NovelToon NovelToon
BANGKITNYA SANG SATRIA PININGIT

BANGKITNYA SANG SATRIA PININGIT

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Kebangkitan pecundang / Ahli Bela Diri Kuno / Balas Dendam
Popularitas:770
Nilai: 5
Nama Author: Dedik Januari Purnomo

"Dulu aku adalah debu di bawah kakimu, kini aku adalah badai yang akan menghancurkan istanamu!"

Arka Nirwana hanyalah menantu "sampah" yang dihina dan dipaksa mencuci sepatu keluarga Adiningrat. Kehilangan anak, dikhianati istri, dan dianggap gila adalah makanan sehari-harinya. Namun, mereka tidak tahu bahwa selama empat tahun, Arka sedang melakukan tirakat suci untuk membuka Segel Nusantara.

Saat guntur menyambar dan Jenderal tertinggi bersujud di kakinya, dunia sadar bahwa Sang Satria Piningit telah bangkit. Masa perbudakan telah usai, kini saatnya Arka menjemput kembali miliknya dan meratakan siapa pun yang menghalanginya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: PERTEMUAN DI LERENG PANDERMAN

Ketukan palu hakim di Pengadilan Agama Jakarta Selatan masih terasa seperti dengungan di telinga Arka saat ia melangkah turun dari jet pribadinya di Bandara Abdul Rachman Saleh.

Secara hukum, ia bukan lagi suami Siska Adiningrat. Ia keluar dari pernikahan itu tanpa membawa sepeser pun harta mertuanya. Bukan karena kalah, tapi karena baginya, uang mereka adalah kotoran yang tak layak dibawa pulang.

Arka menarik napas dalam-dalam. Udara Malang menyergap paru-parunya. Dingin, sedikit lembap, dan jujur. Jauh dari pengapnya intrik Jakarta.

"Gusti Arka," Wironegoro mendekat, suaranya rendah di tengah deru halus mesin SUV hitam. "Administrasi sudah beres. Anda sekarang merdeka."

Arka hanya mengangguk tipis, matanya menatap puncak Gunung Panderman yang masih tertutup kabut tebal. "Terima kasih, Wironegoro. Antarkan aku ke Batu. Aku ingin memulai semuanya dari sana."

Mobil melaju menanjak, membelah jalanan yang diapit pohon pinus. Di dalam dadanya, Segel Bumi bergetar pelan.

Ingatan tentang kuda cokelat itu muncul lagi, namun kali ini tidak lagi meringkik liar. Kuda itu melangkah tenang, seolah tahu tuannya sudah di gerbang yang benar.

***

Di sebuah rumah panggung kayu di lereng Panderman, Reyna Viyanita sedang menuangkan teh tubruk ke dalam cangkir keramik.

Kulit kuning langsatnya kontras dengan kebaya kutubaru sederhana yang ia kenakan. Rambutnya hanya digelung asal, namun auranya membuat siapa pun yang memandang akan merasa sejuk.

Reyna bukan "dukun" yang gemar pamer kemenyan. Ia hanya seorang cucu maestro spiritual yang diajari cara mendengar napas bumi. Saat riak air di cangkirnya bergetar tanpa ada gempa, ia tahu tamunya sudah dekat.

"Anginnya berubah," gumam Reyna pelan. Aroma besi dan kenanga tercium samar.

Arka meminta Wironegoro berhenti di kaki bukit. Ia memilih mendaki jalan setapak yang masih basah oleh embun sendirian.

Langkahnya mantap, mengikuti irama jantung gunung yang seolah memanggilnya. Saat ia sampai di sebuah pelataran dengan kebun krisan yang rapi, ia melihat wanita itu.

Mata mereka bertemu. Tidak ada ledakan asmara, tidak ada drama. Hanya rasa "kenal" yang sangat purba, seperti dua kawan lama yang akhirnya berpapasan setelah ribuan tahun berkelana.

"Duduklah, Arka Nirwana. Tehnya masih hangat," ucap Reyna lembut. Suaranya tidak keras, tapi entah kenapa terdengar sangat jelas di tengah suara jangkrik.

Arka tertegun. Ia terbiasa disembah atau dihina. Tapi wanita ini memperlakukannya seolah ia hanya seorang pria biasa yang baru pulang dari perjalanan jauh.

