NovelToon NovelToon
Sinyal Terakhir

Sinyal Terakhir

Status: tamat
Genre:Sci-Fi / Dunia Masa Depan / Fantasi / Tamat
Popularitas:262
Nilai: 5
Nama Author: Mirage Ink

SINYAL TERAKHIR

Sinopsis

Tahun 2487.

Persemakmuran Persatuan Manusia (PPM) telah berkembang menjadi peradaban antarbintang yang menguasai ratusan sistem bintang. Dengan bantuan jaringan gerbang antarbintang dan kecerdasan buatan AURA, manusia berhasil membangun koloni di berbagai penjuru galaksi. Meski teknologi berkembang pesat, satu pertanyaan besar belum pernah terjawab: apakah manusia benar-benar sendirian di alam semesta?

Semuanya berubah ketika jaringan observatorium PPM menangkap sebuah sinyal misterius dari Galaksi Asterion, sebuah galaksi yang tidak pernah tercatat dalam jalur eksplorasi resmi. Sinyal itu memiliki pola yang tidak mungkin dihasilkan oleh fenomena alam dan terus berubah seolah merespons sesuatu.

Untuk menyelidikinya, Dewan PPM membentuk ekspedisi rahasia menggunakan kapal eksplorasi tercanggih, ESS Horizon. Misi tersebut dipimpin oleh Kapten Idris, didampingi Wakil Kapten Kael, bersama sepuluh anggota lain yang dipilih langsung dari berbagai bidang keahlian

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirage Ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 – Target Baru

"ESS Horizon?"

Kapten Idris langsung berdiri.

"AURA, ulangi laporan."

"Objek di dalam retakan telah mengubah jalur."

"Targetnya adalah ESS Horizon."

Semua orang di ruang kendali Pioneer saling berpandangan.

Victor Hale langsung berjalan menuju panel navigasi.

"Itu lebih cepat dari perkiraan."

Reza menatapnya.

"Kau sudah menduga ini?"

Victor mengangguk.

"Tapi seharusnya belum sekarang."

---

Di ESS Horizon, alarm berbunyi tanpa henti.

Lampu darurat menyala di seluruh koridor.

Darius segera mengambil alih ruang kendali.

"Niko, hitung jaraknya."

"Tiga ratus ribu kilometer."

"Kecepatan objek?"

"Masih lambat."

"Lalu kenapa alarmnya seperti ini?"

Niko menelan ludah.

"Karena ukurannya."

"Sensor tidak bisa mengukur seluruh badan objek."

---

Hana memperbesar hasil pemindaian.

Namun layar hanya menampilkan siluet hitam.

Bentuknya tidak jelas.

Seolah seluruh cahaya di sekitarnya diserap.

Leo mencoba menggunakan sensor lain.

"Hasilnya sama."

"Kita tidak bisa melihat bagian dalamnya."

Mira memandang layar dengan cemas.

"Apa benda itu hidup?"

Tidak ada yang menjawab.

---

Di Pioneer, Kapten Idris kembali menghubungi ESS Horizon.

"Darius."

"Ya, Kapten."

"Status kapal."

"Seluruh sistem normal."

"Reaktor?"

"Seratus persen."

"Persenjataan?"

"Siap digunakan."

Victor tiba-tiba menggeleng.

"Jangan."

Semua menoleh kepadanya.

"Jangan menembak."

Reza langsung menyela.

"Kalau benda itu menyerang?"

Victor menjawab tenang.

"Senjata kalian tidak akan berpengaruh."

---

Reza mengepalkan tangan.

"Bagaimana kau bisa yakin?"

Victor memandang keluar jendela.

"Karena kami sudah mencobanya."

Ruangan mendadak sunyi.

"Kami menembakkan seluruh persenjataan Pioneer."

"Hasilnya?"

"Tidak ada."

"Bahkan tidak meninggalkan bekas."

---

Kael mulai memahami sesuatu.

"Jadi..."

"...dua puluh tiga ekspedisi bukan hilang karena kecelakaan."

Victor mengangguk pelan.

"Mereka bertemu benda itu."

"Lalu?"

"Kami tidak menang."

---

Suasana menjadi semakin berat.

Selama ini mereka mengira armada yang hilang lenyap karena sinyal.

Ternyata...

mereka pernah menghadapi sesuatu yang jauh lebih mengerikan.

---

Di Pos Observasi, Adrian masih berusaha mempertahankan penghalang.

Sofia membantu menyalurkan kembali energi.

Namun angka di layar terus turun.

Lima puluh lima persen.

Lima puluh empat.

Lima puluh tiga.

Adrian memukul panel dengan pelan.

"Kenapa terus turun?"

AURA segera menjawab.

"Retakan ruang menyerap energi penghalang."

---

Owen tiba-tiba menemukan data baru.

"Kapten."

"Ada apa?"

"Aku mendeteksi pancaran energi dari kapal hitam."

"Pancaran apa?"

"Sepertinya..."

"...kapal itu sedang mengisi daya."

Victor langsung menoleh.

"Waktunya sudah tiba."

"Apa maksudmu?"

"Kapal itu sedang bangun."

---

Kapten Idris kembali menatap kunci kristal.

"Kalau kapal itu aktif..."

"...apa kita langsung bisa berangkat?"

Victor menggeleng.

"Belum."

"Kenapa?"

"Navigator harus memilih awaknya."

"Apa?"

"Kapal itu tidak menerima semua orang."

Ruangan kembali hening.

Lyra mengernyit.

"Maksudmu?"

Victor menjelaskan.

"Kapal itu memiliki batas awak."

"Berapa?"

"Delapan orang."

Reza langsung menghitung.

"Berarti..."

"...tidak semua kru Horizon bisa ikut."

Kalimat itu membuat semua orang terdiam.

---

Di ESS Horizon, Darius juga mendengar penjelasan tersebut.

Ia memandang kru yang berada di ruang kendali.

Leo.

Hana.

Niko.

Owen.

Rina.

Mira.

Mereka semua saling memandang.

Tidak ada yang berbicara.

Namun setiap orang memahami arti kalimat Victor.

Jika perjalanan menuju Galaksi Asterion hanya bisa dilakukan oleh delapan orang...

Maka akan ada kru yang harus tetap tinggal.

---

Belum sempat mereka membahasnya...

Seluruh kapal berguncang.

Bukan Pioneer.

Bukan Pos Observasi.

Melainkan ESS Horizon.

Niko hampir terjatuh dari kursinya.

"Apa yang terjadi?"

Sensor luar otomatis aktif.

Semua layar menampilkan gambar yang sama.

Bayangan hitam raksasa itu...

kini telah berada kurang dari lima puluh kilometer dari ESS Horizon.

Untuk pertama kalinya...

mereka dapat melihat sebagian bentuknya.

Itu bukan kapal.

Bukan makhluk hidup.

Melainkan sebuah bola hitam sempurna.

Diameternya hampir menyamai ukuran sebuah kota.

Permukaannya benar-benar gelap.

Tanpa mesin.

Tanpa jendela.

Tanpa cahaya.

Lalu...

seluruh kru ESS Horizon mendengar suara yang sama di dalam kepala mereka.

"Buka..."

Suara itu pelan.

Namun terdengar sangat jelas.

"Buka penjaranya..."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!