NovelToon NovelToon
Grandmaster Yang Terlupakan

Grandmaster Yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Sistem
Popularitas:10.1k
Nilai: 5
Nama Author: WANA SEBAYA

Lin Qian adalah sosok misterius yang menyembunyikan kekuatan dahsyatnya di balik kehidupan sederhana sebagai pemilik Pusat Seni Bela Diri di Kota Yunzhou. Di matanya, kehidupan fana adalah pelarian dari dunia persilatan yang penuh intrik dan pertumpahan darah.
Namun ketenangan itu terusik ketika murid kesayangannya, Han Yu, hampir tewas akibat konspirasi licik Han Bojin dari Kamar Dagang Yunzhou. Kejadian itu memaksa Lin Qian keluar dari bayang-bayang ketenangan dan menunjukkan secuil kekuatan sesungguhnya—kekuatan yang bahkan membuat seorang Kaisar Bela Diri sekelas Ye Bei berlutut ketakutan hanya dalam hitungan detik.
Kini, berbagai pihak mulai melirik keberadaan Lin Qian. Ada yang ingin berlindung di bawah naungannya, ada yang ingin memanfaatkannya, dan ada pula yang—karena ketidaktahuan—berani mengusiknya.
Semuanya akan segera menyadari satu kebenaran yang sama:
Ada langit di atas langit. Dan langit itu bernama Lin Qian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Niat Baik yang Tak Boleh Disia-siakan & Laporan yang Menyesatkan

Keempat orang tua itu berhenti serentak di anak tangga pertama.

Bukan karena ada yang menghalangi. Bukan karena ada ancaman yang terasa. Melainkan karena mata mereka—mata para tetua yang sudah menghabiskan ratusan tahun mengenal dan menghormati benda-benda berharga—menangkap sesuatu yang membuat darah di pembuluh mereka terasa berhenti mengalir.

Di bawah kaki mereka, tertanam rapi mengisi celah anak tangga yang tingginya tanggung: Artefak Penggoncang Langit.

Pandangan mereka beralih ke tiang pintu. Tergantung menjuntai, kotor dan kusut, berayun pelan ditiup angin sore: Artefak Jubah Cepat.

Kakek kurus hitam itu menelan ludah. Kakek cincin tengkorak menutup matanya sejenak lalu membukanya lagi—seolah berharap pemandangan itu akan berubah. Kakek bergigi emas berhenti memutar bola di tangannya untuk pertama kalinya sejak mereka berangkat.

Pak Tua Wu yang berjalan di depan menoleh bingung. "Kenapa kalian berhenti? Ayo masuk—"

"Diam." Kakek kurus itu menyenggol lengannya pelan, suaranya nyaris tidak terdengar. "Wu Yonghong. Kau hampir saja membuat kami menyinggung sosok agung ini."

"Apa maksudmu?"

Kakek bergigi emas menjawab dengan suara yang sama rendahnya, matanya tidak beralih dari kedua artefak tersebut. "Benda-benda ini... nilainya tidak bisa diukur dengan koin emas atau bahkan seluruh kekayaan kota ini. Dan pemilik tempat ini menggunakannya sebagai pengganjal anak tangga dan kain lap." Ia berhenti sejenak. "Hanya ada dua kemungkinan untuk itu,orang yang sama sekali tidak tahu nilainya, atau orang yang berada begitu jauh di atas segalanya sehingga nilai itu tidak lagi relevan baginya."

Kakek cincin tengkorak memandang ke dalam sasana dengan tatapan baru. "Dan orang yang menciptakan benda yang dibawa Wu Yonghong itu... jelas bukan orang yang tidak tahu nilai sesuatu."

Kesimpulan yang sama terbentuk di benak ketiganya dalam waktu yang hampir bersamaan.

Ini bukan sekadar ahli biasa. Sosok seperti ini—yang memperlakukan artefak tingkat kekaisaran seperti barang dapur—hanya bisa berada di satu tingkatan: Dewa Bela Diri. Mungkin bahkan Seniman Bela Diri Abadi yang sudah melampaui batas dunia ini.

Sikap mereka berubah seketika. Punggung yang tadi tegak dengan nada meremehkan kini sedikit membungkuk dalam postur yang berbeda maknanya sepenuhnya.

Kakek kurus itu menoleh ke Pak Tua Wu dengan tatapan yang mengandung campuran antara celaan dan rasa syukur. "Kau hampir saja membuat kami bersikap kurang hormat di depan sosok seperti ini."

