Selama tiga tahun, Lin Fan hidup sebagai menantu yang dianggap benalu di keluarga Su. Dihina oleh ibu mertuanya, diremehkan oleh kerabat, dan diabaikan oleh istrinya sendiri, Su Yuhan—seorang CEO muda yang dingin namun jelita. Tidak ada yang tahu bahwa Lin Fan sebenarnya adalah pewaris tunggal dari Keluarga Lin di ibu kota, keluarga konglomerat paling berkuasa. Masa ujian tiga tahun yang diwajibkan oleh keluarganya akhirnya berakhir hari ini, dan roda nasib bersiap untuk berputar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Tamu Berdarah di Ruang Keluarga
Badai yang mengguyur Kota Jiangzhou malam itu terasa tidak wajar. Petir menyambar silih berganti, merobek langit hitam dan menumpahkan hujan deras yang meredam segala suara dari luar. Namun, di dalam ruang tengah Vila Keluarga Su, suasana terasa begitu kontras, hangat, dan konyol.
Nyonya Wang duduk bersandar di sofa kulit mahalnya sambil mengenakan masker wajah berlapis lumpur laut mati. Matanya tertuju lekat pada layar televisi LED 80 inci yang sedang menayangkan episode puncak sinetron drama keluarga kesukaannya. Di tangannya, ia menggenggam semangkuk kuaci.
Di sofa tunggal yang berjarak dua meter darinya, Lin Fan duduk dengan tenang. Pria yang membuat seluruh elit ibu kota gemetar itu kini mengenakan kaus oblong santai, tangannya dengan luwes mengupas sebuah apel merah menggunakan pisau buah kecil. Kulit apel itu jatuh melingkar sempurna tanpa putus.
"Kau lihat wanita licik di TV itu, Lin Fan?!" omel Nyonya Wang tiba-tiba, menuding layar televisi dengan marah. "Dia menipu suami kayanya dan mencuri harta mertuanya! Ya ampun, dunia ini penuh dengan parasit! Untung saja Yuhan-ku sekarang punya 500 Miliar dan kau tidak bisa mencuri sepeser pun karena kau terlalu bodoh untuk mengerti angka!"
Lin Fan tidak membalas. Ia hanya tersenyum tipis dan menggigit apelnya. Telinganya yang sangat terlatih tidak mendengarkan celotehan ibu mertuanya, melainkan menangkap suara lain dari luar jendela yang tersamarkan oleh derasnya hujan.
Itu adalah suara derap langkah sepatu bot militer. Ratusan jumlahnya, melangkah mengendap-endap mengepung seluruh perimeter vila.
Padamnya Sinyal Kehidupan
BZZZTT!
Tiba-tiba, seluruh lampu di vila itu berkedip keras sebelum akhirnya mati total. Layar televisi raksasa itu padam seketika, menyisakan kegelapan pekat yang hanya sesekali diterangi oleh kilatan petir dari luar jendela. Suara dengungan aneh sempat terdengar di udara, menandakan sebuah perangkat Electromagnetic Pulse (EMP) baru saja diaktifkan.
"Aaa! Sinetronku!" jerit Nyonya Wang histeris di dalam gelap, masker lumpurnya mulai retak karena ia membuka mulut terlalu lebar. "Lin Fan! Dasar pemalas! Pasti kau lupa membayar tagihan listrik bulanan, kan?! Cepat cari lilin atau nyalakan genset!"
Nyonya Wang meraba-raba saku jubah mandinya untuk mencari ponsel pintar miliknya. "Sialan! Kenapa ponselku juga mati total?! Sama sekali tidak ada sinyal!"
Di tengah kepanikan wanita paruh baya itu, Lin Fan tetap duduk tak bergeming di tempatnya. Matanya yang telah terbiasa dalam kegelapan mulai memancarkan kilat merah seorang predator. Ia bisa merasakan aura membunuh yang sangat kental dari luar pintu utama. Serigala-serigala kiriman Keluarga Long akhirnya tiba.
"Ibu," suara Lin Fan memecah kepanikan, nadanya begitu tenang dan dalam hingga membuat Nyonya Wang tanpa sadar terdiam. "Tetaplah duduk di sana. Jangan berdiri, dan apa pun yang terjadi, tutuplah telinga Ibu rapat-rapat."
"Hah? Apa yang kau bicarakan—"
BRAK!!
Pintu utama vila yang terbuat dari kayu jati tebal hancur berkeping-keping, ditendang dari luar dengan kekuatan brutal. Angin badai dan tempias air hujan langsung menerobos masuk ke ruang tamu.
Dari balik kilatan petir yang menyambar, Nyonya Wang melihat pemandangan yang membuat jantungnya nyaris berhenti berdetak.
Lebih dari dua puluh pria berpostur raksasa, mengenakan perlengkapan tempur serba hitam dan topeng balaclava, merangsek masuk ke ruang tamu. Puluhan titik laser merah dari senapan serbu otomatis bergerak menyapu ruangan. Sebagian besar laser itu berhenti tepat di dahi dan dada Lin Fan, sementara beberapa lainnya mengunci Nyonya Wang yang kini tubuhnya gemetar hebat hingga merosot ke lantai.
Pemimpin kelompok itu, seorang pria bule dengan codet di mata kirinya yang dijuluki Cyclops, melangkah maju. Sepatu botnya yang berlumur lumpur menginjak karpet mahal Nyonya Wang tanpa ampun.
Cyclops menekan tombol senter taktis di bawah laras senapannya, menyorot langsung ke wajah Lin Fan.
