Emily, Ratu Jalanan sekaligus ketua geng Sport Queen, dipaksa memilih antara masuk pesantren atau menikah setelah terus membuat orang tuanya khawatir. Tak disangka, pria yang dijodohkan dengannya adalah Reyze, ketua geng rival Black Lion Riders sekaligus musuh bebuyutannya.
Meski saling membenci, mereka terpaksa menikah diam-diam dan merahasiakan status mereka. Di depan publik mereka tetap rival, tetapi di balik pintu rumah harus belajar hidup sebagai suami istri.
Saat Emily masih terikat dengan pacarnya dan persaingan di dunia balap berubah menjadi ancaman mematikan, Emily dan Rey harus memilih: mempertahankan permusuhan atau memperjuangkan cinta yang perlahan tumbuh di antara mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HyMaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14
Selesai kelas pertama, awalnya sahabat-sahabat Emily berniat menghampirinya ke ruang kesehatan. Tapi Emily segera memberi kabar bahwa ia akan menunggu di kantin. Jadi mereka tidak perlu menemui Emily di ruang kesehatan, karena sekarang sudah lebih baik.
"Ily, gimana? Udah lebih baik?" tanya Nara khawatir.
"Alhamdulillah, baik. Biasa, gue cuma butuh obat," jawab Emily tersenyum tipis.
"Lo coba berhenti merokok sama alkohol, takutnya lambung lo makin bermasalah," ucap Dion serius.
"Tapi kan gue juga nggak sering banget, cuma kali-kali aja," bela Emily cuek.
"Jangan sampe lo makin bebas gara-gara ditinggal ortu lo," timpal Dion mengingatkan.
"Nggak lah, lo tenang aja," jawab Emily santai.
Tiba-tiba ponsel Emily berdenting. Dia segera menyampingkan handphone-nya saat teman-temannya kepo.
"Siapa sih? Diumpetin segala," ucap Caca heran.
"Paling juga si mokondo," timpal Ziva sambil melirik jahil.
Padahal pada nyatanya isi pesan itu adalah:
Awas lo kalo makan pedes lagi. Gue pastikan kismark bukan hanya di leher tapi di sekujur tubuh lo.
Emily mendengus kesal. "Nggak lucu mainnya, ngancem alay lo, Rey," gerutunya dalam hati.
Pesan berikutnya masuk lagi:
Gue pulang kuliah mau ke markas dulu. Lo mau gue anterin pulang apa gimana?
Emily langsung mengetik balasan singkat.
"Gue bisa pulang sendiri."
Tak lama Rey membalas
lagi:
Ya udah, nanti gue nyusul....
Sore harinya Emily memang pulang ke rumah ibunya berniat mengambil motor, tapi rasanya di rumah itu sepi. Bang Altan pasti jelas sedang rapat, ibu sama papanya tidak ada, mau ngapain dia gabut banget.
"Ahh, ngapain gue gabut banget. Nyesel banget tadi gue nggak ikut main dulu sama Nara..." lirih Emily.
Tiba-tiba ponsel berdering.
"Hallo, Beby!" ucap Alex ceria.
"Iya, apa?" jawab Emily.
"Kamu kenapa tadi pulang cepat, nggak ikut main dulu?" tanya Alex khawatir.
"Ngga, perut gue lagi ga enak..." lirih Emily.
"Beb..."
"Iyaa."
"Gue boleh pinjem duit lu dulu ga? Nanti kalo gue udah dapet transfer gue ganti deh. Motor gue perlu di-service..." ucap Alex berharap.
Emily terdiam sejenak. Memang selain modal tampan, Alex itu emang mo kondo, orang yang seringkali pinjem duit tapi gak pernah diganti-ganti. Tapi entah kenapa, emily begitu cinta pada Alex, gila memang… tapi sekarang sepertinya Emily sudah tidak sebebas dulu meminjamkan uang pada Alex. Karena sekarang keuangannya ada di tangan Rei, dia hanya diberi jatah uang jajan saja, itu pun bulan ini entah masih dikasih atau tidak.
