NovelToon NovelToon
Dingin Yang Tak Tersentuh

Dingin Yang Tak Tersentuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Duda / Diam-Diam Cinta
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: keipouloe

Arsen Laurent Wijaya, dosen killer yang dingin dan tak tersentuh, hidup dalam bayang-bayang pengkhianatan masa lalu. Sejak itu, ia membenci perempuan—bahkan tubuhnya sendiri menolak setiap sentuhan mereka.

Di rumah, ia hanya sosok ayah tanpa kehangatan.

Hingga hadir Alana Kirana Putri.

Mahasiswi ceroboh, ceria, dan penuh kekacauan kecil di hidupnya. Berbeda dari semua perempuan yang pernah Arsen temui, Alana justru tidak membuatnya mual… tidak ditolak oleh tubuhnya.

Sejak saat itu, dunia Arsen yang dingin mulai retak.

Di antara luka lama, perbedaan yang jauh, dan masa lalu yang kembali menghantui—perlahan muncul sesuatu yang tak pernah ia izinkan lagi:

perasaan.

Namun… apakah hati yang sudah membeku bisa benar-benar kembali hidup?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon keipouloe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Suara alarm di samping kasur berbunyi nyaring tepat pukul empat subuh.

Tit. Tit. Tit.

Sebuah tangan kecil langsung meraba asal ke arah meja kecil yang berada didekat bantal.

Namun bukannya menggapai ponsel tersebut, ia justru menjatuhkannya.

Bruk.

“Ya Allah…” gumam seorang gadis pelan saat ponselnya jatuh ke lantai.

Gadis itu membuka mata perlahan dengan mata yang masih sedikit terpejam.

Rambutnya masih berantakan, bahkan kaosnya pun miring sebelah.

Sedangkan kipas angin kecil di pojok kamar masih berputar sambil mengeluarkan bunyi ceklek-ceklek yang mengkhawatirkan.

Kamar kontrakan itu sempit, sangat sempit bahkan.

Kasur lantai memenuhi hampir separuh ruangan, lemari plastik berdiri miring dekat jendela kecil.

Sedangkan meja belajarnya penuh buku kuliah, nota belanja, sambal sachet, dan kabel charger yang kusut seperti nasib hidup pemiliknya.

Gadis itu duduk pelan sambil mengusap wajahnya.

Sunyi.

Subuh belum benar-benar selesai.

Dari luar hanya terdengar suara jangkrik yang masih berbunyi nyaring.

Gadis itu menatap langit-langit kamar beberapa detik, lalu menghela napas panjang.

“Hari ini semoga jangan ada cobaan aneh-aneh ya Allah…” gumamnya lirih.

Namun sepertinya hidup memang suka mengabaikan doa dirinya.

Karena satu detik kemudian... ponselnya berbunyi lagi.

Nama supplier ayam muncul di layar.

Gadis itu langsung menyipit curiga.

“Pagi-pagi begini biasanya berita buruk,” gumamnya pelan.

Dan benar saja.

Begitu telepon diangkat...

“Neng, ayamnya telat sedikit ya.”

Mata gadis itu langsung terbuka penuh.

“Hah! Gimana pak?”

“Mobilnya mogok di jalan ini neng.”

Alana reflek menatap jam di layar ponselnya.

04.43.

Sedangkan ia harus buka jualan pagi sebelum lanjut kuliah.

“Ya udah deh pak…” ucapnya lirih sambil memijat jidat. "Tapi jangan sampai nggak datang karena saya butuh makan.”

Si bapak malah tertawa kecil.

“Maaf, Neng.”

“Jam berapa sampainya?”

“Mungkin habis subuh.”

Gadis itu langsung menjatuhkan kepala ke lututnya sendiri.

“Ya Allah…”

Telepon ditutup.

Dan pagi itu...

Gadis yang bernama Alana Kirana Putri, rasanya sudah ingin menyerah menjadi manusia.

Namun menyerah tidak akan membuat beras muncul sendiri di dapur.

Jadi beberapa menit kemudian, gadis itu sudah berdiri di dapur kecil kontrakannya.

Rambut dicepol asal menggunakan capit warna pink pudar.

Kaos hitam longgar membungkus tubuh mungilnya.

Sedangkan tangannya mulai sibuk mengulek cabai dan bawang di cobek batu.

Dikarenakan blendernya rusak sejak dua minggu lalu. Dan belum diganti karena uangnya sudah terpakai untuk bayar listrik.

