NovelToon NovelToon
System Pohon Ajaib Warisan Kakek

System Pohon Ajaib Warisan Kakek

Status: tamat
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik / Tamat
Popularitas:172.5k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Lelah dengan kehidupan keras sebagai budak korporat di kota besar dan duka setelah kehilangan kedua orang tuanya, Lin Ye memutuskan untuk pulang ke Desa Qingshui, tempat kakeknya dulu tinggal.

Di sana, ia menemukan ladang dan rumah kakeknya yang sudah terbengkalai, kecuali sebatang pohon raksasa misterius di belakang rumah yang anehnya tetap subur dan hijau.

Saat tangan Lin Ye yang terluka menyentuh pohon tersebut, Sistem Warisan Alam yang terkunci sejak kematian kakeknya mendadak aktif, mengenali garis keturunannya sebagai pewaris sah.

Kini, dengan bantuan sistem yang memudahkan pekerjaan bertani dan kehadiran roh-roh alam fantasi, Lin Ye memulai kehidupan barunya yang santai namun penuh keajaiban untuk membangun kembali kejayaan ladang kakeknya, melawan intrik tetangga yang rakus, dan perlahan menjadi kaya raya di tengah kedamaian pedesaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Lin Ye berdiri di balik pintu kayu dapur. Tangannya menggenggam erat gagang cangkul kayu besi hitam. Hawa dingin malam menyusup dari celah dinding, tapi telapak tangannya terasa hangat berkat aliran energi dari alat ajaib itu.

"Sistem mendeteksi ancaman di sudut barat daya. Itu tepat di perbatasan dengan ladang jagung Zhao He," batin Lin Ye. "Orang tua itu benar-benar tidak bisa diam. Dia malahh mencari masalah di malam hari."

Kriet.

Lin Ye membuka pintu belakang dengan sangat pelan, berusaha agar engselnya yang sudah tua tidak mengeluarkan suara berderit terlalu keras. Kegelapan halaman belakang menyambutnya. Dia mematikan senter kecil di tangannya, membiarkan matanya menyesuaikan diri dengan cahaya bulan yang redup.

Di kejauhan, dekat petak tanah yang baru saja dia tanami sore tadi, terlihat sebuah siluet manusia. Siluet itu bergerak mengendap-endap seperti pencuri kelas teri, menunduk di balik semak-semak liar.

Itu memang Zhao He. Pria paruh baya itu memegang sebuah ember plastik kecil dengan kedua tangannya. Dia berdiri tepat di luar batas petak tanah Lin Ye, bersiap untuk mengayunkan ember tersebut.

Lin Ye tidak langsung berteriak. Dia ingin melihat apa yang akan terjadi jika Pagar Angin Penolak Hama itu bekerja. Dia menyandarkan tubuhnya di dinding rumah, mengamati dalam diam.

Di sisi lain, Zhao He tersenyum licik. Dia merasa rencananya berjalan sempurna. Anak kota itu tertidur lelap, tidak tahu apa-apa bahwa ladangnya akan segera hancur.

"Makanlah yang kenyang, anak-anakku. Hancurkan semua yang ditanam anak sombong ini," bisik Zhao He kepada isi embernya.

Srrk.

Zhao He mengayunkan ember plastiknya ke depan dengan kuat, bermaksud melemparkan puluhan ulat daun kelaparan dan tikus ladang itu tepat ke tengah gundukan tanah yang basah.

Wushhh.

Tiba-tiba, sebuah hembusan angin yang sangat kencang dan tidak wajar muncul dari udara kosong. Udara di depan Zhao He seolah memadat menjadi sebuah dinding karet yang tak kasat mata.

Bukk.

Ember plastik itu menghantam sesuatu yang keras di udara, padahal di sana tidak ada apa-apa. Gaya tolak dari Pagar Angin Penolak Hama langsung bekerja secara otomatis. Energi pelindung itu memantulkan ember beserta seluruh isinya kembali ke arah asalnya dengan kekuatan dua kali lipat.

