Di masa perkuliahan, di sela petualangan dan kebersamaan, benih cinta tumbuh tulus di antara Doni dan Kristin. Hati mereka saling tertaut, menyusun janji dan harapan akan masa depan. Namun setelah lulus, takdir masing-masing membawa mereka berdua ke jalan yang berbeda. Cinta yang sempat bersemi indah pun terpaksa terhenti, dan mereka berpisah — membiarkan waktu dan jarak memisahkan raga, meski perasaan itu tak sepenuhnya hilang. Beberapa tahun kemudian, takdir kembali menyatukan mereka. Saat mata mereka saling bertemu, kenangan lama bangkit seketika. Perasaan yang sempat terpendam seakan kembali menyapa, utuh seperti sedia kala. Namun kini keduanya bukan lagi anak muda yang dulu tanpa beban. Banyak hal telah berubah, banyak hal telah mengisi hidup mereka masing-masing. Di hadapan perasaan yang kembali menyapa, satu pertanyaan menggantung di udara: apakah kali ini mereka akan bersatu, atau justru kembali melanjutkan jalan masing-masing dengan kenangan yang tersimpan rapi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR1991, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TIDAK KELIHATAN
Pagi itu, langit masih terlihat cerah meski matahari belum terlalu tinggi. Kristin bergegas berangkat menuju kampus setelah berpamitan kepada ibunya. Sebelum berangkat, ia sengaja menyiapkan bekal makanan dan berpesan pada mamanya bahwa ia hendak berangkat lebih awal dan tak sempat sarapan di rumah. Oleh karena itu, Kristin membawa bekal tersebut untuk dimakan di kampus nanti.
Setibanya di kampus, Kristin langsung melangkahkan kakinya menuju gedung sekretariat MAPALA. Namun sesampainya di sana, ia menyadari bahwa dirinya datang terlalu pagi. Suasana masih sepi dan belum terlihat siapa pun yang hadir di tempat itu. Kristin berdiri sendirian di depan pintu sekretariat yang masih tertutup, lalu memutuskan untuk menunggu sebentar hingga ada senior atau panitia yang datang, sekalian berniat mengembalikan kantong tidur yang dipinjamnya.
Tak lama berselang, langkah kaki terdengar mendekat. Kristin menoleh dan melihat Nisa berjalan menghampirinya.
"Selamat pagi, Kak Nisa..." sapa Kristin dengan senyum ramah.
"Pagi, Kristin..." balas Nisa sambil tersenyum lembut. "Kau datang pagi sekali ya? Ada keperluan apa pagi-pagi sekali di sekretariat?"
Kristin tersenyum canggung sejenak. "Aku... sebenarnya ingin menunggu di sini. Kak Nisa sendiri, kenapa bisa datang sepagi ini?"
"Aku hari ini berencana menemui salah satu dosen pembimbingku," jawab Nisa dengan tenang. "Ingin berkonsultasi mengenai skripsi yang sedang aku kerjakan. Makanya aku datang lebih awal, takut dosennya sudah pergi atau ada urusan mendadak."
Nisa lalu menatap benda yang dipeluk erat oleh Kristin. "Kalau kau... pagi-pagi begini sudah berdiri di depan sekretariat sambil membawa barang seperti itu. Apa yang hendak kau lakukan, Kristin?"
Kristin melirik kantong tidur di pelukannya, lalu menjawab pelan. "Aku... hendak mengembalikan kantong tidur ini. Semalam saat berkemah, aku meminjamnya dan baru tahu pagi ini miliknya..."
Nisa tersenyum tipis melihat wajah Kristin yang tampak sedikit gugup. "Emangnya kantong tidur itu milik siapa sampai kau repot-repot datang sepagi ini untuk mengembalikannya?"
"Ini milik Kak Doni," jawab Kristin jujur.
Mendengar nama itu disebut, senyum di wajah Nisa tak luntur sedikit pun. Ia tetap tersenyum lembut dan berkata dengan nada tenang, "Kalau begitu... sayang sekali, sepertinya Doni belum tentu datang ke kampus hari ini. Tidak ada salahnya jika kau menitipkan kantong tidur itu kepada Kevin atau Adit saja. Nanti mereka yang akan menyampaikannya kepada Doni."
Kristin sedikit bingung mendengar saran itu. "Loh... apakah Kak Doni tidak ada jadwal kuliah hari ini?"
Nisa menggeleng pelan sambil menjelaskan, "Doni itu hanya masuk kuliah sesekali saja. Tidak setiap hari seperti kita. Kadang datang, kadang tidak. Jadi kau tidak perlu menunggunya terlalu lama di sini."
Kristin mengangguk paham, namun hatinya tetap ragu. Nisa pun kemudian berpamitan sambil melangkah pergi, "Kalau begitu aku berjalan duluan ya. Aku harus menuju ruangan dosen dulu, memastikan beliau sudah tiba atau belum. Semoga urusanmu berjalan lancar ya, Kristin."
"Terima kasih, Kak Nisa..." ucap Kristin tulus sambil melambaikan tangan.
Melihat punggung Nisa yang perlahan menjauh, Kristin tak dapat menahan kekaguman di dalam hatinya. Wanita itu sungguh ramah dan mulia hatinya, batinnya bergumam. Walaupun sepertinya Kak Nisa dekat dengan Kak Doni, dan Kak Doni justru lebih memperhatikanku kemarin hingga Kak Nisa seakan terabaikan... namun Kak Nisa sama sekali tidak melampiaskan rasa kesalnya kepadaku. Ia tetap tersenyum dan berbicara dengan lembut. Sungguh wanita yang baik hati.
