Yun Zhu hanyalah seorang murid rendahan dari Sekte Qingyun. Tanpa orang tua, tanpa latar belakang yang berarti—ia hanya bisa masuk sekte itu secara kebetulan setelah sebuah bencana menghancurkan hidupnya.
Akar spiritualnya lemah, bakatnya pun nyaris tak terlihat. Di mata orang lain, ia tak lebih dari sampah yang tak layak diperhitungkan. Tatapan meremehkan dan hinaan telah menjadi bagian dari kesehariannya.
Namun takdir mulai berbalik arah ketika Yun Zhu secara tak terduga memperoleh sebuah kekuatan misterius—kekuatan yang perlahan akan mengubah nasibnya… dan mengguncang dunia yang selama ini merendahkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Memilih Senjata Magis
Angin berhembus pelan, menyusuri jalan setapak di antara pepohonan tinggi yang berjajar rapi di sisi kiri dan kanan. Dedaunan bergoyang lembut, saling bersentuhan, menciptakan suara lirih yang menenangkan.
Udara terasa jernih.
Tenang.
Tidak ada denting senjata.
Tidak ada benturan Qi.
Hanya kicauan burung yang sesekali melintas di langit biru, memecah kesunyian dengan nada ringan.
Langkah Tetua Sun dan Yun Zhu terdengar pelan di atas jalan batu. Tidak ada percakapan di antara mereka. Hanya suara langkah dan hembusan angin yang menemani.
Tak lama kemudian, sebuah bangunan besar mulai terlihat di hadapan mereka.
Tinggi.
Megah.
Strukturnya kokoh dengan pilar-pilar batu yang menopang atap besar berlapis genteng gelap. Ukiran halus menghiasi setiap sudutnya, membentuk pola-pola kuno yang memancarkan aura tua namun agung.
Yun Zhu memperlambat langkahnya.
Matanya sedikit melebar.
Di atas pintu utama, sebuah papan besar tergantung kokoh. Tulisan di atasnya terpahat jelas.
Aula Senjata Magis.
Namun bukan hanya itu yang membuatnya tertegun.
Dari dalam bangunan itu, ia bisa merasakan sesuatu.
Kesadarannya yang tajam menangkap benang-benang Qi halus yang menyebar keluar, seperti kabut tipis yang tak terlihat oleh mata biasa. Energi itu saling bersilangan, berlapis, menciptakan tekanan samar yang membuat kulitnya sedikit merinding.
Senjata-senjata di dalamnya...
bukan benda biasa.
Tetua Sun berhenti di depan pintu.
Tanpa banyak gerakan, ia mengangkat tangannya sedikit, lalu menyapukannya ke udara.
Seolah menyentuh sesuatu yang tak terlihat.
Dalam sekejap—
pintu besar itu terbuka.
Tidak dengan suara keras.
Tidak dengan hentakan.
Hanya sebuah gerakan pelan yang halus, seolah didorong oleh angin yang tak kasat mata.
Cahaya redup dari dalam mulai terlihat.
Tetua Sun melangkah lebih dulu, menaiki beberapa anak tangga kecil. Langkahnya tetap tenang, seolah tempat ini sudah sangat biasa baginya.
Yun Zhu mengikuti di belakang.
Begitu melewati ambang pintu—
ia berhenti.
Matanya langsung tertarik ke segala arah.
Ruangan di dalam jauh lebih luas dari yang terlihat dari luar. Langit-langitnya tinggi, disangga oleh pilar-pilar besar yang menjulang. Cahaya masuk dari celah-celah atas, menerangi ruangan dengan sinar lembut yang jatuh miring, menciptakan bayangan panjang di lantai.
Di sekelilingnya—
senjata.
Banyak sekali.
Pedang, tombak, tombak panjang, belati, bahkan senjata-senjata aneh yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Semuanya tersusun rapi di dinding, di rak, bahkan ada yang melayang sedikit di udara, berputar perlahan seperti memiliki kehendak sendiri.
Setiap senjata memancarkan aura berbeda.
Ada yang tajam dan dingin.
Ada yang berat dan menekan.
Ada pula yang terasa liar, seolah menunggu untuk dilepaskan.
Namun semuanya memiliki satu kesamaan.
Kuat.
Sangat kuat.
Yun Zhu bisa merasakan tekanan itu menyentuh kulitnya, bahkan menembus hingga ke dalam kesadarannya.
Namun ia juga menyadari sesuatu.
Di sekitar setiap senjata, ada lapisan energi tipis.
Seperti penghalang tak terlihat.
Larangan.
Formasi pelindung yang menjaga agar tidak ada yang bisa menyentuh atau mengambilnya sembarangan.
Ia melangkah perlahan ke dalam.
Tatapannya bergerak dari satu senjata ke senjata lain.
Lantai bawah saja sudah dipenuhi oleh berbagai senjata magis.
Dan saat ia sedikit mendongak—
lantai atas terlihat tidak kalah padat.
Lebih sunyi.
Namun auranya lebih berat.
Seolah senjata di sana berada pada tingkatan yang lebih tinggi.
Yun Zhu menarik napas pelan.
Matanya memantulkan cahaya dari berbagai senjata di sekitarnya.
Yun Zhu menutup matanya perlahan.
Napasnya ditarik dalam, lalu dilepaskan secara teratur. Kesadarannya menyebar, merambat keluar dari tubuhnya seperti riak halus di permukaan air. Ia tidak terburu-buru. Setiap jejak Qi yang ia rasakan disentuh perlahan, diuji, lalu dilepaskan kembali.