"Benda apa ini?" teriak Zhao He dengan nada kaget setengah mati.

Plak.

Ember plastik itu menghantam wajah Zhao He dengan keras. Puluhan ulat daun berukuran besar dan tanah kotor tumpah menutupi wajah, masuk ke dalam kerah baju, dan mengotori rambutnya. Tiga ekor tikus ladang yang panik ikut melompat ke dada Zhao He, mencakar-cakar kemejanya berusaha melarikan diri dari dinding angin pelindung yang menakutkan itu.

Bugh.

Zhao He jatuh terjengkang ke belakang, menabrak semak berduri. Ember plastiknya menggelinding menjauh.

"Tolong. Tolong aku. Tikus sialan, lepaskan bajuku," teriak Zhao He panik sambil berguling-guling di atas tanah. Dia mengibas-ngibaskan tangannya, berusaha menyingkirkan ulat-ulat gemuk yang merayap di lehernya dan tikus yang menggigit kancing bajunya.

Suasana malam yang tadinya sunyi mendadak penuh dengan suara rintihan dan kepanikan Zhao He.

Tap. Tap. Tap.

Lin Ye melangkah keluar dari tempat persembunyiannya. Dia berjalan santai mendekati Zhao He, menyalakan senter kecilnya, dan menyorotkan cahaya terang itu tepat ke wajah pria tua yang sedang bergulingan di tanah tersebut.

"Apa yang sebenarnya kamu lakukan ini, Paman Zhao?" tanya Lin Ye dengan suara yang sangat tenang dan dingin.

Zhao He berhenti berguling. Dia menutupi matanya yang silau oleh cahaya senter. Napasnya terengah-engah. Saat dia melihat siluet Lin Ye yang berdiri tegap membawa cangkul hitam di bahunya, wajah Zhao He seketika menjadi pucat pasi.

"Lin... Lin Ye? Kamu belum tidur?" suara Zhao He bergetar.

"Tidur saya sangat nyenyak tadi... sampai saya mendengar ada anjing liar yang mencoba merusak pagar saya. Tapi ternyata bukan anjing liar. Hanya seorang tetangga yang sangat peduli pada saya sampai datang membawakan ember berisi hama," jawab Lin Ye. Nada bicaranya santai, tapi penuh dengan ancaman tersirat.

"Ini... ini bukan seperti yang kamu pikirkan. Aku bisa jelaskan," Zhao He mencoba berdiri, sambil terus menepuk-nepuk celananya yang dipenuhi tanah dan beberapa ulat yang masih menempel.

"Oh, silakan jelaskan. Saya sangat suka mendengarkan dongeng sebelum tidur," kata Lin Ye sambil menurunkan cangkulnya. Ujung cangkul besi hitam itu menghantam tanah dengan suara keras yang membuat Zhao He tersentak.

"Aku... aku tadi sedang berpatroli di ladang jagungku. Aku melihat gerombolan tikus ini berlari ke arah tanahmu. Jadi aku mencoba menangkap mereka dengan ember ini agar tidak merusak bibitmu. Benar. Aku hanya mencoba membantumu," Zhao He mengarang cerita dengan terbata-bata.

Lin Ye tertawa pelan. Tawa yang sama seperti yang dia gunakan untuk mengintimidasi Bos Liu di pasar pagi tadi.

"Membantu saya? Dengan mengumpulkan hama ke dalam ember dan melemparkannya ke tanah saya? Paman Zhao, saya mungkin baru tinggal di desa ini, tapi saya bukan balita yang bisa dibodohi dengan alasan konyol seperti itu." Lin Ye maju satu langkah, menyorotkan senternya lebih dekat ke wajah Zhao He.

"Aku berkata jujur," Zhao He masih bersikeras, meski suaranya semakin kecil.

