NovelToon NovelToon
Tang Clan : Blood Poison Sovereign

Tang Clan : Blood Poison Sovereign

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / Action
Popularitas:378
Nilai: 5
Nama Author: Chandra Arbara

Gu Cheol mati sebagai pengemis tanpa bisa meraih 3 Bunga Jianghu.

Dia bangkit sebagai Tang Hyun dari Klan Tang, menempa tubuhnya dengan racun, untuk bertahan hidup, membalas dendam, dan akhirnya merasakan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19. Bayangan di Utara

Angin di pegunungan utara tidak pernah berhenti, bahkan di musim semi, karena angin itu membawa butiran salju kecil yang menusuk pipi seperti jarum dan juga membawa bisikan-bisikan tentang sesuatu yang bergerak di balik kabut abadi di Puncak Es Abadi, sebuah tempat yang sudah tiga ratus tahun tidak didatangi manusia karena para tetua mengatakan bahwa di sana tinggal roh-roh yang marah dan monster yang tertidur, sehingga ketika surat dari Baek Seolhwa tiba di meja Tang Hyun yang berisi empat kata "sesuatu yang besar bergerak", Tang Hyun langsung tahu bahwa ini bukan urusan sekte biasa, melainkan urusan yang bisa membuat seluruh Jianghu tenggelam dalam darah jika tidak ditangani sejak awal.

Dia berangkat tiga hari kemudian bersama Tang So-yeon dan seratus prajurit Klan Tang, bukan sebagai pasukan penyerang melainkan sebagai pasukan pengintai, karena perintah dari Tetua Ketiga sangat jelas, "Lihat, laporkan, jangan bertarung. Kita belum tahu apa yang ada di sana."

Perjalanan ke utara memakan waktu dua puluh hari, melewati desa-desa yang semakin lama semakin kosong, karena penduduknya sudah melarikan diri setelah melihat bayangan hitam besar di langit dan mendengar suara lolongan yang membuat anjing menggonggong sepanjang malam, dan di setiap desa yang mereka lewati, Tang Hyun selalu berhenti untuk bertanya, memberi obat, dan menenangkan orang, sebuah tindakan yang membuat nama "Wakil Kepala Klan Tang" semakin dikenal bukan sebagai pembunuh, melainkan sebagai pelindung.

Di hari ke-21, ketika mereka berkemah di kaki Puncak Es Abadi, datang utusan dari istana, bukan dengan bendera perang melainkan dengan bendera emas milik Putri Mahkota, dan utusan itu membawa surat bersegel naga yang isinya membuat seluruh tenda menjadi hening: "Putri Mahkota Li Xinyue akan datang ke perkemahan dalam tiga hari untuk memeriksa langsung situasi di utara. Siapkan penyambutan."

Tang So-yeon mengerutkan kening, "Ini berbahaya. Jika sesuatu terjadi pada Putri di wilayah kita, maka Klan Tang yang akan disalahkan."

"Aku tahu," jawab Tang Hyun, "tapi kita tidak bisa menolak."

Tiga hari kemudian, Putri Mahkota Li Xinyue tiba dengan iring-iringan dua ratus pengawal istana, mengenakan jubah biru langit dengan sulaman burung phoenix emas yang berkilau bahkan di bawah matahari tertutup salju, dan ketika dia turun dari kereta, seluruh perkemahan terdiam karena kecantikannya memang melebihi tiga bunga Jianghu, Baek Seolhwa dari Emei, Tang So-yeon dari Klan Tang, dan Yu Rou dari Sekte Surgawi, bukan karena riasan, melainkan karena aura dingin dan anggun yang dia bawa, seperti bulan yang jatuh ke dunia manusia dan menolak untuk meleleh.

"Di mana Wakil Kepala Tang Hyun?" tanya Putri Mahkota dengan suara yang tenang tetapi membuat semua orang menunduk.

Tang Hyun melangkah maju dan berlutut, "Hamba Tang Hyun dari Klan Tang menyambut kedatangan Yang Mulia."

