NovelToon NovelToon
Wanita Sang Raja Iblis

Wanita Sang Raja Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Iblis
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Jee44

Di mata tiga alam, kaum Dewa adalah simbol kesucian dan Iblis adalah perlambang petaka. Namun, kebenaran tertutup oleh kabut keserakahan. Demi mencapai keabadian mutlak, Dewa Tinggi Ling Cang berniat mengorbankan Dewi Shen Liya—pemilik Wadah Ilahi dengan energi suci termurni. Menolak menjadi tumbal, Shen Liya melarikan diri ke dunia fana dalam kondisi terluka parah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee44, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31. Bayangan dari Langit 9 Tingkat

Tekanan atmosfer di atas Kota Gusu tidak lagi berada di ambang batas kewajaran dunia manusia. Langit siang yang semula dikuasai oleh badai petir emas bentukan pasukan langit, kini telah koyak dan tertutup sepenuhnya oleh hamparan awan hitam sepekat tinta kutukan yang meledak dari tubuh Mo Jue.

Hawa dingin yang mematikan terus merayap turun dari atas bukit, mengubah setiap tetesan air gerimis di udara kota menjadi kristal es hitam yang tajam sebelum menyentuh ubin batu halaman.

Di pelataran tengah rumah halaman sewaan yang telah hancur berantakan, Mo Jue berdiri tegak dengan keagungan mutlak seorang penguasa tertinggi Alam Kegelapan.

Zirah hitam legam bergambar naga kegelapan yang membungkus tubuh tegapnya memancarkan pendaran cahaya ungu menyala yang teramat mengerikan. Di belakang bahunya, jubah hitam agungnya berkibar liar ditiup angin badai, menyapu sisa-sisa energi suci milik tentara langit dengan sekali tebasan.

Sepasang mata ungunya menatap lurus ke depan, mengunci pandangan pada Panglima Gao yang saat ini masih mematung dengan wajah seputih porselen pecah.

Panglima Gao mencengkeram erat hulu pedang panjang surgawinya, meskipun seluruh sendi di tangan zirahnya bergetar hebat menahan tekanan intimidasi raksasa Mo Jue.

Sebagai tangan kanan Dewa Tinggi Ling Cang, ia tahu betul sejarah kelam tentang kebuasan makhluk di depannya ini. Mo Jue adalah momok mengerikan yang telah membantai ratusan dewa tingkat tinggi di masa perang tiga alam masa lalu.

"Mo... Mo Jue..." suara Panglima Gao bergetar parau, mencoba mengumpulkan sisa-sisa wibawa militernya di hadapan para prajuritnya.

"Kau... kau adalah penguasa mutlak Alam Kegelapan. Bagaimana mungkin kau sudi memoles wajahmu menjadi tabib mortal rendahan dan menyembunyikan Wadah Ilahi di tempat kotor seperti ini?!"

Mo Jue tidak membalas pertanyaan tersebut dengan kalimat penjelasan. Sudut bibir tegapnya hanya terangkat membentuk seulas senyuman pembunuh yang teramat kejam di tengah kegelapan malam tiruan kota fana.

"Kau sudah terlalu banyak menggonggong di halaman rumahku, Anjing Langit," desis Mo Jue rendah, suaranya yang bariton menggema dahsyat dengan vibrasi magis yang seketika meretakkan sisa-sisa tiang batu kediaman fana mereka.

"B-Bajingan Kegelapan! Jangan mengira Alam Langit akan takut pada wujud aslimu!" bentak Panglima Gao, rasa panik dan harga diri dewa yang terancam membuatnya nekat mengambil keputusan ekstrem.

Ia melompat mundur lima langkah, mengangkat pedang emasnya tinggi-tinggi ke udara sembari meledakkan seluruh sisa esensi energinya ke langit atas.

"Prajurit Langit! Jangan mundur! Target kita ada di depan mata! Bentuk Formasi Pembantai Jiwa Delapan Penjuru! Ratakan seluruh rumah dan kota fana ini menjadi abu kosmis sekarang juga!"

BOOM!

Menerima komando dari sang panglima, ribuan berkas cahaya emas yang semula bersembunyi di balik awan kelabu mendadak melesat turun bersamaan. Lebih dari dua ribu prajurit langit berzirah emas dengan tombak dan panah surgawi terhunus kini melayang berbaris di atas udara Kota Gusu, membentuk formasi lingkaran raksasa yang mengunci seluruh koordinat distrik utara dari jalur dimensi atas.

Tekanan dari formasi dewa tersebut begitu masif, menciptakan gelombang riak energi suci yang mematikan yang siap merobek seluruh meridian makhluk hidup di bawahnya.

Di ambang pintu kamar utama, Shen Liya yang masih bersandar lemas pada kusen pintu, merasakan dadanya kembali berdenyut perih.

Efek tekanan dari formasi pembantai jiwa milik kaumnya sendiri mulai memicu pergolakan sisa racun di dalam inti sucinya. Namun, tatapan mata indahnya tetap terkunci penuh rasa haru dan kecemasan pada punggung zirah hitam suaminya.

Pria itu kini berdiri di garis terdepan, memunggungi bahaya langit demi membentengi hidupnya dan Gu Yu kecil.

Di samping kanan kaki tegap Mo Jue, Gu Yu kecil berdiri dengan posisi kuda-kuda siaga rendah yang teramat kokoh.

Sepasang mata sehitam tintanya berkilat warna ungu menyala yang sangat pekat, sementara tangan kecilnya mencengkeram erat hulu pedang kayu pusaka yang kini mulai memancarkan pendaran sulur hitam dingin akibat resonansi energi ayahnya.