"Jujur? Lalu bagaimana Anda menjelaskan pagar kayu pembatas kita yang sengaja Anda rusak agar bisa menyelinap masuk ke sini?" Lin Ye menunjuk ke arah celah pagar dengan dagunya. "Paman Zhao, di kota, apa yang Anda lakukan malam ini disebut sebagai perusakan properti dan percobaan sabotase. Itu adalah tindak kriminal."

Zhao He menelan ludah. Dia mundur selangkah. "Jangan sembarangan menuduh kamu. Tidak ada saksi di sini selain kamu. Kepala Desa tidak akan percaya pada anak kota baru sepertimu."

"Anda yakin?" Lin Ye mengangkat sebelah alisnya. "Anda lihat dinding transparan tadi? Teknologi pengusir hama modern yang saya beli dari kota. Sistem itu tidak hanya memantulkan hama, tapi juga merekam pergerakan. Jika saya melaporkan hal ini ke polisi kota Yushan besok pagi, mereka akan datang, mengambil sidik jari di ember Anda, dan Anda akan berakhir di penjara."

Lin Ye berbohong soal rekaman kamera, tapi gertakan itu sangat efektif untuk orang desa yang tidak paham teknologi modern seperti Zhao He.

Wajah Zhao He kini tidak hanya pucat, tapi mulai berkeringat dingin. Jika dia masuk penjara, siapa yang akan mengurus istrinya yang sakit? Biaya rumah sakitnya akan menunggak, dan ladang jagungnya akan terbengkalai.

"Jangan. Jangan laporkan aku ke polisi," suara Zhao He akhirnya pecah. Dia memohon dengan nada putus asa. "Aku mohon, Lin Ye. Aku salah. Aku mengakuinya. Aku lah yang membawa hama itu."

"Kenapa Anda melakukannya?" tanya Lin Ye, matanya menatap tajam tanpa rasa kasihan.

"Aku... aku merasa iri. Aku melihatmu pulang membawa banyak barang belanjaan mewah. Aku melihatmu membuka lahan dengan sangat cepat. Aku takut kamu benar-benar akan berhasil di sini, sementara aku harus mati-matian bekerja hanya untuk membayar obat untuk istriku. Aku gelap mata. Aku hanya ingin membuatmu gagal agar kamu mau menjual tanah ini padaku." Zhao He tertunduk lesu. Semua kesombongan dan sikap kasarnya siang tadi runtuh sepenuhnya.

Lin Ye terdiam sejenak. Dia bisa melihat keputusasaan di mata pria paruh baya itu. Tapi Lin Ye tahu, memberi kelonggaran sekarang hanya akan membuat Zhao He mencari celah lain di masa depan. Dia harus menyelesaikan masalah ini sampai tuntas malam ini juga.

"Alasan Anda tidak membenarkan tindakan Anda," kata Lin Ye tegas. "Saya tidak peduli dengan masalah finansial Anda. Anda telah mencoba menghancurkan ladang saya, sumber penghidupan saya. Itu adalah batas yang tidak boleh dilewati."

"Aku tahu. Aku pantas dihukum. Tapi tolong, lupakan soal polisi. Berapa yang kamu mau? Aku akan membayarnya. Gaji dari sisa panen jagungku bulan ini akan kuberikan padamu sebagai ganti rugi," tawar Zhao He dengan suara bergetar.

"Saya tidak butuh uang Anda," tolak Lin Ye mentah-mentah. "Uang Anda lebih baik digunakan untuk membayar tagihan rumah sakit istri Anda. Tapi, Anda harus membayar perbuatan Anda dengan cara lain."

"Cara apa? Katakan saja. Aku akan melakukan semuanya," jawab Zhao He cepat.

"Ada tiga syarat," Lin Ye mengangkat tiga jarinya. "Pertama, besok pagi saat matahari terbit, Anda harus memperbaiki pagar kayu pembatas yang Anda rusak. Gunakan kayu dan paku Anda sendiri. Buat lebih tinggi dan lebih kuat dari sebelumnya."

