[Bukan Novel Terjemahan] [Original Karya Penulis]
Seorang mahasiswa melakukan penelitian di hutan, saat dia merasuk lebih dalam ke jantung hutan, dia menemukan sebuah lubang hitam besar. Karena rasa penasaran dia mendekat ke arahnya. Namun, siapa sangka dia akan terseret ke dalam.
Seorang gadis yang dianggap terkenal lemah berencana bunuh diri saat tau akan menggantikan kakak tirinya untuk dinikahkan dengan pangeran yang terkenal gila di seluruh kekaisaran.
***
Bagaimana jika mahasiswa itu menggantikan sang gadis untuk menikah? Akankah mereka berdua bekerja sama untuk balas dendam karena kemiripan wajah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4 : Cambuk
Plak!
Suara hantaman tangan yang keras menggema di dalam ruangan sempit itu. Namun, tidak ada rasa sakit yang menjalar di wajah Fang Hua.
Sebelum telapak tangan Jenderal Luo Tian sempat mendarat di pipinya, sebuah tangan kokoh dari arah samping telah mencekal pergelangan tangan sang jenderal dengan cengkeraman kuat. Gerakan itu begitu cepat, nyaris seperti bayangan angin yang melintas di tengah ketegangan yang mencekam.
Semua orang di dalam ruangan terperanjat kaget. Jenderal Luo Tian sendiri membelalakkan matanya, menoleh dengan cepat ke arah samping untuk melihat siapa orang yang berani menghentikan amarahnya di hadapan publik.
"Ayah, tahan tanganmu," ucap sebuah suara bariton yang terdengar tenang namun memancarkan wibawa tinggi.
Sosok yang menahan tangan Jenderal Luo Tian adalah seorang pemuda tampan berusia awal dua puluhan. Ia mengenakan jubah bela diri berwarna biru tua dengan sulaman perak berbentuk awan di bagian kerahnya. Garis wajahnya tegas, perpaduan sempurna antara ketampanan dan aura kesatria sejati, dengan sepasang mata elang yang menyimpan ketajaman luar biasa.
Dia adalah Luo Xiuyuan, kakak kandung laki-laki Luo Huanran, yang selama ini dikenal sebagai satu-satunya anggota keluarga yang menyayangi dan melindungi adiknya di kediaman tersebut, meski ia sering harus pergi ke luar kota untuk urusan militer.
Selir Qin yang tadinya tersenyum puas kini mendadak memucat. Kehadiran Luo Xiuyuan selalu menjadi penghalang terbesar bagi ambisinya untuk menyingkirkan Luo Huanran sepenuhnya dari kediaman jenderal.
Jenderal Luo Tian menarik tangannya dengan kasar, mendengus keras penuh ketidaksenangan. "Xiuyuan! Beraninya kau membela anak sialan ini? Dia sudah membuat kekacauan besar, memukul pelayan senior, dan sekarang bahkan menantang ayah kandungnya sendiri!"
Luo Xiuyuan melepaskan genggamannya, lalu melangkah tenang menutupi separuh tubuh Luo Huanran dan Fang Hua. Ia menatap sang ayah dengan pandangan lurus tanpa keraguan.
"Aku tidak sedang membabi buta membela siapapun, Ayah. Tapi bukankah tidak adil jika seorang jenderal agung langsung menghakimi tanpa mendengarkan penjelasan dari pihak tertuduh?" balas Luo Xiuyuan dengan nada santai namun tidak bisa dibantah.
Fang Hua menyipitkan matanya, memperhatikan pemuda di depannya ini dari atas sampai bawah. Dalam hati, ia mengakui bahwa pemuda bernama Luo Xiuyuan ini memiliki keberanian dan insting yang cukup tajam. Setidaknya, kehadirannya menyelamatkan situasi dan memberikan waktu bagi Fang Hua untuk menyusun strategi balasan.
Mata tajam Luo Xiuyuan kemudian beralih, menatap gadis asing yang berdiri tepat di samping adiknya. Alisnya sedikit berkerut heran. Meskipun wajah gadis itu sangat mirip dengan adiknya, ada sesuatu yang sangat berbeda. Tatapan matanya tidak penakut, melainkan memancarkan kepercayaan diri yang arogan dan berbahaya.