“Hidup aku kok lucu banget sih.” gumamnya sambil mengulek cabai. “Kalau nggak miskin mungkin aku udah jadi wanita karier.”

Namun baru beberapa detik matanya mulai panas.

“Hah— astaga pedes!”

Alana langsung menjauh sambil kipas-kipas wajah sendiri.

Air matanya keluar deras.

Hidungnya memerah.

Pagi-pagi buta itu ia sudah terlihat seperti perempuan yang habis ditinggal nikah.

Padahal pacar juga tidak punya.

Gadis itu segera membilas wajahnya cepat.

Setelah rasa panasnya sedikit hilang, ia kembali melanjutkan pekerjaannya.

Karena hidupnya memang seperti tidak punya tombol pause.

Tak lama kemudian...

Suara motor berhenti di depan kontrakan.

Alana buru-buru keluar.

“Nah akhirnya datang juga!” ujarnya lega.

Seorang pria paruh baya turun sambil mengangkat beberapa plastik ayam.

“Maaf ya, Neng.”

“Iya gapapa, Pak,” jawab Alana sambil membantu membawa barang. “Yang penting jangan ngilang. Aku udah trauma ditinggal.”

Bapak itu tertawa kecil.

Sedangkan Alana langsung sibuk memindahkan ayam ke dapur.

......................

Pagi mulai hidup perlahan, langit gelap berubah kebiruan, suara anak sekolah mulai terdengar dari ujung gang, ibu-ibu membawa kantong sayur sambil mengobrol.

Dan di tengah hiruk pikuk sederhana itu, Alana sibuk membaluri ayam dengan tepung.

Tangannya bergerak cepat.

Sudah terbiasa.

Sesekali gadis itu berhenti cuma untuk meniup poni yang jatuh ke matanya.

Kedai kecil miliknya belum buka sepenuhnya.

Hanya meja sederhana di depan kontrakan dengan banner merah bertuliskan:

GEPREK RUMAH RASA

Tulisan itu sedikit miring.

Karena dipasang sendiri olehnya tengah malam sambil berdiri di atas ember cat.

Namun anehnya, Alana selalu senang melihat banner itu.

Karena untuk pertama kalinya dalam hidup ada sesuatu yang benar-benar ia miliki sendiri.

Bukan sisa.

Bukan belas kasihan orang.

Bukan numpang.

Jam menunjukkan pukul 06.21 saat minyak mulai panas.

Alana buru-buru memasukkan ayam pertama.

Cessss

Aroma gurih langsung memenuhi udara.

Dan seperti biasa dadanya sedikit lega setiap mendengar suara itu.

Karena selama minyak masih bisa panas, tandanya ia masih bisa makan.

Tapi ketenangan itu cuma bertahan sebentar.

Karena tiba-tiba...

“ALANAAAA!”

Suara teriakan keras dua sahabatnya langsung memecah pagi.

Alana refleks memejamkan mata.

“Ya Allah…” gumamnya pasrah. “Toa masjid datang.”

Naira...

Sang sahabat muncul sambil melepas helm pink mencolok miliknya.

Sedangkan di belakangnya, Damar berjalan santai sambil membawa dua kopi dingin.

“Kaget tau nggak sih!” protes Alana.

Naira malah nyengir lebar.

“Tandanya lo masih hidup.”

“Kecewa ya? Gue masih hidup.”

“Lumayan.”

Damar terkekeh kecil lalu menyerahkan kopi pada Alana.

“Nih.”

Mata Alana langsung berbinar.

“Ya Allah… manusia baik.”

“Belum sarapan kan?” tanya Damar.

Alana langsung menunjuk wajah sendiri.

“Emang kelihatan?”

“Kelihatan kaya orang habis ditagih pinjol,” jawab Naira cepat.

“Kalau ada yang mau ngasih juga nggak masalah,” balas Alana santai.

Mereka langsung tertawa kecil.

Suasana pagi yang tadinya melelahkan perlahan terasa lebih ringan.

Damar duduk di kursi plastik dekat meja jualan sambil memperhatikan sekitar.

“Ramai juga pagi-pagi.”

“Ya iyalah,” jawab Alana sambil membalik ayam. “Orang miskin nggak bisa rebahan terus.”

Naira mendelik.

“Lo tuh ngomong miskin santai banget.”

“Ya karena emang miskin.”

“Tapi cantik,” sahut Damar santai.

Alana langsung menoleh cepat.

Sedangkan Naira spontan memukul lengan Damar.

“WOI.”

“Apa?” ujar Damar polos.

