NovelToon NovelToon
Anak Terbuang Milik CEO Arogan

Anak Terbuang Milik CEO Arogan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Balas Dendam / Romansa Fantasi
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: 羽菜

kisah perjalanan Marsha valerine yang kehadirannya ditolak oleh ibunya, dan saat merencanakan perjalanan ke Eropa bersama keluarga besar, ibunya dengan kejamnya meninggalkan Marsha valerine yang saat itu masih kecil.

Marsha Zaiva Dominic.

Angin malam menyentuh wajahnya, membawa hawa dingin yang tak mampu mengusik ketenangan yang ia bangun selama bertahun-tahun. Ia tidak tahu bahwa nama yang ia bawa sekarang bukanlah miliknya sejak lahir.

Ia hanya tahu—hidupnya dimulai kembali saat ia diadopsi oleh sepasang dokter.
Dokter Erlan Dominic dan Dokter Shafira Hanazawa.
Dari merekalah ia mengenal arti rumah. Bukan tempat yang megah, tapi tempat yang hangat. Bukan sekadar keluarga, tapi orang-orang yang memilih untuk mencintainya tanpa syarat.

Dari mereka pula, Marsha belajar tentang kehidupan tentang merawat, tentang bertahan, dan tentang menjadi seseorang yang berarti bagi orang lain.
Dan dari sanalah… ia memilih jalan yang sama.
Menjadi dokter.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 羽菜, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

​Kebersamaan yang Baru

​Malam itu, di ruang VIP rumah sakit, Archio perlahan membuka matanya. Ia melihat ketiga saudaranya Xabiru, Valerina, dan Marsha duduk mengelilingi tempat tidurnya.

​"Hei..." suara Archio lemah. "Apakah aku sudah di surga? Kenapa ada bidadari dokter di sini?"

​Marsha tertawa kecil sambil mengusap air matanya. "Bukan surga, Kak. Ini London. Dan aku doktermu sekarang. Kakak harus cepat sembuh kalau mau mencoba masakan Mommy Shafira."

​Andreas berdiri di pintu bersama Erlan dan Shafira. Meskipun ada rasa cemburu yang sesekali muncul, Andreas mulai menerima kenyataan indah ini. Marsha tetaplah putrinya, namun ia kini memiliki pelindung tambahan yang luar biasa dalam diri keluarga Dominic.

​"Terima kasih, Erlan," bisik Andreas tulus. "Sepertinya London akan menjadi rumah kedua bagi kami sekarang.”

Ketegangan emosional ini sangat wajar. Bagi Andreas, Xabiru, Archio, dan Valerina, ini adalah akhir dari pencarian 20 tahun. Namun bagi Marsha, ini adalah invasi tiba-tiba ke dalam hidupnya yang sudah tertata rapi. Sebagai seorang calon spesialis bedah jantung, dunianya adalah logika, presisi, dan jadwal rumah sakit yang padatbukan drama keluarga yang meledak-ledak.

​Di koridor rumah sakit, suasana menjadi canggung. Setiap kali Andreas mencoba mendekat untuk sekadar menawarkan minum, atau Valerina yang ingin menggandeng tangannya, Marsha secara halus menghindar dengan alasan medis.

​"Maaf, Kak Val... aku harus mengecek chart pasien di bangsal sebelah," ucap Marsha pelan, melepaskan pegangan tangan Valerina dengan sopan namun tegas.

​Marsha merasa kewalahan. Ia melihat kerinduan yang begitu besar di mata mereka, tapi ia sendiri tidak merasakan luapan emosi yang sama. Baginya, mereka adalah "pasien" atau "keluarga pasien" yang kebetulan memiliki ikatan darah dengannya.

​Pelarian ke Ruang Operasi

​"Daddy, aku ambil jam jaga malam ya," ujar Marsha saat bertemu Erlan di ruang dokter.

​Erlan menatap putrinya, ia tahu persis apa yang sedang dilakukan Marsha. "Kamu menghindar, sayang? Mereka datang jauh-jauh dari Jakarta. Archio bahkan tertembak demi kamu."

