NovelToon NovelToon
PEWARIS YANG MENGGUNCANGKAN ISTANA

PEWARIS YANG MENGGUNCANGKAN ISTANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Penyesalan Suami / Sistem
Popularitas:15.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Enam tahun lalu, Alisha Husnah melangkah keluar dari kediaman mewah keluarga Raffasyah dengan hati hancur. Sebuah skandal menjijikkan yang dirancang rapi memaksanya percaya bahwa suaminya, Fardan, telah berkhianat. Alisha pergi, membawa rahasia besar tentang janin yang dikandungnya.

Kini, takdir membawa mereka bertemu dalam sebuah proyek besar. Fardan, sang CEO dingin yang menyimpan dendam atas kepergian istrinya, memberikan ultimatum kejam: kembali padanya atau kehilangan hak asuh atas putra mereka, Ghifari.

Namun, baik Fardan maupun keluarga besar Raffasyah tidak menyadari satu hal. Ghifari bukan sekadar bocah biasa. Dibalik wajah imutnya, tersimpan kecerdasan genius yang ia warisi dari ayahnya. Sementara orang tuanya terjebak dalam perang dingin dan sisa-sisa cinta yang luka, Ghifari mulai bergerak dibalik layar.

Dia bukan hanya ingin menyatukan Ayah dan Ibunya saja. Tapi misinya ingin membongkar topeng busuk para penghuni "istana" yang memisahkan keluarganya. Si kecil siap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HARI PERTAMA DI SEKOLAH.

Lampu kamar yang temaram hanya menyisakan bayang-bayang di langit-langit. Fardan masih terjaga, matanya menatap kosong ke arah jendela yang menampilkan gemerlap lampu Jakarta. Pikirannya tidak bisa lepas dari Ghifari. Ada rasa sesak yang menghimpit dadanya setiap kali ia melihat putranya yang baru berusia lima tahun itu lebih akrab dengan barisan kode daripada mainan mobil-mobilan.

Gelisah yang terus melanda Fardan membuat Alisha terbangun. Ia mengucek matanya pelan lalu menoleh ke arah suaminya yang masih bersandar di kepala ranjang.

"Kenapa belum tidur, Fardan? Ini sudah hampir pagi," tanya Alisha dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.

Fardan menoleh, lalu menghela napas panjang. "Alisha, sebenarnya siapa yang mengajari Ghifari tentang sistem keamanan dan peretasan itu? Aku merasa dia terlalu jauh untuk anak seusianya."

Alisha tersenyum tipis sembari memperbaiki posisi duduknya. "Ayah Henry dan Lucas yang sering mengajaknya bermain di depan komputer sejak usia tiga tahun. Ghifari itu seperti spons, dia menyerap apa pun yang dia lihat. Dia sangat cepat tanggap."

"Aku merasa bersalah," gumam Fardan. "Mungkin karena dia tumbuh tanpa aku, dia merasa harus menjadi pelindungmu. Dia menjadi dewasa sebelum waktunya."

Alisha memegang tangan Fardan untuk menenangkannya. "Ambil hikmahnya saja. Dia anak yang istimewa. Kita hanya perlu membimbingnya agar ia tetap merasakan masa kecilnya."

Fardan terdiam sejenak, lalu matanya berbinar. "Aku punya ide. Bagaimana kalau kita sekolahkannya saja? Biar dia punya teman sebaya dan mulai belajar bermain seperti anak normal."

"Sekolah? Tapi dia jauh lebih pintar dari rata-rata anak seusianya," Alisha tampak ragu.

"Setidaknya dia akan punya lingkungan sosial," Fardan mencoba meyakinkan, lalu ia mendekat dengan senyum jahil. "Atau, bagaimana kalau kita memberinya adik saja? Biar dia punya teman di rumah dan fokusnya terbagi."

Wajah Alisha seketika merona merah. Ia segera menjauh sedikit dan menarik selimutnya tinggi-tinggi. "Fardan! Aku belum siap untuk itu. Lebih baik kita urus masalah sekolahnya dulu."

Fardan tertawa kecil melihat reaksi istrinya. "Baiklah, besok kita cari sekolah terbaik untuknya."

Keesokan paginya, mereka membawa Ghifari ke sebuah sekolah internasional yang sangat elit di Jakarta. Namun, kekacauan kecil sudah dimulai sejak di ruang pendaftaran.

"Bunda, aku tidak mau masuk TK. Mereka hanya akan menyuruhku menyanyi lagu pelangi dan mewarnai gunung," protes Ghifari sambil melipat tangannya di dada.

