NovelToon NovelToon
Dewa Perang Dan Pendekar Bar Bar

Dewa Perang Dan Pendekar Bar Bar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: SecretPenaa_

Dengan bersimbah darah seorang pendekar wanita berjuang sekuat tenaga untuk melarikan diri dari kejaran para prajurit yang masih terus membuntuti nya . Tuduhan pengkhianatan yang di lemparkan seseorang padanya membuatnya terus menjadi buronan di kerajaan tempat tinggalnya .

Hingga dalam kesekian pelariannya di saat nyawanya terasa sudah di ujung tanduk takdir mempertemukannya dengan seorang pemuda desa yang pada akhirnya menyelamatkan nyawanya . Tanpa diketahui jika pemuda itu sebenarnya merupakan seorang pangeran yang sedang menyamar .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SecretPenaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tragedi di dalam goa

Elias melangkah masuk, memecah kesunyian dengan aura dingin yang seolah mampu membekukan udara di sekitarnya.

"Bagaimana kabarmu, Kakak?" tanyanya, suaranya terdengar datar namun sarat akan penghinaan.

Tidak seperti biasanya, hari ini Yoka menatap Elias dengan sorot mata yang begitu tajam, seolah ingin menembus langsung ke dalam hati adiknya yang busuk .

Elias sedikit tertegun, lalu menyeringai. "Ada apa, Yoka? Kenapa kau menatapku seperti itu?"

Raut wajah Yoka seketika berubah pias .

" Dia bahkan sudah tidak bersandiwara lagi sekarang, batin Yoka waspada.

" Apa yang ingin dia lakukan? Apa dia benar-benar akan menghabisiku hari ini? "

Elias berdecak, lalu tawa remehnya pecah memenuhi ruangan. "Ah, sial... Aku sungguh sedih sekali. Sebentar lagi aku akan dinobatkan menjadi Raja, tapi kakakku yang malang ini bahkan tidak bisa melihat adik kesayangannya naik takhta."

Elias tertawa penuh kemenangan, menikmati setiap detik penderitaan yang ia pikir sedang dirasakan kakaknya. Namun, tawa itu terputus saat seorang pengawal masuk dengan tergesa dan bersimpuh di depannya.

"Ampun, Pangeran. Ada surat penting dari Raja Selatan untuk anda ." lapor pengawal itu sembari menyodorkan gulungan surat.

" Raja Indra.." Gumam Elias .

Elias mengalihkan pandangannya dari Yoka. Ia merebut surat itu dan memberi isyarat dingin agar si pengawal segera menyingkir. Dengan seksama, ia membaca baris demi baris pesan dari penguasa Selatan tersebut.

Sesaat kemudian, Elias melirik Yoka dari sudut matanya, lalu menghela napas panjang seolah sedang membuang rasa kecewa.

"Sepertinya kau sedikit beruntung hari ini, Kakak..." gumam Elias dengan senyum yang tidak sampai ke mata.

"Raja Selatan akan berkunjung ke sini dalam waktu dekat. Hmm... bukankah akan terasa sangat tidak sopan jika ada anggota kerajaan yang meninggal tepat di hari kedatangannya.."

****

Angin menderu seperti serigala kelaparan, mematahkan ranting-ranting pohon di sekitar mereka. Hujan turun begitu lebat hingga pandangan hanya berjarak beberapa meter.

"Cakra! Kita tidak bisa terus berjalan!" teriak Nayan, suaranya parau melawan suara badai.

"Sedikit lagi! Aku melihat celah di tebing itu!" balas Cakra. Ia hendak meraih tangan Nayan, namun Nayan tetap memacu langkahnya sendiri, melompat di atas akar-akar pohon yang licin dengan sisa kekuatannya.

Begitu mereka masuk ke dalam mulut goa, Nayan langsung menyandarkan tubuhnya ke dinding batu yang dingin. Pakaiannya yang basah kuyup terasa seperti es yang membalut kulitnya.

"Sial, dingin sekali..." rintih Nayan. Giginya mulai gemeletuk tak terkontrol.

Cakra segera berjongkok di depan tumpukan kayu tua di sudut goa. Ia mencoba memantik api dengan belatinya dan batu pemantik, namun udara yang lembap membuat setiap percikan mati sebelum sempat menyentuh kayu.

"Ayo... menyala lah!" geram Cakra, tangannya bergerak semakin cepat namun putus asa.

"Cakra... lupakan saja. Kayu itu terlalu basah." suara Nayan terdengar semakin lemah. Ia jatuh terduduk, memeluk lututnya dengan erat .

Cakra berbalik dan tertegun melihat kondisi Nayan. Di bawah temaram cahaya petir yang menyambar di luar, ia melihat bibir Nayan sudah membiru. Gadis itu tidak lagi hanya menggigil , tubuhnya gemetar hebat .

"Nayan, kau terkena hipotermia. Kau harus melepas pakaian basah itu." ujar Cakra dengan nada mendesak.

Nayan menatapnya dengan pandangan sayu, namun tetap ada kilatan keras kepala di sana. "Tidak... aku tidak apa-apa."

"Kau akan mati jika terus begini!" Cakra mendekat, suaranya merendah namun penuh penekanan. "Hanya ada satu cara untuk menaikkan suhu tubuhmu...,Panas tubuhku."