"Berdiri," kata Putri Mahkota, "aku tidak datang ke sini untuk melihat orang berlutut. Aku datang untuk melihat apakah Klan Tang benar-benar bisa melindungi perbatasan, atau hanya pandai bicara."

"Silakan Yang Mulia periksa sendiri," jawab Tang Hyun sambil menatap mata Putri Mahkota untuk pertama kalinya, dan di saat itu, ada sesuatu yang aneh terjadi, karena Putri Mahkota juga menatapnya, bukan dengan curiga, melainkan dengan rasa ingin tahu yang dalam, seolah dia sedang melihat sesuatu yang belum pernah dia lihat di istana, seorang pria yang tangannya penuh darah tetapi matanya tidak pernah berbohong.

Malam itu, Putri Mahkota meminta Tang Hyun untuk menemaninya patroli di sekitar perkemahan, dengan alasan "agar aku bisa mendengar laporan langsung tanpa diganggu para pejabat", dan selama dua jam mereka berjalan di atas salju, hanya ditemani dua pengawal yang menjaga jarak, Tang Hyun menceritakan semua yang dia temukan, tentang bayangan di puncak, tentang desa yang kosong, dan tentang firasatnya bahwa musuh di utara bukan manusia.

"Kenapa kau tidak takut?" tanya Putri Mahkota tiba-tiba.

"Karena aku sudah terlalu sering melihat kematian," jawab Tang Hyun jujur, "takut tidak akan membuatku hidup lebih lama."

Putri Mahkota terdiam, lalu dia berbisik, "Di istana, semua orang takut. Takut kehilangan jabatan, takut kehilangan kepala, takut mengatakan yang sebenarnya. Berbicara denganmu... rasanya seperti bernapas untuk pertama kalinya."

Tang Hyun tidak menjawab, karena dia tidak tahu harus menjawab apa, tetapi sejak malam itu, Putri Mahkota mulai sering memanggilnya, bukan untuk rapat resmi, melainkan untuk minum teh, untuk berjalan, dan untuk bertanya tentang hal-hal kecil seperti bagaimana cara membuat racun tidak berbau, atau mengapa bunga plum bisa tumbuh di tempat sedingin ini.

Para pejabat istana mulai berbisik, "Putri terlalu dekat dengan orang Klan Tang", "Itu berbahaya", tetapi Putri Mahkota tidak peduli, karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya dia merasa bebas berbicara tanpa harus memakai topeng.

Di sisi lain, Tang Hyun juga mulai berubah, dia yang biasanya dingin dan tidak peduli, mulai memperhatikan apakah Putri Mahkota kedinginan, mulai menyiapkan selimut tambahan di tendanya, dan mulai mengingat hal-hal kecil seperti Putri tidak suka teh terlalu pahit dan suka kue beras ketan.

"Kenapa kau melakukan ini?" tanya Tang So-yeon suatu malam ketika melihat Tang Hyun membuatkan teh khusus untuk Putri.

"Karena dia tamu," jawab Tang Hyun.

"Bukan itu," kata Tang So-yeon, "kau menatapnya berbeda."

Tang Hyun terdiam, "Aku tidak tahu."

Hari kelima, terjadi serangan, bukan dari manusia, melainkan dari kawanan serigala es berukuran sebesar kuda yang turun dari gunung, binatang yang dikatakan sudah punah, dan mereka menyerang perkemahan istana secara langsung, seolah ada yang mengendalikan mereka.

Pertempuran pecah, dan Tang Hyun bertarung di garis depan untuk melindungi kereta Putri Mahkota, menggunakan racun dan pedang, membunuh tujuh serigala seorang diri, dan ketika seekor serigala besar hampir menerkam Putri Mahkota, Tang Hyun mendorongnya dan menerima cakaran di punggung yang membuat darahnya membasahi salju.

"Tidak!" teriak Putri Mahkota sambil berlari menghampirinya, mengabaikan semua protokol, dan dia menekan luka Tang Hyun dengan tangannya sendiri, sesuatu yang tidak pernah dilakukan seorang Putri kepada orang biasa.