Namun seketika itu juga, pikiran Kristin berubah arah. Tunggu dulu... batinnya meralat pemikiran itu seketika. Aku juga tidak mau dekat-dekat dengan lelaki berandalan seperti Kak Doni! Siapa pula yang merasa diperhatikan? Itu hanya perasaanku saja... dan aku sama sekali tidak butuh perhatian darinya!
Kristin menarik napas panjang, lalu memutuskan untuk tidak menunggu lebih lama lagi. Ia kembali memeluk kantong tidur itu erat-erat dan berjalan meninggalkan gedung sekretariat. Ia memutuskan membawanya kembali dan menunggu waktu lain untuk mengembalikannya langsung kepada Kak Doni. Langkah kakinya pun beralih menuju gedung tempat kuliahnya berlangsung pagi itu.
Siang harinya, setelah jam perkuliahan usai, Cintya mengajak Kristin untuk makan siang bersama di sebuah kafe kecil yang terletak tidak jauh dari gerbang kampus. Mendengar ajakan itu, Ari dan Joel yang kebetulan berjalan di belakang mereka pun ikut menyusul dan bergabung. Sedangkan dua teman lainnya, Jeki dan Bobi, tidak terlihat di mana pun. Cintya pun memaklumi hal itu karena Jeki dan Bobi berbeda fakultas dengan mereka, sehingga jam perkuliahan dan jadwal kelas pun tentu berbeda.
Sesampainya di dalam kafe yang sejuk dan nyaman itu, mereka pun duduk melingkar di meja yang cukup untuk berempat. Pelayan kafe segera menghampiri mereka dan menyodorkan buku menu. Tanpa banyak bicara, Joel langsung menunjuk beberapa menu dan memesan makanan hingga tiga porsi untuk dirinya sendiri.
Kristin, Cintya, dan Ari saling berpandangan sejenak dengan mata terbelalak mendengar jumlah pesanan Joel. Mereka sungguh terkejut melihat pemuda yang bertubuh agak kurus itu memesan makanan sebanyak itu.
Joel yang menyadari tatapan heran dari ketiga temannya itu hanya tersenyum lebar sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Jangan heran dulu ya... badanku memang kurus kelihatannya, tapi nafsu makanku justru sebaliknya. Aku bisa makan banyak sekali dan tetap tak gemuk. Sudah dari sananya begitu kok."
Mendengar penjelasan itu, ketiganya pun akhirnya tertawa lega dan ikut memesan makanan masing-masing. Tak lama kemudian, pembicaraan pun mengalir kembali seputar kegiatan organisasi yang baru saja mereka ikuti.
"Ngomong-ngomong..." Ari membuka percakapan sambil memainkan sendok di tangannya. "Katanya pembinaan dan pemberian materi kepada kita anggota baru akan diberikan oleh panitia sekitar dua minggu lagi ya?"
Joel mengangguk mantap sambil menatap ketiga temannya. "Benar sekali. Dan aku yakin... aku pasti bisa melewati ujian akhir penerimaan anggota itu dengan baik."
Kristin yang sedari tadi mendengarkan pun ikut bertanya dengan rasa penasaran. "Ujian akhir... seperti apa kira-kira bentuk ujiannya nanti?"
Joel tertawa kecil mendengar pertanyaan itu, lalu menjelaskan dengan penuh semangat. "Dari yang pernah aku dengar dari kakak tingkat sebelumnya, ujian itu pasti akan menguji kemampuan fisik sekaligus mental kita semua. Kegiatannya berlangsung selama satu minggu penuh di dalam hutan. Dan di hari terakhir... kita semua harus mendaki hingga ke puncak gunung sebagai tanda bahwa kita telah resmi diterima dan bergabung menjadi anggota baru MAPALA."
Hati Kristin seketika berdebar kencang mendengar penjelasan itu. Wajahnya perlahan berubah tampak ragu. Bayangan mendaki gunung selama berhari-hari di dalam hutan membuatnya merasa sedikit takut dan menyesali keputusannya yang mendadak untuk ikut bergabung ke dalam organisasi tersebut.
Cintya yang melihat perubahan ekspresi wajah sahabatnya itu segera menyentuh lengan Kristin pelan, lalu berkata dengan nada menyemangati. "Hei... jangan terlihat takut begitu. Kita kan berempat. Kita akan melaluinya bersama-sama. Selama kita saling bantu dan tidak menyerah, aku yakin kita pasti bisa melewati semuanya dengan baik."
Kristin menatap wajah Cintya yang tampak tulus memberi semangat, lalu perlahan senyum kembali terukir di bibirnya. "Terima kasih ya, Cintya... Aku merasa beruntung sekali dikelilingi oleh teman-teman yang sebaik dan sepeduli kalian."
Mereka pun akhirnya tersenyum bersama dan mulai menikmati hidangan yang baru saja datang ke meja mereka. Suasana makan siang itu pun berlangsung penuh canda dan tawa, terutama saat mereka melihat Joel yang makan dengan sangat lahap seakan belum makan berhari-hari. Melihat tingkah Joel yang tampak rakus namun tetap menyenangkan, ketiganya pun tak henti-hentinya tertawa dan saling melempar candaan, melupakan sejenak kekhawatiran yang sempat menyelimuti hati Kristin.