Rela menunggu kepulangan seorang lelaki selama 5 tahun. Alisa harus dihadapkan dengan kenyataan pahit bahwa gadis yang akan Gus Hafidz nikahi, bukanlah dirinya.
Sebagai salam perpisahan terakhir, Alisa rela menjadi bridesmaid pengantin wanita sebelum ia memilih untuk pergi dari pesantren.
Namun ternyata, kakaknya, Zefano. Pria yang baru pulang dari luar negeri itu jatuh cinta pada Alisa pada pandangan pertama. Dan berusaha menjerat Alisa agar menjadi miliknya. Hingga melakukan hal diluar nalar demi menjadikan Alisa istri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mur Diyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lamaran Resmi
Sepasang mata Alisa membola, "Gu-guru koas?" ia spontan menoleh cepat ke arah Zefano, buliran bening mengalir lirih di pelupuk mata wanita itu, "Ja-jadi yang menangkap Pak Budiman itu kamu, Mas?!"
Zefano mengulum senyum tipis. Ia raih kedua tangan Alisa dan menggenggamnya lembut, menoleh hidung gadis itu gemas, "Siapa lagi memangnya, hm? Apa suamimu ini akan diam saja saat melihat istrinya diganggu?"
Alisa semakin terharu lagi. Padahal ia sebelumnya sudah pasrah jika koas-nya akan gagal. Tapi ternyata kabar Pak Budiman di tangkap gara-gara aksi pelecehan pada anak magang sudah beredar pesat. Dan pria keranjang itu akhirnya mendapatkan balasan yang setimpal.
"Hiks! Aku sudah ketakutan sekali waktu itu. Aku sudah pasrah jika koasku akan gagal tahun itu." lirihnya terisak.
Zefano tersenyum tipis, menatap haru Alisa yang lagi-lagi merusak riasannya dengan menangis.
Zefano lantas bangkit. Memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana sembari berjalan dengan langkah tenang menuju panggung auditorium. Berdiri di tengah-tengah. Menatap ke arah Alisa yang masih merunduk sambil menangis itu.
Seruan riuh para wisudawan lain mengejutkan Alisa. Wanita itu lantas mendongak, menatap kosong kenarah panggung. Sebelum akhirnya matanya semakin berkaca-kaca.
"Sebelumnya, izinkan saya menyela sebentar. Ada yang ingin saya sampaikan pada calon istri saya."
"HOOOO!!! PIUWITTT!!"
"Ada yang mau ngelamar woy!"
"Masyaallah.....bikin iri banget sumpah!"
"Siapa yah orangnya? Aku duduk paling belakang jadi gakeliatan jelas!"
Zefano tersenyum tipis. Lalu pandangannya mengarah ke arah Alisa yang terduduk dengan tatapan kosong di kursi penonton, menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
Lampu auditorium yang semula terang perlahan meredup. Suara riuh para wisudawan, keluarga, dan dosen memenuhi ruangan besar itu. Hari yang seharusnya menjadi hari kelulusan biasa, berubah menjadi sesuatu yang tidak akan pernah dilupakan oleh siapa pun yang hadir.
Di layar besar panggung, tiba-tiba muncul sebuah video.
Foto-foto lama berganti satu per satu. Foto seorang pria yang terus berjalan di tengah hujan. Foto tiket pesawat. Foto kota-kota yang pernah didatangi. Foto surat-surat yang sudah kusam dimakan waktu.
Lalu suara seorang pria terdengar melalui pengeras suara.
"Aku pernah berpikir bahwa enam tahun bukanlah waktu yang lama."
Suasana auditorium perlahan hening.
"Tapi ternyata aku salah. Enam tahun terasa seperti seumur hidup ketika orang yang paling kau cintai menghilang dari hidupmu."
Di kursinya, Alisa membeku. Tangannya langsung bergetar saat mengenali suara itu.
Air mata mulai memenuhi pelupuk matanya.
Di layar, muncul foto-foto perjalanan panjang seorang pria yang terus mencari.
"Aku mencarimu ke banyak tempat, Alisa. Aku mencari setiap jejak yang mungkin kau tinggalkan. Aku bertanya kepada orang-orang yang bahkan tidak mengenalmu. Aku mengetuk pintu demi pintu seperti orang gila yang kehilangan arah."
Suara Zefano terdengar semakin berat.
"Banyak yang menyuruhku menyerah. Banyak yang bilang aku harus melupakanmu."
Tangis Alisa pecah. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Namun bagaimana aku bisa melupakan seseorang yang bahkan setelah enam tahun, masih menjadi alasan aku bangun setiap pagi?"
Beberapa wisudawan mulai mengusap mata mereka. Para dosen yang duduk di barisan depan pun ikut terdiam. Video berhenti.
Lampu sorot panggung menyala.