"Yang Mulia, tanganku kotor," kata Tang Hyun lemah.

"Aku tidak peduli," jawab Putri Mahkota dengan mata berkaca-kaca, "kau bodoh. Kenapa kau melindungiku?"

"Karena... karena Yang Mulia penting untuk negeri ini," jawab Tang Hyun, "dan juga karena... aku tidak ingin melihat Yang Mulia terluka."

Kalimat terakhir itu keluar tanpa dia sadari, dan Putri Mahkota terdiam, lalu dia mengangguk pelan dan memerintahkan tabib terbaik untuk merawat Tang Hyun sepanjang malam.

Tiga hari setelah itu, luka Tang Hyun sembuh, dan hubungan mereka berubah, tidak ada pengakuan, tidak ada janji, tetapi setiap kali mereka bertemu, ada keheningan yang nyaman, ada teh yang diseduh dua cangkir, dan ada tatapan yang lebih lama dari biasanya.

Malam ketujuh, ketika semua orang sudah tidur, Putri Mahkota datang ke tenda Tang Hyun sendirian, tanpa pengawal.

"Kau masih sakit?" tanyanya pelan.

"Sudah lebih baik," jawab Tang Hyun.

Putri Mahkota duduk di depan api, "Aku takut, Tang Hyun."

"Takut apa?"

"Takut kalau setelah ini, aku harus kembali ke istana dan berpura-pura lagi," jawab Putri, "takut kalau aku tidak akan pernah bisa berbicara jujur lagi."

Tang Hyun menatapnya, "Maka jangan berpura-pura di depanku."

Putri Mahkota tersenyum kecil, "Kau orang pertama yang berani menyuruhku seperti itu."

"Aku minta maaf," kata Tang Hyun.

"Tidak perlu," jawab Putri, "aku menyukainya."

Kata-kata itu membuat jantung Tang Hyun berhenti sedetik, karena dia tahu apa artinya, dan dia juga tahu bahwa ini berbahaya, karena cinta antara seorang Putri Mahkota dan Wakil Kepala Klan Tang bisa membuat dua dunia bertabrakan.

"Aku juga," kata Tang Hyun akhirnya, pelan, "aku menyukai Yang Mulia."

Putri Mahkota menatapnya, dan untuk pertama kalinya senyumnya benar-benar sampai ke matanya, "Panggil aku Xinyue. Hanya saat kita berdua."

"Xinyue," bisik Tang Hyun.

Mereka tidak melakukan apa-apa malam itu, hanya duduk, minum teh, dan berbicara sampai fajar, tentang masa kecil, tentang mimpi, tentang beban yang mereka pikul, dan ketika matahari terbit, Putri Mahkota kembali ke tendanya seolah tidak terjadi apa-apa, tetapi semua orang bisa merasakan ada yang berubah.

Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama, karena di malam kesepuluh, bayangan yang disebut di surat Baek Seolhwa akhirnya muncul, bukan serigala, bukan manusia, melainkan makhluk besar setinggi tiga tombak, bertubuh seperti manusia tetapi berkulit es dan memiliki mata merah, monster dari legenda yang disebut "Jenderal Es", penjaga Puncak Es Abadi yang bangun karena ada orang yang mencoba mengganggu segel di puncak.

Monster itu menyerang perkemahan, dan pertarungan besar pecah, Tang Hyun memimpin pasukan Klan Tang untuk menahan monster itu agar Putri Mahkota bisa dievakuasi, dan dalam pertarungan itu dia terluka parah lagi, lengannya patah, dadanya terkena hantaman yang membuat tulang rusuknya retak, tetapi dia tetap berdiri di depan kereta Putri sampai bala bantuan datang.

Setelah monster itu berhasil diusir dengan segel yang diaktifkan oleh tabib istana, Putri Mahkota berlari ke sisi Tang Hyun yang tergeletak, dan kali ini dia tidak peduli ada siapa pun di sekitar, dia memeluknya dan menangis.

"Jangan mati," bisik Putri, "tolong jangan mati."