"Aku akan lakukan itu. Aku punya banyak kayu sisa di gudang. Besok pagi pagar itu akan kembali berdiri kokoh," janji Zhao He.

1
Jeffie Firmansyah
keren semangat suka cerita nya
Jeffie Firmansyah
terimakasih Thor saya sdh baca hingga selesai, ceritanya bagus , dengan genre yg berbeda, pada novel 2 , yg lain... sehat selalu Thor 💪💪💪💪
Yui: terimakasih banyak kak sudah membaca sampai selesai, maaf klo banyak kesalahan dalam penulisannya, dan mungkin bisa baca juga novel author yang lain😊😊😊
total 1 replies
Endro Budi Raharjo
tanamannya gak jelas.... cm panen sekali bubar ganti lg...
Memyr 67
𝗉𝖺𝗅𝗂𝗇𝗀 𝗆𝖾𝗅𝗈𝗇 𝗓𝖺𝗆𝗋𝗎𝖽𝗇𝗒𝖺 𝖼𝗎𝗆𝖺 𝗌𝖺𝗍𝗎 𝗂𝗍𝗎 𝖺𝗃𝖺. 𝗅𝗂𝗇 𝗒𝖾 𝗄𝖺𝗇 𝗌𝗂𝗌𝗍𝖾𝗆 𝖻𝖾𝗋𝖼𝗈𝖼𝗈𝗄 𝗍𝖺𝗇𝖺𝗆𝗇𝗒𝖺, 𝗌𝖾𝖽𝗂𝗄𝗂𝗍 𝗌𝖾𝖽𝗂𝗄𝗂𝗍, 𝖽𝗂𝖼𝗈𝖻𝖺 𝗌𝖾𝗆𝗎𝖺.
Memyr 67
𝖽𝗂 𝗍𝖾𝗇𝗀𝖺𝗁 𝖽𝖺𝗇𝖺𝗎 𝖺𝖽𝖺 𝗉𝗎𝗅𝖺𝗎? 𝗈𝗐 𝗂𝗍𝗎 𝖽𝖺𝗁 𝗇𝗒𝖺𝗆𝗉𝖾 𝖽𝖺𝗇𝖺𝗎 𝗍𝗈𝖻𝖺 𝖻𝖾𝗋𝖺𝗋𝗍𝗂 🤣🤣🤣
Memyr 67
𝖽𝗂 𝖼𝗁𝗂𝗇𝖺, 𝗌𝖺𝗒𝗎𝗋 𝖻𝖾𝗇𝗂𝗇𝗀 𝖽𝗂𝗇𝖺𝗆𝖺𝗄𝖺𝗇 𝖽𝗎𝗉 𝗃𝗎𝗀𝖺 𝗒𝖺? 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗎 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗂𝗇𝖽𝗈𝗇𝖾𝗌𝗂𝖺, 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝖺𝖽𝖺 𝖽𝖺𝗀𝗂𝗇𝗀𝗇𝗒𝖺 𝗂𝗍𝗎 𝗌𝖺𝗒𝗎𝗋 𝖻𝖾𝗇𝗂𝗇𝗀, 𝖻𝗎𝗄𝖺𝗇 𝗌𝗎𝗉.
Memyr 67
𝗌𝖺𝗐𝗂 𝖼𝖺𝗆𝗉𝗎𝗋 𝗆𝖾𝗅𝗈𝗇? 𝖺𝗉𝖺 𝗋𝖺𝗌𝖺 𝖽𝖺𝗎𝗇 𝗌𝖺𝗐𝗂𝗇𝗒𝖺 𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂 𝗆𝖾𝗅𝗈𝗇?
Reyzz: melonnya yang rasa sawi kak😭