"Kau menungguku?" tanya Arka setelah menyesap teh yang terasa sepat namun menenangkan itu.

"Bumi yang bilang padaku sejak kau mendarat. Dan kakek di mimpimu... dia sudah mengirim pesan lewat burung-burung sejak tiga hari lalu," jawab Reyna tenang.

Arka terdiam, menatap tangannya yang sesekali masih bergetar.

"Aku ingin menenangkan badai di kepalaku, Reyna. Aku bebas dari Siska, tapi rasa sakit karena Maya, karena anakku yang dijauhkan dariku masih membakar di dalam sini."

Reyna menatap Arka dengan tatapan yang teduh namun tajam.

"Kau bebas secara hukum, tapi jiwamu masih terpenjara oleh dendam. Itulah kenapa kau belum bisa menyentuh Segel Kedua."

"Satria Piningit bukan soal siapa yang paling kuat menghancurkan, tapi siapa yang paling mampu mengayomi."

***

Reyna mengajaknya ke belakang rumah, ke arah suara gemericik air. Di sana ada sebuah batu hitam besar yang permukaannya rata dan mengkilap. Selo Gilang.

"Duduklah di sana. Jangan pakai energimu, jangan panggil pedangmu. Duduklah sebagai seorang Ayah yang merindukan anaknya," perintah Reyna.

Arka menurut. Saat kulitnya bersentuhan dengan batu dingin itu, panas mulai merambat. Bayangan wajah Maya yang tertawa meremehkannya saat ia jatuh miskin kembali muncul.

Rasa perih dilarang menemui anaknya selama empat tahun terakhir menyayat batinnya.

"Ingat pesan nenek penari, Arka..." bisikan Reyna terdengar seperti angin di telinganya. "Neriman tentreming ati... Dadi o ibu sing iso ngayomi." (Terimalah dengan tenteramnya hati... Jadilah seperti ibu yang bisa melindungi).

Arka memejamkan mata rapat-rapat. Ia membuang wajah Maya, dan fokus pada wajah kecil anaknya. Ia membayangkan dirinya bukan lagi sebagai penghancur, tapi sebagai bumi yang mendekap benih agar tumbuh subur.

Seketika, suhu di sekitar Selo Gilang berubah. Dari dasar kolam air terjun, muncul cahaya biru safir yang sejuk. Sosok transparan wanita penari muncul, bergerak sangat halus mengelilingi mereka.

Arka tidak lagi merasa terbakar, ia merasa seolah luka-lukanya sedang diolesi madu yang sangat dingin. Cahaya biru itu meresap masuk tepat ke sisi jantungnya. Segel Kedua: Segel Welas Asih, telah terbuka.

Arka membuka mata dengan napas terengah. Tubuhnya lemas. Sebelum ia terjatuh, tangan Reyna menahan bahunya dengan sigap.

Sentuhan yang sopan, namun getaran ketenangan dari tangan Reyna membuat Arka merasa benar-benar "pulang".

"Terima kasih," bisik Arka parau.

"Terima kasihlah pada semesta karena kau masih memilih jadi manusia," balas Reyna sambil melepaskan pegangannya dengan anggun.

Mereka berdiri diam menatap air terjun. Tidak ada janji romantis, karena mereka tahu ini adalah perjalanan tugas yang berat.

"Aku akan tinggal di Batu sebentar," ucap Arka. "Aku ingin belajar jadi pelindung, bukan cuma jadi penghancur."

Reyna tersenyum tipis. "Rumah ini selalu terbuka buatmu belajar. Bukan sebagai kekasih, tapi sebagai kawan seperjuangan.

Dunia luar mungkin senang melihat keluarga Adiningrat hancur, tapi kau harus lebih besar dari sekadar urusan balas dendam."

Arka menatap Reyna dengan rasa kagum. Di atas mereka, langit Batu yang biru jernih seolah merestui langkah baru sang Poros Dunia. Perjalanan panjang baru saja dimulai.

***

"Dukung terus perjalanan Arka dengan memberikan 'Like' dan 'Komentar' kalian! Update setiap hari!"

1
anggita
ikut like👍iklan☝aja thor.
Dedik Januari: Terima kasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!