Mencari.
Menimbang.
Menyesuaikan.
Di sampingnya, Tetua Sun berdiri diam.
Namun tatapannya tidak lepas dari Yun Zhu.
Sorot matanya berubah.
Lebih tajam.
Lebih dalam.
Ada sesuatu yang tidak ia sukai.
"Bocah ini... kesadaran ilahi-nya begitu kuat."
Matanya menyipit tipis. Ia memperhatikan aliran Qi di sekitar Yun Zhu yang bergerak lebih halus dari seharusnya. Terlalu stabil. Terlalu terkontrol untuk seseorang dengan latar belakang seperti itu.
"Apa memang dia ini berbakat... selama ini dia hanya pura-pura lemah. Atau... bocah ini membuat kontrak dengan iblis?"
Pikirannya mulai bergerak ke arah yang lebih gelap.
Tangannya sedikit terangkat.
Jari-jarinya menegang.
Seolah hanya perlu satu gerakan kecil untuk menguji, atau bahkan menghancurkan.
Namun—
ia berhenti.
Tatapannya mengendur sedikit.
Tangannya perlahan turun kembali ke samping tubuhnya.
"Lupakan, tidak boleh asal menuduh."
Sementara itu, Yun Zhu membuka matanya.
Tatapannya langsung berubah jernih.
Tanpa ragu, ia melangkah.
Melewati deretan senjata di lantai bawah tanpa berhenti. Kakinya menginjak anak tangga menuju lantai atas, langkahnya ringan namun pasti.
Di lantai atas, suasananya lebih sunyi.
Lebih berat.
Qi di sana terasa lebih dalam, lebih tajam, seolah setiap senjata memiliki kehendak sendiri.
Yun Zhu berhenti.
Di depan sebuah pedang.
Warnanya hijau.
Tidak mencolok.
Tidak memancarkan aura yang menekan.
Namun justru karena itu—
ia terasa berbeda.
Bilahnya halus, dengan ukiran sederhana yang hampir tak terlihat jika tidak diperhatikan. Tidak ada kilau berlebihan, tidak ada tekanan liar. Hanya aliran Qi yang tenang, stabil, seperti air yang mengalir tanpa suara.
Yun Zhu menatapnya beberapa saat.
Tangannya sedikit terangkat.
Hatinya terasa cocok.
"Aku mau itu."
Jarinya menunjuk lurus ke arah pedang tersebut.
Di belakangnya, Tetua Sun hanya mengangguk.
Tanpa banyak bicara, ia mengangkat tangannya lalu menyapukannya ringan ke arah pedang itu.
Lapisan energi di sekitarnya bergetar.
Lalu—
terbuka.
Formasi larangan menghilang dalam sekejap.
Pedang itu terlepas dari tempatnya.
Jatuh.
Namun belum sempat menyentuh lantai—
Qi Yun Zhu bergerak.
Energi hitam yang halus itu melilit pedang, menahannya di udara, lalu perlahan menariknya ke arah tangannya.
Tap.
Gagang pedang itu mendarat di telapak tangannya.
Saat itu juga—
ia merasakan sesuatu.
Aliran energi yang dalam.
Tenang, namun kuat.
Seolah pedang itu hidup.
Dan untuk pertama kalinya—
ia merasa benar-benar memegang kekuatan.
"Karena sudah mendapatkan apa yang kau mau... maka pergilah sekarang," ucap Tetua Sun.
Nada suaranya tidak keras.
Namun jelas.
Tidak ada ruang untuk berlama-lama.
Yun Zhu mengangguk.
Ia menyatukan kedua tangannya, memberi penghormatan singkat.
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik.
Langkahnya kembali tenang saat meninggalkan aula itu.
Pedang di tangannya terasa ringan.
Tidak hanya ringan secara fisik, namun juga terasa selaras. Seolah tidak ada penolakan saat ia menggenggamnya. Aliran Qi di dalam pedang itu bahkan merespon miliknya dengan tenang, tanpa benturan.
Yun Zhu menatapnya sejenak.
Lalu dengan gerakan kecil, ia menyimpannya ke dalam cincin penyimpanan. Kilatan cahaya samar muncul sesaat, lalu pedang itu menghilang dari tangannya.
Tangannya turun perlahan.
Sudut bibirnya terangkat tipis.
Ada kepuasan di sana.
Sesuatu yang selama ini terasa jauh, kini akhirnya berada dalam genggamannya. Senjata magis, sesuatu yang dulu bahkan tidak berani ia bayangkan.
Meski—
cara ia mendapatkannya membuatnya sedikit tidak nyaman.
"Sekte ini memang bagus... tapi jika aku harus berkultivasi seperti itu, maka sekte ini bukan tempat yang cocok," gumamnya pelan.
Langkahnya tetap berlanjut.
Menyusuri jalan setapak yang sama, namun perasaannya berbeda.
Angin kembali berhembus, menyapu rambutnya, membawa aroma dedaunan yang menenangkan. Cahaya matahari menembus sela-sela pepohonan, jatuh di tubuhnya dalam pola-pola bayangan yang bergerak pelan.
Yun Zhu mengangkat wajahnya sedikit.
Menarik napas dalam.
Perlahan menghembuskannya.
Untuk sesaat—
ia mengesampingkan semua keraguan.
Tidak memikirkan masa depan.
Tidak memikirkan pilihan sulit yang menunggunya.
Ia hanya berjalan.
Menikmati hasil yang telah ia capai hari ini.
Ia benar-benar merasa dirinya sedang melangkah maju kali ini.