Serena Roe tahu satu hal tentang cinta:
semua orang yang mendekatinya selalu membawa kehancuran.
Julian datang menawarkan ketulusan.
Damien membuatnya kecanduan.
Dan Axel, perlahan menghancurkan hidupnya tanpa ia sadari.
Tapi di antara mereka, siapa yang benar-benar mencintainya dan siapa yang betulan ingin memilikinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clarice Diane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Shape Of Grief
Hujan tipis turun sejak pagi. Area pemakaman disesaki payung hitam dan karangan bunga putih yang nyaris menutupi seluruh jalan setapak menuju makam Julian. Kamera wartawan berdiri jauh di balik pagar pembatas, sementara para pelayat penting terus berdatangan silih berganti dengan wajah muram dan pakaian serba gelap.
Namun Claire nyaris tidak memperhatikan semua itu. Ia berdiri diam di depan batu nisan dengan mantel hitam panjang membungkus tubuhnya. Rambut pirangnya bergerak pelan tertiup angin, sementara jemarinya mencengkeram bunga lily putih terlalu erat sampai nyaris rusak.
Claire belum menangis. Dan justru itu yang membuatnya terlihat lebih hancur.
Damien berdiri beberapa langkah di belakangnya sejak tadi. Jas hitamnya rapi sempurna seperti biasa. Kacamata hitam bertengger di hidungnya yang bangir. Wajah pria itu tampak tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang sedang menghadiri pemakaman sahabatnya sendiri.
Namun tatapan pria itu tidak pernah benar-benar lepas dari Claire. Dari bahu kecil perempuan itu. Dari caranya berdiri terlalu diam. Dari matanya yang terlihat kosong menatap nama Julian Hayes yang terukir di batu nisan.
“Kenapa kau harus pergi secepat ini?” Suara Claire akhirnya memecah keheningan.
Damien berjalan perlahan mendekat sampai berdiri di samping perempuan itu, sementara Claire tertawa kecil tanpa humor.
“Lucu ya.” Tatapannya masih lurus ke depan. “Dulu aku selalu berpikir Julian akan hidup paling lama di antara orang-orang.”
Damien diam. Hujan mulai mengenai pundak jas hitamnya, tetapi pria itu tidak bergerak sedikit pun.
Claire menunduk pelan sebelum melanjutkan lirih, “Dia terlalu baik untuk mati seperti ini.”
Kalimat itu menghantam Damien jauh lebih keras dibanding yang ia tunjukkan. Karena Julian memang terlalu baik. Damien tahu itu lebih dari siapa pun.
Claire akhirnya memejamkan mata sebentar. “Aku bahkan belum sempat menjadi istri yang baik untuknya.”
Napas Damien langsung terasa lebih berat saat mendengar itu. Tatapannya perlahan turun ke wajah Claire yang terlihat sangat lelah hari ini.
“Aku rasa Julian tidak pernah meminta sebanyak itu darimu.”
Claire tersenyum kecil samar. “Itu justru masalahnya.” Suaranya terdengar nyaris pecah sekarang. “Dia selalu terlalu baik padaku.”
Damien tidak langsung menjawab, karena bagian paling menyakitkan dari semua ini adalah ia tahu bahwa Claire benar.
Julian mencintai Claire dengan cara yang bersih. Cara yang tidak pernah bisa dilakukan Damien kepada siapa pun.
Claire akhirnya menoleh perlahan ke arah Damien. Tatapan matanya merah karena kurang tidur.
“Aneh sekali,” gumamnya lirih. “Aku terus berharap dia tiba-tiba meneleponku dan bilang semua ini cuma mimpi buruk.”
Jantung Damien langsung berdetak lebih berat. Namun ekspresinya tetap tenang terkendali.
Selalu seperti itu.
Tanpa sadar, Claire bergerak sedikit lebih dekat ke arah Damien. Mungkin karena hujan semakin dingin. Mungkin karena sejak kecil Damien memang selalu menjadi tempat paling familier bagi dirinya.
“Aku tidak tahu harus bagaimana sekarang,” bisik Claire pelan.
Dan kalimat sederhana itu langsung membangunkan sesuatu yang egois dalam diri Damien. Karena selama bertahun tahun, itulah yang selalu ingin didengarnya dari Claire.
Damien menatap perempuan itu cukup lama sebelum akhirnya melepas kacamata hitamnya perlahan. Lalu, sangat pelan, pria itu menggenggam tangan Claire yang dingin. “Aku di sini.”
Tatapan Claire langsung sedikit berubah. Rapuh. Lelah. Dan Damien membenci fakta bahwa sebagian dirinya merasa bahagia melihat Claire akhirnya bersandar padanya seperti ini.
Perempuan itu mengembuskan napas kecil sebelum berbisik, “Aku tidak suka kota ini sekarang.”
“Claire.”
“Terlalu sepi tanpanya sekarang.”
Damien mengusap jemari Claire perlahan dengan ibu jarinya. Gerakan kecil, namun terlalu intim untuk dilakukan pada seseorang yang baru kehilangan tunangan.
Dan justru itu yang membuat Damien sadar dirinya benar benar manusia buruk. Karena bahkan di pemakaman Julian Hayes, ia masih memikirkan bagaimana caranya memiliki Claire sepenuhnya.
...----------------...
...To be continue...