obat.
"entahlah dok. Tapi ini gatal sekali"
Putra terus menggaruk-garuk.
dokter Haris langsung mengangkat tangan kiri putra. Agar ia tidak menggaruk-garuk ruam itu, dan serta tidak menjadi luka akibat garukan, lalu putra berhasil mengelak dan kembali menggaruk-garuk.
"putra. Ayo ikut dokter Haris"
Dokter langsung menggandeng tangan putra. Setelah melihat reaksi putra yang garukkannya semakin parah, segera mengajak nya pergi menuju ruang pemeriksaan.
di tengah perjalanan putra langsung menanyakan kepada dokter Haris, sebenarnya dirinya di suntik semalam untuk apa.
"dokter Haris. Sebenarnya semalam aku di suntik untuk apa? Lalu obat apa yang dokter masukkan kedalam tubuhku ini?"
"kamu akan tahu sendiri nanti"
Setibanya mereka ke tempat ruang pemeriksaan, Segera dokter haris menyuruh putra duduk di kuris.
"putra kamu duduk dulu disini"
Putra pun duduk.
"putra. kamu sesak napas?"
"tidak"
segera dokter Haris menuju rak obat. dokter Haris pun mengambil dua bungkus obat tablet yaitu Antihistamin dan kortikosteroid untuk sebagai menghilangkan rasa gatal dan ruam kemerahan di putar.
dokter haris memberikan dua bungkus tablet obat dan segelas air mineral kepada putra.
" minum kedua obat ini bersamaan"
Putra pun mengambil dua bungkus tablet segera membukanya. tanpa pikir panjang langsung memasukkan kedalam mulut dan mengambil segela air mineral dari tangan dokter Haris, lalu langsung meminum kedua tablet obat tersebut secara bersamaan.
"Kedua obat Antihistamin dan kortikosteroid mampu mengurangi rasa gatal, serta menekan ruam merah akibat alergi."
tiba-tiba seseorang wanita dokter membuka pintu untuk mencari keberadaan putra.
Krekkk...
Suara pintu terbuka.
dokter haris mengenali betul siapa wanita dokter yang masuk kedalam ruang pemeriksaan itu.
"dokter Melia ada apa. Datang ke sini?"
"aku mencari kosong sembilan kosong. Kamu tau sekarang waktunya untuk pengetesan kepada anomali itu"
Seketika putra bingung mengapa nomor yang di cap dirinya disebut anomali.
"aku baru saja memberikan obat untuk menghilangkan reaksi alerginya."
"apakah itu tidak mengganggunya?"
"tenang saja. itu tidak akan mengganggunya nanti"
Dokter haris menoleh ke arah putra.
"putra nanti ikut dokter ya"
................
setelah putra meminum obat anti alergi tersebut. Segera putra di bawah ke sebuah ruang pengetesan. Ruangan itu begitu lah gelap, tidak ada kaca, tidak ada ventilasi, namun di penuhi kamera pengawas yang mampu merekam dalam kedaan gelap. Putra duduk di kursi yang tertanam sendirian, di depan putra sudah tersedia sebuah meja dan satu piring kosong serta satu lampu tepat di atas kepalanya hanya meneranginya dan mejanya.
Tiba-tiba telat di hadapan putra muncul seorang dengan berpakaian hazmat sambil membawa seember penuh daging mentah segar yang di cincang halus, entah dari mana orang hazmat itu muncul.
orang berpakaian hazmat tersebut berjalan mendekati meja putar dan segera mengserok daging cincang itu kemudian meletakkannya ke piring yang di depan hadapan putra.
"kosong sembilan kosong. Jika dirimu merasa tergiur mencium aroma daging ini makan saja" ujar seseorang rang yang memakai hazmat
"Kamu kira aku ini seekor predator?"
orang hazmat itu tidak menjawab hanya terdiam saja. Ia tetap mengawasi putra seolah-olah menunggu putra untuk menyantap daging tersebut.
