Wan Chen tidak ingin menyelamatkan dunia.
Ia hanya ingin kaya.
Untungnya, saat berada di ambang kematian, ia memperoleh Sistem dengan kemampuan Duplikasi dan Penyimpanan Dimensional.
Dan di dunia yang kekurangan segalanya, tidak ada kemampuan yang lebih menakutkan dari itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 - Kehancuran Pion dan Langkah Predator
Hawa panas dari moncong senapan mulai mengeringkan udara. Sisa amunisi berjatuhan membentur tanah keras. Dentingannya kalah oleh lengkingan panik.
"Sialan! Senjata ini panas! Isi ulang, cepat isi ulang selnya!"
Teriakan serak kapten elit itu menggema. Tangannya sibuk menggedor laras senapan elektromagnetik yang macet. Asap mengepul dari celah ventilasi senjatanya. Wajah angkuh yang tadi ia bawa kini basah oleh keringat dingin.
Monster di depan mereka sudah tidak punya niat bermain-main. Beruang Besi Mutan itu menyapu karapas logam di lengannya. Menerjang membabi buta menembus rentetan peluru yang tersisa.
Dua anggota garis depan mencoba mengangkat sisa perisai energi yang berkedip sekarat. Percuma.
Tebasan raksasa turun menghantam mereka dari atas.
Suara benturan tumpul menyusul. Tubuh kedua hunter itu terlempar belasan meter ke belakang. Mereka menabrak sisa pilar baja hingga ambruk. Terdengar sangat jelas bagaimana tulang rusuk mereka remuk di bawah pelindung kevlar berharga fantastis itu.
Keduanya memuntahkan cairan kental dari balik visor helm. Terkapar tanpa bisa menarik napas.
"Tarik mereka mundur! Kapten, kita tidak bisa menahan ini lagi!"
Satu anggota yang tersisa di belakang menjerit histeris. Ia menembakkan amunisi terakhirnya ke udara, tidak lagi membidik. Teror mentah telah mengambil alih kewarasannya.
Di atas kanopi berkarat, Wan Chen menatap pemandangan itu. Tangannya menyentuh kulit pohon mati di sebelahnya. Mengusap debu yang menempel di sana secara mekanis.
'Gunakan kartu trufmu,' batinnya malas. 'Kau pasti membawa satu mainan mematikan, kan?'
Benar saja. Kapten itu menggertakkan giginya. Ia menekan panel dada zirah tempurnya. Menguras seluruh sisa energi dari inti reaktor mini di punggungnya. Sesuatu yang difasilitasi oleh Gift miliknya.
Sebuah bola cahaya super padat terbentuk di telapak tangannya. Suhunya membakar udara seketika. Bau rambut hangus langsung tercium hingga ke dahan tempat Wan Chen duduk.
Tanpa aba-aba, kapten itu melempar proyektil energi murni tersebut tepat ke arah dada monster yang sedang mengaum.
Ledakan pekat merobek keseimbangan arena. Gelombang kejutnya menyapu ilalang tajam hingga rata dengan tanah berbatu.
Dada Beruang Besi itu meledak. Cangkang bajanya hancur berantakan. Serpihan logam panas berterbangan menembus lapisan tanah di sekitarnya.
Monster itu melolong panjang. Lolongan yang penuh rasa sakit dan kemarahan murni.
Namun, ia belum mati.
"Kapten! Pergi dari sana!"
Kapten itu terpaku menatap hasil kerjanya. Napasnya memburu. Namun matanya menangkap kenyataan brutal. Sang monster kembali berdiri. Darah hitam pekat mengalir dari lubang menganga di dadanya, sementara mata merah menyalanya tetap mengunci sang kapten.
Kepanikan menyergap tuntas.
Sang kapten menoleh ke arah dua rekannya yang terkapar menahan tulang remuk. Menatap sebentar ke arah gua cekung tempat harta yang ia incar bersembunyi. Lalu menelan ludahnya sendiri dengan susah payah.
Semua perhitungan angkuhnya runtuh seketika. Meneruskan misi ini sama saja dengan menyetor nyawa untuk dicerna asam lambung mutan.
Ia mencabut silinder hitam dari sabuk taktisnya.
"Kita mundur sekarang juga!" teriaknya putus asa. "Bantu mereka berdiri!"
Silinder itu dilempar ke tanah. Granat asap elektromagnetik meledak melepaskan kabut perak yang tebal. Gelombang partikelnya merusak sisa sensor visual di area tersebut.
Terdengar suara seret langkah kaki. Batuk darah berceceran. Langkah tergesa-gesa memecah semak berlari menjauhi tebing secepat mungkin.
Wan Chen menyamankan duduknya. Ia bersandar lebih santai. Bibirnya membentuk satu tarikan ke atas. Sebuah senyum tipis yang sama sekali tidak menularkan kehangatan.
Pion-pion itu tahu kapan harus kabur. Mereka sudah membersihkan jalur pelindung sang monster dengan sangat efisien.
'Pekerjaan bagus,' gumamnya dalam hati.
Kabut perak di bawah sana perlahan mulai menipis. Angin mati kembali membawa pergi partikel asap.