​Marsha terdiam, jemarinya meremas stetoskop di lehernya. "Aku tahu, Dad. Aku sangat berterima kasih. Tapi... rasanya sesak. Mereka menatapku seolah aku adalah malaikat yang hilang, sementara aku merasa seperti orang asing yang sedang diinterogasi oleh masa lalu. Di ruang operasi, semuanya jelas. Ada detak jantung, ada prosedur. Tapi dengan mereka... aku tidak tahu harus bersikap bagaimana."

​Erlan menghela napas, ia mendekat dan merangkul bahu Marsha. "Gunakan waktumu, Marsha. Jangan dipaksa. Tapi ingat, jangan sampai dedikasimu pada pasien jadi alasan untuk lari dari kenyataan.”

​Kecemburuan dan Kesabaran Andreas

​Andreas memperhatikan dari kejauhan saat Marsha berjalan cepat menuju ruang ganti, mengabaikan lambaian tangan Xabiru. Hati Andreas mencelos. Ia merasa ada tembok kaca yang tebal di antara mereka.

​"Dia tidak membenci kita, Pa," bisik Xabiru, mencoba menenangkan ayahnya. "Dia hanya kaget. Bayangkan, seharian dia menyelamatkan nyawa orang, tiba-tiba ada keluarga dari masa lalu yang datang dengan senjata api dan drama 20 tahun. Dia butuh waktu."

​Andreas mengangguk lemah. "Ayah tahu. Ayah hanya... takut dia lebih memilih tetap menjadi 'Marsha Dominic' sepenuhnya dan menghapus jejak 'Acha' selamanya.”

​Momen di Ruang Rawat Archio

​Malam itu, saat rumah sakit mulai sepi, Marsha masuk ke kamar Archio untuk mengganti botol infus. Ia mengira kakaknya itu sudah tidur. Namun, Archio membuka matanya sedikit.

​"Acha..." panggil Archio serak.

​Marsha berhenti sejenak. "Panggil saya Dokter Marsha, Kak. Ini jam tugasku."

​Archio tersenyum tipis, meski wajahnya masih pucat. "Dokter Marsha... bisakah kau ceritakan sedikit tentang London? Apa kau bahagia di sini selama 20 tahun ini?"

​Marsha tertegun. Ia melihat ketulusan di mata Archio—tidak ada tuntutan, hanya keingintahuan seorang kakak. Marsha perlahan duduk di kursi samping tempat tidur, meletakkan papan jalannya.

​"Sangat bahagia," jawab Marsha jujur. "Daddy Erlan dan Mommy Shafira memberikan segalanya. Aku sekolah, aku belajar piano, aku jadi dokter. Hidupku... sempurna.”

​Archio mengangguk pelan. "Syukurlah. Itu sudah cukup bagiku. Meskipun kau tidak ingat cara kita bermain di taman dulu, atau bagaimana aku selalu mencuri cokelatmu... melihatmu sukses dan bahagia di sini, itu sudah membayar semua rasa bersalahku karena melepaskan tanganmu di Paris."

​Mendengar itu, pertahanan Marsha sedikit goyah. Ia tidak membalas, namun ia membetulkan selimut Archio dengan gerakan yang jauh lebih lembut dari biasanya sebelum berdiri.

​"Istirahatlah, Kak Archio. Besok pagi aku akan memeriksamu lagi," ucap Marsha sebelum keluar dengan cepat, mencoba menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca.

​Valerina, yang melihat interaksi itu dari balik kaca pintu, menyadari bahwa Marsha tidak bisa didekati dengan emosi yang meluap-luap. Adiknya itu adalah seorang klinisi.

​"Kita harus pelan-pelan," bisik Valerina pada Xabiru. "Kita jangan jadi beban buat dia. Kita harus mendukung kariernya dulu, baru hatinya."

