Baca dulu "CALLIE SI BOCAH GENIUS"
Pergerakannya tidak bisa ditebak. Tingkahnya sangat random seperti remaja lainnya. Namun otaknya hampir 24 jam bekerja untuk membuat senjata dan sistem, meretas, dan melakukan eksperimen. Dunia bawah dan laboratorium khusus yang diwariskan padanya dari sang Opa, membuat gadis remaja itu tumbuh menjadi sosok yang cerdik. Dia adalah Callie Noura Eleanor.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menolak
"Siapa lagi ini? Ganggu orang lagi mau makan aja. Nggak tahu apa ya kalau aku lagi lapar itu bisa makan orang nanti jika emosi. Sangat menyebalkan," seru Callie yang kesal karena perjalanannya terganggu.
ZERO SUN,
Apa itu?
Apalagi sedari tadi perutnya sudah berbunyi malah ada saja yang mengganggu perjalanannya. Ricko menatap tajam pada dua orang yang ada di depan mobil. Aura di dalam mobil itu pun seketika berubah. Terasa lebih dingin dan menegangkan. Callie melihat bagaimana wajah Ricko dan Ben berubah lebih dingin dibandingkan tadi saat menghadapi kerjasama perusahaan. Bahkan Reska yang duduk di kursi bagian depan bersama dengan Ben pun wajahnya terlihat kaku.
"Organisasi dunia bawah yang sedang mengincar pemimpin dari DEVIL CROWN agar bisa dilengserkan. Mereka adalah anak buah dari ZERO SUN, pemimpinnya cicit dari salah satu pendiri DEVIL CROWN. Entah apa tujuannya menghadang mobil milikku," ucap Ricko menjelaskan tanpa mengalihkan pandangannya ke arah Callie.
Deg...
"Melengserkan ketua dari DEVIL CROWN? Mereka yang selama ini tak pernah terlihat, tiba-tiba datang ingin merebut atau melengserkan? Sangat lucu sekali. Tidak tahu diri," ucap Callie mengomentari apa yang dilakukan oleh orang-orang itu.
"Kamu tahu?" Ricko menatap aneh pada Callie yang mengetahui beberapa informasi tentang masalah mafia. Sedangkan Reska tampak kebingungan seperti orang tak tahu apa-apa.
"Aku pernah mendengarnya sekilas," ucap Callie memberi alasan.
Callie tidak mau Ricko, Ben, dan Reska tahu mengenai dia yang menjadi pemimpin salah satu organisasi dunia bawah. Ini adalah rahasia keluarganya. Bahkan keturunan dari beberapa pendiri DEVIL CROWN pun tak tahu bagaimana wajah pemimpinnya yang sekarang. Maka dari itu mereka ingin mengetahui orang yang menjadi pemimpin DEVIL CROWN saat ini. Apalagi setelah mendengar bahwa Papa Fabio yang memegang kendali DEVIL CROWN sudah tiada.
Mereka ingin merebut kekuasaan yang sudah dibesarkan oleh tetua dahulu. Padahal sebelumnya mereka tak pernah muncul. Saat Ronand yang memimpin, sama sekali anak-anak dari pendirinya tidak muncul. Lalu mengapa saat DEVIL CROWN sedang dalam puncak kejayaannya dengan berbagai senjata dan obat buatan, mereka muncul kembali? Callie harus waspada dengan orang-orang ini.
"Tuan Ricko, segera lah turun. Kami ingin bicara sebentar. Ada hal penting yang harus saya bicarakan dengan anda," seru salah satu di antara mereka mendekati mobil milik Ricko.
"Ben..." panggil Ricko meminta Ben untuk keluar. Dia malas menemui dua orang suruhan organisasi ZERO SUN itu.
"Baik, Tuan." Ben pun segera keluar dari mobil. Sedangkan Ricko akan mengawasi dari dalam mobil.
"Aku mau keluar. Kasihan Tuan Ben," Callie hendak membuka pintu mobil tapi tangannya langsung ditarik oleh Ricko.
Grepp...
"Jangan keluar dari mobil. Kita tidak tahu apa niat dari mereka. Aku yakin mereka tidak hanya ingin berbicara denganku. Jangan menunjukkan wajahmu di depan mereka yang malah membuatmu jadi target," Tubuh Callie terhuyung ke depan saat tangannya ditarik, membuat jarak antara dia dan Ricko begitu dekat. Ricko terpaku seperti terhipnotis oleh mata indah Callie.
Ehemm...
