NovelToon NovelToon
Segel Kekosongan Abadi : Iblis Berbaju Dewa

Segel Kekosongan Abadi : Iblis Berbaju Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Misteri / Iblis
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

Di bawah langit yang memisahkan tiga alam: Surga, Bumi, dan Neraka, lahir seorang anak yang sejak dalam kandungan telah menjadi bahan percobaan para tetua kultivasi terlarang.

Wei Mou Sha tidak pernah meminta untuk lahir. Ia tidak pernah meminta untuk menjadi percobaan. Dan ia tidak pernah meminta untuk merasakan ribuan kematian dalam satu jiwa.

Sejak usia tujuh tahun, tubuhnya ditanamkan Segel Kekosongan Abadi, sebuah kutukan kuno yang memakan sedikit demi sedikit rasa kemanusiaannya setiap kali ia menggunakan kekuatannya. Semakin kuat ia bertarung, semakin kosong jiwanya. Semakin kosong jiwanya, semakin brutal ia membunuh.

Yang mengerikan bukan caranya membunuh.

Yang mengerikan adalah ekspresinya yang tidak pernah berubah.

Ia tersenyum lembut saat menghabisi seorang jenderal dewa. Ia mengangguk sopan sebelum menghancurkan tulang seorang iblis betina. Tidak ada kebencian. Tidak ada kepuasan. Hanya kekosongan yang sempurna.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 : Pemuda Berambut Merah

Tiga hari setelah bertarung dengan Feng Bai, nama Wei Mou Sha mulai beredar di Kota Wanhua.

Bukan karena ia melakukan sesuatu hal yang besar. Bukan karena ia memperkenalkan dirinya ke orang-orang. Tetapi karena pertarungan nya yang membuat lengan kanan Feng Bai kesemutan selama dua jam membuat kota ini mengetahuinya. Secara reputasi bahwa Feng Bai adalah murid inti dari Pedang Langit Utara, itulah yang membuat keheranan para kultivator muda di kota Wanhua.

Di kota seperti Wanhua, informasi seperti itu tidak butuh waktu lama untuk menyebar.

Wei Mou Sha tahu bukan dari siapa pun yang memberitahu nya secara langsung, tapi dari cara orang-orang mulai menatapnya beda saat ia berjalan di jalanan utama kota wanhua.

Hari pertama setelah kejadian di arena, tidak ada yang istimewa.

Hari kedua, seorang kultivator muda berhenti di tengah jalan dan menatapnya sedikit lebih lama dari yang biasanya, seperti orang yang mencoba melihat secara detail wajah dengan apa yang pernah ia dengar.

Hari ketiga, Luo Bing, pemandu tidak resmi yang ia temui di Paviliun Tiga Angin datang ke penginapannya tanpa diundang.

"Hei, ternyata kamu terkenal ya" kata Luo Bing, sambil duduk di kursi satu-satunya di kamar kecil itu, sementara Wei Mou Sha duduk di tepi ranjang. Luo Bing punya ekspresi orang yang merasa percakapan ini seharusnya lebih dramatis dari kenyataannya. "Satu pertarungan dengan Feng Bai dan membuat seluruh kota membicarakan tentang dirimu, itu luar biasa."

"Berlebihan," kata Wei Mou Sha.

"Eh jangan salah, Feng Bai itu nomor tiga di angkatannya. Murid inti Pedang Langit Utara, Kalau dia bilang ada seseorang yang menarik perhatiannya, orang-orang itu pasti akan mendengarnya." Luo Bing menyandarkan punggungnya ke kursi.

"Informasi yang beredar sudah macem-macem. Ada yang bilang kamu melumpuhkan dia dalam satu gerakan. Ada juga yang bilang kamu bahkan tidak berkeringat melawannya. Dan ada juga yang bilang kamu itu seorang kultivator rahasia dari salah satu tetua sekte besar yang sengaja menyamar."

Wei Mou Sha menatap Luo Bing dalam diam. "Semua salah."

"Tentu saja salah. Tapi begitulah gosip yang bekerja di Wanhua." Luo Bing menatap balik Wei Mou Sha. "Tapi yang lebih penting, ada beberapa orang yang lebih serius mencerna informasi itu bukan sekadar penasaran, tetapi juga mulai bertanya-tanya tentang dirimu."

"Siapa?"

"Para Perekrut." Luo Bing mengeluarkan tiga lembar kertas dari bajunya dan meletakkan nya di meja. "Ini tiga tawaran yang datang padaku hari ini karena mereka tahu aku yang pertama bicara denganmu. Pedang Langit Utara, Aula Api Sejati, dan satu lagi dari sekte kecil yang namanya tidak perlu disebutkan."

Wei Mou Sha menatap kertas-kertas itu dari jarak ranjangnya. Tidak bergerak sedikitpun untuk mengambil.

"Aku tidak tertarik."

Luo Bing menghela napas. "Hei, setidaknya baca dulu. Dua sekte ini termasuk sekte besar, bahkan mereka menawarkan langsung menjadi murid luar dengan berbagai tunjangan yang akan kau dapatkan.."

"Tidak tertarik," ulang Wei Mou Sha dengan nada yang sama persis.

