NovelToon NovelToon
Tertawan Pesona Ibu Susu Bayaran

Tertawan Pesona Ibu Susu Bayaran

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu susu / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Hernn Khrnsa

Dalam satu waktu, Giana kehilangan dua hal paling berharga dalam hidupnya. Bayi yang ia nantikan sejak lama, dan suami yang memilih pergi saat ia sangat rapuh. Di tengah duka yang belum sembuh, satu-satunya penghiburnya hanyalah suara tangis bayi yang baru lahir.

Namun, takdir justru mempertemukannya dengan Cameron Rutherford, presdir kaya dan dingin yang tengah mencari ibu susu untuk keponakannya yang baru lahir. Sebuah kontrak pun disepakati. Giana mendadak jadi Ibu susu bagi keponakan sang presdir.

Awalnya, semua berjalan seperti biasa. Giana melakukan tugasnya dengan baik. Tetapi kemudian, semuanya berubah saat Cameron merasa terpesona oleh ibu susu keponakannya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Bagi Bianca, pagi itu terasa lebih dingin dan sunyi dibandingkan dengan hari-harinya yang biasa. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela besar bahkan tidak mampu menghangatkan suasana yang perlahan berubah menjadi tegang. Bianca berdiri di ruang kerja sementara yang disiapkan untuknya, wajahnya tampak tenang, tetapi pikirannya bekerja jauh lebih cepat dari yang terlihat.

Informasi yang ia dapatkan beberapa saat lalu masih terngiang di kepalanya bahwa Cayden ternyata bukan anak Cameron, dan bukan pula anak Giana. Fakta itu seharusnya membuatnya lega. Namun yang muncul justru sebaliknya, bayang kecurigaan dan getar kemarahan yang perlahan menguasai pikirannya.

“Tidak ada yang boleh mempermainkan keluargaku, dan siapapun yang mencoba bermain-main dengan keluargaku, aku tak akan pernah membiarkannya begitu saja,” gumamnya seraya mengepalkan tangan, geram.

Bianca menarik napas panjang, lalu tersenyum tipis. Matanya memancarkan kebencian yang tak akan bisa ditebus dengan seribu kata maaf sekalipun. Bahkan, jika Giana berlutut di hadapannya pun, hal itu tidak akan menghapus kecurigaan sekaligus rasa bencinya.

“Wanita itu benar-benar penipu. Berani sekali dia memanfaatkan kebaikan putraku. Berpura-pura menjadi ibu yang malang? Cih! Dia pasti hanya ingin hidup dengan nyaman di rumah ini,” katanya lagi pada dirinya sendiri.

Tatapannya mengeras, tajam, seolah siap untuk menghancurkan siapapun dan kapan saja ia inginkan. Dan tanpa membuang waktu lagi, Bianca melangkah keluar dari ruangan itu dengan langkah cepat dan pasti.

Sementara di dalam kamar, Giana tengah duduk di tepi tempat tidur sambil menggendong Cayden yang baru saja selesai disusui. Wajahnya tampak lebih tenang dibanding malam sebelumnya, meski pikirannya masih dipenuhi berbagai hal yang belum sepenuhnya ia pahami. 

Namun ketenangan itu tidak bertahan lama saat pintu kamarnya tiba-tiba terbuka dengan keras.

Brug!

Giana terkejut dan refleks menoleh. Bianca berdiri di ambang pintu, tatapannya dingin, menusuk, dan penuh kebencian.

“Nyo-Nyonya Besar? A-ada apa?” tanya Giana seraya berdiri perlahan, matanya dipenuhi kebingungan terutama saat melihat kilat kemarahan dalam tatapan Bianca.

Tanpa basa-basi, Bianca melangkah masuk dengan cepat  diikuti dua orang pelayan yang langsung merapikan tas Giana dengan cepat.

“Kau pembohong, penipu. Berani sekali kau memanfaatkan kebaikan putraku,” katanya langsung menuduh.

