Ardina harus menerima kenyataan pahit saat mengetahui bahwa bayi dalam kandungannya akan terlahir cacat.
Derita seolah tak berhenti sampai disitu saja, setelah kakak kandung suaminya meninggal, Farhan diberi amanah untuk menikahi mantan kakak iparnya yang sedang dalam kondisi baru saja melahirkan bayi.
Ardina merasa semakin asing di rumah mertuanya, sebab Sarah, istri baru Farhan bersikap egois dengan menguasai Farhan untuk dirinya sendiri serta mengabaikan Ardina.
Bagaimanakah nasib Ardina selanjutnya?
Apakah ia akan tetap bertahan, atau memilih berpisah dengan berbagai resiko?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjanjian Kerjasama
#15
Azam hanya bisa berdiri di luar dengan wajah bingung, berjuta tanya menghampirinya, namun, belum bisa ia dapatkan jawabannya saat ini.
Pria itu tentu saja senang jika anaknya mendapatkan ASI yang dibutuhkan untuk tumbuh kembangnya.
Tetapi— kenapa harus Dina?
Perempuan yang dahulu pernah ia sukai, sayangnya kata cinta itu tak pernah berani ia ucapkan, hingga setelah keduanya lulus SMA sama-sama memilih pergi, dan mengambil jalan masing-masing.
Lantas, kenapa harus sekarang? Saat keduanya baru saja kehilangan orang yang mereka cintai. Takdir membawa mereka kembali bertemu, bukan di tempat romantis, bukan pula dalam keadaan bahagia.
Azam menghembuskan nafasnya, beberapa kali, ia membenturkan dahinya ke dinding,
“Ya Allah, kenapa harus Dina?” tanyanya beberapa kali.
•••
Sementara itu, di balik pintu, Dina masih menggendong Ghazi. Wanita itu menatap wajah mungil bayi itu, air matanya menetes sepanjang ia berusaha beradaptasi menyusui Ghazi secara langsung.
Ada sesuatu yang berbeda, sebuah perasaan semacam kasih sayang yang masih tercurah sepenuhnya untuk Ghaza, kini mengalir perlahan untuk Ghazi. Dada Dina berdebar kencang, perasaan yang sungguh sulit untuk diterka saat melihat Ghazi menghisap air sumber kehidupannya dengan penuh semangat.
Inikah yang dinamakan takdir? Ghazi seperti hadir untuk mengisi kekosongan hati Dina setelah meninggalnya Ghaza. Begitupula Dina bagi Ghazi, seolah-olah wanita itu adalah ibu yang menggantikan ibu kandungnya yang telah kembali menghadap Ilahi.
Seandainya bayi ini adalah Ghaza, tentu ia sangat bahagia. Tapi Dina beristighfar beberapa kali, saat menyadari bahwa ucapannya berpotensi menjadi penyakit hati. Yaitu tak bisa menerima ketetapan Ilahi.
Meski begitu, Dina berkeyakinan, Ghaza akan tetap hidup dalam sanubarinya yang paling dalam.
Akankah Azam adalah sosok yang akan hadir di babak baru kehidupannya, semua hanya Tuhan saja yang tahu.
Beberapa saat kemudian, setelah merasa puas dan kenyang, Ghazi pun terlelap. Bunda Hilda dan Bu Rara yang melihat hal itu tersenyum dengan perasaan haru, ia membiarkan saja Dina mendekap Ghazi. Paham bahwa keduanya sama-sama baru saja kehilangan orang yang paling dekat dengan mereka, hari ini mereka bersama seolah-olah dua jiwa yang saling melengkapi.
•••
Di tempat lain.
Ruang rapat Permana Group hari itu terasa lebih ramai dari biasanya, beberapa orang penting dari jajaran manajemen sudah duduk mengelilingi meja panjang, dan di hadapan mereka terdapat dokumen kerja sama yang telah disiapkan oleh tim legal kedua perusahaan.
