NovelToon NovelToon
Gadis Kesayangan Langit

Gadis Kesayangan Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Ceriwis07

Gladys Chandra Wiguna atau biasa dipanggil Gadis adalah mahasiswi berbakat dari fakultas bergengsi Kota A. Wajah cantik dan sosok mungilnya menyembunyikan jiwa pemberani yang kuat.

Malam itu, saat ia pulang dari cafe, seorang pria memaksanya masuk mobil. Di dalamnya menanti Langit Mahesa seorang bisnis man yang memiliki perusahaan raksasa di kota A. Pria yang sudah memiliki istri, Bella Safira. Akankah Gadis kembali ke kehidupannya yang tenang? Ataukah cinta tak terduga tumbuh di antara mereka, menggoyahkan semua yang ada?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceriwis07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aldi

Brak!

Pintu utama rumah mewah keluarga Wiguna terbuka dengan kasar. Gunawan melangkah masuk dengan wajah cemberut dan langkah gontai, air menetes-netes dari ujung rambut dan bajunya meninggalkan jejak basah di lantai keramik yang mengkilap.

"Sialan! Dasar wanita tidak tahu diri! Berani-beraninya dia membantingku! Dasar gila!" gerutunya sambil melempar tas kerjanya sembarang ke sofa.

"Aku nggak bisa terima! Dan apa-apaan sih Anin itu? Belain cewek murahan itu! Padahal itu rumah adikku, masa aku dilarang masuk?! Kurang ajar!"

Gunawan terus saja mengoceh, berjalan mondar-mandir di ruang tamu sambil mengibas-ngibaskan bajunya yang basah.

"Dasar jalang! Beruntungnya aku nggak membawa anak buahku... ah untung juga tadi aku nggak jadi bikin rusuh, nanti malah aku yang salah. Tapi tunggu aja... aku pastiin cewek itu nggak bakal betah lama-lama di sana!"

Ia terus saja bicara sendiri, mengumpat tanpa sadar bahwa suaranya cukup keras terdengar ke seluruh penjuru ruangan.

Namun, ia sama sekali tak menyadari bahwa di sudut ruangan yang agak gelap, sesosok pria paruh baya dengan tatapan tajam telah duduk diam sejak tadi.

Wiguna, sang kepala keluarga, mendengarkan seluruh ocehan putranya itu dengan wajah datar namun matanya menyiratkan amarah yang mulai memuncak.

"Masih saja kau bicara tentang hal yang tidak penting, Gunawan?"

Suara berat dan dingin itu tiba-tiba terdengar, seketika membuat seluruh tubuh Gunawan menegang. Mulutnya yang tadi sibuk mengomel langsung terkunci rapat.

Ia perlahan menoleh dan mendapati sang ayah sedang menatapnya tajam dari balik kursi besarnya.

"P-Pa... Papa?" Gunawan tergagap, jantungnya seketika mencelos. "Se-sejak kapan Papa ada di sini?"

"Dari pertama kau menginjakkan kaki yang kotor itu di rumah ini," jawab Wiguna dingin. Ia berdiri perlahan, aura wibawa dan kekuasaannya langsung memenuhi ruangan.

"Dan dari tadi aku dengar... kau sibuk mengumpat dan memaki orang lain tanpa kau sadari betapa menyedihkannya penampilanmu sekarang."

Wiguna melangkah mendekat, menatap putranya yang basah kuyup dan berantakan itu dengan pandangan menghakimi.

"Darimana saja kau sejak pagi, Gunawan?" tanya Wiguna dengan nada dingin, matanya menatap tajam penuh selidik.

Gunawan langsung menunduk takut, tapi tetap memberanikan diri menjelaskan.

"Aku... aku tadi pergi ke rumah Anin, Pa. Saya ingin menyuruhnya cepat-cepat menyelesaikan masalahnya, supaya tidak menyeret nama keluarga kita," jawab Gunawan terbata-bata.

"Tapi siapa sangka... di sana justru ada wanita kurang ajar itu! Dia dengan seenaknya mendorong dan menceburkanku ke kolam ikan! Padahal dulu wanita itu pernah aku beli, wanita yang aku perebutan dengan Langit!Siapa sangka dia sekarang berani bertindak seenaknya padaku!" curhat Gunawan panjang lebar, masih terlihat kesal.

