Saat langit retak dan hukum purba kembali berkuasa, manusia jatuh ke dasar rantai makanan. Di tengah keputusasaan itu, Rifana bangkit dengan luka yang tak kunjung sembuh dan ingatan yang perlahan terasa asing.
Di dunia di mana para Superhuman mulai membangun tatanan baru di atas reruntuhan, Rifana hanyalah anomali yang membawa aroma maut ke mana pun ia melangkah. Dia tidak memiliki kekuatan yang memukau, hanya kemampuan adaptasi yang gila dan perasaan bahwa dirinya bukan lagi manusia yang sama.
Berapa lama dia bisa bertahan di dunia yang tak lagi mengenali keberadaannya? Dan apa yang sebenarnya mengawasi dari balik fajar yang tak kunjung tiba?
Jadwal Up : 18.30 WIB
6-7 Ch/minggu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lloomi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kematian
[Kamu telah dibangkitkan dari kematian.]
Deskripsi singkat itu memacu pikiran Rifana, nafas tenangnya kini berantakan, tubuhnya mematung penuh ketidakpercayaan.
Detak jantungnya meningkat 'Sialan.. Jadi gua beneran mati!??' Meskipun Rifana sangat menyadari semua kejadian yang dialaminya, dia tetap berusaha menyangkal perasaan aneh yang selalu dirasakannya.
Dia tidak yakin sejak kapan, mungkin tepat setelah dirinya bangkit dari kematian di rumahnya; sesuatu mulai terasa janggal.
Saat seluruh fragmen ingatan itu menyerbu otaknya secara serempak, Rifana menyadari sesuatu.
Diantara ribuan ingatan itu, ada beberapa yang tidak cocok dan aneh.
Itu seakan, ingatan itu bukanlah miliknya!
Namun dia mengabaikan hal itu karena cuplikan ingatan itu sangat kabur dan asing.
Rifana menyelam kedalam pikirannya, seperti membuka folder video dari dalam komputernya, dia melihat kembali semua kenangan itu saat potongan potongan adegan terputar di kepalanya layaknya film setengah jadi.
ingatan asing itu berbaur dengan ribuan ingatan lainnya, menggemakan sesuatu yang tak pernah Rifana dengar.
Lu..
Suara samar itu perlahan terdengar jelas.
Luka..
Suara asing itu memanggil namanya, suaranya yang lembut membawa kehangatan aneh pada Rifana 'Tubuhnya bereaksi' sudut pandangnya kini ditarik menjadi orang pertama.
Tubuhnya bergerak mengikuti arah suara itu, dunia di dalamnya sangat buram; Rifana hanya dapat melihat sebuah pintu kayu berwarna gelap jauh dihadapannya.
Tok.. Tok..
Bangunlah... Luka smith.
Setelah ketukan singkat itu, pandangannya semakin kabur, panggilannya dia harus menjawabnya. Itulah reaksi tubuh ini, namun pita suaranya tak merespon meninggalkan dirinya termenung menatap pintu itu.
Ckrek..
Kunci pintu dibuka dan kenop pintu diputar, dengan dorongan pelan pintu terbuka kedalam menampakan sosok wanita berjalan menghampirinya.
'Siapa itu?' Rifana merasakan reaksi aneh tubuh yang bukan miliknya ini 'Mungkinkah tubuh ini?' Asumsinya hanya sebatas gurauan, namun tubuhnya saat ini menunjukan reaksi yang sangat berbeda.
Jantungnya berdetak dengan cepat saat langkah langkah kecil itu digunakan untuk mendekatinya, Rifana mencoba mendorong tubuh itu untuk bergerak namun nihil.
Pria ini menunduk tak bergerak, suara ketukan dari sepatu hak tinggi bergema di ruangan itu.
Rifana menyaksikan semua ini dengan perasaan aneh, banyak pertanyaan terbentuk di benaknya 'Siapa pria ini?' Dan tiba-tiba, sesuatu menetes jatuh ke celananya.
'Dia menangis! Hah?' Dia akhirnya mendengar nama asli pria itu saat wanita itu akhirnya sampai di hadapannya.
Mengapa kau tak menjawab? Luka Smith.
'Luka Smith' Nama itu bergema di benak Rifana untuk beberapa saat, ini pertama kalinya dia mendengar nama itu.
Dari suara wanita itu Rifana merasakan kesedihan yang mendalam, nadanya yang kecewa membuat tubuh ini bergidik tanpa daya membuat Rifana mempertanyakan 'Ni orang kenapa?'
Dan akhirnya, tubuh ini bergerak.
Kepalanya mendongak perlahan mencoba menatap wanita itu, visinya bergetar saat mencoba melihatnya.
Namun, saat matanya mencapainya. Wajah itu terdistorsi dengan aneh sebelum memori itu runtuh dengan cepat.
...
'Huft.. huft..' Rifana kewalahan saat tersadar kembali di kasurnya, putaran ingatan itu terasa seperti mimpi buruk yang dimiliki pria itu 'Luka Smith' Entah itu memori kelam, atau..
Rifana menenangkan dirinya untuk sementara, perasaannya terlalu campur aduk untuk memikirkan apapun.
