Gwen Aditya cuma butuh kerja keras dan logika buat sukses. Urusan siapa yang naksir? Itu di luar spreadsheet-nya.
Sialnya, atasannya sendiri gak masuk kalkulasi.
Madoc Rhydian Kane—CEO Kane Group yang bikin ruang rapat sunyi—gak pernah nyangka bisa jatuh gara-gara satu manajer operasional yang rapi, blak-blakan, dan sama sekali gak keder dihadapannya.
Madoc jatuh duluan. Jatuh lebih dalam. Sementara Gwen bahkan gak sadar sedang diperhatikan, sampai seluruh kantor tahu lebih dulu.
Di antara laporan kuartalan, kopi yang selalu "kebetulan" ada di meja, dan satu papan catur, mereka belajar bahwa dua orang paling kompeten pun bisa gagap soal cinta.
Bukan sekadar "aku terima kamu", tapi tentang terus memilih satu sama lain—bahkan setelah semua syarat dan ketentuan terpenuhi.
📌 Workplace romance | Slow burn | Oblivious female lead | CEO x Manager
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Garis yang Kabur
Whiteboard di ruangan Madoc penuh dengan diagram panah dan angka yang sudah dicoret ulang tiga kali, dan tidak ada satu pun dari itu yang ditulis olehnya sendiri.
"Kalau kita geser strategi loyalti ke sini," kata Gwen, berdiri di depan whiteboard dengan spidol di tangan, menggambar panah baru yang menghubungkan dua kotak yang sudah ada, "kita bisa nutup celah yang tadi. Aditama nyerang di harga, kita nyerang balik di experience—program referral yang ngasih insentif lebih gede buat pelanggan lama yang bawa pelanggan baru."
Madoc duduk di kursinya, tapi tidak sepenuhnya duduk—lebih ke arah condong ke depan, siku bertumpu di meja, matanya mengikuti setiap gerakan spidol itu dengan fokus yang jarang dia berikan bahkan untuk rapat board paling penting sekalipun.
"Biayanya?" tanyanya.
"Lebih murah dari subsidi harga langsung," kata Gwen, menulis angka di sudut whiteboard. "Karena kita cuma bayar insentif kalau referral-nya beneran konversi jadi transaksi. Aditama bakar duit di depan buat semua orang, kita cuma bakar duit buat orang yang beneran jadi pelanggan."
"Timeline implementasi?"
"Dua minggu buat sistem trackingnya, seminggu lagi buat sosialisasi ke pelanggan existing." Dia menoleh, menatapnya langsung. "Bisa mulai bulan depan kalau IT gak ada kendala."
Madoc mengangguk, mengambil spidol lain dari meja, berdiri dan berjalan ke whiteboard, menambahkan satu cabang baru di diagram itu—ide yang muncul spontan dari apa yang barusan Gwen jelaskan.
"Kalau digabung sama ini," katanya, menggambar kotak baru, "kita bisa bikin tier khusus buat pelanggan yang udah loyal lebih dari setahun. Bukan cuma referral, tapi juga akses awal buat produk baru sebelum publik."
Gwen menatap tambahan itu, matanya berbinar dengan cara yang jarang dia tunjukkan di rapat formal—jenis antusiasme yang muncul murni dari kepuasan intelektual, dari melihat sebuah ide berkembang jadi lebih baik lewat kolaborasi.
"Itu bagus," katanya, cepat, langsung menambahkan detail di bawahnya. "Bisa kita kombinasi sama data pembelian mereka, biar aksesnya personal—bukan generik buat semua orang, tapi disesuaikan sama preferensi masing-masing."
---
Mereka lanjut seperti itu selama dua jam berikutnya, bergantian di depan whiteboard, saling menyambung ide satu sama lain dengan kecepatan yang membuat siapa pun yang masuk ke ruangan itu akan kesulitan mengikuti alurnya.
Ada momen di mana mereka berdua bicara bersamaan, menyampaikan ide yang sama persis di waktu yang sama, lalu berhenti, saling menatap sebentar, dan tertawa kecil karena kebetulan itu.
"Lo duluan," kata Madoc, kadang, lupa sejenak formalitas "kamu" yang biasa dia jaga, terlalu larut dalam momentum diskusi untuk memperhatikan detail kecil seperti itu.
"Enggak, silakan," kata Gwen, juga tidak menyadari pergeseran itu, terlalu fokus pada ide yang sedang berkembang di kepalanya untuk memikirkan hal lain.
Diskusi itu terasa berbeda dari rapat kerja biasa—bukan lagi soal satu orang menyampaikan laporan dan yang lain mendengarkan, melainkan dua pikiran yang benar-benar bekerja bersama, saling melengkapi, saling menantang, saling membangun di atas ide masing-masing sampai hasil akhirnya jauh lebih kuat dari apa yang bisa dicapai sendirian.
Madoc merasakan sesuatu yang aneh di sepanjang proses itu—semacam gairah yang menjalar di dadanya setiap kali Gwen menyambung idenya dengan cara yang tidak dia duga, setiap kali dia melihat matanya berbinar karena menemukan solusi baru, setiap kali mereka berdua berhenti sejenak untuk saling menatap sebelum salah satu melanjutkan kalimat yang terputus.