Mendengar penjelasan itu, kening Wiguna berkerut dalam. Wajahnya tampak semakin tidak suka, terutama saat mendengar nama Langit dan cerita tentang wanita itu.

Ia menarik napas panjang, mencoba menahan emosi yang mulai memuncak melihat tingkah konyol putranya itu.

"Cih!"

Dengan gerakan kasar, Wiguna mengibaskan tangannya ke arah Gunawan.

Tanpa menunggu jawaban, Wiguna berjalan tegap menuju sofa utama ruang tamu dan duduk dengan anggun namun penuh wibawa. Tangannya yang tua namun kuat mencengkram gagang tongkat kayu jati yang biasa ia pegang, jari-jarinya memutih karena menahan amarah.

Tangan lainnya segera merogoh saku celananya, mengambil ponsel pintar, lalu dengan cepat menekan satu nomor yang sudah ia hafal di luar kepala.

Tut... Tut...

"Halo, Pak?" terdengar suara lawan bicara di seberang sana.

"Aldi," potong Wiguna cepat dan tegas tanpa basa-basi. "Segera kau pergi ke rumah Anin. Aku ingin tahu detail semuanya... siapa yang ada di sana, apa yang terjadi, dan siapa wanita yang dimaksud itu. Lapor padaku segera!"

Bip! Bip! Bip!

Tanpa menunggu jawaban atau izin menutup telepon dari bawahannya, Wiguna langsung mematikan sambungan dengan kasar. Wajahnya kini tampak serius dan penuh teka-teki, seakan sedang memutar otak menebak apa yang sebenarnya sedang terjadi di tempat itu.

****

Di tempat lain, di kediaman Anin...

Matahari mulai bergeser, menandakan waktu telah berlalu cukup lama. Tubuh Anin terasa begitu lelah setelah seharian penuh pikiran dan kejadian yang melelahkan. Dengan langkah gontai, ia berjalan menuju kamar tidurnya, berniat untuk merebahkan diri sejenak guna meredakan rasa sakit yang sering menyerang dadanya.

Namun, baru saja ia hendak memejamkan mata...

Tok... Tok... Tok...

Suara ketukan pintu terdengar pelan namun tegas, memecah keheningan kamar.

Anin menghela napas panjang, membuka matanya kembali dengan malas. "Masuk," ucapnya lirih.

Pintu terbuka sedikit, menampakkan sosok salah satu anak buah kepercayaannya yang berdiri di ambang pintu. Wajah pria itu tampak sangat serius, tidak seperti biasanya.

"Nyonya, ada hal penting yang harus saya katakan," ucap anak buahnya dengan nada rendah namun mendesak.

Dengan terpaksa dan rasa malas yang luar biasa, Anin pun bangkit dari posisi tidurnya. Ia berjalan mendekati pintu dan membukanya lebih lebar.

Namun, saat itu pula mata Anin terbelalak kaget.

Bukan hanya anak buahnya yang ada di sana, ternyata tepat di belakangnya berdiri tegap sosok Fajar, kekasihnya. Wajah tampan Fajar pun tak kalah serius, alisnya terangkat sedikit menandakan ada sesuatu yang besar sedang terjadi.

Tanpa banyak bicara, Anin segera menggeser tubuhnya, memberikan jalan dan ruang yang cukup bagi kedua pria itu untuk masuk ke dalam kamarnya.

Pintu ditutup kembali rapat-rapat, menyisakan keheningan yang terasa begitu mencekam di dalam ruangan.

Mereka bertiga berjalan menuju sofa yang ada di sudut kamar. Sebelum sempat duduk, Fajar langsung membuka suara dengan nada yang penuh selidik.

"Mau apa Aldi kemari?" tanya Fajar tiba-tiba.

Kening Anin langsung berkerut dalam, wajahnya tampak bingung setengah mati.

Aldi? Anak buah Papa? Dia kemari? Kapan?

Segudang pertanyaan langsung memenuhi pikirannya. Ia sama sekali tidak tahu menahu soal kedatangan pria itu.

"Benar Nyonya," sahut anak buah itu cepat, meluruskan duduknya. "Aldi datang tadi dan memaksa ingin masuk. Katanya dia membawa perintah langsung dari Tuan Wiguna dan tidak bisa ditolak. Akhirnya kami izinkan masuk..."

