Evander Aldebaran, seorang anak konglomerat kaya raya yang memiliki berbagai macam perusahaan dengan beraneka jenis bisnis.
Evander dipercaya mengemban tugas istimewa sebagai Wakil Presiden Direktur dari Aludra Entertaiment yang merupakan perusahaan agency artis.
Namun sayangnya dimasa kepemimpinan Evander justru Aludra mengalami kemunduran dan membuat Ayah Evander meragukan kapabilitas putra tunggalnya itu.
Bahkan banyak anggota direksi yang mengajukan mosi pemecatan bagi Evander yang tidak kompeten itu.
Hingga pada akhirnya Evander dipertemukan dengan seseorang yang mampu membangkitkan keterpurukannya dimasa - masa suram itu.
Sampai pada akhirnya Evander bangkit dan dapat menguasai segalanya, namun harus dengan bayaran yang setimpal.
Bagaimana kisahnya? Dan siapakah orang yang melepaskan Evander dari keterpurukan?
Akan kah Evander mampu melawan segala godaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Little Peony, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RUANG KERJA EVANDER
Tok.. tok.. tok..
Agnetha mengetuk dengan lembut ruang kerja Evander, sesaat setelahnya menyembul kepala Jason seraya membuka pintu untuk Nyonya mudanya itu. Pria yang usianya lebih tua dari Evander tampak tersenyum dengan sangat ramah dan mempersilahkan Agnetha segera masuk ke ruang kerja itu.
Terlihat satu meja kerja besar lengkap dengan laptop juga beberapa berkas yang bertumpuk diatas sana. Segala perlengkapan kerja yang didominasi dengan warna hitam tampak begitu rapi tertata diatas meja kerja milik Evander.
Semetara tidak jauh dari meja itu terdapat sebuah meja kerja dengan ukuran yang lebih kecil, barang – barang Agnetha yang serba merah muda disusun diatas meja dengan sangat rapi sesuai dengan susunan meja semula sebelum dipindahkan dari kamar Agnetha dari lantai tiga.
“ Silahkan lakukan yang akan Nyonya kerjakan, tidak perlu sungkan dengan keberadaan saya “ Ucap Jason dengan sangat sopan seraya kembali duduk pada sofa didepan meja kerja Evander sambil berfokus kembali pada berkas – berkas yang tampak berhamburan di meja.
“ Oke “ Agnetha langsung menuju meja belajar miliknya.
Wanita cantik itu kemudian menyalakan laptop usangnya sambil membuka – buka lacinya untuk mengecek barang – barang yang ia tinggalkan disana. Sekilas ia memandang bingkai foto diatas mejanya, foto dirinya dengan Neneknya ketika Agnetha lulus sekolah menengah atas.
Wanita tua itu tampak tersenyum bahagia memeluk cucunya yang sudah beres menamatkan sekolah dengan baik meski tumbuh tanpa kehadiran orang tuanya. Agnetha mengusap pelan foto itu dan tersenyum kecil, sesaat ia merindukan Neneknya.
Agnetha kini mulai sibuk membaca beberapa jurnal yang ia unduh beberapa waktu yang lalu sebagai bahan referensi penulisan skripsinya. Wanita itu terlihat begitu fokus membaca jurnal – jurnal disana, sesekali ia tampak menuliskan sesuatu pada laptopnya, tetapi sesekali ia menuliskan sesuatu pada buku catatan diatas meja.
Sementara Jason masih saja terpaku dengan berkas – berkas ditangannya, berkali – kali ia terlihat membaca berkas sambil kemudian berfokus dengan ipad disebelah tangannya. Sesekali juga Jason tampak mencoret – coret kertas ditangannya itu dan menuliskan catatan – catatan disana.
Setelah beberapa saat menuliskan beberapa hal dengan laptop usangnya itu, Agnetha teringat untuk mencetak lembar catatan bimbingan skripsi. Ia kemudian menautkan laptopnya itu dengan printer tua yang ia bawa dari rumahnya. Namun hingga beberapa kali ia melepas dan menancapkan kembali kabel nya, printer tetap tidak mau terhubung.
“ Ah, sial. Bagaimana ini? “Agnetha bergumam kesal sambil mengacak – acak rambut panjangnya.
Jason memandang istri Evander yang masih belia itu sambil tersenyum kecil, karena Agnetha begitu menggemaskan. Tanpa sadar ia tidak melepaskan pandangan matanya dari gadis itu, tiba – tiba perasaan ingin terus menjaga dan melindungi Agnetha menyusup didalam hati Jason.
“ Jason? Apakah kau bisa membantuku? “ Suara Agentha membuyarkan lamunan Jason baru saja, membuatnya tersadar kemudian meletakkan berkas ditangannya dengan asal dan mendekati Agnetha.
Gadis itu masih duduk diatas kursi putarnya, sementara Jason berdiri tepat disampingnya dengan jarak yang begitu dekat hingga Agnetha bisa mencium aroma harum spicy woods menguar dari tubuh Jason.
