NovelToon NovelToon
Sistem Raja Cuan Membangun Kampung Halaman

Sistem Raja Cuan Membangun Kampung Halaman

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi Isekai
Popularitas:13.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Lelah menjadi budak korporat di kota besar tanpa hasil dan malah dikhianati oleh orang terdekatnya, Yao Wi memutuskan menyerah dan pulang ke kota kelahirannya yang miskin dan terbelakang. Namun, siapa sangka keputusannya untuk menyerah justru menjadi titik balik hidupnya saat sebuah sistem misterius tiba-tiba aktif di kepalanya.

Ding!

​[Selamat datang, Tuan Rumah Yao Wi.]

​[Sistem ini bertujuan untuk membantu Anda mengubah kota kelahiran Anda yang tertinggal menjadi kota paling makmur di bumi.]

​[Aturan Utama Sistem: Tuan rumah akan menerima seratus ribu setiap hari dari setiap jiwa yang terdaftar resmi sebagai warga kota ini.]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Burp!

Suara sendawa keras keluar dari mulut Yao Wi setelah ia menghabiskan porsi ketiganya.

Ia mengusap perutnya yang membuncit dengan perasaan sangat puas dan bahagia.

"Bibi, masakannya luar biasa enak, besok aku akan mampir lagi," ucap Yao Wi sambil berdiri dari kursi plastiknya.

Bibi pemilik warung itu terus membungkuk hormat mengantarkannya sampai ke pinggir jalan.

"Terima kasih banyak, Tuan Muda yang tampan, hati-hati di jalan," balas bibi itu dengan senyum yang sangat lebar.

Yao Wi melambaikan tangannya santai lalu berjalan menyusuri trotoar yang basah.

Gerimis sudah berhenti, menyisakan udara sore yang cukup dingin menusuk tulang.

Ia menatap koper tuanya yang ia seret dan menyadari satu masalah penting.

Ia tidak punya tempat tinggal karena rumah peninggalan orang tuanya sudah dijual bertahun-tahun lalu untuk biaya kuliahnya.

"Sistem, apakah aku bisa menggunakan uang ini untuk membeli rumah hari ini juga?" batin Yao Wi sambil terus berjalan.

Ding!

[Tuan Rumah bebas menggunakan dana harian untuk membeli properti residensial selama itu berada di dalam wilayah Kota Linzhou.]

[Namun, disarankan untuk mencari tempat tinggal sementara terlebih dahulu karena proses pembelian dan renovasi membutuhkan waktu.]

Yao Wi mengangguk pelan menyetujui saran logis dari sistem tersebut.

Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling jalanan kota yang mulai gelap.

Di ujung jalan utama ini, berdiri sebuah bangunan berlantai lima yang merupakan bangunan tertinggi sekaligus termewah di kota ini.

Lampu neon besar berkedip-kedip di atapnya membentuk tulisan Hotel Grand Linzhou.

Ini adalah satu-satunya hotel bintang tiga di kota ini, tempat berkumpulnya para pejabat lokal atau pengusaha dari luar kota.

"Dulu aku hanya bisa bermimpi untuk menginap di sana," gumam Yao Wi dengan senyum miring.

"Sekarang, mari kita lihat apakah pelayanan mereka sepadan dengan nama besarnya."

Yao Wi melangkah pasti menuju pintu kaca putar di pintu masuk hotel tersebut.

Srettt! Srettt!

Suara roda kopernya yang bergesekan dengan lantai marmer lobi hotel langsung memecah keheningan ruangan mewah itu.

Udara dingin dari pendingin ruangan langsung menyambutnya, membuat pakaian lusuhnya yang agak basah semakin terasa dingin.

Ia berjalan menuju meja resepsionis yang terbuat dari kayu jati berpelitur mengkilap.

Di balik meja itu, berdiri seorang wanita muda dengan seragam kerja yang rapi dan riasan wajah yang tebal.

Papan nama di dadanya menunjukkan nama Zhao Min.

Zhao Min sedang asyik mengikir kuku saat mendengar suara langkah kaki mendekat.