Giana terperanjat. “Apa? Apa maksud Anda, Nyonya. Aku … aku tidak—”

“Hentikan omong kosongmu itu, Giana. Aku sudah tahu semuanya. Dan aku tidak pernah melihat perempuan yang begitu tidak tahu diri sepertimu,” kata Bianca penuh penekanan.

Giana yang sama sekali tidak tahu apa maksud dari ucapan Bianca itu mengernyit bingung sambil tetap menggendong Cayden dalam buaiannya. 

“Nyonya, sepertinya Anda sudah salah paham,” ucap Giana pelan. “Aku sama sekali tidak pernah memanfaatkan Tuan Cameron. Anak ini … anak ini adalah—”

Plak! 

Belum selesai Giana berbicara, Bianca sudah lebih dulu menampar pipi Giana dengan keras hingga menimbulkan bekas kemerahan di pipinya.

Namun, Giana hanya terdiam. Ia ingin sekali marah, membela diri, tetapi ia juga sadar akan posisinya sekarang ini bukanlah siapa-siapa. Hanya seorang ibu yang air susunya dibayar mahal.

“Kau pikir aku ini bodoh? Aku tahu dia bukan anakmu, kau hanya memanfaatkannya saja, bukan?” Bianca menatap Cayden yang tertidur. Ia tak bisa membohongi dirinya bahwa ia mulai menyukai keberadaan bayi itu, tetapi mengetahui fakta dibaliknya membuat Bianca tak ingin melihatnya lagi.

“Pergi dari rumah ini, sekarang juga. Dan jangan pernah kembali lagi,” katanya tegas dan penuh penekanan.

Giana terhenyak. “Apa maksud Anda, Nyonya? Anda sudah tahu kebenaran Cayden tetapi tetap ingin mengusirnya?” tanyanya terheran-heran. “Apakah Anda sama sekali tidak bisa mengakuinya?”

“Jangankan mengakuinya, melihatnya saja aku tak sudi,” maki Bianca dengan nada lebih dingin. “Sudahlah, jangan mencari alasan lagi. Kemasi semua barangmu dan pergi dari rumah ini sekarang juga.”

Dunia seolah berhenti bagi Giana. Ia menatap wanita di hadapannya, mencoba mencari celah bahwa ini hanyalah kesalahpahaman. Namun yang ia temukan hanyalah ketegasan yang tidak bisa digoyahkan.

“Aku … aku tidak mengerti, Nyonya. Ke-kenapa aku … ” ucapnya dengan suara bergetar.

Bianca tertawa kecil, tanpa sedikit pun rasa simpati. “Tentu saja kau tidak mengerti. Karena kau pikir kebohonganmu akan bertahan lebih lama.”

Giana mengernyit, semakin bingung. “Kebohongan?”

“Anak itu bukan milikmu,” potong Bianca tajam. “Dan juga bukan milik Cameron.”

Kalimat itu menghantam Giana tanpa ampun. Ia terdiam, kehilangan kata-kata. Namun sebelum ia sempat menjelaskan apa pun, Bianca kembali melanjutkan dengan nada yang semakin keras.

“Kau pikir aku tidak akan tahu?” katanya. “Kau datang ke rumah ini, berpura-pura menjadi ibu, memanfaatkan belas kasihan putraku hanya untuk hidup nyaman, bukan?”

Giana menggeleng cepat, panik. “Tidak, Nyonya. Anda salah paham, aku tidak—”

“Cukup!” bentak Bianca.

Suasana langsung menegang. Giana tak tahu lagi harus berkata apa, ia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya.

“Wanita sepertimu tidak pantas berada di rumah ini,” lanjutnya dingin. “Aku tidak peduli apa alasanmu. Kau harus pergi sekarang juga.”

Mata Giana mulai berkaca-kaca. Tangannya tanpa sadar memeluk Cayden lebih erat, seolah bayi itu adalah satu-satunya hal yang bisa ia pertahankan.