Namun, Luo Xiuyuan tidak sempat memikirkan keanehan itu lebih jauh karena Selir Qin segera melangkah maju dengan derai air mata palsu untuk memutarbalikkan fakta.
"Jenderal, jangan dengarkan omong kosongnya!" Selir Qin merengek manja di sisi Jenderal Luo Tian, sengaja memasang ekspresi terzalimi. "Pelayan Yu itu adalah orang setia kita. Dia datang hanya untuk mengantar makanan, tapi gadis asing ini malah menyerangnya secara brutal hingga babak belur! Jika dibiarkan, reputasi Kediaman Jenderal bisa hancur di mata para pejabat istana!"
Mendengar hasutan itu, kemarahan Jenderal Luo Tian kembali tersulut. Ia menatap tajam ke arah Fang Hua, seolah ingin mencabik-cabik gadis modern itu hidup-hidup.
"Luo Huanran! Apa yang ingin kau katakan untuk membela diri?!" bentak Jenderal Luo Tian dengan urat leher yang mengeras, masih mengira gadis di depannya adalah putrinya sendiri.
Fang Hua bergeming sesaat. Ia menatap Jenderal Luo Tian dengan senyuman tipis yang sangat sinis. Alih-alih merasa takut, ia justru melangkah maju menyamai posisi Luo Xiuyuan, berdiri tegak tanpa rasa gentar sedikit pun.
"Membela diri? Untuk apa aku membela diri di hadapan orang-orang yang bahkan tidak bisa mengenali siapa anak kandungnya sendiri?" suara dingin Fang Hua memecah keheningan, membuat seluruh orang yang mendengarnya merasa merinding.
"Kau...!" Jenderal Luo Tian menunjuk wajah Fang Hua dengan tangan yang bergetar karena geram. "Berani sekali kau berbicara seperti itu kepada ayahmu?!"
"Ayah?" Fang Hua tertawa pelan, sebuah tawa dingin yang terdengar sangat meremehkan. "Seorang ayah sejati tidak akan membiarkan anaknya diinjak-injak, diperlakukan seperti sampah, dan hampir mati kelaparan di kamarnya sendiri. Jadi, jangan sebut kata 'ayah' itu jika Anda tidak pernah tahu caranya bertanggung jawab!"
Ucapan menohok itu bagaikan petir di siang bolong. Seluruh pengawal menundukkan kepala, tidak berani bernapas terlalu keras. Bahkan Luo Xiuyuan menatap Fang Hua dengan tatapan terkejut yang mendalam; gadis berwajah mirip adiknya ini memiliki keberanian yang luar biasa besar.
Selir Qin mendesis tajam, merasa posisinya terancam. "Jenderal! Lihatlah bagaimana dia bersikap! Dia benar-benar sudah kerasukan iblis! Anak ini harus dihukum cambuk seratus kali dan diasingkan ke kuil tua di perbatasan agar keluarga kita tidak ketularan sial!"
Usul kejam itu langsung disetujui oleh Jenderal Luo Tian dengan lambaian tangan tegasnya. "Bawa dia! Hukum cambuk seratus kali di halaman utama sekarang juga!"
Dua pengawal berbadan kekar langsung maju tanpa ragu, merentangkan tangan besar mereka untuk mencengkeram lengan Fang Hua secara paksa.
Luo Huanran yang asli menjerit histeris ketakutan dari sudut ruangan. "Jangan! Jangan sakiti dia! Kumohon!"
Luo Xiuyuan hendak bergerak untuk menepis para pengawal itu, namun sebelum siapa pun sempat menyentuhnya, Fang Hua tiba-tiba menyeringai lebar. Di balik lengan bajunya, jemarinya bergerak sangat cepat mengeluarkan sesuatu dari tas ransel kecil yang masih terselip di punggungnya, sebuah botol kecil berisi cairan kimia melumpuhkan yang ia bawa dari laboratorium kampusnya di abad 21.
"Kalian pikir aku ini boneka yang bisa diseret begitu saja?" bisik Fang Hua pelan dengan tatapan mematikan.
***
Happy Reading 🥰
Mohon dukungan untuk Like, Komen, dan Ikuti Penulis yah, terimakasih ❤️