Masih ada orang di sini,
Seruan dari Reska ini membuat Callie langsung menepis tangan Ricko dan menegakkan badannya. Callie langsung kembali memfokuskan diri pada Ben yang tengah berbincang dengan dua orang itu. Walaupun jantung dan nafasnya sedikit tidak beraturan karena insiden tadi. Begitu pula dengan Ricko yang menutupi kegugupannya dengan raut wajah datarnya. Reska menggelengkan kepalanya melihat insiden tadi. Dia merasa kurang nyaman melihat kedekatan dari Callie dan Ricko.
"Callie, mukamu merah kaya kepiting rebus. Nggak kepanasan kan?" tanya Reska mengawasi dari kaca spion di atasnya.
"Panas otaknya kalau nggak ada duit," jawab Callie dengan asal untuk menutupi kegugupannya.
"Ayo keluar, Kak Reska. Kita bantu si Ben," Callie memutuskan untuk keluar walaupun sudah dilarang oleh Ricko. Dia tidak mau hanya menunggu atau dilindungi saja oleh oranglain.
"Bah..."
"Kasihan asisten anda itu, Tuan Ricko. Dia hanya sendiri tapi disuruh menjaga tiga orang. Kaya orang nggak berguna aja," sela Callie dengan tatapan sinisnya.
Bukan itu maksud Ricko. Dia hanya ingin tahu tujuan dari kedua orang itu menemuinya. Dia malas basa-basi dan terbiasa untuk mengetahui dulu tujuan mereka menemuinya. Sedangkan Callie adalah orang yang to the point dalam menyelesaikan sesuatu. Tidak perlu asisten yang keluar jika dirinya bisa menyelesaikan, kecuali masalah kecil seperti mengurus perusahaan. Namun jika ini sudah berurusan dengan keselamatan orang, Callie akan langsung maju. Reska pun menuruti ucapan Callie walaupun ada rasa takut karena baru pertama kali menghadapi organisasi dunia bawah.
"Ngeyel banget sih," gumam Ricko sambil menghela nafasnya kasar kemudian keluar dari mobil. Mengikuti Callie dan Reska.
Dor... Dor...
Aaaaa...
"Rasakan. Tadi kasih tembakan juga kan?" seru Callie yang tiba-tiba menembakkan pistolnya ke dekat kaki dua orang anggota ZERO SUN.
"Jangan main-main kamu. Cewek aja belagu. Kalau nggak tahu ap..."
Ctakkkk...
Argh...
"Ngomongin gender. Emangnya kenapa kalau aku cewek, ha?" seru Callie yang langsung menggunakan ketapel berisi batu lancip untuk memberikan peringatan. Bahkan batu itu mengenai telinga salah satu dari mereka.
"Aku nggak takut sama kalian," lanjutnya.
Dua orang anggota dari ZERO SUN itu langsung memasang kuda-kuda. Mereka merasa dijatuhkan harga dirinya oleh Callie. Sedangkan Ben, Reska, dan Ricko langsung membentuk benteng di depan Callie. Tak membiarkan dua orang itu bisa melihat Callie. Bahkan Callie saja sampai tak terlihat karena tinggi dari tiga laki-laki di depannya ini melebihi gadis remaja itu.
"Ndak kelihatan lho ini," Callie protes karena tak bisa melihat lawannya. Bahkan Callie sampai melompat berulangkali agar bisa melihat lawannya.
"Diam aja, bocil." ucap Ricko meminta Callie agar tidak berisik.
"Nasib jadi orang pendek ya kaya gini," gerutu Callie yang rasanya ingin menendang kaki ketiganya.
"Kalian ingin apa menemui saya?" seru Ricko dengan posisi sudah bersiap.
"Kami ingin minta bantuan untuk melacak dimana keberadaan ketua dari DEVIL CROWN, Tuan Ricko. Ketua kami akan memberikan apapun demi informasi itu," ucap salah satu dari mereka mengungkapkan tujuan menemui Ricko. Padahal tadi saat ditanya oleh Ben, keduanya sama sekali tidak mau menjawab dan berujung berdebat.
Deg...
Jantung Callie berdetak begitu cepat mendengar ucapan dari mereka. Tubuhnya membeku di belakang Ricko, Ben, dan Reska tanpa ketiganya ketahui. Orang-orang tengah mengincar dan mencarinya. Callie harus waspada dan tidak boleh asal bertindak. Apalagi sampai menunjukkan kemampuannya di depan publik. Yang ada, mereka curiga kalau dia bukan pebisnis biasa. Callie menepuk dahinya pelan karena merutuki kebodohannya yang tadi sempat menggunakan pistol.
"Saya menolak membantu kalian," jawab Ricko dengan tegasnya.
Tidak bisa. Tuan Ricko harus membantu kami,
Jika tidak, cewek di belakang kalian itu akan kami jadikan...
Bugh...
Argh...