Dunia runtuh bukan karena virus itu sendiri—melainkan karena vaksin yang dijanjikan sebagai penyelamat. Saat wabah menyebar dan ketakutan menguasai setiap sudut kota, pemerintah memerintahkan seluruh rakyat untuk menerima vaksin demi mencegah penularan. Mereka percaya itu adalah harapan terakhir umat manusia. Namun harapan itu berubah menjadi bencana.
Vaksin yang seharusnya melindungi justru memicu mutasi tak terduga. Tubuh manusia berubah, naluri mereka terdistorsi, dan kemanusiaan perlahan terkikis. Dalam hitungan waktu, peradaban yang dibangun selama ratusan tahun runtuh—bukan oleh penyakit, tetapi oleh “obat” yang diciptakan untuk menghentikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Empat — Lorong Rahasia
Selamat membaca ceritaku yang baru, semoga suka yaa..
Kota mereka sudah tidak aman, tapi dengan luasnya kota Agung tidak bisa membuat mereka secepat itu menuju perbatasan kota. Mereka harus melewati berbagai macam keindahan namun saat ini mungkin sudah berubah menjadi kekacauan.
Arsya ingat jika tadi pagi adiknya izin untuk pergi ke Taman Nasional yang sedang mengadakan sebuah pameran lukis di gedung Akasia. Maka tujuan mereka saat ini adalah Taman Nasional.
Tempat itu mungkin saja sudah menjadi sarang kanihu. Namun tak ada yang tahu bahwa di sanalah masih banyak orang yang selamat—mereka mengumpulkan kemampuan, bersatu, saling melawan, dan saling membantu demi bertahan hidup tanpa ada yang terluka.
Saat ini mereka memilih untuk turun dari atap gedung, mencari jalan keluar dan tidak terlalu bahaya.
“Hati-hati melangkah,” bisik Jay, suaranya begitu dekat hingga napasnya menyentuh telinga Arsya. Gadis itu mengangguk pelan, berusaha menenangkan detak jantungnya yang mulai tak beraturan.
Niki berjalan beberapa langkah di belakang mereka. Tatapannya menyapu sekitar dengan waspada. Ada sesuatu yang terasa janggal—bukan suara, bukan bayangan, melainkan firasat tipis yang merambat di tengkuknya. Namun ia tak mampu menjelaskan apa.
Mereka tetap melangkah, perlahan memasuki gedung.
Atapnya memang kosong, hanya angin yang berdesir pelan di sela beton retak. Tetapi begitu melewati ambang masuk, suasana berubah. Bagian dalam gedung itu porak-poranda—meja dan kursi terbalik, kaca berserakan, dinding tercakar tak beraturan. Udara dipenuhi bau amis samar yang belum sepenuhnya hilang.
Seolah tempat itu baru saja ditinggalkan.
Atau… masih diawasi.
Beruntung, lantai paling atas masih bersih dari tanda-tanda keberadaan Kanihu. Tak ada bau amis yang menyengat, tak ada jejak cakaran di dinding, tak ada bayangan bergerak di sudut ruangan. Hanya debu tipis dan kesunyian yang terasa ganjil.
Namun keadaan di lantai dua dan pertama jauh berbeda.
Pemandangan di bawah sana sungguh menyesakkan. Para karyawan yang dahulu mungkin sibuk dengan pekerjaan mereka kini telah berubah menjadi Kanihu—berdiri dengan gerakan patah-patah, kepala miring tak wajar, mata kosong menatap entah ke mana. Beberapa masih mengenakan seragam kerja yang kotor dan robek, seakan kemanusiaan mereka tertinggal bersama sisa-sisa rutinitas yang tak akan pernah kembali.
Arsya menelan ludahnya pelan. Jay mengepalkan rahang, sementara Niki mengatur napas setenang mungkin.
Mereka terjebak di dalam gedung itu.
Dan kini, di antara sunyi yang menekan serta ancaman yang mengintai di setiap lantai, mereka harus menemukan cara untuk keluar—tanpa menarik perhatian, tanpa membuat kesalahan sekecil apa pun dalam situasi yang begitu menegangkan.
“Kita bersembunyi terlebih dahulu.” bisik Niki tegas, suaranya rendah namun penuh perhitungan.
Tanpa membuang waktu, ia melangkah perlahan mendekati jendela. Tubuhnya merapat ke dinding, berusaha tak menimbulkan suara sekecil apa pun. Dengan hati-hati ia mengintip dari balik sisi kaca yang retak, memeriksa keadaan di dalam ruangan berikutnya.
Cahaya temaram menyusup melalui celah-celah bangunan, memperlihatkan bayangan-bayangan yang tak bergerak—atau mungkin hanya terlihat diam.