Pak Tua Wu berkedip-kedip, tidak sepenuhnya mengerti apa yang baru saja terjadi, namun cukup bijak untuk mengangguk seolah ia memang sudah tahu sejak awal.

Mereka melangkah masuk ke aula depan.

Dan dunia di sekitar mereka berubah.

Delapan belas lukisan senjata yang tergantung di dinding.....yang bagi mata orang awam hanyalah gambar tua yang memudar—memancarkan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata biasa. Niat Bela Diri yang sudah terendap selama entah berapa generasi mengalir keluar seperti arus sungai bawah tanah yang tiba-tiba menemukan celah untuk naik ke permukaan. Kekuatan Dao yang tersimpan di setiap goresan tinta bergetar, beresonansi dengan qi di dalam tubuh keempat tetua itu.

Kultivasi mereka yang sudah mandek selama ratusan tahun—seperti air yang membeku di dalam pipa—tiba-tiba terasa bergetar. Retak-retak kecil muncul di tembok penghalang yang sudah begitu lama mereka anggap permanen.

Tekanan itu datang terlalu cepat dan terlalu besar.

"Maafkan kami, Yang Mulia—" Kakek bergigi emas mengelap keringat yang mendadak membasahi dahinya, suaranya tersengal, "—kami tidak sanggup menahan—"

Tanpa banyak kata lagi, keempatnya mengangkat bangku bambu mereka dan bergegas keluar ke halaman, mencari udara terbuka dengan langkah yang lebih cepat dari yang biasanya bisa dilakukan orang-orang seusia mereka.

Lin Qian muncul dari dalam membawa nampan berisi cawan-cawan teh, menemukan tamunya sudah berpindah ke halaman. Ia menatap mereka sejenak dengan ekspresi ringan.

"Kenapa pindah ke luar? Oh......" ia memandang ke sekeliling, "—mungkin memang udara di luar lebih segar ya."

Ia meletakkan nampan di meja kecil halaman dan duduk santai.

Tidak lama kemudian, Han Yu selesai menjemur plakat nama sasana dan menggantungnya kembali di tempat semula—di depan pintu, tepat di atas kepala keempat tetua yang sedang duduk bersila di sana.

Aura yang keluar dari plakat itu berbeda dengan tekanan di dalam ruangan—lebih lembut, lebih terarah, seperti tetesan embun dibanding banjir. Namun kedalamannya sama.

Keempat tetua itu merasakannya seketika. Rasa hangat yang menyusup pelan ke dalam meridian mereka, perlahan membuka simpul-simpul yang sudah lama tersumbat.

Senior itu tahu tubuh kami tidak kuat menahan tekanan di dalam ruangan. Pikiran itu terbentuk di benak mereka hampir bersamaan. Maka beliau menyuruh muridnya menggantung plakat ini di sini—agar kami tetap bisa menerima manfaatnya dari luar. Perhatian seperti ini...

Kakek kurus itu mengatupkan kedua tangan dan menundukkan kepala pelan. "Niat baik seperti ini tidak boleh kita sia-siakan."

Ketiganya mengangguk diam-diam, lalu duduk lebih tegak dalam posisi meditasi yang benar, menyerap setiap tetes manfaat yang mengalir dari plakat di atas kepala mereka dengan rasa syukur yang tulus.

Di sebelah mereka, Pak Tua Wu duduk dengan wajah berseri-seri—tidak merasakan apa yang dirasakan ketiga temannya, namun sangat puas bahwa kunjungan ini berjalan sesuai harapannya. Ia menuangkan tehnya, menyeruput pelan, dan menikmati sore yang ia rasa sedang berjalan dengan sempurna.

Lin Qian memandang keempat tamunya dengan ekspresi hangat.

Orang-orang tua ini memang aneh, tapi sepertinya menyenangkan.

 

Di sudut tersembunyi Kota Yunzhou, di sebuah gudang yang sudah dikosongkan paksa oleh Sekte Xuanwu untuk dijadikan markas sementara, Ning Xuanwu duduk menunggu dengan ketegangan yang sudah mulai menggerogoti ketenangannya.

Setiap menit terasa lebih panjang dari biasanya.

Para tetua sekte berdiri dalam barisan dengan ekspresi masing-masing yang tidak jauh berbeda—campuran antara kewaspadaan, amarah yang ditahan, dan pertanyaan yang tidak berani mereka ucapkan dengan keras.