Ia mendongak dan senyum ramah yang biasanya ia siapkan untuk tamu langsung lenyap seketika.

Matanya menatap jijik ke arah pakaian Yao Wi yang kotor, sepatu ketsnya yang berdebu, dan koper bututnya.

"Maaf, apakah Anda tersesat, Tuan?" tanya Zhao Min dengan nada dingin dan menusuk.

"Pintu keluar ada di sebelah sana, tolong jangan mengotori lantai marmer kami yang baru saja dipel."

Yao Wi menatap wanita itu dengan tenang, sama sekali tidak terprovokasi oleh nada bicaranya.

"Aku tidak tersesat, aku datang ke sini untuk menyewa kamar," jawab Yao Wi santai.

Zhao Min mendengus pelan, nyaris seperti tawa yang meremehkan.

"Menyewa kamar? Di sini?" tanyanya sambil menyilangkan tangan di depan dada.

"Tuan, ini adalah Hotel Grand Linzhou, bukan penginapan murah di pinggir jalan raya."

"Tarif kamar standar kami yang paling murah adalah delapan ratus ribu per malam."

Zhao Min sengaja menekan kata delapan ratus ribu untuk membuat pria gembel di depannya ini sadar diri.

Menurutnya, pria dengan penampilan seperti pengemis ini jangankan delapan ratus ribu, delapan puluh ribu saja pasti tidak punya.

Yao Wi hanya mengangguk-angguk kecil mendengar penjelasan tarif tersebut.

"Hanya delapan ratus ribu? Itu terlalu murah," ucap Yao Wi dengan wajah datar.

"Aku ingin kamar yang paling mahal dan paling besar di hotel ini, ada?"

Mata Zhao Min melotot kesal, merasa pria ini sedang mempermainkan waktunya.

"Dengar ya, orang gila, aku tidak punya waktu untuk melayani leluconmu," desis Zhao Min mulai kehabisan kesabaran.

"Kamar Presidential Suite kami harganya lima juta per malam, dan itu jelas bukan untuk orang sepertimu!"

"Sekarang cepat keluar dari sini sebelum aku memanggil pihak keamanan untuk menyeretmu paksa!"

Yao Wi menghela napas panjang, merasa lelah dengan orang-orang picik yang selalu menilai dari penampilan luar.

"Kenapa kau tidak mengecek ketersediaan kamarnya dulu sebelum mengusir pelanggan potensialmu?" balas Yao Wi membalas tatapan tajam wanita itu.

"Pelanggan? Kau menyebut dirimu pelanggan?" tawa Zhao Min akhirnya pecah.

Ia meraih telepon di atas mejanya dan memutar nomor ruang keamanan.

"Halo, keamanan? Tolong ke lobi sekarang juga, ada pengemis gila yang membuat keributan di sini," lapornya tanpa ragu sedikit pun.

Yao Wi tidak mencegahnya, ia malah tersenyum tipis dan bersandar di meja resepsionis.

Tidak sampai satu menit, dua orang satpam bertubuh kekar berlari mendekat dengan wajah garang.

"Ada apa ini, Nona Zhao? Siapa yang berani membuat keributan?" tanya salah satu satpam sambil memelototi Yao Wi.

"Itu dia, cepat seret gembel ini keluar, dia mengotori lobi kita dan mengaku ingin menyewa kamar lima juta," tunjuk Zhao Min dengan dagunya.

Satpam itu langsung maju dan mencengkeram bahu Yao Wi dengan kasar.

"Ayo jalan, jangan membuat kami menggunakan kekerasan," ancam satpam tersebut.

Namun, sebelum tangan satpam itu sempat menariknya lebih jauh, Yao Wi merogoh saku celananya dengan tenang.

Ia mengeluarkan ponselnya yang layarnya retak dan meletakkannya di atas meja resepsionis dengan bunyi bantingan pelan.

Tak!

"Buka matamu lebar-lebar dan lihat angka ini, Nona Zhao," ucap Yao Wi dengan suara rendah namun penuh tekanan.

Ia membuka aplikasi bank selulernya dan memutar layar ponselnya menghadap ke arah Zhao Min.