"Aduh, sorry banget gue nggak bisa, lek. Kemarin uang jajan gue juga dipotong sama papa," berusaha Emily mengeles.
"Aduh, beb, padahal aku butuh banget loh. Lagian kenapa kamu kemarin dapat hadiah balapan dikasih ke Ziva semua..." ucap Alex heran.
"Itu kan hak mereka. Gue cuma ngambil jatah gue aja..." lirih Emily.
"Gopek? Nggak ada gope?" tanya Alex memaksa
"Nggak ada, adanya cuman buat jajan gue. Ogah amat nih harus kasih ke elo ,sedangkan gue harus ngirit uang jajan, " sinis Emily, entah kenapa sekarang dia merasa ilfil karena sering diporotin duit.
"Malam Marsel ngajakin balap lagi. Lo mau turun nggak, beb?" tanya Alex.
"Lu aja yang turun..." lirih Emily.
"Aku kan nggak bisa ngalahin dia, beb. Cuma kamu yang paling hebat..." ucap Alex meyakinkan.
"Gue lagi males, Alex. Gue lagi sakit perut. Lu mikir nggak sih ternyata bener ya kata temen-temen gue itu emang mokondo cuma ngemanfaatin gue doang..." lirih Emily.
"Eh, nggak kayak gitu, Sayang. Maksud aku—" ucap Alex ragu.
"Apaaa? Lo ngeles aja lah! Bacottttt!" teriak Emily kesal.
Tuuttt! Tiba-tiba Emily mematikan ponselnya.
"Heeuhhhhh… pusing gue ah, lama-lama lo gue putusin juga… cape amat kerajaan-nya minjem duit mulu. Di ganti kaga .." lirih Emily.
Hari sudah mulai malam. Setelah mandi, Emily duduk di balkon sebelum pulang ke apartemen Rey. Dia mengambil satu bungkus rokok dari tasnya. Sepi sekali, punya pacar mokondo, punya suami, malah nggak akur… udah spek musuh bebuyutan.
"Huuuh, cape banget hidup gue…" lirih Emily.
Emily melamun memandang angin malam sambil menyebat sebatang rokok.
"Bagussssss, rokoooooo terusss, padahal tadi ngeluh sakit perut," ucap Rey tiba-tiba dari balik pintu.
"Bacott looo!" teriak Emily.
"Lo cewe, Emily, nggak baik kaya gini…" ucap Rey santai.
"Lo juga peroko kan…" lirih Emily.
"Tapi gue cowo, wajar lah. Nah Lo cewe..." ucap Rey.
"Cuma beda kelamin," sinis Emily.
"Matiin ga?" Paksa Rey.
"Ga… gue gabuttt… asem mulut gue…" lirih Emily.
Dengan cepat, Rey langsung mengambil rokok dari mulut Emily lalu menginjaknya.
"Reyy, lo apa apaan…" teriak Emily.
"Mulut lo asem kan? Nih gue ganti rokoknya…" ucap Rey santai.
Ia menarik tengkuk Emily
"Mmmmmppttt… Rey…" Emily terengah-engah.
Dengan cepat, Rey langsung menyambar bibir Emily, mencium, mencumbu, dan menghisapnya.
Setelah beberapa menit…
"Hhaaaah… huuuh… Rey, gila lo!" ucap Emily sambil mendorong dada Rey.
"Bibir lo terlalu manis, sayang banget kalo harus dibakar asap rokok…" ucap Rey santai.
"Alahh, modus… Lo!" Emily kesal.
"Cepet, pake jaket, ayoo kita pulang." ucap Rey.
"Makan dulu, ga sih?" tanya Emily.
"Di apart saja, kita beli dari luar.
Disini saja, bibi sudah masak…" ucap emily
"Hmmm, baik lah…" jawab Rey
Akhirnya mereka turun di bawah, sudah ada Altan.