Niki menyipitkan mata, mencoba menangkap gerakan sekecil apa pun. Di belakangnya, Jay bersiaga, sementara Arsya menahan napas, merasakan ketegangan menggantung tipis di udara, seolah satu suara saja bisa memecah semuanya.
Namun dari sekian banyak ruangan yang mereka intip, hanya satu yang tampak kosong. Selebihnya… terkunci dari luar.
Beberapa pintu memperlihatkan pemandangan yang membuat Niki mengernyit. Ada sosok-sosok yang sudah berubah menjadi Kanihu, sebagian dengan pakaian yang tidak lagi utuh—seolah sebelum kekacauan terjadi, manusia-manusia itu sedang berada dalam situasi yang tak sempat mereka selesaikan.
Niki mengalihkan pandangannya cepat.
“Di sini kosong…” bisiknya akhirnya.
Tanpa ragu, ia membuka pintu ruangan tersebut perlahan. Engsel Nya berdecit tipis, membuat ketiganya menahan napas. Niki masuk lebih dulu, memeriksa setiap sudut—di balik meja, lemari, bahkan kolong tempat penyimpanan. Ia membongkar seperlunya untuk memastikan tak ada ancaman tersembunyi.
Beberapa detik terasa panjang.
Akhirnya ia mengangguk pelan.
Memberi tanda aman. Jay langsung memberi isyarat pada Arsya. Mereka masuk satu per satu, lalu menutup pintu dengan hati-hati hingga hampir tak terdengar suara.
Namun tepat saat pintu itu tertutup sempurna— di luar ruangan, terdengar langkah. Pelan dan patah-patah. Tidak bersuara, namun cukup terasa melalui getaran halus di lantai. Sosok Kanihu melintas di koridor berjalan lambat. Seolah mengetahui ada sesuatu… yang sedang bersembunyi.
Arsya akhirnya menghembuskan nafasnya pelan, mencoba menenangkan diri. Untuk sementara, ruangan itu terasa aman.
Ruangan yang mereka masuki cukup luas. Lantainya bersih dibanding koridor di luar, dengan meja kerja besar di tengah dan kursi kebesaran yang menghadap jendela kaca lebar ke arah luar gedung. Cahaya redup dari luar masuk melalui tirai setengah tertutup, menciptakan bayangan panjang di dinding.
Tempat itu jelas milik seseorang yang memiliki jabatan tinggi.
Arsya mengedarkan pandangannya perlahan… sampai matanya berhenti pada sesuatu di balik kursi besar itu. Ia menyipitkan mata.
“Tunggu deh… di belakang kursi ada pintu ya?” bisiknya pelan.
Niki dan Jay langsung waspada. Tanpa banyak bicara, keduanya bergerak berdiri sedikit di depan Arsya, membentuk posisi melindungi. Jay mengangkat tangannya memberi isyarat agar tetap tenang, sementara Niki melangkah perlahan mendekati kursi besar tersebut. Dengan hati-hati, kursi itu digeser sedikit.
Dan benar saja.
Di baliknya, tersembunyi sebuah pintu kecil yang hampir menyatu dengan warna dinding—seolah sengaja dibuat agar tak mudah terlihat.
Jay dan Niki saling bertukar pandang. Jika ini ruang atasan… maka pintu itu bisa berarti dua hal. Jalan keluar rahasia atau sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Di luar ruangan, langkah patah-patah tadi kembali terdengar samar di koridor. Dan tentu saja saat ini pilihan ada di tangan mereka.
Jay menarik napas pendek. Keputusan harus diambil sekarang—sebelum langkah patah-patah di luar itu berhenti tepat di depan pintu mereka.
Ia memutar gagang pintu rahasia itu perlahan.
Berderit pelan.
Di baliknya hanya ada kegelapan yang pekat, seperti lorong yang menelan cahaya.
Jay terkesiap sesaat, sementara Niki menggenggam erat tongkat golf yang tadi ia temukan di sudut ruangan. Jemarinya memutih karena tegang.
“Gelap… auranya nggak enak,” gumam Niki lirih.
Jay menoleh pada Arsya. “Kalian ikut aku dari belakang. Jangan bersuara. Hati-hati setiap langkah.”
Arsya mengangguk, menelan ludahnya. Ia mengencangkan tali tas hitam di punggungnya, mencoba menguatkan diri sekaligus memegang tongkat baseball yang ia pegang sebagai senjatanya. Dalam benaknya terlintas wajah adiknya—senyum kecil yang selalu membuatnya ingin pulang lebih cepat.
Lorong itu sempit. Dindingnya dingin dan lembap, berbau debu lama yang terperangkap. Jay melangkah paling depan, satu tangan meraba dinding, satu lagi bersiap jika sesuatu muncul dari kegelapan. Di belakangnya, Arsya berjalan setenang mungkin. Niki menjadi penutup, tongkat golf terangkat siaga.
Terima kasih sudah baca, kita lanjut besok ya jam 10.00 pagi..