"Aku... tidak akan mati," jawab Tang Hyun dengan napas terputus, "karena Yang Mulia belum... selesai minum teh denganku."

Putri Mahkota tertawa sambil menangis, "Bodoh."

Tang Hyun dirawat selama dua minggu, dan selama itu Putri Mahkota tidak pernah meninggalkan sisinya lebih dari satu jam, membuat para pejabat istana panik dan membuat Tang So-yeon hanya menggeleng sambil tersenyum.

Ketika Tang Hyun akhirnya bisa berjalan lagi, Putri Mahkota harus kembali ke ibu kota, karena urusan negara tidak bisa ditunda, dan di hari perpisahan, di gerbang perkemahan, di depan ratusan orang, Putri Mahkota melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan Putri mana pun sebelumnya, dia memegang tangan Tang Hyun di depan semua orang.

"Aku akan kembali," kata Putri Mahkota, "dan aku akan memastikan Klan Tang mendapatkan tempat yang layak di istana."

"Terima kasih, Yang Mulia," jawab Tang Hyun.

"Dan jaga dirimu," lanjut Putri pelan, hanya untuk didengar Tang Hyun, "karena aku belum selesai mengenalmu."

Kereta Putri pergi, dan Tang Hyun berdiri di sana sampai kereta itu hilang di balik salju.

Malam itu, Tang So-yeon datang dan duduk di sampingnya.

"Jadi?" tanya Tang So-yeon.

"Jadi apa?" jawab Tang Hyun.

"Jadi kau jatuh cinta pada Putri Mahkota," kata Tang So-yeon terus terang.

Tang Hyun tidak menyangkal, "Mungkin."

"Ini akan menyulitkan," kata Tang So-yeon.

"Aku tahu," jawab Tang Hyun, "tapi untuk pertama kalinya, aku ingin sesuatu untuk diriku sendiri. Bukan untuk Klan. Bukan untuk tugas."

Tang So-yeon mengangguk, "Kalau begitu, lindungi dia. Karena dunia ini akan mencoba memisahkan kalian."

Sebulan kemudian, surat datang dari istana, surat resmi yang menyatakan bahwa Klan Tang diberi wewenang penuh untuk menangani "ancaman di utara", dan juga surat pribadi tanpa segel yang hanya berisi satu kalimat: "Menunggu teh kita berikutnya. -X"

Tang Hyun menyimpan surat itu di dalam bajunya, dekat jantung.

Dia tahu jalan di depan akan sulit, karena ada Sekte Iblis, ada pejabat korup, ada monster di gunung, dan ada aturan istana yang tidak akan membiarkan seorang Putri menikah dengan orang Klan Tang.

Tetapi untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Tang Hyun tidak takut.

Karena sekarang dia punya sesuatu untuk dilindungi yang bukan hanya Klan, melainkan seseorang.

Dan dia bersumpah dalam hati, bahwa selama dia masih bernapas, tidak ada seorang pun yang akan menyentuh Putri Mahkota Li Xinyue.

Di luar tenda, salju mulai turun lagi, dan Tang Hyun berdiri, mengenakan jubahnya, karena dia tahu bahwa perang di utara belum selesai, dan bahwa cinta dan tanggung jawab sekarang berjalan di jalan yang sama.

1
Oppojaya
👍👍👍
Oppojaya
Mengesankan... 🤗
Oppojaya
👍👍👍👍
Arni Arlinawati Pratiwi💃
punya banyak dendam thor.. mc nya di bikin kesiksa dulu, lanjutan nya balas dendam.. kebiasaan author urban nih, sekali kali ada cinta cinta an nya thor kasian mc nya taku metong gak ngerasaain mencintai seseorang.. kan sian. /Facepalm/
Arni Arlinawati Pratiwi💃
baru aja masuk thor.. tiba tiba nyesek, /Facepalm/
Chandra Arbara
seorang pemuda yang terlehir kembali, untuk menjadi seseorang yang layak berdiri didunia murim
the virtuso
saling support thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!