Alana malah terkekeh kecil.

“Nggak papa, lanjutkan.”

“Jangan gede kepala,” ucap Naira malas.

Suasana kembali dipenuhi obrolan receh.

Namun di tengah tawanya... ponsel Alana tiba-tiba berbunyi lagi.

Dan begitu melihat nama di layar, senyum kecil di wajahnya perlahan menghilang.

Om Hendra...

Ternyata sang paman yang menelpon.

Naira langsung diam.

Sedangkan Damar perlahan mengalihkan pandangan seolah memberi ruang.

Alana menarik napas kecil sebelum akhirnya mengangkat telepon tersebut.

“Halo…”

“Uang bulan ini kapan kamu transfer?”

Tidak ada salam.

Tidak ada kabar.

Langsung uang.

Jari Alana perlahan mengepal kecil.

Tatapannya turun ke minyak panas di depan kompor.

“Mungkin agak telat sedikit, Om.”

“Jangan alasan terus.”

“Aku lagi banyak kebutuhan kuliah.”

“Dulu om sama tante yang biayain hidup kamu,” balas pria itu tajam. “Sekarang disuruh bantu keluarga malah susah.”

Alana diam.

Rahang kecilnya mengeras samar.

Namun suaranya tetap tenang.

“Iya nanti aku usahain.”

“Cepet.”

Telepon langsung dimatikan sepihak.

Sunyi.

Beberapa detik Alana masih memandangi layar ponselnya.

Sampai suara minyak di penggorengan mulai terlalu keras.

“Ah sial.”

Ia buru-buru membalik ayam.

Namun dadanya telanjur terasa sesak.

“Masih soal uang?” tanya Naira pelan.

Alana tertawa kecil.

Tapi tawanya terdengar tipis.

“Lucu ya,” gumamnya sambil menurunkan api kompor. “Harta orang tuaku habis dipakai mereka… tapi aku masih dituntut balas budi juga.”

Damar menatap Alana cukup lama.

Sedangkan gadis itu buru-buru sibuk membereskan saus sambal seolah baik-baik saja.

Padahal tutup botol saus di tangannya sampai terpasang miring dua kali karena jemarinya sedikit gemetar.

“Na,” panggil Damar hati-hati.

“Hm?”

“Kalau capek jangan dipendem terus.”

Alana diam beberapa detik.

Tatapannya sempat jatuh pada etalase kecil di depan kontrakan.

Sepi.

Bahkan stok saus tinggal setengah botol karena ia belum sempat beli lagi.

Lalu perlahan gadis itu tersenyum kecil.

“Kalau aku nyerah…” ujarnya pelan, “nanti aku makan apa?”

Dan pagi itu—

di tengah aroma ayam goreng, suara motor, dan gang kecil yang mulai sibuk, Alana kembali menjalani hidupnya seperti biasa.

Sambil pura-pura kuat.

Karena kalau sampai benar-benar runtuh, ia bahkan tidak tahu harus pulang ke mana.

1
Lisa
Oke Kak..kami tunggu kelanjutan kisahnya y Kak..semangat & sukses y Kak utk revisi nya 💪🙏
Lisa
Semangat y Alana 💪
rokhatii
ayo mampir guys dijamin suka
Lisa
Arsen² sadarlah..jgn terbawa masa lalu..anak² mu butuh kasih sayang ortunya..
Lisa
Wah makin kacau aj rumah itu..kasian banget Axel..sampe kpn si Arsen itu dpt berubah
rokhatii: doakan semoga segera dapat hidayah🤭🤭
total 1 replies
Lisa
Arsen harus mengubah sikapnya terhadap anak² nya
rokhatii: orang tua seperti itu kebanyakan sulit berubah nggak sih kak??
total 1 replies
aisy
bagus ceritanya
Lisa
Arsen² benar² ayah yg aneh..sekrg baru mencari Axel..
Suryanti Yanti
lanjut toor kenapa kok setenga²tor
rokhatii: maafin othor ya sehari cuma bisa up satu bab...🙏🙏
total 1 replies
Lisa
Kasihan banget Axel..moga neneknya dpt menolongnya..ayah macam apa Arsen itu..
rokhatii: ayah jahat dia,,semoga dapat karmanya nanti🤭🤭
total 1 replies
Suryanti Yanti
lanjut toor
Lisa
Salut banget sama Alana..semangat terus y belajar sambil jualannya..sukses ya 👍🙏
Lisa
Aku mampir Kak
rokhatii: terima kasih kakak😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!