Lalu langkah kaki terdengar dari arah pintu.

Xu Kun masuk dengan kepala tegak dan langkah yang—berbeda dari yang semua orang khawatirkan—sama sekali tidak terburu-buru dan tidak membawa luka apa pun di tubuhnya. Bahkan ekspresinya menyiratkan sesuatu yang hampir menyerupai kemenangan.

"Ketua Sekte." Ia memberi hormat dengan mantap. "Saya kembali."

Ning Xuanwu bangkit setengah dari singgasana daruratnya. "Laporkan semuanya."

"Orang di sasana bela diri itu..." Xu Kun berhenti sejenak, membangun momen dengan cara yang tidak ia sadari sendiri. "Dia bukan ahli. Dia bukan siapa-siapa. Tidak ada sedikit pun qi di dalam tubuhnya—saya periksa dengan seluruh kepekaan yang saya miliki. Manusia paling biasa yang pernah saya temui."

Keheningan memenuhi ruangan.

"Kau yakin?" Suara Ning Xuanwu turun satu nada.

"Saya berani bersumpah di atas nama sekte." Xu Kun menjawab tanpa ragu. "Saya bahkan sengaja mengejeknya—menyebut tempatnya sepi dan tidak laku. Dia hanya tersenyum canggung dan mengakuinya. Tidak ada reaksi, tidak ada tekanan, tidak ada aura tersembunyi. Kematian Kakak Senior Wuchen dan Wufeng pasti ada penjelasan lain—kecelakaan, atau kesalahpahaman yang tidak ada hubungannya dengan kemampuan orang itu."

Ning Xuanwu diam.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Lalu sesuatu yang sudah lama tertahan di dalam dadanya—berhari-hari menahan diri, berhari-hari menekan amarah atas nama kehati-hatian, berhari-hari merasa takut pada bayangan yang mungkin tidak pernah ada—meledak keluar.

"Bagus." Suaranya dingin seperti permukaan danau beku di tengah musim salju. Namun matanya menyala merah padam. "Bagus sekali."

Tawa pendek yang tidak mengandung kegembiraan apa pun keluar dari mulutnya.

"Jadi selama ini aku menahan diri, berhati-hati, bahkan hampir merasa takut—karena manusia biasa tanpa setetes qi pun?" Setiap kata jatuh seperti batu. "Dia mempermalukan Sekte Xuanwu. Memakai artefak kita sebagai kain lap dan pengganjal anak tangga. Membunuh dua murid terbaikku." Ia berdiri penuh, aura pembunuhan meluap keluar darinya seperti gelombang yang tidak bisa dibendung. "Dan semua itu terjadi karena keberuntungan?"

Kakinya menghentakkan lantai. Retakan menjalar ke segala arah.

"Kali ini aku datang sendiri. Aku hancurkan tempat itu, aku bunuh dia dengan tangan ini—" ia mengangkat satu-satunya tangannya, "—dan aku ambil kembali semua yang menjadi milik kita."

Ia melesat keluar tanpa menunggu jawaban siapa pun.

Di belakangnya, seluruh pasukan elit Sekte Xuanwu bergerak mengikuti—tidak lagi dengan kehati-hatian yang dipaksakan, melainkan dengan amarah orang-orang yang merasa sudah terlalu lama dipermainkan oleh ketakutan mereka sendiri.

1
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
🤣🤣kenapa sang ahli alkemis sampe belepotan kotoran🤣
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
🤣🤣musim kawin
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
🤣🤣🤣dirampok sampe telanjang
Hadi Hadi
up to pdf 😍😍
Hadi Hadi
semangat 👍👍
Hadi Hadi
😍😍😍👍
Hadi Hadi
lanjut 💪💪
Hadi Hadi
sikat 💪💪💪
Hadi Hadi
up up up 👍👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
🤣🤣jurus pamungkas pura2 mati🤣🤣🤣
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
bantaaaaaaaiiiiii
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
🤣🤣cuma lewat saja🤣👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
wahahahahaha...mantap Thor
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
🤣🤣🤣senjata makan tuan 🤣🤣
Doanta Charo
astaga baru ini baca novel kultivasi ngakak abisss🤣🤣🤣🤣p
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
penyesalan memang datang dibelakang 🤣👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
hahahaha... kejutan demi kejutan
Hadi Hadi
up up up 💪
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
hahahaha terimakasih Thor selalu update.. sehat2 selalu 👍😀
Hadi Hadi
lanjut 👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!