NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Langitan

Pendekar Pedang Langitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Penyelamat
Popularitas:184
Nilai: 5
Nama Author: Heryando Palar Vinkoert

Kisah Pendekar Pedang Langitan, merupakan petualangan Bagaga di Jawa Dwipa bersama Ngo Cian, gadis cantik yang mungil dari negeri Champa.
Bagaga di Jawa Dwipa lebih dikenal dengan Pendekar Pedang Langitan, karena itulah senjata yang selalu dia gunakan.
Bagaga dan Ngo Cian terlibat dalam upaya menyelamatkan kelahiran bayi suci yang membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa dan Nusantara.
Semua berawal dari Bagaga mengalami peristiwa barasihan dan menerima wangsit dari Maharesi Pawitra alias Maharesi Semeru Anakan.
Banjir darah melanda Jawa Dwipa bagian timur karena perbedaan cara pandang para Maharesi dan juga para Penguasa.
Mari nikmati kisah Pendekar Pedang Langitan Bagaga dan Dewi Pengendali Api Ngo Cian menjelang kelahiran Ken Arok, bayi suci yang akan membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa.

Seperti biasa. Pendekar Pedang Langitan adalah sekelumit kisah fiksi dengan latar belakang sejarah.

Terimakasih

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heryando Palar Vinkoert, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15. Jayagiri

Kota Jayagiri atau dikenal juga dengan kota Daeyuh Sunda Sebawa. Merupakan kota tua yang ramai. Kota Jayagiri atau kota Daeyuh Sunda Sebawa dulunya merupakan kota raja, kerajaan Tarumanagara.

Ada sebuah pelabuhan besar yang ramai. Itu adalah pelabuhan Sundapura. Banyak kapal dagang dan juga kapal penumpang yang singgah dan berlabuh di pelabuhan itu.

Jika Anda melancong dan libur menikmati kota tua Daeyuh Sunda Sebawa. Akan sangat mudah menemukan orang asing yang berasal dari mancanegara. Ada orang timur jauh atau dari negeri orang mata biru dan mata hijau.

Meski kerajaan Tarumanegara telah berganti nama menjadi kerajaan Sunda Galuh. Sedangkan ibu kota kerajaan dipindahkan ke Pakuan. Kota Jayagiri tetap saja ramai dan sibuk.

Saat itu baru saja lewat sore hari. Bagaga Alam, Danang Wesi dan Ni Kirana memasuki kota Jayagiri. Semburat merah dilangit, menjadikan kota Jayagiri terasa temaram dan lebih indah.

Bagaga menghela nafas panjang dan dalam. Kenangan dengan Bidadari Merah, melintas dalam benaknya. Kota ini sekarang terasa lebih ramai dari pada saat aku datangi dulu. Bagaga bergumam dalam hati.

Tiba-tiba terdengar suara Danang Wesi. Itu menarik kembali Bagaga dari kenangan nya.

"Saudara Bagaga, kita cari penginapan dulu. Setelah itu baru kita cari resto enak untuk makan. Apakah Anda setuju ?"

"Aku sangat setuju Kakang Danang." Ni Kirana menjawab pertanyaan Danang Wesi. Bagaga Alam hanya tersenyum dan mengangguk.

"Ikuti mau Ni Kirana saja saudara Danang. Mungkin itu lebih baik. Kita bisa mandi, membersihkan badan dan berganti pakaian."

"Baik, kalau begitu kita cari penginapan yang bagus saja." Danang Wesi menarik tali kekang kudanya. Kuda besar itu berjalan lebih cepat.

Setelah berjalan beberapa waktu. Danang Wesi mengarahkan kudanya kearah sebuah bangunan besar empat lantai. Di dinding lantai dua, tertulis nama penginapan dengan warna emas.

Panginapan Bumi Alus

Seorang pelayan langsung menyapa Bagaga Alam, Danang Wesi dan Ni Kirana.

"Selamat datang di penginapan Bumi Alus Tuan dan Nyonya."

"Apakah masih tersedia kamar kosong untuk kami ?"

"Masih Tuan Muda. Mari saya antar ketempat penerimaan."

Bagaga Alam segera melompat turun dari kudanya, begitu melihat Danang Wesi turun. Ni Kirana juga segera meluncur turun dan melangkah di sebelah Bagaga Alam.

Seorang patekik atau pengurus kuda segera mendekat.

"Permisi Tuan dan Nyonya Muda. Biar kudanya abdi yang bawa untuk dirawat."

"Baiklah, tolong beri rumput yang gemuk dan buah yang banyak untuk kuda kuda kami." Ucap Bagaga Alam dan menyerahkan tali kekang. Bagaga juga menyerahkan dua puluh keping kepeng perak kepada petakik itu.

"Terimakasih kasih Tuan Muda." Ucap petakik itu sambil membungkuk. Senyumnya terlihat sangat cerah. Dia segera membawa tiga ekor kuda besar itu ke belakang.

Bagaga mengamati situasi penginapan Bumi Alus begitu memasuki ruang penerimaan tamu. Ruangan itu sangat bagus, ada beberapa hiasan tergantung di dinding.

Ada sebuah meja tinggi, panjang berwarna coklat tua. Dua orang gadis cantik dan seorang pemuda tampan terlihat duduk di belakang meja. Danang Wesi mendatangi meja itu dan memesan tiga kamar untuk satu malam. Mereka sudah sepakat, besok seusai makan pagi. Mereka bertiga akan melanjutkan perjalanan.

