Di sebuah kafe kecil yang tidak pernah benar-benar sepi, dua dunia yang berbeda perlahan saling bersinggungan.
Clay—dingin, tenang, dan terbiasa menjaga jarak.
Nindi—jujur, tegas, dan tidak suka sesuatu yang menggantung tanpa kepastian.
Mereka tidak pernah merencanakan apa pun. Tidak pernah mencari satu sama lain.
Namun setiap hari yang sama, percakapan yang sederhana, dan kebetulan yang berulang, perlahan mengubah batas antara “sekadar bertemu” menjadi “tidak ingin kehilangan”.
Dan ketika akhirnya mereka memilih untuk saling menggenggam, mereka juga harus belajar satu hal:
bahwa mempertahankan seseorang tidak pernah sesederhana memilihnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fadiez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Malam itu, Clay berdiri di depan rumah Sonya. Tidak ada yang benar-benar ia lakukan. Ia hanya berdiri. Menatap lurus ke depan, pada pintu yang tertutup, seolah di baliknya ada jawaban yang sejak beberapa waktu ini cari.
Beberapa detik berlalu. Lalu ia mengeluarkan ponselnya. Menekan nama itu.
Nindi.
Panggilan pertama tidak diangkat. Yang kedua juga tidak.
Clay menarik napas. Lalu mencoba lagi. Akhirnya tersambung.
“Apa?” suara Nindi terdengar pelan dari seberang.
“Aku di depan rumahmu.”
Hening sejenak.
“Di depan rumah?” Ulang Nindi.
“Aku mau bicara.”
“Bicara apa? Aku capek, Clay. Besok saja.”
“Sekarang.” Nada itu tidak keras. Namun tidak memberi ruang.
Hening. Lebih lama dari sebelumnya.
“Aku tidak bisa, ini sudah malam.” jawab Nindi akhirnya.
Clay menutup mata sejenak.
“Kalau kamu tidak keluar… aku akan tetap di sini menunggumu.”
Kalimat itu datar. Namun jelas.
Beberapa detik berlalu. Lalu sambungan terputus. Clay tidak bergerak. Ia hanya menunggu. Dan beberapa menit kemudian, pintu itu terbuka.
Nindi keluar. Langkahnya tidak cepat. Namun juga tidak ragu.
“Kamu keras kepala,” katanya begitu sampai.
Clay tidak membantah.
“Ayo,” ujarnya singkat.
Clay mulai berjalan. Nindi mengikutinya. Tanpa banyak tanya. Mereka berhenti di taman kecil tidak jauh dari rumah.
Sepi.
Hanya suara malam yang tersisa.
Clay berbalik. Menatap Nindi langsung.
“Kamu pernah bilang…” suaranya rendah, namun jelas, “kalau aku terus mengejarmu…”
Ia berhenti sejenak. Memberi ruang pada kalimat itu untuk sampai. “…mungkin kamu tidak akan bisa menolakku selamanya.”
Hening. Nindi membeku di tempatnya. Karena ia ingat. Ia benar-benar pernah mengatakan itu. beberapa hari yang lalu. Namun mendengarnya Kembali dari Clay, terasa berbeda.
Clay melangkah satu langkah mendekat. “Sekarang aku di sini, dan kamu juga tahu… aku tidak akan berhenti.”
Nindi menahan napas.
“Kali ini, aku mau kamu jujur.”
Nindi terdiam.
“Sedikit saja,” lanjut Clay. “Cukup bilang… kamu punya perasaan atau tidak.”
Langsung. Tanpa berputar - putar.
Nindi menarik napas pelan. “Clay—”
“Jangan dihindari,” potongnya.
Hening.
Nindi menatapnya. Lama. Dan untuk pertama kalinya, ia tidak mencari cara untuk keluar dari pertanyaan itu.
“…ada,” katanya akhirnya. Pelan. Namun jelas.
Clay terdiam. Jawaban itu, lebih dari cukup. Namun justru itu yang membuat pertanyaan berikutnya terasa lebih berat. “Lalu kenapa kamu tetap diam?”
Nindi mengalihkan pandangan sejenak. “Aku tidak diam,” katanya pelan. “Aku menahan.”
Clay menghela napas. “Kenapa?”
Nindi tersenyum tipis. Lelah. “Kamu sudah tahu jawabannya.”
“Tidak,” jawab Clay cepat. “Aku ingin dengar dari kamu.”
Hening.
Nindi akhirnya menatapnya lagi.
“Aku tidak ingin memulai sesuatu… yang aku tahu tidak bisa aku selesaikan.”
Hening.
Clay menggeleng kecil. “Kenapa kamu selalu memikirkan akhirnya?”
“Karena aku tidak bisa tidak memikirkannya.”
“Kenapa kita tidak jalani saja dulu?”
Nindi menggeleng. “Aku tidak seperti kamu, Clay.”
“Lalu seperti apa kamu?”
Nindi menatapnya dalam. “Kalau aku mulai… aku tidak akan setengah-setengah.”
Nindi berhenti. “Aku akan sungguh-sungguh.”
Hening.
Dan justru itu yang membuat semuanya terasa lebih berat.
“Dan kamu pikir aku tidak?” tanya Clay pelan.
Nindi tidak menjawab. Karena ia tahu, itu bukan tentang kesungguhan. Melainkan tentang akhir yang tidak bisa dihindari.
Clay memperhatikannya beberapa detik lebih lama. Seolah mencari sesuatu yang tidak diucapkan.
“Apa ini karena kamu akan pulang?” tanya Clay akhirnya.
Hening kembali jatuh. Kali ini lebih dalam.