“Aku tidak berbohong, Nyonya. Anak ini memang bukan anakku,” bisiknya pelan. “Tetapi dia adalah—”

Namun sekali lagi, ia tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan.

“Aku tidak tertarik mendengarnya,” potong Bianca tegas.

Keputusan itu sudah final. Tidak ada ruang untuk perdebatan.

Di luar kamar, beberapa pelayan mulai berkumpul. Mereka saling berpandangan, tetapi tidak ada satu pun yang berani masuk atau ikut campur. Mereka tahu, tidak ada yang bisa menentang keputusan Nyonya Besar.

Giana berdiri di sana, sendirian menghadapi semuanya. Tanpa pembelaan ataupun dukungan. Perlahan, air matanya jatuh. Namun ia tidak melawan. Ia tidak berteriak. Ia hanya menerima, dengan hati yang perlahan hancur.

Di ujung lorong, seseorang berdiri menyaksikan semuanya. Wanita itu bersandar santai, bibirnya terangkat membentuk senyum yang perlahan semakin lebar. Matanya memancarkan kepuasan yang tidak disembunyikan.

Akhirnya, apa yang ia inginkan terjadi.

Melihat Giana dipaksa pergi, melihat wanita itu tidak bisa melawan, tidak memiliki siapa pun untuk membela, lebih dari cukup untuk membuatnya merasa menang.

Ia tetap berdiri di sana, menikmati setiap detik kejatuhan Giana tanpa rasa bersalah, tanpa sedikit pun empati.

“Sudah kukatakan padamu, aku pasti akan melakukan apa pun agar kau keluar dari rumah ini!” kata Regina dengan senyum puas.

Dua orang pelayan mendorong Giana keluar dari kamar, tanpa pembelaan ataupun kesempatan meski hanya untuk menjelaskan. 

Dengan satu dorongan kuat, Bianca melempar kau tas Giana saat perempuan itu berdiri di luar rumah sambil menggendong Cayden. 

"Pergi jauh dari rumah ini!” katanya tajam lalu berbalik pergi dengan angkuh, seolah tak ingin melihat wajah Giana untuk yang terakhir kalinya.

Regina yang melihat itu, lantas mendatangi Bianca. “Auntie, terima kasih sudah mengusir pelayan rendahan itu. Aku kira … aku kira Auntie sama sekali tidak memikirkan aku,” katanya dengan manja. 

Bianca menoleh dan tersenyum tipis. 

1
awesome moment
thx, kak. sdh mengembalikan giana dan cay ke panti. buat agak lamaan di panti jg g p2. biar regina dan bianca tau smuanya dlu. biar cameron terbuka dlu. biar bianca nyesel dlu..biar...cay gemoy dlu😄😄😄
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Cerita yg sangat seru 👍🏻👍🏻👍🏻
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Harusnya kamu berterima kasih pada Giana 😒
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kamu yg harusnya di usir Regina 😤
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
rasain luuhh.. bela aja teruus calon mantu manjamu ituu
E Putra
bagus ceritanya
mawar hitam
tanda kutipnya ketinggalan nih
mawar hitam
gugup
mawar hitam
gumamnya
mawar hitam
km salah paham ih 🤣
mawar hitam
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
mawar hitam
Make-up artist
mawar hitam
???
mawar hitam
bener2 deh si Rengginang ini 😶
mawar hitam
terpisah kalimatnya 😐
mawar hitam
kurang titik nih
mawar hitam
cakeeep, gini dong ah, tegasss
mawar hitam
dih lebay bgt
awesome moment
giana ditolong ibu panti asuhan. dibawa ke panti. tinggal dan bekerja di panti, krn disana, giana dan cay aman dan hidup layak meski...sebatas rakyat kebanyakan. bukan sbg horang kayah dan...smua tu menyiksa cameron. krn giana pergi bawa cay dan...tdk mintol samsek. kn hp ketinggalan😉😉😉
mawar hitam
hadeuhhh provokator
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!