"Tim Beta melapor, perimeter ruang tamu dikuasai," lapor Cyclops melalui alat komunikasinya, suaranya parau dan berat. Ia lalu menatap Lin Fan dengan seringai meremehkan, menilai targetnya berdasarkan arahan yang ia terima:
Target Utama: Lin Fan (Pria miskin, suami tidak berguna, eliminasi di tempat).
Target Tambahan: Nyonya Wang (Sandera opsional, eliminasi jika berisik).
Tujuan: Menggeledah vila untuk mencari salinan kontrak 500 Miliar Yuan.
"Jadi ini suami benalu yang dibicarakan Tuan Muda Long," cibir Cyclops dalam bahasa Mandarin yang kaku. Ia mengarahkan laras senapannya tepat ke kepala Lin Fan. "Hei, tikus. Di mana istrimu menyembunyikan kontrak itu? Beritahu aku, dan aku akan memberimu kematian yang cepat."
Melihat moncong senjata api sungguhan di depan matanya, Nyonya Wang menjerit ngeri. "A-ampun! Kami tidak tahu apa-apa! Jangan bunuh aku! Bunuh saja dia! Ambil nyawanya, dia bukan siapa-siapa di keluarga ini!"
Kemurkaan Sang Tuan Rumah
Lin Fan perlahan meletakkan sisa apelnya di atas meja kaca. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan rasa takut. Sebaliknya, ia menatap lantai pualam dan karpet yang kotor oleh jejak sepatu lumpur para tentara bayaran itu dengan tatapan jengkel.
"Aku baru saja mengepel lantai ini tadi pagi," gumam Lin Fan dingin.
Cyclops tertawa keras. "Orang gila. Ucapkan selamat tinggal pada lantaimu."
Jari telunjuk Cyclops menekan pelatuk.
Namun, sebelum pelatuk itu mematuk peluru, sosok Lin Fan yang tadinya duduk santai lenyap dari pandangan. Senter taktis yang menyorotnya kini hanya menyinari kursi kosong.
Sreett!
Dalam sepersekian detik, Lin Fan sudah berdiri tepat di samping Cyclops. Dengan gerakan yang terlalu cepat untuk ditangkap mata manusia, tangan kanan Lin Fan menyambar laras senapan serbu itu dan meremasnya. Baja kualitas militer itu melengkung dan hancur di bawah cengkeraman Lin Fan bak kaleng soda tipis.
Mata Cyclops membelalak ngeri. Sebelum ia sempat bereaksi, Lin Fan menusukkan pisau buah kecil yang masih dipegangnya ke pundak kanan Cyclops, lalu memelintirnya dengan brutal.
Pisau kecil murahan itu menembus rompi anti-peluru Kevlar seolah menembus kertas tisu. Cyclops menjerit tertahan saat urat dan tulang bahunya hancur.
Lin Fan menendang lutut Cyclops hingga patah ke arah belakang, memaksa komandan tentara bayaran itu berlutut di hadapannya.
"T-tembak dia!! Tembak bajingan ini!!" raung Cyclops menahan rasa sakit yang merobek kewarasannya.
Sisa pasukan Serigala Berdarah di ruang tamu panik dan bersiap melepaskan tembakan. Namun, Lin Fan hanya menjentikkan jarinya pelan.
Dari langit-langit vila, dari balik tirai jendela yang gelap, dan dari sudut-sudut ruangan yang tak tersentuh cahaya, puluhan bayangan hitam melesat keluar. Mereka adalah Pasukan Bayangan Keluarga Lin yang sejak sore telah menyamar sebagai tukang kebun dan pelayan harian, menjaga vila ini dari setiap sudut buta.
Pembantaian sepihak dan tanpa suara meledak dalam kegelapan.
Tidak ada satu pun tembakan senapan yang berhasil diletuskan oleh musuh. Prajurit Pasukan Bayangan bergerak seperti hantu pemangsa. Pisau belati menggorok leher, tangan baja mematahkan tulang belakang, dan lutut menghancurkan tulang rusuk pasukan Serigala Berdarah. Dalam waktu kurang dari sepuluh detik, seluruh ruang tamu dipenuhi oleh suara gemeretak tulang patah dan erangan tertahan.
Lebih dari dua puluh tentara bayaran elit itu kini terkapar di lantai, lumpuh total dengan genangan darah menyerap ke dalam karpet.
Di lantai, Nyonya Wang menutupi wajahnya dengan kedua tangan, tubuhnya meringkuk ketakutan mengira dirinya sudah mati. Ia sama sekali tidak berani membuka matanya selama pembantaian kilat itu berlangsung.
Lampu ruang tamu tiba-tiba menyala kembali. Lampu gantung kristal memancarkan cahaya terang setelah sistem kelistrikan dicadangkan oleh generator darurat vila.
Lin Fan mengusap percikan darah dari tangannya menggunakan seragam Cyclops yang sudah pingsan, lalu berjalan santai kembali ke sofanya. Ia mengambil sisa apelnya dan menoleh pada ibu mertuanya.
"Ibu, buka mata Anda. Semuanya sudah aman," panggil Lin Fan dengan nada hangatnya yang biasa. "Generator cadangannya ternyata masih menyala."
Nyonya Wang mengintip dari sela jarinya. Saat ia melihat tumpukan tubuh pria-pria kekar yang terkapar tak bergerak di lantai ruang tamunya, matanya bergulir ke atas, dan ia pun jatuh pingsan sepenuhnya di atas karpet.
Lin Fan menatap tubuh musuh-musuhnya dengan dingin. Ia mengeluarkan komunikator dari sakunya.
"Vila sudah bersih. Yuan, bagaimana situasi di Menara Su? Jika Tuan Muda Keluarga Long masih hidup, bawa dia padaku. Aku ingin melihat wajah orang yang berani mengotori lantaiku."