Fardan berjongkok di depan putranya. "Kau harus belajar bersosialisasi, Jagoan. Itu penting."

"Aku bisa bersosialisasi di forum pengembang perangkat lunak, Ayah," jawab Ghifari datar.

Setelah melalui serangkaian tes masuk yang mendadak, para guru di sekolah itu dibuat gempar. Ghifari menyelesaikan soal matematika tingkat SMA dalam waktu sepuluh menit, dan ia bahkan mengoreksi kesalahan tata bahasa pada buku teks sejarah yang diberikan kepadanya. Kepala sekolah dan jajaran guru hanya bisa melongo.

"Tuan Fardan, secara kecerdasan, Ghifari harusnya sudah di bangku kuliah. Kami bingung harus menaruhnya di kelas mana," ucap kepala sekolah dengan wajah bingung.

"Taruh saja di kelas satu SD. Dia harus belajar disiplin dan bermain dengan anak kecil," putus Fardan dengan tegas meski Ghifari sudah memutar bola matanya malas.

Akhirnya, dengan wajah pasrah, Ghifari duduk di bangku kelas satu SD yang kursinya terasa terlalu kecil untuk egonya yang besar. Setelah memastikan semuanya aman, Fardan dan Alisha pun pulang untuk mengurus pekerjaan kantor.

Namun, di luar pagar sekolah, sebuah mobil van hitam terparkir. Di dalamnya, Alexander sedang mengamati gerbang melalui teropong. Ia menggunakan identitas palsu sebagai seorang kontraktor asing. Dendamnya sudah di puncak kepala setelah harta pribadinya dibekukan.

"Aku akan mengambil anak itu. Dia adalah kelemahan terbesar Fardan," bisik Alex dengan senyum licik.

Saat jam istirahat tiba, Ghifari sedang duduk sendirian di taman sekolah, bukan karena tidak ada yang mau berteman dengannya, tapi karena ia tidak mengerti mengapa teman-temannya begitu senang mengejar kupu-kupu. Ia justru sedang menatap jam tangannya yang sudah dimodifikasi.

"Tiga, dua, satu. Target bergerak," gumam Ghifari pelan.

Seorang pria dengan topi dan kacamata hitam mendekati Ghifari. Itu adalah Alex. Ia mencoba berpura-pura menjadi staf sekolah.

"Halo, Nak. Ibumu memintaku untuk menjemputmu lebih awal karena ada keperluan mendesak. Ayo ikut denganku," ucap Alex dengan nada yang dibuat semanis mungkin.

Ghifari menoleh, lalu menatap Alex dari bawah ke atas. "Bunda tidak pernah menyuruh orang asing menjemputku tanpa kode rahasia. Dan omong-omong, jam tanganmu masih menggunakan zona waktu Swiss. Kau kurang teliti, Kakek Alex."

Alex tersentak. Bagaimana anak ini bisa tahu identitasnya? Tanpa membuang waktu, Alex mencoba menarik tangan Ghifari secara paksa. Namun, saat tangannya menyentuh bahu Ghifari, sebuah suara dengungan kecil terdengar.

"Aduh! Sialan!" Alex berteriak kesakitan. Tangannya terasa tersetrum listrik bertegangan rendah yang keluar dari jaket yang dipakai Ghifari.

"Itu hanya sepuluh volt, Kakek. Cukup untuk membuat sarafmu kaget," ucap Ghifari tenang sambil berdiri.

Alex yang sudah gelap mata mencoba mengejar Ghifari yang berlari ke arah gudang olahraga yang sedang sepi. Begitu Alex masuk ke dalam gudang, ia tidak melihat Ghifari. Tiba-tiba pintu tertutup otomatis dan terkunci rapat.

"Buka pintunya! Kau pikir ini lucu?" teriak Alex sambil menggedor pintu baja tersebut.

"Selamat datang di kotak penaltiku, Kakek," suara Ghifari terdengar dari pelantang suara yang ada di gudang. "Aku sudah meretas sistem pengunci otomatis gudang ini. Dan oh, aku juga sudah mengaktifkan sistem pemadam kebakaran otomatis."

Seketika, air menyemprot dengan deras dari langit-langit gudang, membasahi Alex hingga kuyup. Tidak hanya itu, sirine tanda bahaya di seluruh sekolah berbunyi dengan sangat nyaring.

"Bantuan akan segera datang, Kakek. Aku juga sudah mengirimkan titik koordinatmu ke ponsel Dewa. Sebaiknya kau berlatih cara menjelaskan pada polisi mengapa seorang buronan internasional ada di gudang sekolah dasar," lanjut Ghifari sambil menyesap kotak susunya di luar gudang.

