Alya Gabrielsen terpaksa menikah dengan pria asing demi menyelamatkan status keluarganya. ayahnya, Tyo, bangkrut dan terlilit hutang yang membuatnya hampir masuk penjara. Dengan paksaan sang ibu, Alya mau tak mau rela menikah di usia muda dengan pria yang sama sekali tak ia kenali. Bagaimana kisah Alya? saksikan hanya disini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DinaSafitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CDK. 31
Lampu putih rumah sakit menerangi lorong panjang yang terasa begitu dingin.
Di depan ruang ICU, beberapa orang tampak duduk dengan wajah tegang.
Alya duduk di salah satu kursi sambil menggenggam kedua tangannya erat. Matanya sembab akibat terlalu banyak menangis sejak tadi.
Pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk yang terus bermunculan tanpa bisa ia kendalikan.
"Kalau Papa kenapa-kenapa gimana..."
"Aku belum sempat membahagiakan Papa..."
"Aku belum sempat minta maaf karena sering bikin Papa khawatir..."
Air mata kembali menggenang di pelupuk matanya.
"Alya."
Suara lembut Widya membuat gadis itu menoleh.
Widya duduk di sampingnya lalu menggenggam tangannya.
"Jangan mikir yang aneh-aneh."
"Iya," sahut Ayi yang ikut duduk di sisi lainnya. "Om Tyo itu kuat. Dari dulu juga beliau selalu bisa bangkit kalau ada masalah."
"Tapi tadi Papa kelihatan sakit banget..." suara Alya bergetar.
Ayi langsung memeluk sahabatnya.
"Nggak ada yang tahu hasilnya sebelum dokter keluar. Jadi jangan nyiksa diri sendiri dulu."
Widya mengangguk pelan.
"Sekarang yang bisa kita lakukan cuma berdoa."
Alya menunduk.
Meski berusaha kuat, hatinya tetap dipenuhi ketakutan.
Tidak jauh dari sana, Jayden berdiri bersandar di dinding sambil sesekali melirik ke arah ruang ICU.
Wajah pria itu juga terlihat serius.
Sementara Max berdiri di dekat jendela lorong rumah sakit.
Kedua tangannya berada di dalam saku celana.
Tatapannya lurus ke depan.
Ekspresinya tetap datar seperti biasa.
Namun siapa pun yang mengenalnya pasti tahu bahwa pria itu sedang memikirkan banyak hal.
Tak lama kemudian—
Suara langkah kaki tergesa terdengar dari ujung lorong.
Semua orang menoleh.
"Om Tante?" gumam Jayden.
Ternyata Ethan dan Isabela baru saja tiba.
Wajah kedua pasangan paruh baya itu terlihat penuh kecemasan.
"Alya, bagaimana kondisi papamu?" tanya Isabela begitu sampai.
Alya langsung berdiri.
"Belum ada kabar, Mah."
Isabela segera memeluk menantunya itu.
"Nggak apa-apa. Kita doakan yang terbaik."
Sementara Ethan mengangguk pelan.
Kemudian matanya beralih kepada Max.
"Ikut Papa sebentar."
Max hanya mengangguk.
Keduanya berjalan menjauh dari kerumunan menuju ujung lorong yang lebih sepi.
Beberapa saat mereka hanya diam.
Ethan memperhatikan wajah putranya.
"Jadi sekarang kau mau menjelaskan semuanya?"
Max menatap ayahnya.
"Papa ingin penjelasan yang mana?"
"Jangan pura-pura tidak mengerti."
Nada suara Ethan terdengar tenang.
"Masalah Helena. Farid. Bukti-bukti itu."
"Bagaimana kau bisa mengetahui semuanya?"
Max terdiam beberapa detik.
Kemudian menjawab dengan suara datar.
"Aku menyelidikinya."
"Kenapa?"
"Karena ada yang tidak beres."
Ethan mengernyit.
Max melanjutkan.
"Sejak awal aku merasa ada sesuatu yang salah dengan keluarga mereka."
"Terutama cara Helena memperlakukan Alya."
"Perbedaannya terlalu jelas."
Ethan mulai memahami arah pembicaraan itu.
"Aku tidak suka melihat Alya terus-menerus menyalahkan dirinya sendiri."
Tatapan Max tetap tenang.
"Dalam pikirannya, dia selalu menganggap dirinya yang kurang."
"Padahal bukan."
"Ada orang lain yang bermasalah."
Ethan terdiam.
Sementara Max kembali berbicara.
"Aku hanya ingin menolong keluarga istriku."
"Menyingkirkan parasit yang selama ini merusak hidup mereka."
"Aku juga ingin Alya sadar bahwa semua perlakuan yang dia terima bukan karena dirinya tidak berharga."