Di sisi berseberangan duduk seorang pria paruh baya dengan setelan formal berwarna gelap. Dialah Tuan Aqsa Rifaldy bersama putra sulungnya Ammar Rifaldy, keduanya adalah orang penting di ArreV yang selama ini cukup sulit ditemui.
Sementara di sisi yang lain, Farhan duduk didampingi Pak Jatmiko, ayahnya.
Tatapan kedua belah pihak, sama-sama tertuju pada dokumen yang terbentang di hadapan mereka. Masing-masing membaca dan mempelajari dengan cermat isi perjanjian dagang tersebut, jika ada poin yang dirasa merugikan salah satu pihak, maka bisa segera direvisi demi kepentingan bersama.
“Jadi, setelah semua pembahasan selesai, Permana Group akan menjadi salah satu pemasok bahan baku untuk ArreV?” tanya Farhan memastikan.
Tuan Aldy mengangguk. “Benar. Untuk tahap awal, kerja sama ini berlaku selama dua tahun. Jika kualitas dan kapasitas produksi sepanjang jangka waktu tersebut, sesuai dengan kesepakatan, maka kerjasama kita dapat terus dilanjutkan.”
Farhan mengangguk, bibirnya tersenyum puas. “Baiklah, Permana Group akan berupaya maksimal memenuhi seluruh standar kualitas yang diinginkan ArreV.”
Pak Jatmiko tersenyum lebar, melihat kesepakatan yang telah lama ia nantikan, kini tinggal beberapa langkah didepan mata.
“Saya senang sekali, Tuan Aldy, karena Ini adalah kesempatan yang sudah lama kami tunggu.”
Farhan mengangkat pulpen lalu mulai menggoreskan tanda tangannya diatas surat perjanjian tersebut, di sisi lain hatinya tak sepenuhnya bahagia. Dadanya masih saja kosong dan hampa, sesaat kemudian wajah Dina melintas.
Farhan mengeraskan rahangnya. Tidak.Ia tidak boleh terus memikirkan masa lalu, karena masa lalunya bersama Dina telah selesai.
Setelah Farhan membubuhkan tanda tangan, Ammar pun melakukan hal yang sama. Keduanya saling bertukar dokumen, agar sama-sama memegang akta kerjasama resmi, untuk pegangan selama kerjasama berlangsung.
“Selamat atas kerja sama ini,” ujar Tuan Aldy sambil berdiri dan bersalaman dengan Pak Jatmiko.
“Semoga menjadi awal yang baik bagi kedua perusahaan,” sahut Pak Jatmiko.
“Amin,” jawab Tuan Aldy penuh semangat.
Beberapa orang di dalam ruangan ikut memberikan tepuk tangan. “Maaf, Tuan, kenapa baru sekarang putra sulung Anda terlihat?”
“Oh, itu karena dia pemalu, jadi selama ini hanya membantu saya dari belakang layar. Tapi sekarang, sudah saatnya ia tampil ke depan karena sebentar lagi saya akan pensiun dan dia juga yang akan menggantikan saya.”
“Oh, hahaha, begitu rupanya, saya kira Anda hanya memiliki satu anak perempuan, ternyata ada satu anak lagi.”
“Begitulah, Tuan.”
Farhan tersenyum, ia tak banyak bicara sama seperti Ammar yang lebih memilih diam menjadi pendengar.
•••
Malam harinya, mereka sedang makan malam bersama, “Bagaimana tadi, penandatanganan perjanjiannya?” tanya Bu Sintia, tak sabar untuk mendengar berita baik dari suami dan putranya.
“Lancar, dong.”
“Oh, ya?!” pekik Bu Sintia Girang, “kamu lihat ‘kan, Farhan, satu persatu jalan terbuka sejak kamu melepaskan Dina. Mungkin ini bukti nyata bahwa istrimu itu yang menghambat jalannya rezeki kita.”
Farhan menoleh, entahlah, ia tak suka, tapi juga tidak sanggup membantah.