Tak lama kemudian, mobil keamanan sekolah dan mobil Dewa sampai di lokasi. Dewa langsung menerjang masuk dan meringkus Alex yang sudah menggigil kedinginan di dalam gudang yang banjir.

Saat Fardan dan Alisha sampai di sekolah karena laporan sirine tersebut, mereka melihat Ghifari sedang duduk santai di kantor kepala sekolah sembari makan biskuit.

"Ghifari! Kau tidak apa-apa?" Alisha langsung memeluk putranya dengan cemas.

"Aku baik-baik saja, Bunda. Tadi hanya ada tikus besar yang terjepit di gudang," jawab Ghifari dengan wajah tanpa dosa.

Dewa menghampiri Fardan dan berbisik. "Bos, itu Alexander. Dia mencoba menculik tuan muda, tapi sepertinya dia yang menjadi korban jebakan tuan muda. Dia basah kuyup dan trauma karena sirine yang sangat keras."

Fardan menatap putranya, lalu menatap gudang yang masih dijaga ketat. Ia tidak tahu harus marah karena Ghifari bertindak berbahaya, atau tertawa karena musuhnya dikalahkan oleh anak kelas satu SD.

"Jadi, bagaimana hari pertama sekolahmu, Jagoan?" tanya Fardan sambil mengacak rambut Ghifari.

Ghifari menghela napas panjang. "Membosankan, Ayah. Tapi setidaknya aku bisa melakukan sedikit latihan fisik. Besok, bisakah aku pindah ke kelas yang gurunya lebih pintar dariku?"

Fardan dan Alisha hanya bisa saling pandang. Mereka tahu, hidup mereka tidak akan pernah membosankan selama ada Ghifari di antara mereka. Namun, di balik kemenangan itu, Fardan tersadar bahwa keamanan keluarganya harus benar-benar menjadi prioritas utama sekarang.

"Dewa, bawa pria itu ke kantor polisi paling ketat. Dan pastikan dia tidak akan pernah melihat matahari lagi tanpa jeruji besi," perintah Fardan dengan nada dingin.

1
Amy
coba ganti panggilannya kaka othor, masa suami istri tdak ada romantis2nya
Lali Omah: iy betul ganti donk thorrr sedikit romantis gt biar seneng bacanya
total 1 replies
Lia siti marlia
wel wel wel di tunggu pa alex🤣
Linda Muslimah: Seru lanjut kak 🤭
total 1 replies
Tata Hayuningtyas
jgn kelamaan up nya thor 🤭
Tata Hayuningtyas
cerita nya bagus dan ga bertele2
Amy
Cobalah terbuka alisha, karna seapik apapun kau menyembunyikan masalah, ada anakmu yg super, bisa membaca setiap masalah🤭
Lia siti marlia
untung ada gifari apapun yang di sembunyikan ibunya pasti akan ketahuan olehnya 😄👍
Lia siti marlia
sayng banget yah ayah hrnry sama alisha dan gifari saking sayang nya semua sudah di persiapkan secara matang👍
Lia siti marlia
lucu kamu fardan .....aduh gifari sampai kamar mamjmu di sadapnya nanti kalau mamahmu sama ayahmu lagi bikin adek buat kamu kamu jangan ngintpnya 🤭
Lia siti marlia
semangat fatdan💪
Uba Muhammad Al-varo
karma dibayar lunas dan langsung di terima Maya dan ibunya
Uba Muhammad Al-varo
Fardan........ inilah perjuangan sesungguhnya baru dimulai

perjuangan
Uba Muhammad Al-varo
Fardan ditinggal pergi oleh Alisa dan Ghifari 😭😭😭
Uba Muhammad Al-varo
good 👍👍👌 Fardan kamu tegas jangan kamu mau dikibulin melulu oleh ibu dan kakak mu
Uba Muhammad Al-varo
baru deh melek matanya Fardan setelah selama ini merem karena diselimuti kelicikan ibu dan Sherly
Uba Muhammad Al-varo
good job Ghifari........👍👍👌
Uba Muhammad Al-varo
kemenangan sementara ditangan Ghifari tapi perang ini belum usai /Hey//Hey/
Uba Muhammad Al-varo
pertarungan akan dimulai antara bocah dan CEO dingin 🤔🤔🤔
ceuceu
Anak Maya berapa kok ga ada?
tapi di sebutkan anak anak maya
Uba Muhammad Al-varo
Ghifari.........👍👍👌
Uba Muhammad Al-varo
fardan kata CEO tapi kena ogeb 🤔🤔🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!