Sesampainya di kamar masing-masing. Ni Kirana bergegas untuk mandi air hangat. Gadis cantik itu membersihkan seluruh tubuhnya dengan sangat teliti.

Malam baru saja menggantikan senja. Bagaga Alam, Danang Wesi dan Ni Kirana meninggalkan penginapan Bumi Alus dengan berjalan kaki. Mereka melangkah dengan santai untuk menemukan resto yang direkomendasikan oleh pelayan sebelum meninggalkan penginapan.

Bagaga berjalan setengah sadar. Kenangan bersama Bidadari Merah memenuhi alam fikiran pria muda tampan itu.

Didepan resto besar yang memang mereka tuju. Danang Wesi dan Ni Kirana berbelok untuk masuk. Bagaga masih terus melangkah. Dia benar-benar larut dalam lamunan.

"Hei Kang mas Bagaga..." Bagaga tertegun dan celingukan. Sebuah tangan halus dan lembut meraih lengannya.

"Kang mas Bagaga ngelamun ya. Kita sudah terlewat." Ni Kirana berucap dengan lembut.

"Oohhh maaf, aku pasti ngelamun. Ehhh mana Danang ?"

"Kakang Danang sudah masuk duluan dan membuat pesanan untuk kita bertiga.

Apakah ada yang mengganggu fikiran dan perasaan Kang mas Bagaga ?"

"Haa...??"

"Apa yang mengganggu fikiran kang mas Bagaga ?" Ni Kirana mengulang pertanyaan nya. Dia masih terus memegang lengan Bagaga Alam.

"Oh itu ya. Tidak ada."

"Kalau tidak ada kenapa kang mas Bagaga terus saja melangkah dan ketika dipanggil tidak berhenti ?"

"Emang begitu ?  Emangnya tadi Ni Kirana memanggil aku."

"Haaaiiiihhhh... Ayo katakan. Apa tadi kang mas Bagaga lamunkan."t Gadis cantik itu menyentak lembut lengan Bagaga.

"Iya iya. Sebetulnya aku pernah ke kota Jayagiri ini beberapa tahun yang lalu. Tidak lama setelah kerajaan Tarumanagara berganti nama menjadi kerajaan Sunda Galuh. Mereka juga baru membuka kota raja yang baru. Kota Pakuan kalau tidak salah."

"Dalam rangka apa kang mas dulu kesini..."

"Hei hei Nona manis. Apakah aku sedang dalam pemeriksaan ?"

Mereka berdua tertawa berderai dan segera kembali ke resto.

Bagaga Alam dan Ni Kirana agak celingukan mencari sosok Danang Wesi. Namun segera menemukan Danang Wesi yang sedang melambaikan tangannya.

Untungnya saat memasuki resto Ni Kirana sudah melepaskan tangan halusnya dari lengan Bagaga. Kalau tidak, entahlah apa yang akan di pikirkan Danang Wesi jika sempat melihat.

Beraneka macam makanan telah terhidang di meja besar di depan Danang. Aneka hidangan laut tertata rapi diatas meja.

"Mari saudara ku Bagaga. Kita nikmati hidangan laut ini." Danang Wesi langsung mengajak Bagaga makan meski Bagaga duduk.

"Hi hi hi hii hiii... Ternyata kang Danang sudah kelaparan yaa...?" Ni Kirana mencandai Danang Wesi sambil tertawa.

"Eh eh ehh, kenapa kau terlibat senang sekali Kirana ? Jangan jangan....." Danang Wesi sengaja menggantung kalimat nya.

"Jangan jangan apa ?!!" Ni Kirana bertanya dengan pipi bersemu merah.

"Sudah sudahlah. Ayo kita makan dulu. Kita terakhir makan tadi pagi. Ayo Kirana, mari makan dulu. Danang sudah pesan banyak makanan untuk kita."

Mereka mulai makan dengan lahap dan nikmat. Hidangan laut ditemani sayur plecing kangkung memang sangat nikmat.

Sementara itu. Dari sebuah meja belajar agak dipojok. Tujuh orang sedang ngobrol sambil sesekali melihat kearah mereka bertiga.

Ketika beberapa orang dari mereka hendak bangkit. Tiba-tiba masuk belasan prajurit kerajaan. Seorang pemuda tampan dengan ditemani dua pria tengah baya yang gagah melangkah masuk.

Pemilik resto segera buru buru keluar. Pria gemuk itu membungkuk memberi penghormatan.

"Silahkan... Silahkan kanjeng Adipati. Kami telah menyiapkan ruangan khusus di lantai dua untuk kanjeng Adipati."

"Apakah lantai dua telah dikosongkan ?" Seorang Bekel prajurit bertanya.

"Benar. Sejak sore tadi. Kami tidak menerima pelanggan untuk lantai dua. Karena sudah dipesan oleh Kanjeng Adipati."

Pria pemilik resto berucap dengan ramah. Pemilik resto yang juga merupakan pria keturunan itu. Berjalan mengantar Adipati untuk menuju lantai dua.

Bagaga Alam melirik sekilas. Dia kaget ketika melihat sang Adipati. Saat itu pula sang Adipati melihat kearah meja Bagaga. Dia langsung kaget dan berseru.

"Saudara tua ku Bagaga ?!"

\=\=\=\=\=***\=©

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!