Pak Jatmiko tersenyum sangat lebar, ia sangat jumawa seolah-olah baru saja mendapatkan harta karun.
“Bayangkan saja, Bu. Dulu diawal-awal Farhan menikahi Dina, kita berkali-kali menghubungi ArreV, tapi tidak pernah mendapatkan kepastian. Sekarang, tepat setelah masalah rumah tangga Farhan dengan Dina selesai, mereka justru datang membawa kesepakatan.”
“Setuju, Yah. Apa jangan-jangan kita salah memilih menantu? Bukannya menantu penarik rezeki, justru menantu pembawa sial.”
Tawa Bu Sintia dan Pak Jatmiko semakin lebar dan bahagia, sementara Farhan masih terdiam, hingga Pak Jatmiko menepuk bahunya.
“Dengar, Nak. Kadang Tuhan memang menutup satu pintu untuk membuka pintu yang jauh lebih besar.”
Farhan menghela napas, “Iya, mungkin ucapan Ayah benar.”
“Bukan mungkin.” Pak Jatmiko terkekeh.
“Ini baru permulaan. Nantinya, setelah kerjasama ini berjalan, kita bisa memperluas jaringan distribusi ke berbagai daerah. Dan pastinya relasi bisnis kita juga akan bertambah banyak.”
Farhan mengangguk, berpura-pura tersenyum bahagia.
•••
Setelah makan malam, Farhan sudah kembali ke kamar untuk bersiap istirahat. Kamar yang dulu ia tempati bersama Dina, kini ia tempati bersama Sarah. Wanita itu bahkan dengan perasaan dengki mengeluarkan semua barang-barang Dina dari tempatnya, agar Farhan tak lagi mengingat masa lalunya.
Sarah naik ke tempat tidur setelah berhasil menidurkan Malika di box bayinya. Malam ini Sarah bersumpah ia harus bisa membangkitkan gairah Farhan yang semakin menurun belakangan ini, sementara Cakra terus menggagahinya bila mereka bertemu.
Sarah resah, jangan sampai ia kembali hamil anak Cakra, sebab pria itu tak pernah mau menggunakan pengaman. Sedangkan Sarah, tak mungkin menggunakan pengaman, sebab ia ingin melahirkan anak yang sehat untuk Farhan.
“Mas—” jemari nakal Sarah mulai membelai dada bidang suaminya. Farhan tak memberikan respon, padahal Sarah yakin pria itu belum tidur.
Sarah bangkit ia duduk lalu melepas kimono yang melapisi lingerie hitam, “Mas, lihat aku,” pinta Sarah dengan suara mendayu.
Farhan hanya menoleh sepintas, lalu kembali memejamkan mata berbalik memunggunginya tanpa selera. Pikirannya sedang dipenuhi bayangan Dina, jadi ia sama sekali tak tertarik melihat Sarah, meski wanita itu sudah berpakaian nyaris telanjang.
“Tidurlah, ini sudah malam.”
Sarah mengabaikan ucapan Farhan, sebaliknya wanita itu menarik tubuh Farhan hingga kembali telentang, ia bergerak agresif menuruti insting primitifnya. Bertindak dan merangsang suaminya selayaknya wanita nakal yang menggoda lawan mainnya.
Kendati ia sudah bersikap sedemikian ganas dan agresif, entah kenapa milik Farhan tak juga bangkit. Apa Farhan sudah mati rasa?
“Mas— kamu— kenapa tidak tergoda sedikitpun?” tanya Sarah, berpura-pura sendu, agar Farhan mengasihaninya.
“Aku sedang tidak berminat, Sarah. Tidurlah.”
•••
giliran berhasil masuk kamar pestanya buyar 😤😤 hahaha nggak papa, mata othor tidak ternoda 👻
tpi km bisa mnikmati perempuan lain...
dasar serakah... tk ada otak🙄🙄
Jahat banget kamu Sarah
ditunggu 🥰🥰🥰