Nayan terdiam. Ia tahu protokol bertahan hidup di medan perang, namun melakukannya dengan Cakra , pria yang baru saja ia kenal .

"Apa kau... yakin?" bisik Nayan hampir tak terdengar.

Cakra tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menepis semua keraguan dan batasan kaku sebagai seorang pangeran. Ia melepaskan jubah luar dan bajunya sendiri, lalu mendekati Nayan. Dengan perlahan namun pasti, ia membantu Nayan melepaskan pakaiannya yang berat oleh air.

Saat kulit mereka bersentuhan untuk pertama kalinya, sebuah sengatan yang bukan berasal dari dingin menjalar ke seluruh tubuh mereka. Cakra menarik Nayan ke dalam dekapannya, menyelimuti tubuh mungil itu dengan dadanya yang bidang dan hangat.

"Bernapaslah, Nayan... Ikuti napasku. " bisik Cakra tepat di telinga Nayan.

Nayan memejamkan mata, membenamkan wajahnya di ceruk leher Cakra. Panas yang terpancar dari tubuh Cakra mulai meresap ke dalam kulitnya, mengusir rasa beku yang tadinya mencekik. Namun, seiring dengan kembalinya suhu tubuhnya, naluri lain mulai terbangun.

Detak jantung mereka yang beradu kencang menjadi satu-satunya suara di dalam goa itu, bersaing dengan suara hujan di luar. Sentuhan yang semula bertujuan untuk bertahan hidup, perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam. Cakra merasakan napas Nayan yang mulai stabil dan hangat di kulitnya, sementara Nayan merasa begitu aman di dalam dekapan pria yang ia tahu hanyalah seorang pengembara ini .

Di tengah kegelapan goa yang sunyi, di bawah lindungan badai yang mengamuk, mereka membiarkan naluri memandu mereka. Penyatuan itu terjadi bukan hanya sebagai cara untuk bertahan hidup, melainkan sebagai pengakuan tanpa kata atas benih-benih perasaan yang selama ini mereka sangkal. Malam itu, untuk sejenak, Sedra sang buronan dan Cakra sang pangeran lenyap, menyisakan dua jiwa yang saling mencari kehangatan di tengah badai kehidupan.

***

Riu berdiri di teras gubuk, matanya tak lepas menatap ke arah hutan yang masih menyisakan sisa-sisa kabut pasca badai semalam. Guratan cemas tercetak jelas di keningnya. Cakra dan Nayan seharusnya sudah kembali sejak kemarin sore.

Ana mendekat, jemari kecilnya meremas ujung baju Riu dengan ragu. "Paman Riu... apa Paman Cakra dan Kakak akan baik-baik saja?" tanyanya dengan suara pelan yang bergetar.

Riu tersentak dari lamunannya. Ia segera berjongkok, menyamakan tingginya dengan Ana, lalu mengusap lembut pipi gadis kecil itu untuk menenangkannya.

"Mereka pasti baik-baik saja, Ana. Paman Cakra adalah pria yang kuat, dia pasti melindungi Nayan ." ucap Riu dengan senyum yang dipaksakan.

"Mungkin semalam mereka hanya terjebak badai dan harus berteduh. Ayo, kita masuk saja dan tunggu di dalam. Di luar masih terlalu dingin untukmu."

***

Di dalam goa yang remang, cahaya matahari pagi mulai menyelinap masuk melalui celah-celah batu, memantul di dinding goa yang lembap. Cakra perlahan mengerjapkan matanya, merasakan berat yang nyaman di lengan kanannya.

Ia menunduk dan mendapati Nayan masih terlelap dengan tenang di sana. Ingatan tentang tadi malam seketika menyerbu pikirannya. Cakra sedikit menyibak kain yang menyelimuti tubuh mereka, dan jantungnya berdegup kencang saat menyadari realita di depannya.

" Ini bukan mimpi..." batin Cakra, matanya tak lepas menatap wajah Nayan yang tampak begitu damai dalam tidurnya. Sosok yang semalam merintih kedinginan itu kini terlihat begitu rapuh.

Tangannya terulur, jemarinya membelai lembut helai rambut yang menutupi kening Nayan, lalu turun mengusap pipinya dengan penuh perasaan.

"Maafkan aku, Nayan." bisik Cakra sangat lirih, suaranya serak khas orang baru bangun tidur.

"Seharusnya aku lebih bisa menahan diri... tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku lagi. Nayan aku rasa, aku benar-benar telah jatuh cinta padamu."

Cakra tidak menarik tangannya. Ia justru semakin merapatkan dekapannya . Kehangatan itu perlahan mengusik kesadaran Nayan. Ia mulai bergerak gelisah, bulu matanya yang lentik bergetar sebelum akhirnya ia perlahan membuka mata. Hal pertama yang ia rasakan adalah detak jantung yang kuat di bawah telinganya dan pelukan posesif yang melindunginya dari dinginnya pagi.

Nayan mendongak, dan matanya langsung bertemu dengan tatapan dalam milik Cakra yang sudah menantinya.

Deg...

Bersambung...

🦄🦄🦄🦄

1
Rabbella Saputri
cakep 😍
Rabbella Saputri
ceritanya bagus thorr 😍 semangat trus 💪😍
SecretPenaa_: siappp 👍🏻 maksihhh ya udah mau baca 😇
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!