Tak baik untuknya bertindak di saat ini, atau keputusan impulsif mungkin akan membawa dampak yang sangat buruk untuknya.
Malam berlalu, Rifana tak yakin dengan waktu aktual saat ini. Dia hanya menyimpulkan berdasarkan perasaannya yang kabur akan waktu.
Lolongan dan rintihan dari luar juga telah berkurang secara signifikan, mungkin waktu benar-benar berganti ke hari yang baru.
Rifana terlalu lelah.
Dia tetap berbaring di kasurnya selama berjam-jam tanpa bisa tidur, sampai akhirnya dia terlelap setelah kelelahan mentalnya menumpuk hingga batasnya.
Rifana akhirnya tertidur.
...
'Ugh..' Selimut ditarik turun saat Rifana terbangun, meski rasa janggal yang dialaminya masih terasa dia akan mengabaikannya setidaknya untuk saat ini.
Memang masih ada banyak memori asing lain di dalam benaknya, namun belajar dari tindakannya kemarin Rifana memutuskan untuk tak menelusurinya lebih jauh.
Mentalnya jatuh setelah memasuki memori itu, rasa lelah juga muncul entah darimana memberikannya beban yang sangat berat.
'Gua sampe lupa, trait ke 2 belum gua baca sepenuhnya' Rifana merenggangkan tubuhnya dan duduk di kasur, dia membuka antarmuka sistem dan mengetuk trait kedua miliknya yang belum selesai dibacanya kemarin.
Setelah terkejut melihat deskripsi trait, Rifana langsung menutup panel dan memeriksa memorinya yang dapat diakses kapan saja layaknya folder komputer.
Tindakannya yang tiba-tiba membawanya pada kelelahan yang luar biasa, itu membuatnya tak mengamati kemampuan ini dengan benar kemarin.
Setelah klik kecil dipicu, panel sistem muncul.
[Trait - Revived ]
[Deskripsi : Anda telah dibangkitkan dari kematian, oleh sesuatu.]
[Efek - Deadly scent]
[Setelah bangkit dari kematian, tubuhmu membawa aroma kematian yang unik. Musuh mungkin salah mengira dirimu adalah mayat yang telah mati.]
[Kelemahan: Dewa Kematian telah menandaimu dengan sabitnya, kematian kini bersifat permanen untukmu.]
Rifana terbangun sepenuhnya setelah membaca itu 'K-kematian, Dewa kematian telah menandainya!' Dia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi disini, keadaan terlalu sial untuknya entah bagaimana.
Setiap kata itu menentukan seluruh hidupnya saat ini, Rifana tak mengerti apa maksud dari kematian permanen 'Apakah sebenarnya ada mekanisme Reinkarnasi? Atau apa?' Dia hanya bisa menebak dengan liar.
Usaha penghindaran dari kematian sepertinya telah membuat marah Sang Dewa Kematian itu sendiri, apakah metodenya sesat atau apa? Rifana merinding.
'Mungkinkah sebelumnya?' Mengingat kembali raksasa itu Rifana tak dapat berbicara, jika mahluk itu benar benar dikelabui maka kemampuan ini juga sangat kuat.
Kini tugasnya bertambah satu lagi, tidak. Itu tetap satu, bertahan hidup. Namun sekarang sepertinya tak ada celah untuk rasa malas dan hiburan.
Ancaman kematian permanen itu jelas sangat tidak menyenangkan untuknya, 'Apakah gua di ban dari sistem reinkarnasi sekarang?' Kedengarannya konyol.
'Argh.. Cukup, lebih baik gua nyari udara segar' Rifana frustasi dengan segalanya, meskipun kemampuannya kuat, kelemahannya membuat ini terlalu berisiko.
Rifana bahkan takut saat trait adaptifnya aktif tanpa sadar, bagaimanapun dalam proses adaptasi itu dia bisa saja menjadi gila.
Dia berjalan menuruni tangga dan pergi ke dapur untuk sarapan, 'lebih baik daripada tidak' dia memotong roti dan menuangkan susu kental manis diatasnya.
Dengan roti tergantung di mulutnya Rifana mencuci pisau berdarahnya di wastafel, darah yang sudah mengering tidak hilang sepenuhnya.
Namun setidaknya gagangnya tidak lagi terasa lengket saat dipegang.
Rifana mengintip melalui jendela, di luar hening. Begitu senyap hingga membuatnya sedikit takut, ini terlalu hening.
Dia mengenakan sepatunya dan menyelinap keluar sekali lagi.
Dunia masih sama, cahaya tipis menerobos melalui celah di langit memberikan sedikit penerangan pada dunia.
'Apakah para monster pindah?' Dunia yang mati itu benar benar hening, lolongan dan rintihan telah hilang sepenuhnya.
Mereka mungkin pindah ke tempat lain, atau mati. Rifana tak tahu alasannya, dia dengan hati hati memanjat tumpukan bata di sisi dinding tinggi.
krak..
Batu bata itu retak saat diinjaknya, namun tidak runtuh. Rifana terus menaikinya dan mengintip keluar.
Jalanan di depan kosong melompong, tak ada mayat yang tersisa, hanya ada.
Puluhan jejak darah yang diseret jauh.