tergantung genetik sih, kalo dominan melonnya ya sawi rasanya melon, kalo dominan sawi ya melon rasa sawi
total 1 replies
Memyr 67
𝗌𝖾𝗎𝗉𝗎 𝗐𝖺𝗇 𝗃𝗂𝗇 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝗉𝖺𝖽𝖺 𝗌𝖺𝖽𝖺𝗋 𝖽𝗂𝗋𝗂, 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗀𝗎𝗇𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗍𝗎𝖺𝗇𝗒𝖺 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝗆𝖾𝗇𝖾𝗄𝖺𝗇 𝗐𝖺𝗇𝗃𝗂𝗇 𝖽𝖺𝗇 𝖺𝗒𝖺𝗁𝗇𝗒𝖺, 𝗉𝖺𝖽𝖺𝗁𝖺𝗅 𝗉𝖺𝗋𝖺 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀𝗍𝗎𝖺 𝗆𝖾𝗋𝖾𝗄𝖺 𝖽𝗂𝗍𝖾𝗄𝖺𝗇 𝖻𝖺𝗅𝗂𝗄, 𝗀𝖾𝗅𝖺𝗀𝖺𝗉𝖺𝗇, 𝖻𝖾𝗇𝖺𝗋 𝖻𝖾𝗇𝖺𝗋 𝗌𝖾𝗄𝖾𝗅𝗂𝗆𝗉𝗈𝗄 𝗆𝖺𝗇𝗎𝗌𝗂𝖺 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁. 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝗆𝗂𝗄𝗂𝗋
Memyr 67
𝗍𝖾𝗋𝗇𝗒𝖺𝗍𝖺, 𝗉𝖺𝗋𝖺 𝗉𝖾𝗍𝗂𝗇𝗀𝗀𝗂 𝗁𝗈𝗍𝖾𝗅 𝗀𝗋𝖺𝗇𝖽 𝗒𝗎𝗌𝗁𝖺𝗇 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁 𝗒𝗀 𝖻𝖾𝗋𝗉𝗂𝗄𝗂𝗋𝖺𝗇 𝗌𝖾𝗆𝗉𝗂𝗍. 𝗉𝖺𝗇𝗍𝖺𝗌 𝖺𝗃𝖺 𝖽𝗂𝗋𝖾𝗆𝖾𝗁𝗄𝖺𝗇 𝗈𝗅𝖾𝗁 𝗀𝗋𝗎𝗉 𝗄𝗎𝗅𝗂𝗇𝖾𝗋 𝗅𝖺𝗇𝗀𝗂𝗍
Memyr 67
𝖻𝖺𝗋𝗎 𝗌𝖾𝗇𝖾𝗇𝗀 𝗌𝖾𝗇𝖾𝗇𝗀 𝖽𝖺𝗉𝖺𝗍 𝖽𝗎𝗂𝗍 𝗋𝖺𝗍𝗎𝗌𝖺𝗇 𝗋𝗂𝖻𝗎 𝗒𝗎𝖺𝗇, 𝖽𝖺𝗁 𝗍𝖾𝗀𝖺𝗇𝗀 𝗅𝖺𝗀𝗂.
Memyr 67
𝗉𝖺𝗋𝖺 𝗌𝖾𝗉𝗎𝗉𝗎 𝗐𝖺𝗇𝗃𝗂𝗇 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁. 𝖺𝗉𝖺 𝗒𝗀 𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗆𝖾𝗋𝖾𝗄𝖺 𝖽𝖺𝗉𝖺𝗍 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗀𝗋𝗎𝗉 𝗄𝗎𝗅𝗂𝗇𝖾𝗋 𝗅𝖺𝗇𝗀𝗂𝗍, 𝗍𝗂𝖽𝖺𝗄 𝖺𝖽𝖺 𝖺𝗉𝖺 𝖺𝗉𝖺𝗇𝗒𝖺 𝖽𝗂𝖻𝖺𝗇𝖽𝗂𝗇𝗀𝗄𝖺𝗇 𝖺𝗉𝖺 𝗒𝗀 𝖺𝗄𝖺𝗇 𝖽𝗂𝖽𝖺𝗉𝖺𝗍 𝗀𝗋𝗎𝗉 𝗄𝗎𝗅𝗂𝗇𝖾𝗋 𝗅𝖺𝗇𝗀𝗂𝗍. 