Dia sudah terbiasa dengan rasa puas yang datang dari menyelesaikan masalah bisnis yang rumit. Itu bagian dari alasan kenapa dia menyukai pekerjaannya sejak awal—tantangan intelektual, kepuasan melihat strategi yang rumit akhirnya menemukan solusinya. Tapi yang dia rasakan sekarang terasa lebih dari itu, lebih intens, lebih personal, dan dia tidak sepenuhnya yakin lagi di mana batas antara kepuasan kerja murni dengan sesuatu yang jauh lebih dekat ke perasaannya terhadap orang yang duduk—atau lebih tepatnya berdiri—di sampingnya sekarang.
---
"Ini," kata Gwen, mundur beberapa langkah dari whiteboard untuk melihat keseluruhan diagram yang sudah mereka susun bersama, "kayaknya udah solid banget."
Madoc berdiri di sampingnya, ikut mengamati hasil kerja mereka—whiteboard yang penuh dengan panah, kotak, dan angka yang saling terhubung, representasi visual dari strategi yang sudah mereka bangun dari nol selama dua jam terakhir.
"Iya," katanya, pelan. "Solid banget."
Dia tidak sepenuhnya berbicara soal strategi itu lagi.
Gwen menoleh, menangkap sesuatu yang aneh dari nada suaranya, tapi tidak cukup menangkap untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi. "Kenapa, Pak?"
"Gak apa-apa," katanya, cepat, mengalihkan pandangan kembali ke whiteboard. "Cuma... jarang nemu diskusi yang produktif kayak gini."
"Emang kerja sama gini jarang, ya?"
"Buat saya, iya." Dia berhenti sebentar, memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Biasanya orang cuma nyampein laporan, nunggu saya kasih keputusan. Jarang ada yang bener-bener mikir bareng."
Gwen tersenyum, jenis senyum tulus yang muncul dari kebanggaan sederhana. "Saya suka kalau bisa mikir bareng gini. Lebih seru daripada cuma nyusun laporan sendirian."
"Seru," Madoc mengulang kata itu, mencoba mencocokkannya dengan apa yang barusan dia rasakan sepanjang dua jam terakhir. "Iya, seru."
Tapi kata itu terasa terlalu ringan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya dia alami—gabungan antara stimulasi intelektual dan sesuatu yang lebih dalam, lebih hangat, yang membuat dua jam terakhir terasa seperti waktu paling menyenangkan yang pernah dia habiskan di ruangan kerjanya sendiri, meski isinya cuma diagram, angka, dan strategi menghadapi kompetitor.
---
Elias masuk ke ruangan itu tanpa mengetuk terlebih dahulu, membawa dokumen yang perlu ditandatangani, dan berhenti sejenak di ambang pintu begitu melihat pemandangan di dalamnya.
Whiteboard penuh dengan tulisan dari dua tangan berbeda, saling tumpang tindih di beberapa bagian seolah keduanya sudah lupa membedakan mana ide siapa. Madoc dan Gwen berdiri berdampingan, cukup dekat, menatap hasil kerja mereka dengan ekspresi puas yang sama—jenis ekspresi yang biasanya cuma muncul setelah kolaborasi yang benar-benar memuaskan, bukan sekadar rapat kerja rutin.
"Maaf ganggu," katanya, mengangkat dokumen di tangannya. "Butuh tanda tangan buat approval budget IT."
Madoc menoleh, agak kaget dengan kedatangannya, seolah baru sadar ada dunia lain di luar ruangan itu selain dia dan Gwen. "Oh. Taruh aja di meja."
Elias meletakkan dokumen itu, tapi matanya sempat menangkap whiteboard sekali lagi sebelum dia keluar—diagram yang rumit tapi rapi, hasil dari kolaborasi yang jelas melampaui sekadar hubungan atasan-bawahan biasa.
Dia keluar ruangan, menutup pintu pelan-pelan, dan berdiri sebentar di lorong sebelum melanjutkan langkah.
Selama bertahun-tahun bekerja untuk Madoc, dia sudah menyaksikan puluhan rapat strategi, puluhan diskusi kerja dengan berbagai kepala divisi dan konsultan eksternal. Tapi tidak pernah sekali pun dia melihat bosnya berdiri sedekat itu dengan siapa pun, berbicara dengan antusiasme setulus itu, atau menghasilkan strategi secepat dan sesolid apa yang barusan dia lihat di whiteboard tadi.
Ini bukan lagi cuma soal kerja, pikirnya, berjalan kembali ke mejanya sendiri. Ini udah jadi sesuatu yang lain.
Dia tidak tahu kapan atau bagaimana caranya, tapi dia cukup yakin bahwa apa pun yang sedang terjadi di antara bosnya dan manajer operasional yang baru enam bulan bekerja itu, sudah melewati batas yang biasanya memisahkan kolega kerja dari sesuatu yang jauh lebih personal—terlepas dari apakah dua orang yang terlibat langsung di dalamnya sudah menyadarinya sendiri atau belum.