Zhao Min awalnya enggan melihat, namun matanya secara refleks tertuju pada layar yang menyala itu.

Deretan angka nol yang sangat panjang langsung menghantam retina matanya tanpa ampun.

Satu, dua, tiga, hingga sembilan angka nol di belakang angka lima.

Lima miliar rupiah.

Napas Zhao Min seketika terhenti dan wajahnya yang penuh riasan itu langsung berubah sepucat kertas.

"I-ini... ini tidak mungkin nyata, kau pasti menggunakan aplikasi palsu kan?" gagap Zhao Min dengan bibir gemetar.

"Kau pikir aku pengangguran kurang kerjaan yang repot-repot membuat aplikasi palsu hanya untuk pamer di hotel rongsokan ini?" balas Yao Wi tajam.

Ia mengambil kembali ponselnya dan membuka menu transfer.

"Katakan berapa nomor rekening hotel ini sekarang juga."

Zhao Min masih mematung, otaknya gagal memproses situasi yang berbalik begitu cepat.

Satpam yang memegang bahu Yao Wi juga ikut mengintip ke arah layar ponsel dan langsung melepaskan cengkeramannya seolah tersengat listrik.

"Nona Zhao, cepat berikan nomor rekeningnya, dia benar-benar orang kaya!" bisik satpam itu panik.

Dengan tangan bergetar hebat, Zhao Min mengambil kartu nama hotel dan menyodorkannya ke arah Yao Wi.

Yao Wi mengetik nomor rekening tersebut dengan gerakan jari yang cepat.

"Berapa banyak kamar kosong yang kalian miliki malam ini?" tanya Yao Wi tanpa melihat ke arah wanita itu.

"A-ada lima puluh kamar standar, sepuluh kamar VIP, dan satu Presidential Suite, Tuan," jawab Zhao Min terbata-bata.

Yao Wi menghitung cepat di dalam kepalanya.

"Total semua kamar itu per malam kurang lebih seratus juta, benar?" tanya Yao Wi lagi.

"B-benar, Tuan, sekitar sembilan puluh lima juta rupiah."

"Bagus."

Ding!

"Transfer berhasil," ucap suara otomatis dari aplikasi ponsel Yao Wi yang sengaja ia keraskan volumenya.

Beberapa detik kemudian, mesin pencetak di belakang meja resepsionis berbunyi dan mencetak bukti mutasi rekening hotel.

Zhao Min menarik kertas itu dengan kasar dan matanya nyaris copot saat melihat angka yang tertera di sana.

Satu miliar rupiah telah masuk ke rekening operasional Hotel Grand Linzhou.

"Tuan... ini... Anda mentransfer satu miliar? Ini terlalu banyak!" teriak Zhao Min histeris.

Keributan itu akhirnya menarik perhatian seorang pria paruh baya berkacamata yang keluar dari ruang kantor di belakang lobi.

"Ada apa ribut-ribut di sini? Nona Zhao, jaga sikapmu di depan tamu!" tegur pria itu yang merupakan manajer hotel, bernama Tuan Li.

"Manajer Li, Tuan ini... Tuan ini baru saja mentransfer satu miliar ke rekening kita!" lapor Zhao Min sambil menyodorkan kertas bukti transfer dengan tangan gemetar.

Manajer Li menyambar kertas itu dan membelalakkan matanya tidak percaya.

Ia langsung menatap Yao Wi yang masih berdiri santai dengan pakaian kumalnya.

Sebagai manajer berpengalaman, Tuan Li tahu betul bahwa banyak orang kaya sejati yang suka berpenampilan eksentrik.

Ia langsung membungkuk sembilan puluh derajat di hadapan Yao Wi hingga kepalanya hampir menyentuh meja.

"Tuan yang terhormat, mohon maafkan ketidaksopanan staf kami yang bodoh ini," ucap Manajer Li dengan suara penuh penyesalan dan ketakutan.

"Satu miliar ini... apakah Anda ingin memborong kamar kami untuk sepuluh hari ke depan?"

Yao Wi tersenyum sinis dan menggelengkan kepalanya pelan.