"De, mau pulang?" tanya Altan.
"Iya, bang," jawab Emily.
"Makan dulu…??" Dek ajak Rey.
"Iyaa, ini mau…" lirih Emily.
Mereka akhirnya ikut menyantap makan malam bersama.
Brummmmmmmm brummmm!
Suara knalpot dari motor Emily terdengar menggema di garasi.
"Ini motor lo modif lagi knalpotnya??" tanya Rey.
"Udah lama pengen gue bongkar lagi supaya makin mbeeerrrrrr…" ucap Emily.
"Menurut gue ini udah cukup. Apa mau dipendekin lagi?" tanya Rey lagi.
"Ya enggaklah! Lo pikir gue pendek apa ??muat ya, meskipun ini motor tinggi…" timpal Emily.
"Tapi jangan mentang-mentang nggak ada ibu sama papa lo, bawa motor ke apartemen gue. bisa bebas balapan, enggak ya," ucap Rey tegas.
"Terus apa gunanya gue bawa motor?" lirih Emily.
"Ya jangan balapan juga. Sekali-kali boleh, tapi kalau sampai tiap malam nggak ya. Itupun harus dalam pengawasan gue, ingat orang tua lo nitipin lo ke gue…" ucap Rey.
"Nggak asik lo, Rey. Lo kan tahu balapan itu hobi kita…" kesal Emily.
"Tapi nggak tiap hari juga, Emily, sampai harus taruhan segala. Nggak ya…" jawab Rey.
"Terus kalau geng Lo yang nantang gue gimana?" tanya Emily menantang.
"Biar gue yang nantang lo, tapi bukan di sirkuit. Tapi Di atas ranjang…" ucap Rey sambil nyengir.
"Stresss loh! Ahh… yuk ah, mau pulang nggak lo, atau mau nginep di sini?" ucap Emily.
"Di sini ada abang loh, nggak enak takutnya nanti kalau mau iclik kedengeran…" Rey terkekeh.
"Gila emang lo!"
"Hhhaaaa!" Rey tertawa lepas.
"Reyy, balapan yooo!" ucap Emily sambil memberikan jari tengah.
Dengan cepat Rey mengegas motornya. Di jalan pulang motor mereka masih bersahut-sahutan bagai balapan di sirkuit. Sehobi itu mereka sama balapan, emang pasangan seperkuensi.
"Ily, mampir dulu di minimarket depan sebelum masuk ke apartemen," ucap Rey.
"Mau apa?" tanya Emily.
"Mau jajan. Nggak, lo kan di apartemen belum ada makanan…" jawab Rey.
"Ya udah, oke!" akhirnya Emily menarik gasnya lagi dan memberhentikan motornya di depan minimarket dekat apartemen.
"Ambil troli, ambil jajanan yang lo mau, kebutuhan lo ambil aja, biar gue yang bayar. Jangan lupa ambil beras juga," ucap Rey.
"Ceilah, udah kayak rumah tangga beneran," lirih Emily.
"Kan emang rumah tangga beneran," jawab Rey santai.
Mereka mengambil keperluan untuk di apartemen, beberapa jajanan dan juga cemilan. Setelah sampai di kasir, Emily sampai terheran saat melihat Rey mengambil beberapa alat kontrasepsi, permen warna-warni, bahkan sutra, pelumas, tissue magic. Emily terdiam heran.
"Rey, lo nggak malu beli kayak gituan? Buat apa?" tanya Emily.
"Ngapain malu? Gue udah nikah. Ya buat istri gue lah," jawab Rey cuek.
"Rey, lu gila!" ucap Emily kaget.
"Nggak, gue waras. Sengaja gue beli pengaman, takutnya istri gue belum siap hamil…" ucap Rey.
"Anjirr, gue belum siap di-unboxing…" bisik Emily
"Harus siap!" tegas Rey.
"Ahhh, Reyyy gila!" teriak Emily.