Putra menatap orang berpakaian hazmat dengan kebingungan. Mengapa seorang hazmat mematung melihat dirinya, dan apa yang di inginkan. Putra menoleh ke sekeliling setiap sudut ruangan tempat itu begitu gelap, putra tidak dapat melihat apapun karena begitu gelapnya.
Putra kembali menoleh kedepan dan melihat daging cincang yang terletak di atas piring tepat di depannya. Tiba-tiba aroma daging mentah segar yang cincang halus itu menggelitik hidung putra.
Entah mengapa aroma daging mentah memanggil nafsu makannya.
*kenapa. Daging mentah itu begitu lezat ya*
Putra kembali tersadar.
*tunggu. Kenapa aku tiba-tiba bergairah melihat daging mentah itu*
Putra kembali menatap orang hazmat itu dengan tatapan yang mencurigai.
*orang ini kenapa terus menerus menatapku. Apakah dia ingin melihat aku memakan daging ini?*
putra kemudian menoleh ke bawah menggerak-gerakkan kedua kakinya.
clang...clang...
Sebuah borgol yang menyambung di kursi di pasangkan di kedua kakinya. Putra menengok kedua kakinya yang terborgol membuatnya semakin kebingungan apa yang terjadi dan apa yang mereka inginkan.
sekali lagi aroma daging cincang itu menggelitik hidungnya lagi.
entah mengapa putra semakin menahan hasratnya untuk memakan daging itu menjadi-jadi, air liur mulai menetes dari mulutnya, rasa lapar mulai mengendalikannya.
namun putra masih kekeh untuk menahannya. Dirinya mencoba untuk mengelabui rasa laparnya dengan mengangkat tangan kanannya, kemudian ia menarik ujung kain, putra melihat lengan kanannya yang awalnya memiliki ruam merah, menimbulkan rasa gatal kini sudah sembuh setelah meminum obat tablet yang di berikan oleh dokter Haris tadi.
"wah alergiku sudah sembuh" ujar putra untuk mengalihkan rasa laparnya
tetapi orang berpakaian hazmat itu kembali mengsekup daging cincang sekali lagi untuk menambah porsi piring. Putra yang melihat itu dirinya mulai tidak terkendali air liur mulai semakin deras, kedua kakinya meronta-ronta, dan bila mata kirinya kini mulai berubah menjadi merah.
Orang Berpakaian hazmat yang melihat tingkah putra segera berjalan meninggalkan putra sendirian sambil membawa sisa daging cincang di ember, lalu menghilang seketika.
Putra yang semakin kehilangan kendali dirinya tidak bisa menahan rasa hasratnya untuk memakan dagin cincang di depannya. segera putra langsung memakan daging cincang itu begitu lahap hingga habis tak tersisa sedikitpun, Setelah putra menghabiskan semua daging cincang itu tiba-tiba lampu di ruangan itu menyala.
"tes terhadap anomali 090 telah selesai" (suara dari speaker)
Mata putra langsung kembali normal. Dirinya benar kebingungan apa yang terjadi, borgol yang terkunci di kedua kakinya kini terbuka secara otomatis, putra langsung turun dari kursi.
Tiba-tiba sebuah pintu terbuka seorang Professor Fredrik berjalan mendekati putra dengan ekspresi wajah yang begitu cukup terlihat senang namun cukup mencurigakan.
"kosong sembilan kosong. Akhirnya kamu berhasil menyelesaikan tes ini"
Putra yang merasa risih melihat kemunculan dan keberadaan Professor Fredrik.
Profesor Fredrik kemudian mengangkat tangan kanannya untuk memberikan jabat tangannya kepada putra.
"perkenalkan aku profesor Fredrik"
putra mengangkat tangannya dan langsung...
PLAK!!!
Bukannya berjabat tangan putra langsung menampar Professor Fredrik Hingga kehilangan keseimbangan dan jatuh meringkuk tengkurap, kemudian putra langsung menendang perutnya hingga Professor Fredrik mengeluarkan darah di mulutnya.
BRAK!!
Tiba-tiba sirine keamanan di dalam ruangan tersebut berbunyi. putra benar-benar kebingungan apa yang terjadi pada dirinya dan tempat ini..