​Keluarga Halvard akhirnya sepakat: mereka akan tetap di London, menjaga jarak yang cukup agar Marsha tidak merasa tercekik, namun selalu ada di sana setiap kali Marsha keluar dari ruang operasi. Sebuah perjuangan panjang untuk memenangkan kembali hati sang bungsu yang kini telah menjadi "Ratu di Ruang Operasi".

Sejak malam itu, ada sesuatu yang berubah meski tak pernah benar-benar diucapkan, keluarga Halvard menepati keputusan mereka, mereka tidak lagi memaksa, tidak lagi mendekat dengan emosi yang meluap, mereka hanya ada, dalam diam dan dalam jarak yang dijaga dengan hati-hati.

Pagi di rumah sakit selalu dipenuhi ritme yang sama langkah cepat, suara alat medis, dan kesibukan yang nyaris tanpa jeda.

Di tengah semua itu, Marsha bergerak seperti biasa. Tegas, fokus, dan nyaris tak tersentuh.

Namun kini, ada satu hal yang perlahan menjadi bagian dari rutinitasnya.

Di ruang tunggu dekat ruang operasi, tiga sosok selalu berada di tempat yang sama. Xabiru, yang lebih sering memegang koran tanpa benar-benar membacanya.

Valerina, dengan secangkir kopi yang dibiarkan dingin di genggamannya dan Andreas ayahnya yang hanya duduk diam, menatap pintu ruang operasi seolah di sanalah seluruh harapannya tertambat. Mereka tidak menyapa dan tidak mendekat, namun setiap kali Marsha melangkah keluar mereka selalu ada.

Awalnya, Marsha memilih untuk tidak peduli.

Ia berjalan melewati mereka tanpa menoleh, menjaga jarak seperti yang selama ini ia lakukan pada banyak hal dalam hidupnya, namun waktu memiliki caranya sendiri.

Hari berganti..

Dan tanpa ia sadari, keberadaan itu mulai terasa.

Suatu sore, setelah operasi panjang yang menguras tenaga, Marsha keluar dari ruang operasi dengan langkah yang sedikit lebih lambat dari biasanya. Masker yang menutupi wajahnya ia turunkan, memperlihatkan lelah yang tak sempat ia sembunyikan.

Dan seperti hari-hari sebelumnya mereka masih di sana, kali ini, Valerina berdiri lebih dulu, ia melangkah pelan, seakan takut setiap gerakannya akan merusak sesuatu yang rapuh. "Aku… bawa sup hangat," ucapnya lirih. "Tidak harus sekarang. Kalau kamu tidak mau, tidak apa-apa."

Marsha menatap wadah kecil di tangannya, beberapa detik berlalu dalam diam lalu "Letakkan di meja itu."

Sederhana tanpa ekspresi berlebih, namun cukup untuk membuat nafas Valerina tertahan sejenak, sebelum akhirnya ia mengangguk pelan.

Dari kursinya, Xabiru melirik ke arah Andreas, senyum tipis tersungging di wajah pucatnya.

"Langkah kecil," gumamnya pelan.

Andreas tidak menjawab…

Namun untuk pertama kalinya, matanya tidak lagi sepenuhnya dipenuhi kehilangan,alamnya, di ruang istirahat dokter yang mulai sepi, Marsha duduk seorang diri, wadah sup itu kini berada di hadapannya, Ia membukanya perlahan.

Aroma hangat langsung menyapa sederhana, namun entah mengapa terasa begitu akrab, sendok pertama terasa biasa saja, namun saat sendok kedua menyentuh lidahnya ia terdiam.

Ada sesuatu di sana…

Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan, namun terasa dekat, deperti serpihan kenangan yang tak utuh, mencoba kembali ke tempatnya, Marsha menunduk, menggenggam sendoknya sedikit lebih erat.

1
Risma Surullah
di bab lain marsha anak bungsu yg dibenci, di bab selanjutnya archio adalah adik marsha...hehe bingung bingung aq bingung
Muji Lestari
lanjut thorr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!