NovelToon NovelToon
Mantan Oh Mantan

Mantan Oh Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyelamat / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Eureka Irene

Valerie menyukai kakak sahabatnya Tiara sejak awal semester 1 semasa kuliah. membutuhkan 1 tahun usaha akhirnya meluluhkan hati Dean yang selalu bersikap kaku dan dingin. Akhirnya setahun sudah mereka berpacaran namun tidak ada dari sikap Dean yang berubah tetap dingin, kaku, tidak romantis, tidak inisiatif namun tidak pernah menolak perlakuan dan permintaan Valerie. masalah mulai muncul setelah setahun hubungan mereka. Dania adik sahabat Dean timoty hadir di tengah hubungan mereka. Bagaimana akhir kisah mereka? Apakah badai sanggup meruntuhkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tembok Tinggi Hati yang Mati

Tembok Tinggi Hati yang Mati

Sinar matahari pagi menembus celah gorden sutra berwarna putih gading di dalam salah satu kamar tidur tamu rumah utama keluarga Dean. Aroma teh kamomil yang menenangkan merayap di udara, mencoba mengusir sisa hawa dingin dan pengap yang tertinggal dari malam terkutuk kemarin. Di atas tempat tidur berukuran besar, Valerie perlahan membuka sepasang matanya. Kepalanya langsung dihantam oleh rasa pening yang teramat sangat hebat—sebuah konsekuensi fisik dari beberapa gelas alkohol berkadar tinggi yang dia tenggak di Club Noir semalam.

Valerie mengernyitkan keningnya, menatap langit-langit kamar berarsitektur klasik modern yang terasa sangat asing di matanya. Ketika dia mencoba menggerakkan tubuhnya yang lemas, dia menyadari pakaian gaun gelapnya semalam telah diganti dengan baju tidur katun longgar yang bersih dan hangat.

"Kamu sudah bangun, Val?" sebuah suara lembut yang sangat akrab memecah keheningan dari arah samping tempat tidur.

Valerie menoleh cepat, membuat kepalanya kembali berdenyut nyeri. Di sana, duduk di atas kursi rotan dekat jendela, Tiara sedang menatapnya dengan sepasang mata yang sembap penuh kecemasan. Di atas meja nakas di sebelahnya, tersaji semangkuk bubur ayam hangat dan segelas air putih.

Ingatan tentang map medis putih milik Sarah, tangis sesenggukan Carlo di lantai apartemennya, hingga pelariannya ke club malam mendadak berputar kembali di dalam kepala Valerie seperti pita kaset rusak yang menyakitkan. Detik itu juga, dada Valerie naik turun memompa rasa sesak yang luar biasa besar. Rasa sakit hati akibat pengkhianatan tak sengaja dari Carlo kembali meremukkan seluruh jiwa yang baru saja dia tata selama enam bulan ini.

"Aku... aku ada di mana, Ra?" bisik Valerie, suaranya terdengar sangat parau dan kering.

"Kamu ada di rumah utamaku, Val. Semalam... Kak Dean yang menemukanmu lebih dulu di club sebelum aku tiba. Kamu mabuk berat dan pingsan, jadi kami membawamu ke sini agar Mama bisa membantumu mengganti baju dan menjagamu," jawab Tiara dengan nada penuh kehati-hatian, takut kalimatnya akan kembali memicu trauma berskala besar di hati sahabatnya.

Mendegar nama Dean disebut, ekspresi wajah Valerie mendadak berubah drastis. Binar ekspresif dan ceria yang dulu biasa dia miliki kini telah lenyap sepenuhnya, digantikan oleh sepasang mata elang yang sepenuhnya redup, kosong, dan sedingin es di kutub utara.

"Aku mau pulang ke apartemenku sekarang, Tiara," ucap Valerie, suaranya mendadak berubah menjadi sangat datar, tenang, dan tanpa intonasi emosional sedikit pun. Dia menyibak selimutnya dengan gerakan kaku, mencoba menurunkan kakinya ke lantai marmer meskipun seluruh otot tubuhnya masih terasa lemas tak bertenaga.

"Val, kondisi fisikmu masih sangat lemah. Makan buburnya sedikit dulu, ya?" bujuk Tiara, memegang bahu Valerie untuk menahannya.

Valerie menepis tangan Tiara dengan gerakan yang pelan namun sarat akan ketegasan mutlak yang tak terbantahkan. Dia menatap lurus ke dalam manik mata sahabatnya dengan pandangan yang membuat Tiara merinding. "Mulai hari ini, tatap mataku, Tiara. Hatiku sudah mati. Sudah tertutup rapat, terkunci dari dalam, dan tidak akan pernah ada lagi pintu terbuka untuk lelaki manapun di duniakah ini. Tidak untuk Carlo yang menghianatiku dengan alasan jebakan kehamilan, dan... tidak juga untuk kakak kandungmu, Dean, yang dulu menuduhku sebagai penjahat korporat. Aku tidak butuh belas kasihan atau perlindungan dari siapa pun lagi. Aku hanya ingin pulang ke tempatku sendiri."