Arena itu kini senyap. Hanya menyisakan genangan cairan merah dan selongsong peluru yang terbakar. Serta satu makhluk raksasa yang masih berdiri menahan berat tubuhnya sendiri.
Beruang Besi itu bergetar parah.
Darah hitam kental terus mengucur dari luka menganga di dadanya. Bau karat bercampur busuk mendominasi penciuman. Monster itu sudah berada di batasnya. Setiap tarikan napas terdengar seperti pipa bocor.
Namun hewan mutan itu sama sekali tidak mengejar mangsanya yang kabur.
Beruang itu menyeret kaki belakangnya dengan paksa. Melangkah gontai menuju sudut tergelap gua tempat tumpukan tulang memfosil berserakan.
Ia menjatuhkan lutut depannya tepat di sana. Tubuh raksasanya sengaja diputar. Mengubah posisinya menjadi tembok hidup untuk menutupi kelopak Bunga Darah yang menyala merah dari segala arah pandang.
Ia sekarat. Sangat sekarat.
Wan Chen menatap lekat-lekat gerakan lamban itu. Otaknya bekerja menghitung sisa waktu.
Itu jebakan alami tertua di dunia bawah. Pertahanan terakhir makhluk yang tahu ajalnya sudah dekat. Adrenalin bertahan hidup memicu fase mematikan. Pemburu yang ceroboh mendekati target sekarat seperti ini bisa mati oleh satu sabetan refleks.
Makanya ia tidak akan menyerang dari depan.
Tubuh Wan Chen meluncur perlahan dari dahan tinggi. Ujung sepatunya menempel di sisi tebing. Ia merayap turun menyusuri kontur bebatuan.
Kini adalah waktunya.
Ia memejamkan mata sesaat. Membangkitkan batas rasionalitas pada fisiknya.
Kemampuan bawaannya menyala tanpa aura pendar murahan. Hard-Resilient. Sistem saraf di tubuhnya ditarik paksa. Wan Chen memerintahkan organ dalamnya untuk melambat.
Jantungnya dipaksa berdetak sangat jarang. Aliran darahnya ditahan di ambang batas minimum hingga ujung jarinya terasa membeku. Suhu tubuhnya anjlok menyamai hawa udara di sekitarnya.
Rongga dadanya terasa terbakar karena kekurangan oksigen. Kepalanya berdenyut menyakitkan. Rasanya seperti ada kawat duri yang mengikat paru-parunya.
Namun Wan Chen hanya mengabaikan sensasi menyiksa itu.
Ini bukan untuk bertarung. Ini untuk menghilang. Keberadaannya melebur sempurna dengan sisa-sisa tekanan aura kental dari darah monster yang berceceran di tanah.
Tap.
Ujung sepatunya menyentuh lantai gua tanpa suara.
Mata abunya menatap celah di antara tumpukan batu dan paha belakang monster itu. Ia bergerak masuk lebih dalam. Menghindari genangan darah hitam agar tidak menimbulkan suara sekecil apa pun.
Kecepatannya murni kalkulasi. Menyelip menembus zona buta. Sudut mata hewan itu kini rusak dan dipenuhi cairan kental. Titik fokus terburuk ada tepat di pangkal lengannya yang tertekuk.
Wan Chen menyusup dari arah tersebut. Jaraknya terus menipis. Lima meter. Tiga meter. Satu meter.
Bau amis campur hangat menerpa hidungnya.
Pendar Bunga Darah itu ada tepat di depannya. Di sela tubuh raksasa monster yang sedang bernapas berat.
Ia tidak repot-repot mengeluarkan pisau belatinya.
Satu lambaian pelan dari jari tangannya merobek udara secara digital. Layar biru samar muncul tanpa efek suara. Antarmuka dimensi melayang transparan di depan retina matanya.
Panel Penyimpanan Dimensional terbuka, siap mengisap target biologis di depannya.
Tangan Wan Chen menjulur melewati batas aman. Hampir menyentuh kelopak yang berdenyut murni itu.
Sesuatu berubah mendadak.
Napas berat beruang itu berhenti sepersekian detik. Pergeseran udara akibat munculnya panel sistem tidak bisa dimanipulasi oleh kemampuan fisik apa pun. Sensor insting hewan itu memicu lonjakan energi mematikan.
Otot-otot mati di bahu monster raksasa itu mengencang hebat dalam sekejap.
Beruang Besi itu menoleh patah-patah ke belakang. Mata merahnya yang nyaris mati kini menatap langsung ke arah wajah Wan Chen.
Jarak mereka tak lebih dari sepuluh sentimeter.
Kuku baja selebar telapak tangan manusia terangkat ke udara. Mengumpulkan sisa gaya sentrifugal untuk melayangkan satu tebasan penghancur yang bisa membelah pilar beton menjadi debu. Membidik tepat pada kepala sang penyusup.
Namun Wan Chen tidak menarik tangannya sedikit pun.
Bibirnya tidak terbuka. Kakinya tetap menapak mantap di atas lantai gua yang basah.
Sepasang matanya tidak mempedulikan ayunan maut yang bersiap menebas lehernya. Pandangan pria itu hanya terpaku lurus menembus cahaya merah di celah tulang pelindung.
Hanya pada bunganya.