Luo Bing menatapnya lama. Lalu ia mengambil kembali kertas-kertas itu dan menyimpannya kembali. "Baik. Tapi gosip yang menyebar tidak akan pernah berhenti hanya karena kamu tidak peduli. Semakin dekat turnamen, semakin banyak orang yang akan mencari tahu tentang dirimu."

"Biarkan, aku tidak peduli."

"Dan termasuk orang-orang yang niatnya tidak sebatas penasaran."

Wei Mou Sha tidak menjawab.

Luo Bing akhirnya berdiri, ia tampaknya sudah menyerah pada upayanya hari ini. "Kalau kamu butuh sesuatu, apapun itu, cari aku di Paviliun." Sebelum melanjutkan langkahnya, Ia berhenti di depan pintu.

"Dan Wei Mou Sha, lain kali kalau ada seseorang yang mencari tahu tentang dirimu sebelum kamu mengetahui tentang mereka, berhati hatilah, karena itu akan lebih berbahaya dari yang kamu kira."

Pintu akhirnya ditutup.

Wei Mou Sha menatap pintu yang tertutup itu beberapa detik.

Itu adalah sebuah peringatan yang tidak diminta, catatnya. Tapi tidak berguna.

Sore itu, ia kembali ke arena.

Bukan untuk bertarung, tetapi untuk mengamati lagi, kali ini dengan tujuan yang lebih spesifik. Ia perlu paham pola teknik yang dipakai para kultivator biasa, bukan hanya gerakannya tapi logika di baliknya, kenapa serangan tertentu diikuti dengan serangan tertentu, kenapa perpindahan kaki ikut pola yang bisa diprediksi, di mana celah-celah yang ada dalam teknik yang terlihat sempurna.

Pengetahuan titik qi-nya kasih keuntungan dalam jarak dekat. Tapi di turnamen, lawan tidak akan membiarkan ia masuk ke jarak dekat begitu saja.

Ia butuh cara untuk tutup jarak.

Arena sore lebih ramai dari pagi.

Wei Mou Sha lebih memilih diam di tribun atas supaya lebih mendapatkan pemandangan yang lebih luas. Membawa secangkir teh yang telah ia beli diluar, sambil duduk dengan postur yang terlihat santai padahal pikirannya tidak berhenti bekerja.

Di bawah, pertarungan kultivator berlangsung di beberapa area sekaligus.

Yang pertama ia lihat adalah kelompok Pedang Langit Utara, mereka berlatih dalam posisi berpasangan, saling bergantian antara menyerang dan bertahan dengan teknik yang sudah terlatih, rapi, terstruktur, dan efisien

Lalu ia beralih ke kelompok Aula Api Sejati di sisi kanan arena.

Cara latihan yang terlihat di kedua kelompok ini sangat berbeda total.

Kalau Pedang Langit Utara seperti air yang mengalir mengikuti saluran yang sudah ditentukan, sementara Aula Api Sejati seperti api yang menyala, setiap serangan nya tidak terprediksi. Mereka tidak bertarung dalam pola yang bisa diingat, setiap pertukaran serangan terlihat seperti improvisasi yang didorong oleh qi yang membara.

Wei Mou Sha memusatkan perhatiannya ke Aula Api Sejati, ia melihat dua orang dari kelompok itu yang sedang bertarung di area tengah..

Yang pertama seorang perempuan dengan rambut dikuncir tinggi, memperagakan gerakan yang lebih cepat dari yang Wei Mou Sha duga.

Yang kedua laki-laki berbadan lebih besar, serangannya lebih lambat tapi setiap tekanannya membuat lantai arena sedikit retak.

Keduanya bertarung dengan serius, bukan latihan ringan, tetapi pertukaran yang sungguh-sungguh dengan intensitas yang bikin beberapa kelompok lain berhenti untuk menonton.

Wei Mou Sha mengamati lebih serius.

Catat pola napas yang menyertai setiap pengeluaran qi besar. Catat bagaimana perempuan itu menggunakan momentum untuk mengganti perbedaan kekuatan. Catat titik-titik di mana pertahanan keduanya terbuka selama sepersekian detik di antara serangan.

Terdapat tiga celah pada perempuan itu. Dua pada laki-laki itu. Keduanya tidak menyadari satu pun dari celah itu.

Menarik.

"Kamu sudah di sini dua jam."

Tiba tiba suara itu datang dari sebelah kirinya.

Wei Mou Sha tidak menoleh langsung, ia sudah mendengar langkah kaki itu naik ke tribun sepuluh menit yang lalu dan bukan sebagai ancaman.

"Kamu sedang memperhatikan celah pertahanan mereka," lanjut suara itu.

Wei Mou Sha akhirnya menoleh.

Pemuda dengan rambut merah, seperti api yang dipadatkan jadi helaian rambut. Mata berwarna emas. Seragam merah-hitam identik dengan Aula Api Sejati, tapi pakaian yang dipakainya kurang rapih, kerah sedikit terbuka dan lengan digulung sampai siku.

Ia kemudian duduk di sebelah Wei Mou Sha dengan cara orang yang terbiasa duduk di mana saja yang ia mau.

"Chen Liang Huo," kata pemuda itu, memperkenalkan dirinya. "Murid inti Aula Api Sejati."

1
Romansah Langgu
Cerita tentang apa nhe??? Novel yg pelik pula nhe..
Budi Xiao
Luar Biasa
Green Boy
ditunggu up nya thor👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!