Saat ia mengidap penyakit tumor otak pun, ayahnya tidak peduli, istri menceraikannya, dengan sisa tabungan yang ia punya, ia pergi ke rumah sakit untuk operasi, sayangnya ia mati di meja operasi.
Keajaiban pun datang, ia mendapatkan kesempatan hidup sekali lagi dan kendapatkan sistem untuk menjadi dokter hebat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11 Misi Selesai
"Ulurkan tangan kananmu, Dok," perintah Arka seraya berdiri dari kursinya.
dr. Hendra ragu sejenak. "Apa yang mau kamu..."
"Kalau kamu mau selamat, nurut saja!" potong Arka tegas.
Dokter muda itu akhirnya mengulurkan tangannya yang kaku dan gemetar. Arka meraih pergelangan tangan Hendra dengan cepat.
Penglihatan medisnya langsung menyorot titik-titik saraf vital yang memancarkan pendar redup.
Dengan jari telunjuk dan jempolnya, Arka mencengkeram titik di selaput ibu jari Hendra, lalu menekan kuat titik di lipatan siku dengan hentakan berirama.
*Puk! Puk! Puk!*
"Ughhh!" dr. Hendra memekik menahan rasa sakit luar biasa yang mendadak menjalar di sepanjang lengannya. Rasa panas seperti terbakar menyebar dari siku hingga ke perutnya.
"Tahan! Jangan ditarik!" seru Arka, makin menekan titik saraf tersebut untuk memicu refleks pembuangan mandiri dari sistem pencernaan.
Hanya dalam hitungan lima detik, wajah dr. Hendra berubah hijau. Ia mendadak mual hebat.
"Uweeeekk!"
dr. Hendra langsung berbalik ke arah tempat sampah di samping mejanya dan memuntahkan seluruh cairan bening bercampur kopi pekat yang baru saja dikonsumsinya.
Bau aneh yang agak tajam dan kimiawi langsung menyeruak di udara.
Setelah memuntahkan semuanya, dr. Hendra terkulai lemas di atas meja, mengisap udara segar dengan serakah.
Rasa kebas di jemarinya perlahan-lahan pudar, dan pandangan matanya yang semula kabur kembali jernih seketika. Sementara para pasiennya sedang menunggu di luar.
Ting!
Status pasien: 70-89
Status Kesehatan:85%
Status kehidupan\= 89%
Tahan tubuh\=80%
Kondisi fisik\=75%
Kesehatan mental\=88%
Kesadaran\=89%
[Analisis Target - dr. Hendra]
[Kondisi: Racun Berhasil Dikeluarkan (95%)]
[Status: Stabil]
[Ting!]
[Misi Utama Selesai!]
[Selamat Anda mendapatkan 10.000.000]
[Selamat Anda mendapatkan 2500 poin]
[Obat penyembuhan kanker otak 100% Anda di nyatakan sembuh total tanpa penyakit serius]
[Saldo 17.000.000]
[Insting penyembuhan:6%]
[Pendeteksi penyakit:6%]
[Kecerdasan:6%]
[Keberanian:6%]
[Keterampilan Tindakan:6%]
[Pengendali Energi:6%]
[Pengetahuan ramuan/obat-obatan:6%]
[Ketahan Mental:6%]
[Poin:5000]
[Level 4]
Arka menarik napas lega, mengambil selembar tisu di meja dan mengelap tangannya. "Nah, racunnya sudah keluar. Tubuhmu memang masih lemas, tapi nyawamu sudah aman."
dr. Hendra menengadahkan kepalanya. Matanya menatap Arka dengan kombinasi antara rasa takjub, tidak percaya, dan rasa terima kasih yang teramat sangat.
"Kamu... kamu baru saja menyelamatkan nyawaku..." pangkas dr. Hendra serak.
Ia menyapu mulutnya dengan tisu. "Siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu bisa tahu teknik medis sehebat ini?"
"Namaku Arka," jawab Arka santai seraya merapikan kemejanya. "Soal dari mana aku tahu, itu tidak penting. Yang penting sekarang adalah bukti di depan matamu."
Arka menunjuk ke arah cangkir kopi beracun dan muntahan di tempat sampah.
"Dokter Baskoro sudah main kotor. Kalau kamu cuma lapor ke komite medis internal, kasus ini bakal ditutupi," kata Arka dengan tatapan tajam. "Kamu butuh bukti forensik luar dan perlindungan."
dr. Hendra mengepalkan tangannya erat-erat, keberaniannya mendadak bangkit kembali. "Kamu benar. Kopi ini akan kubawa ke laboratorium independen di luar rumah sakit. Aku tidak akan biarkan Baskoro lolos setelah hampir membunuhku dan memalsukan kematian pasien!"
"Bagus," senyum Arka mengembang. "Simpan kopi itu baik-baik."
Namun, tepat saat dr. Hendra hendak meraih cangkir kopi tersebut dengan kantong plastik medis, pintu ruangan poliklinik mendadak didobrak dari luar.
BRAK!
"Hendra! Ada laporan dari perawat kalau kamu berteriak-teriak di dalam! Ada apa ini?!"
Dokter Senior Baskoro masuk dengan wajah dingin, diapit oleh dua orang petugas keamanan berkulit tegap.
Namun, langkah Baskoro mendadak terhenti seketika saat matanya beradu pandang dengan Arka yang berdiri di samping meja.
Baskoro membelalakkan matanya, mundur satu langkah dengan wajah memucat.
"Ka-kamu..." suara Baskoro bergetar hebat, menunjuk Arka dengan jari gemetar. "Kamu... pemuda dari kamar mayat semalam?!"