“Kita masih punya waktu,” lanjut Clay pelan. “Dua bulan setengah.”
Nindi menatapnya. Lama. Seolah memastikan ia tidak salah mendengar.
“Kita masih punya waktu.” Kalimat itu menggantung. Dan justru karena itu, terasa tidak cukup.
“Lalu setelah itu?” tanya Nindi pelan.
Hening.
Pertanyaan itu sederhana. Namun langsung menuju hal yang selama ini ia hindari.
“Kita bisa cari cara.” Jawab Clay cepat.
Nindi tersenyum tipis. Bukan karena senang. Lebih seperti memahami sesuatu. “Itu bukan jawaban,” katanya pelan.
Clay menatapnya. “Itu jawaban yang paling jujur.”
Nindi menarik napas pelan, seolah kalimat itu sudah terlalu lama tertahan di dadanya. “Aku tidak mau menjalani hubungan yang dari awal sudah tahu akhirnya,”
Clay terdiam beberapa detik, lalu menggeleng kecil. “Siapa yang bilang kita sudah tahu akhirnya?”
Nindi menatapnya, kali ini lebih lurus. “Bukan soal siapa yang bilang. Tapi apa yang kita lihat.”
“Dan apa yang kamu lihat?” suara Clay mulai lebih pelan, tapi ada tekanan yang tidak ia sembunyikan lagi.
Nindi tidak langsung menjawab. Matanya sempat menurun sebentar, lalu kembali naik.
“Jarak,” katanya. “Negara yang berbeda. Rencana hidup yang tidak ada di titik yang sama. Dan… kamu yang masih ingin bertahan di sini, sementara aku akan pergi.”
Kalimat itu jatuh tanpa emosi berlebihan, justru karena sudah terlalu sering ia pikirkan.
Clay menghela napas. “Itu bukan akhir. Itu kondisi.”
Nindi tersenyum tipis, lagi-lagi bukan karena senang. “Kondisi yang mengarah ke sesuatu, Clay.”
“Ke apa?” tanya Clay cepat.
Nindi diam sejenak, lalu menjawab pelan, “Ke kita yang harus memilih lagi. Dan lagi. Sampai akhirnya salah satu tidak sanggup.”
Clay menggeleng. “Kamu ngomong seolah cinta itu cuma soal sanggup atau tidak sanggup.”
“Bukan cuma itu,” Nindi membalas. “Tapi juga soal realistis atau tidak.”
Clay menatapnya lama. “Jadi menurutmu, kalau kita sudah tahu ada kemungkinan sakit di ujungnya, kita tidak boleh mulai?”
Nindi tidak langsung menjawab. Angin malam lewat di antara mereka, seperti memberi ruang untuk jawaban yang tidak sederhana.
“Aku cuma tidak mau,” katanya akhirnya, lebih pelan, “menyebut sesuatu sebagai ‘kita’, kalau di dalamnya sudah ada tanggal kedaluwarsa yang tidak kita ucapkan.”Top of Form
Clay mendecih pelan. “Kamu pikir sebelum aku memutuskan mengejarmu, aku tidak berpikir?”
Ia menatap Nindi lebih lama, lalu melanjutkan, suaranya mulai naik satu tingkat, tapi masih tertahan di batas kendali. “Aku tahu kamu akan pulang, tidak lama lagi. Aku tahu jarak kita akan jauh. Aku tahu itu sejak awal. Tapi aku tetap mau mengambil risiko itu.”
Clay berhenti sejenak, dadanya naik turun pelan. “Aku bahkan mencari banyak hal tentangmu. Tentang negaramu. Tentang perbedaan kita. Tentang keluargamu. Semuanya tentangmu.”
Di akhir kalimat itu, Clay menekan ucapannya, seolah setiap kata baru saja dipaksa keluar dari sesuatu yang lebih dalam dari sekadar emosi.
Hening.
Nindi tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Clay, lama, seperti mencoba memastikan bahwa yang berdiri di depannya benar-benar orang yang sama yang dulu datang tanpa ragu.
“Aku tidak pernah bilang kamu tidak berpikir,” kata Nindi akhirnya, pelan tapi jelas.
Clay menghela napas pendek. “Tapi kamu bicara seolah aku tidak paham apa yang aku hadapi.”
Clay mengusap rahangnya sejenak sebelum berbicara lagi. “Aku bahkan sangat menyadari kalau selama ini pandangan hidup kita berbeda,” katanya, kali ini lebih tenang, tapi justru terdengar lebih berat. “Dan aku tidak pernah menutup mata soal itu.”
Ia menatap Nindi, seolah ingin memastikan kata-katanya benar-benar sampai. “Aku tahu kamu melihat hubungan dengan cara yang lebih… hati-hati. Lebih punya batas. Lebih punya garis akhir yang jelas.”
Clay berhenti sebentar, lalu menggeleng kecil. “Tapi aku tidak.”
Nindi tidak memotong. Ia hanya mendengarkan.
“Aku melihatnya sebagai sesuatu yang dijalani,” lanjut Clay. “Selama masih ada kita, ya kita jalani. Bukan dihentikan hanya karena mungkin nanti akan sulit.”
Suasana di antara mereka kembali mengendap.
Clay menurunkan pandangannya sesaat, lalu kembali menatap Nindi. “Aku tidak buta, Nindi. Aku tahu ini tidak sederhana. Aku tahu ini tidak ideal. Tapi aku memilih tetap di sini, tetap mencoba.”
Clay menekan kalimat terakhirnya pelan. “Karena buatku, yang lebih menakutkan itu bukan jarak maupun perbedaan prinsip dan lainnya. Tapi karena kita tidak pernah mencoba sama sekali.”