Melihat tembok pertahanan tinggi yang kini dibangun Valerie untuk mengunci seluruh emosinya, Tiara hanya bisa menundukkan kepala dengan air mata yang samar di sudut mata. Sahabat secerianya kini telah bertransformasi menjadi sesosok wanita dingin yang mati rasa akibat dihantam badai pengkhianatan duniakah orang dewasa untuk kedua kalinya.

Sementara itu, di lantai dasar rumah utama, atmosfer di dalam ruang tamu formal terasa begitu menegangkan dan mencekam. Dean berdiri tegap di dekat jendela kaca besar yang menghadap ke pekarangan depan. Setelan kemeja hitam kasualnya tampak rapi, namun wajahnya yang tampan mengeras seperti batu karang, sepasang mata elangnya menatap tajam ke arah gerbang luar dengan kilatan amarah yang tenang namun mematikan.

Di duniakah bisnis, Dean adalah penguasa logika yang presisi, namun hari ini, seluruh kalkulasinya dikesampingkan demi bertindak sebagai garda terdepan yang akan melindungi Valerie dari gangguan apa pun.

Tin! Tin!

Suara klakson mobil yang tidak sabar terdengar dari arah luar gerbang pekarangan, diikuti oleh suara decitan ban yang kasar di atas kerikil halaman. Pintu depan rumah utama diketuk dengan sangat keras dan terburu-buru, memutus keheningan pagi yang kaku.

Dean melangkah besar menuju pintu utama, membukanya dengan satu gerakan kaku. Sosok yang berdiri di ambang pintu adalah Carlo. Pria jangkung itu tampak begitu berantakan; kemeja biru mudanya yang kemarin kini sudah kusut masai, rambutnya acak-acakan, dan matanya merah bengkak karena semalaman menangis menanggung penyesalan dan rasa bersalah yang luar biasa besar. Carlo berhasil melacak keberadaan Valerie setelah mendatangi apartemennya yang kosong dan memaksa Doni, anak magang IT sahabat Tiara, untuk memberikan informasi kontak lokasi darurat.

"Di mana Valerie, Dean?! Aku tahu Valerie ada di dalam rumah ini semalam bersama Tiara! Biarkan aku masuk menemuinya!" seru Carlo dengan nada suara yang bergetar hebat antara panik, cemas, dan putus asa yang teramat sangat pekat. Dia mencoba menerobos masuk melewati celah bahu tegap Dean.

Dean tidak bergeser satu senti pun. Tubuh tegapnya dijadikan barikade mutlak yang membentengi pintu masuk rumahnya. Tangan kanan Dean bergerak dengan kecepatan kilat, mencengkeram kerah kemeja kusut Carlo dengan kekuatan fisik yang luar biasa besar, mendorong tubuh jangkung senior tingkat akhir itu mundur dua langkah hingga membentur tiang pilar beton teras luar.

"Jangan berani-berani kamu menginjakkan kaki kotormu di dalam rumah saya, Carlo," ucap Dean, suaranya sangat rendah, tenang, namun sarat akan ancaman hukum dan intimidasi psikologis yang pekat yang sanggup membekukan nyali siapa pun.

"Dean! Kamu tidak punya hak untuk menghalangiku! Aku ini kekasihnya Valerie! Kejadian semalam itu jebakan keji dari keluargaku dan Sarah! Aku tidak sengaja menghianatinya!" jerit Carlo dengan frustrasi yang memuncak, air matanya kembali luruh membasahi pipinya yang pucat. Dia mencoba melepaskan cengkeraman tangan kokoh Dean dari kerahnya.

Dean menatap lurus ke dalam manik mata Carlo dengan tatapan mata elang yang memancarkan kejengahan dan kebencian yang mendalam. "Kekasih? Hak moralmu sebagai kekasih sudah hilang total sejak menit pertama kamu membiarkan duniakamu yang kotor menyentuh dan menghancurkan jiwa Valerie semalam, Carlo. Satu tahun lalu, saya memilih mundur dari hidup Valerie karena logikaku mengatakan kamu jauh lebih hangat dan layak menjaganya daripada saya yang kaku ini. Tapi hari ini... melihat kamu membiarkan wanita lain hamil akibat ketidakmampuanmu mengontrol lingkungan bisniemu, kamu terbukti hanyalah pecundang yang tidak punya integritas untuk melindungi seorang wanita seutuhnya."