Di dekat kaki kecil sang pangeran cilik, Xiao Bai merunduk siaga dengan bulu-bulu peraknya yang berdiri tegak memancarkan kabut es tipis, taring kecil harimau putih itu menyeringai menatap ribuan serangga zirah emas di langit atas tanpa ada seulas rasa takut sedikit pun.

"Yu'er, bawa ibumu masuk ke dalam pelindung kamar," perintah Mo Jue datar tanpa menoleh sedikit pun, namun nada suaranya memandatkan sebuah titah suci yang tidak bisa diganggu gugat.

"Pria dingin... apakah aku benar-benar tidak boleh mencakar mereka dari bawah?" tanya Gu Yu kecil, mendongak menatap profil samping zirah hitam ayahnya dengan binar semangat kegelapan cilik yang membara.

"Musuh di atas sana terlalu kotor untuk menodai pedang kayu barumu, Bocah," jawab Mo Jue, sekerat kelembutan tersembunyi melintas sesaat di mata ungunya sebelum kembali berubah menjadi sedingin es abadi saat menatap Panglima Gao.

"Masuklah. Dan pastikan anak kucingmu tidak mengeong berisik di dalam sana."

Gu Yu kecil mendengus kecil, sebuah ekspresi gengsi khas anak kecil, namun ia tetap patuh. Ia menyarungkan kembali pedang kayunya, lalu menggandeng jemari Shen Liya yang lemas untuk menuntun ibunya masuk ke balik pintu kamar utama yang saat ini telah dilapisi oleh lapisan pembatas pelindung iblis transparan yang dipasang oleh Lan Xi.

Xiao Bai ikut melompat lincah mengekor di belakang kaki kecil Gu Yu, merunduk siaga di ambang pintu kamar sebagai benteng pertahanan terakhir.

Begitu pintu kamar utama ditutup rapat dari dalam, Mo Jue menarik napas panjang. Sebelum ia mengangkat tangan kanannya untuk menyerang balik, ia menghentakkan kaki kirinya ke lantai batu halaman dengan hentakan yang berbobot energi raksasa.

Wusss!

Dari balik sepatu zirahnya, gelombang kabut hitam sepekat malam menyembur keluar, merayap cepat menyusuri tanah. Energi kegelapan itu tidak hanya membentuk kubah pelindung transparan di sekeliling rumah halaman sewaan mereka, melainkan melesat cepat seperti sulur raksasa, membelah jalanan Kota Gusu, lalu melompat naik membentengi seluruh batas perimeter kota padat penduduk tersebut.

Dalam hitungan detik, sebuah Kubah Perisai Gerhana raksasa yang tak kasat mata telah membentang luas, mengunci seluruh wilayah Kota Gusu ke dalam isolasi dimensi bawah yang teramat aman.

Mo Jue sengaja memasang benteng pertahanan ganda ini demi memastikan bahwa benturan energi supernatural berskala besar antara dirinya dan ribuan pasukan langit di atas sana tidak akan menjatuhkan sebutir pun batu runtuhan, memercikkan petir, atau merusak meridian tubuh ribuan rakyat jelata fana yang saat ini sedang gemetar ketakutan di dalam rumah mereka.

Menyaksikan kubah hitam pembatas dimensi kota itu terbentuk dengan begitu kokoh dan rapi, Panglima Gao terbelalak sempurna. Ia tidak menyangka Raja Iblis yang terkenal kejam ini justru membuang sebagian energinya hanya untuk melindungi manusia mortal yang dianggap semut rendahan oleh Istana Surgawi.

Mo Jue kembali menegakkan tubuhnya, lalu perlahan mengangkat tangan kanannya ke udara. Jemari zirahnya yang panjang bergerak dengan ritme yang teramat tenang.

Dari balik bayangan lempengan zirah hitamnya, sulur-sulur energi kegelapan melesat keluar secara magis, berputar-putar di udara membentuk ratusan bilah pedang bayangan raksasa yang memancarkan tekanan intimidasi absolut penguasa kegelapan.

Panglima Gao yang melihat formasi pedang bayangan Mo Jue mulai terbentuk, seketika gemetar ketakutan.

"Serang! Serang dan hancurkan iblis itu sebelum dimensinya mengunci kita!" teriak Panglima Gao dengan histeris sembari mengayunkan pedang emasnya ke bawah.

Ribuan anak panah surgawi berbalut petir emas meluncur deras membelah kegelapan langit, menukik tajam mengincar tubuh tegap Mo Jue dari seluruh penjuru langit udara Kota Gusu.

Mo Jue berdiri diam di tengah pelataran halaman yang hancur, sepasang mata ungunya berkilat memancarkan hawa pembunuhan yang teramat dingin dan kejam. Ia menghentakkan jari tengah dan jempol tangan kanannya di udara, melepaskan satu petikan jari sihir penghancur sukma yang teramat dahsyat.

CETAK!

Suara petikan jari kecil itu bergaung begitu nyaring, memotong seluruh deru angin badai guntur dalam sekejap mata.

Seketika itu juga, ratusan pedang bayangan raksasa di sekelilingnya melesat terbang ke atas, membelah kubah langit kelabu dengan kecepatan yang mengerikan, siap menabrak dan merobek seluruh formasi zirah emas pasukan langit Panglima Gao dalam satu pertunjukan kekuatan absolut yang akan merubah seluruh wilayah udara kota fana ini menjadi lautan abu hitam kegelapan.

1
Aisyah Suyuti
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!