𝗄𝖾𝗁𝖺𝗇𝖼𝗎𝗋𝖺𝗇 𝗀𝗋𝖺𝗇𝖽 𝗒𝗎𝗌𝗁𝖺𝗇, 𝗒𝗀 𝖻𝖾𝗋𝖺𝗋𝗍𝗂 𝗄𝖾𝗁𝖺𝗇𝖼𝗎𝗋𝖺𝗇 𝗆𝖾𝗋𝖾𝗄𝖺 𝗌𝖾𝗆𝗎𝖺. 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝗉𝖺𝗋𝖺 𝖺𝗇𝗀𝗀𝗈𝗍𝖺 𝖽𝖾𝗐𝖺𝗇 𝗅𝖾𝖻𝗂𝗁 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁. 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝖽𝗂𝗍𝖾𝗄𝖺𝗇 𝗈𝗅𝖾𝗁 𝗉𝖺𝗋𝖺 𝗌𝖾𝗉𝗎𝗉𝗎 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁 𝗐𝖺𝗇𝗃𝗂𝗇.
Memyr 67
𝗍𝖾𝗀𝖺𝗇𝗀 𝗅𝖺𝗀𝗂
Memyr 67
𝗉𝖾𝗍𝖺𝗇𝗂 𝗎𝖽𝗂𝗄 𝗒𝖺? 𝗅𝗈𝗇𝗀 𝗐𝖾𝗂 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁 𝖽𝖺𝗇 𝖼𝖾𝗋𝗈𝖻𝗈𝗁 𝗀𝗂𝗍𝗎, 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝗃𝖺𝖽𝗂 𝗉𝖾𝗆𝗂𝗆𝗉𝗂𝗇 𝖽𝗎𝗇𝗂𝖺 𝖻𝖺𝗐𝖺𝗁. 𝗅𝗈𝗅
Memyr 67
𝗉𝖾𝗍𝖺𝗇𝗂 𝗎𝖽𝗂𝗄? 𝗍𝗎𝗇𝗀𝗀𝗎 𝗌𝖺𝗃𝖺, 𝗌𝗂𝖺𝗉𝖺 𝗒𝗀 𝗅𝖾𝖻𝗂𝗁 𝗎𝖽𝗂𝗄. 𝗅𝗈𝗇𝗀 𝗐𝖾𝗂 𝗉𝗎𝗇𝗒𝖺 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝖻𝗎𝖺𝗁, 𝖼𝗎𝗆𝖺 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝗆𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇𝖽𝖺𝗅𝗄𝖺𝗇 𝗈𝗍𝗈𝗍, 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝖺𝖽𝖺 𝗈𝗍𝖺𝗄𝗇𝗒𝖺.
Memyr 67
𝖺𝗄𝗎 𝖼𝗎𝗆𝖺 𝖻𝖺𝖼𝖺 𝖺𝗃𝖺, 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝗂𝗄𝗎𝗍 𝗌𝖾𝗌𝖾𝗄 𝗇𝖺𝗉𝖺𝗌
Memyr 67
𝖾𝗉𝗂𝗌𝗈𝖽𝖾 𝗆𝖾𝗇𝖾𝗀𝖺𝗇𝗀𝗄𝖺𝗇
Memyr 67
𝖻𝗎𝖺𝗒𝖺 𝖻𝗎𝗇𝗍𝗎𝗇𝗀 𝗆𝖾𝗇𝖽𝖾𝗄𝖺𝗍𝗂 𝗍𝖺𝗋𝗀𝖾𝗍
Memyr 67
𝗍𝖾𝗀𝖺𝗇𝗀
Memyr 67
𝗆𝖺𝗍𝖺 𝖺𝗂𝗋 𝗄𝗈𝗄 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝖽𝗂 𝖽𝖺𝗅𝖺𝗆 𝖻𝗈𝗍𝗈𝗅?
black swan
...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!