"Melainkan karena ada kebusukan yang disembunyikan selama bertahun-tahun."
"Meskipun ini hanya pernikahan kontrak, setidaknya apa yang aku lakukan cukup untuk membuat kehidupannya tenang dimasa depan" Batin Max peduli terhadap Alya
Untuk pertama kalinya malam itu, Ethan benar-benar memahami tujuan putranya.
Bukan balas dendam.
Bukan mempermalukan seseorang.
Melainkan membongkar kebenaran.
Perlahan Ethan mengangguk.
"Sekarang Ayah mengerti."
Max tidak menjawab.
Namun sorot matanya sedikit melunak.
Ethan menepuk bahu putranya pelan.
"Kau melakukan hal yang benar."
Tak lama kemudian mereka kembali bergabung dengan yang lain.
Waktu terasa berjalan sangat lambat.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Tiga puluh menit.
Satu jam.
Tak seorang pun benar-benar bisa tenang.
Setiap kali pintu ICU terbuka, seluruh kepala langsung menoleh penuh harap.
Hingga akhirnya—
Pintu itu benar-benar terbuka.
Seorang dokter keluar bersama beberapa perawat.
Alya yang sedari tadi duduk langsung berdiri.
Hampir berlari menghampiri dokter tersebut.
"Dokter!"
"Bagaimana kondisi Papa saya?"
Seluruh orang yang menunggu ikut berdiri.
Dokter melepas masker medisnya.
Lalu menghela napas panjang.
Membuat jantung Alya hampir berhenti berdetak.
Namun detik berikutnya—
"Kondisinya sudah stabil."
Alya membeku.
Dokter melanjutkan.
"Beliau sudah melewati masa kritis."
Seketika semua orang mengembuskan napas lega.
Alya bahkan hampir kehilangan keseimbangan karena lututnya mendadak lemas.
Max sigap memegang lengannya sebelum gadis itu jatuh.
"Syukurlah..." bisik Isabela sambil memejamkan mata.
Ethan juga terlihat jauh lebih tenang.
Sementara Ayi dan Widya langsung saling berpelukan lega.
Dokter kembali menjelaskan.
"Serangan jantung yang dialami Tuan Tyo tidak terlalu parah."
"Untungnya beliau cepat dibawa ke rumah sakit sehingga penanganan bisa dilakukan segera."
"Kondisinya masih perlu dipantau, tetapi untuk saat ini sudah tidak ada bahaya yang mengancam nyawanya."
Air mata Alya langsung mengalir lagi.
Namun kali ini karena rasa syukur.
"Dokter..."
Suaranya bergetar.
"Apakah saya boleh menemui Papa?"
Dokter tersenyum tipis.
"Sudah boleh."
Belum sempat dokter menyelesaikan kalimatnya, Alya sudah bergerak menuju ruang perawatan.
Pintu kamar dibuka perlahan.
Dan saat masuk—
Langkahnya langsung terhenti.
Tyo terbaring di atas ranjang rumah sakit.
Tubuhnya terlihat jauh lebih lemah dibanding biasanya.
Selang infus terpasang di tangannya.
Monitor jantung berbunyi pelan secara teratur.
Pemandangan itu langsung membuat hati Alya terasa diremas.
Selama ini sosok ayahnya selalu terlihat kuat.
Selalu menjadi tempat berlindung.
Selalu menjadi orang yang berdiri paling depan ketika ia membutuhkan bantuan.
Namun sekarang—
Pria yang paling ia andalkan itu tampak begitu rapuh.
Air mata Alya kembali jatuh.
Satu per satu membasahi pipinya.
"Papa..."
Suara gadis itu terdengar lirih.
Ia berjalan mendekati ranjang.
Lalu menggenggam tangan ayahnya dengan hati-hati.
Hangat.
Masih hangat.
Dan saat merasakan itu, tangis Alya akhirnya pecah.
"Papa jangan bikin Alya takut lagi..."
"Papa harus cepat sembuh..."
"Alya masih butuh Papa..."
Tangisannya memenuhi ruangan.
Sementara Tyo yang masih terbaring perlahan membuka matanya.
Pandangan pria itu sedikit kabur.
Namun saat melihat sosok putrinya yang menangis di samping ranjang, senyum tipis perlahan muncul di wajahnya.
Lemah.
Tetapi penuh kasih sayang.
Dan untuk pertama kalinya sejak malam penuh pengkhianatan itu, Alya merasa bahwa badai yang menghantam keluarganya akhirnya mulai mereda.
Perlahan tangan pria itu bergerak mengelus lembut pucuk kepala putrinya membuat Alya yang merasakan itu mendongak dan berkata lirih. "Papa.. "
Tyo tersenyum lembut. "Papa disini, sayang. Papa tidak kenapa-kenapa... "