"Tidak, aku menyewa seluruh kamar di hotel ini hanya untuk malam ini saja," jawab Yao Wi tegas.

"Sisanya, anggap saja sebagai uang kompensasi karena kalian harus membatalkan dan mengusir semua tamu lain yang sudah memesan kamar hari ini."

Manajer Li tersedak ludahnya sendiri mendengar permintaan gila tersebut.

Mengusir semua tamu lain demi satu orang merupakan tindakan yang gila.

Itu akan merusak reputasi hotel, tapi uang satu miliar setara dengan pendapatan kotor hotel ini selama berbulan-bulan penuh.

Di kota kecil seperti Linzhou, satu miliar adalah uang dewa yang tidak bisa ditolak oleh akal sehat manapun.

"Baik! Sangat baik, Tuan! Kami akan segera mengosongkan seluruh hotel hanya untuk Anda malam ini!" putus Manajer Li tanpa ragu.

Ia berbalik dan menatap Zhao Min yang masih membeku ketakutan di tempatnya.

"Zhao Min! Apa yang kau tunggu? Cepat berikan kunci kamar Presidential Suite kepada Tuan ini dan kemasi barangmu!" bentak Manajer Li.

"K-kemasi barangku? Maksud Manajer?" tanya Zhao Min dengan mata berkaca-kaca.

"Kau dipecat karena berani menyinggung tamu VIP terpenting kita! Sekarang cepat pergi dari sini!"

Zhao Min langsung menangis tersedu-sedu dan merosot ke lantai marmer dengan lemas.

"Tuan, saya mohon maaf, saya buta, saya salah menilaimu, tolong jangan biarkan saya dipecat," ratap Zhao Min sambil mencoba memegang kaki Yao Wi.

Yao Wi melangkah mundur menghindari sentuhan wanita itu dengan wajah sangat dingin.

"Penyesalan selalu datang terlambat, Nona Zhao," ucap Yao Wi tanpa rasa kasihan sedikit pun.

"Di dunia ini, uang adalah penguasa, dan sayangnya kau salah memilih orang untuk diremehkan hari ini."

Yao Wi mengambil kartu akses kamar berlapis emas dari atas meja dan menyeret kopernya menuju lift.

Ia memunggungi lobi yang kini penuh dengan suara tangisan penyesalan dan kepanikan para staf hotel.

Saat pintu lift tertutup perlahan, Yao Wi tersenyum puas menatap pantulan dirinya di dinding cermin lift.

"Langkah pertama menaklukkan kota ini berjalan sangat mulus," batinnya dengan seringai kemenangan.

1
Fajar Fathur rizky
aturan mentri zhou di bantai
Hadi Hadi
mantap🤭
Hadi Hadi
sikat💪
Hadi Hadi
up up
Kirigaya Haruto
tinggi gedungnya 5 kali burj khalifah
Kirigaya Haruto
alur ceritanya bagus dan gak berbelit-belit walaupun aku gak tau uangnya dari mana bisa ngeluarin uang sebanyak itu
Fajar Fathur rizky
hahahaha mampus kau
Kirigaya Haruto
linzhou itu kota di China gimana bisa di linzhou ada jalan sudirman yang lekat sama kota2 di Indonesia
Kirigaya Haruto
kan harusnya jumlah uangnya itu 4.348.550.000 kenapa dia bisa ngeluarin 5m hari ini kan uangnya seharusnya gak cukup
Kirigaya Haruto: aku sebagai pembaca veteran selalu menemukan pola yang sama jumlah uang yang keluar sama jumlah uang yang masuk itu gak seimbang banyakan uang keluar dari pada uang yang masuk
total 2 replies
Hadi Hadi
up💪
Nissa Safira: terima kasih kaka hadi🥰🙏
total 1 replies
Hadi Hadi
up up up💪
Hadi Hadi
lanjut💪
Hadi Hadi
good😍
Hadi Hadi
semangat💪
Hadi Hadi
mantap😍😍💪
Hadi Hadi
semangat💪
Hadi Hadi
bantai💪
Hadi Hadi
mantap
Hadi Hadi
sikat
Hadi Hadi
lanjut💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!