"Terus?" desak Anin tidak sabar.

"Tapi... anehnya Nyonya. Dia baru saja melangkah masuk sampai ruang santai, tiba-tiba dia mengurungkan niatnya. Dia memutar tubuhnya dan langsung pergi begitu saja tanpa berkata apa-apa lagi," jelas anak buah itu dengan wajah bingung.

"Siapa yang ada di sana saat itu? Siapa yang ia temui di ruang santai?" tanya Anin lagi, jantungnya mulai berdegup tidak tenang.

Anak buah itu menelan ludah pelan, "Hanya... hanya Nona Gladis Nyonya. Beliau sedang duduk santai di sana."

Jedar!

Seperti tersambar petir, mata Anin dan Fajar seketika melotot kaget. Keduanya serentak menoleh dan saling bertatapan, bisa dibaca rasa kaget dan cemas yang sama besarnya di mata mereka berdua.

Tidak mungkin... Aldi melihat Gladis?!

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Anin segera berbalik dan melangkah cepat keluar dari kamarnya. Wajahnya tampak panik, ia harus memastikan apa yang sebenarnya terjadi.

Fajar dan anak buah itu pun langsung menyusul di belakangnya dengan langkah terburu-buru.

Setelah memastikan Gladys sudah terlelap nyenyak di dalam kamarnya dan keadaan aman, Anin, Fajar, serta anak buah kepercayaannya kembali berjalan menuju ruang tamu utama.

Suasana di sana begitu hening. Dinginnya udara malam seakan menusuk hingga ke tulang, memperparah ketegangan yang menyelimuti hati mereka bertiga. Tidak ada suara obrolan ringan, hanya kebisuan yang mencekam.

Mereka duduk berhadapan, wajah masing-masing tampak penuh pikiran.

Setelah hening cukup lama, akhirnya Fajar membuka suara dengan nada berat dan penuh penekanan.

"Tidak ada cara lain, Anin..." ucap Fajar pelan namun tegas. Matanya menatap tajam ke arah Anin. "Kembalikan dia pada Langit. Hanya Langit yang bisa melindungi Gladys sepenuhnya sekarang. Bahaya sudah terlalu dekat."

Mendengar pendapat Fajar, anak buah Anin yang duduk di sisi lain pun segera mengangguk setuju.

"Benar apa yang dikatakan Tuan Fajar, Nyonya. Situasi sekarang sudah tidak aman. Kekuatan Tuan Langit adalah satu-satunya tempat paling aman untuk Nona Gladys saat ini," sahutnya mendukung.

Anin menundukkan wajahnya, kedua tangannya saling menggenggam erat menahan gejolak di hati. Dadanya terasa sesak sekali.

Ia tahu... semua ucapan itu benar. Demi keselamatan putrinya, ia harus melakukan ini.

"Baiklah..." jawab Anin lirih, suaranya terdengar bergetar menahan tangis. "Besok... aku akan minta Gladys kembali pada Langit."

Hiks...

Mau tak mau, kali ini ia harus benar-benar merelakan dan berpisah kembali dengan putri kesayangannya. Padahal waktu mereka bersama baru berjalan sekitar sebulanan. Baru sebentar saja mereka bisa menghabiskan waktu bersama, merasakan kehangatan sebagai ibu dan anak... namun takdir seolah memaksa mereka untuk kembali berjauhan.

Warning!!!

Mohon maaf atas ketidaknyamanan nya, aku tidak up beberapa minggu atau beberapa hari ya? HP aku rusak😭

Ini numpang nulis di HP suami, sabar yah para pembaca, semoga dalam waktu dekat bisa kebeli hpnya. Terima kasih masih setia menunggu loph sekebon buat kelen..

1
Lilik Haryati
jgn seratus tor tp seribu 🤣🤣🤣🤣
Ceriwis07: 🤣🤣🤣 iya yaa..
total 1 replies
Erna Riyanto
Anin dulu pacar langit... berarti langit sdh tua dong seumuran bahkan mungkin lebih tua dr Anin(ibunya gladis)
Ceriwis07: Benar sekali 🤭
total 1 replies
anggita
like iklan👍☝
Ceriwis07: Terimakasih sudah mampir 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!