Dan di sana...
Berdiri seorang pria dengan setelan jas hitam.
Zefano. Tubuh Alisa langsung bergetar hebat.
Napasnya tercekat.
Enam tahun.
Enam tahun yang terasa begitu panjang. Enam tahun kerinduan, penyesalan, dan harapan yang tidak pernah benar-benar padam. Zefano memegang mikrofon dengan tangan yang sedikit gemetar. Matanya merah. Jelas ia juga sedang menahan tangis.
"Alisa..."
Hanya satu nama itu yang keluar. Namun cukup untuk membuat pertahanan Alisa runtuh sepenuhnya. Tangisnya pecah semakin keras. Semua orang menoleh ke arahnya.
"Selama enam tahun aku hidup dengan satu tujuan."
Suara Zefano bergetar.
"Mencarimu."
Air mata jatuh di pipinya.
"Aku tidak peduli berapa banyak kota yang harus kudatangi. Aku tidak peduli berapa banyak pintu yang harus kuketuk. Aku hanya ingin menemukanmu."
Alisa sudah tidak mampu menahan dirinya lagi. Ia berdiri dari kursinya. Tangisnya sesenggukan. Kakinya melangkah menuju panggung.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Dan semakin dekat ia melangkah, semakin deras air matanya jatuh. Seluruh auditorium mulai bertepuk tangan. Tepuk tangan yang awalnya kecil berubah menjadi gemuruh yang memenuhi ruangan.
Para wisudawan berdiri. Para dosen ikut berdiri. Semua menyaksikan momen yang terasa seperti adegan dalam film.
Ketika Alisa berhasil naik ke atas panggung, ia bahkan hampir tidak mampu berdiri tegak. Tangisnya sudah pecah sepenuhnya. Namun tangis Nyonya Zahroh jauh lebih deras dari apapun.
Zefano berjalan menghampirinya. Untuk beberapa detik mereka hanya saling menatap. Seolah sedang memastikan bahwa ini nyata. Bahwa mereka benar-benar berdiri di hadapan satu sama lain.
Bukan mimpi. Bukan khayalan. Bukan harapan kosong yang selama ini menemani malam-malam mereka.
"Aku menemukanmu, Sayang."
Kalimat sederhana itu membuat Alisa menangis semakin keras. Ia langsung memukul dada Zefano berkali-kali dengan lemah.
"Hiks! Mas...kamu tau ngga kalo aku juga menantikan hal ini." isaknya, "Kamu lama sekali..."
Zefano menangkap kedua tangannya. Lalu mencium punggung tangan wanita itu penuh rasa bersalah.
"Maaf." suaranya nyaris pecah, "Maaf karena membuatmu menunggu."
Ia kemudian mundur satu langkah. Mengambil sebuah kotak beludru kecil dari saku jasnya. Seluruh auditorium langsung bersorak. Alisa menatapnya dengan mata yang sudah sembab. Tubuhnya gemetar.
Dan ketika Zefano berlutut di hadapan seluruh orang yang hadir, suasana berubah menjadi sangat emosional.
"Enam tahun lalu aku kehilangan rumahku." Air mata kembali jatuh dari mata Zefano, "Hari ini aku menemukannya lagi."
Ia membuka kotak cincin itu. Kilauan cincin sederhana namun indah terlihat di bawah cahaya lampu auditorium.
"Alisa Maheswari." Suara Zefano terdengar begitu tulus, "Mungkin aku tidak bisa mengembalikan enam tahun yang hilang dari hidup kita."
"Tapi aku ingin menghabiskan seluruh sisa hidupku untuk menebusnya."
Tangis Alisa sudah tidak terkendali.
Ia bahkan harus menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Jadi..." Zefano menarik napas panjang.
Dengan mata yang juga dipenuhi air mata, ia mengangkat cincin itu, "Maukah kamu memberiku kesempatan sekali lagi?"
"Maukah kamu menjadi istriku lagi?"
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Alisa mengangguk berkali-kali sambil menangis.
"Iya..."
Seluruh auditorium langsung meledak oleh sorakan dan tepuk tangan meriah. Beberapa wisudawan bersiul. Para dosen tersenyum haru. Bahkan ada yang ikut mengusap air mata.
Zefano segera berdiri dan menyematkan cincin itu ke jari Alisa. Begitu cincin itu terpasang, Alisa langsung memeluknya erat.
Sangat erat. Seolah takut pria itu akan menghilang lagi jika ia melepaskannya.
Di tengah gemuruh tepuk tangan seluruh auditorium, dua insan yang telah dipisahkan waktu selama enam tahun akhirnya kembali menemukan jalan pulang mereka. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, tangis yang mereka keluarkan bukan lagi karena kehilangan.
Melainkan karena akhirnya, mereka berhasil kembali menemukan satu sama lain.