Dean mengeratkan cengkeramannya, menarik wajah Carlo lebih dekat dengan penekanan yang mutlak. "Dengarkan saya baik-baik, Carlo. Nama baik keluargamu, Dirgantara Group, tidak ada artinya di depan saya. Hari ini juga, saya sudah menyuruh tim pengacara korporat saya untuk memantau setiap langkah hukum yang akan diambil oleh keluarga Sarah. Dan jika kamu berani memunculkan wajah berantakanmu di sekitar apartemen atau kampus Valerie lagi untuk mengusik proses penyembuhannya... saya sendiri yang akan memastikan seluruh investasi gabungan luar kota milik keluargamu hancur berantakan dalam waktu satu minggu ke depan. Sekarang, pergi dari rumah saya sebelum saya menyuruh petugas keamanan menyeretmu keluar dengan cara yang paling memalukan di kota ini."

Dengan satu sentakan kaku, Dean melepaskan cengkeraman tangannya dari kerah Carlo, membuat pria jangkung itu terhuyung mundur ke belakang. Carlo menatap Dean dengan pandangan tidak percaya sekaligus ketakutan yang mendalam melihat aura kekuasaan mutlak yang dipancarkan oleh sang CEO kaku di hadapannya. Carlo menyadari, di duniakah nyata yang kejam ini, dia telah kalah telak. Dia telah kehilangan haknya untuk mempertahankan Valerie akibat jebakan keluarganya sendiri.

Dengan bahu yang merosot lesu dan punggung yang tampak begitu bungkuk menanggung penyesalan bisu yang terlambat, Carlo berjalan gontai kembali menuju mobilnya, melaju pergi meninggalkan pekarangan rumah utama Dean dengan tangis penyesalan yang tak akan pernah bisa mengubah takdir yang telah hancur.

Setelah mobil Carlo menghilang di balik gerbang pekarangan, Dean membalikkan tubuhnya kembali melangkah masuk ke dalam rumah. Langkah kakinya terhenti sejenak di dekat anak tangga pertama saat melihat Valerie sudah berdiri di sana, didampingi oleh Tiara yang memegang tas kuliahnya. Valerie telah mengganti baju tidurnya kembali dengan kemeja flanel kasualnya yang berantakan. Wajah gadis itu tampak pucat pasi, namun matanya menatap Dean dengan tatapan dingin kosong yang mengunci seluruh atmosfer ruangan.

Valerie telah menyaksikan seluruh adegan konfrontasi sengit di teras depan barusan antara Dean dan Carlo dari balik jendela lantai atas.

"Terima kasih sudah mengusir pria itu dari sini, Dean," ucap Valerie pelan, suaranya terdengar sangat kaku dan tanpa riak ekspresif sedikit pun. "Tapi jangan mengira tindakan motormu sebagai garda terdepan hari ini bisa mengubah penilaianku padamu. Bagiku... kamu dan Carlo sama saja. Kalian berdua adalah pria yang egois yang hanya peduli pada dunia kalian masing-masing. Tolong, panggil sopir kantormu sekarang. Aku mau pulang ke apartemenku."

Dean menatap lekat-lekat wajah wanita yang sangat dicintainya itu. Rasa bersalah masa lalu yang teramat sangat pekat kembali meremas dadanya melihat binar ceria Valerie telah mati total hari ini, digantikan oleh tembok tinggi es yang kaku—sebuah karma nyata yang harus dia terima karena dulu dialah yang mengajari Valerie bagaimana rasanya diabaikan oleh duniakah logika yang dingin.

Dean menundukkan kepalanya sedikit, memberikan sebuah penghormatan kaku yang teramat tulus sebelum menekan tombol panggil di ponselnya. "Sopir sudah siap di depan, Valerie. Tiara akan mengantarmu sampai ke dalam kamar apartemenmu dengan aman. Saya tidak akan memaksamu untuk mendengarkan draf maaf saya hari ini... tapi saya berjanji, mulai malam ini, saya tidak akan pernah membiarkan duniakamu sendirian lagi dalam kegelapan."

Valerie tidak merespons kalimat janji dari mulut Dean. Dia melangkah melewati pilar koridor rumah utama dengan punggung yang tegak, masuk ke dalam mobil jemputan bersama Tiara tanpa pernah menoleh ke arah Dean yang berdiri mematung menatap kepergiannya dengan penyesalan yang kian membakar habis sisa ketenangan jiwanya. Tembok tinggi di hati Valerie mungkin telah tertutup rapat mengunci seluruh dunianya dari lelaki manapun, namun perjuangan panjang, melelahkan, dan penuh inisiatif dari seorang Dean untuk meruntuhkan benteng es tersebut kini resmi dimulai dengan draf strategi baru yang tak akan pernah menyerah oleh waktu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!