Beberapa kali tangan Jason melintasi kepala Agnetha untuk membantu perempuan itu membetulkan printer nya yang sedang bermasalah. Jason berlari menuju salah satu lemari kabinet dibelakang meja kerja Evander dan mengambil sesuatu.
Terlihat ia membawa sebuah kabel berwarna hitam, ia kemudian mengganti kabel USB pada printer itu dan kembali menancapkan pada laptop Agnetha, dan printer langsung terhubung. Gadis melonjak kegirangan, ia merasa Jason sangat hebat dan dapat diandalkan.
“ Yey! Jason kamu sangat keren! “ Agnetha menepuk lengan Jason dengan pelan, bersamaan dengan itu Evander masuk kedalam ruang kerjanya.
“ Apa yang sedang kalian lakukan? “ Tanya Evander dengan kaku saat melihat tangan Agnetha menempel pada lengan Jason. Segera wanita itu menarik tangannya dan langsung duduk kembali ke kursinya.
“ Jason membantu ku membetulkan printer “ Jujur Agnetha sambil menundukkan kepalanya dengan rasa bersalah bergelayut pada hatinya.
“ Lalu kenapa menyentuh Jason? “ Evander kini ikut mendekat menuju meja belajar Agentha.
“ Maafkan aku, aku tidak sengaja “ Sesal Agnetha, ia takut Jason akan menerima kemarahan Evander.
Evander memicingkan matanya dan memberi peringatan pada Jason agar ia kembali pada pekerjaannya. Lelaki itu kemudian menggeser tubuhnya dan kembali menuju sofa tempat ia mengecek berkas – berkas pekerjaan yang membutuhkan persetujuan Evander.
“ Apa kamu selalu dekat begitu dengan laki – laki? “ Evander kini duduk diatas meja belajar Agnetha, tepat dihadapan gadis itu.
“ Tidak Evander “ Agnetha tertunduk lesu.
“ Aku paling tidak suka Agnetha jika kamu bersentuhan dengan pria manapun, bahkan Jason sekalipun “ Ucapan Evander juga terdengar oleh sekretarisnya, membuat Pria itu menjadi canggung dan tidak enak pada Evander.
“ Aku mengerti, aku tidak akan seperti itu lagi “ Agnetha masih tertunduk dan belum berani menatap wajah Evander yang sebenarnya sangat tampan.
“ Lalu ini? Bagaimana bisa ada foto seperti ini di HP mu? “ Ucap Evander dengan nada dinginnya seraya meletakkan HP usang Agnetha diatas meja.
(Agnetha dan Nael)
(Source : Internet)
(Agnetha, Nael dan Ema)
(Source : Internet)
Tampil disana foto Agnetha bersama Nael serta Ema sahabatnya, foto yang jauh – jauh hari Agnetha ambil sebelum ia mengenal Evander. Agnetha dan Nael memang sahabat dekat, mereka sudah mengenal sejak lama juga karena kebetulan mereka tinggal dilingkungan yang sama.
“ Ini foto lama sekali Evander. “ Terdengar nada protes dari suara Agnetha.
“ Hapus aku tidak suka, atau berhentilah berteman dengannya. Itu akan sangat merepotkan ku jika kalian terlalu akrab “ Evander langsung meninggalkan meja belajar Agnetha dan berjalan menuju meja kerjanya.
Agnetha tampak begitu kesal dengan sikap Evander baru saja, bagaimana mungkin lelaki itu juga membatasi lingkup pertemanannya. Bagaimana bisa ia memutuskan persahabatannya dengan Nael yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri.
“ Gila! “ Bisik Agnetha didalam hatinya sambil menatap Evander dengan tajam.
Sekilas Evander yang tengah sibuk dengan tumpukan berkas diatas meja menyadari bahwa Agnetha sedang menatapnya dengan kesal. Lelaki itu menutup lagi pena hitamnya dan melemparkan pandangan nya pada Agnetha, istrinya.
“ Kenapa? “ Suara Evander agak melembut.
“ Aku ingin ruang belajar sendiri! Aku tidak mau belajar disini! “ Keluh Agnetha dengan kesal, sebenarnya bukan karena ia tidak menyukai ruangan itu. Tetapi dia merasa sesak jika harus terus menerus berbagi ruangan bersama Evander.
Terlebih perkara kecil baru saja yang menyulut kekesalan didalam diri Agnetha, lama – lama sikap Evander cukup membuat Agnetha frustasi. Tetapi apa dayanya, bahkan kini ia telah menikahi pria itu.
“ Kenapa? Kamu tidak ingin berbagi ruangan denganku? “ Evander seolah tahu dengan kekesalan Agnetha kepadanya, sejenak Agnetha terdiam.
“ Bukan! Aku tidak bisa berkonsentrasi jika begini! “ Ucap Agnetha berbohong, dan justru membuat Jason yang masih fokus dengan pekerjaannya tersenyum singkat dan menutup bibirnya menggunakan sebelah tangannya takut jika Evander melihatnya.
keren 👍
suka banget sama ceritanya thor ❤️