Kim Ae Ra hanya ingin hidup tenang setelah kehilangan ayahnya di masa kecil. Demi bertahan, ia bekerja keras hingga akhirnya diterima di Aegis Corp dan menjadi sekretaris CEO muda yang dingin, Hyun Jae Hyuk.
Bagi Ae Ra, pertemuan mereka hanyalah kebetulan. Namun tanpa ia sadari, Jae Hyuk telah mengenalnya jauh sebelum itu—pada sebuah malam hujan yang hampir mengubah hidupnya.
Saat hubungan mereka perlahan mendekat, seseorang dari masa lalu muncul kembali membawa kenangan yang telah lama terlupakan. Di antara rahasia, takdir, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Ae Ra mulai menyadari bahwa beberapa pertemuan bukanlah kebetulan.
Karena terkadang, orang yang berdiri di samping kita saat hujan… adalah rumah yang sejak lama kita cari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Matahari pagi itu bersinar terang, menyinari seluruh sudut ruangan di lantai eksekutif Aegis Corp, namun tidak mampu menghilangkan suasana tegang yang terasa begitu pekat di udara.
Hari ini adalah hari pertemuan dengan Haesung Group. Hari di mana semua rahasia yang baru saja terungkap kemarin sore akan diuji di meja perundingan.
Kim Ae Ra duduk di mejanya, jemarinya bergerak cepat di atas keyboard, menyelesaikan pengecekan terakhir terhadap dokumen-dokumen yang akan digunakan.
Namun, meskipun gerakannya terlihat lancar dan profesional, pikirannya jauh dari tenang. Bayangan wajah Lee Seo Jun—atau lebih tepatnya, Lee Seo Jun si pewaris Haesung Group—terus berputar di kepalanya.
Ia masih belum bisa sepenuhnya mencerna kenyataan itu. Pria yang setiap hari ia temui di toserba, yang selalu menyuguhkan minuman hangat dengan senyum tenang, ternyata adalah orang yang hari ini akan duduk di seberang meja sebagai perwakilan dari perusahaan rival besar.
"Ae Ra," suara lembut itu memecah konsentrasinya.
Ae Ra menoleh dan melihat Hyun Jae Hyuk berdiri di depan pintu ruangannya.
Pria itu mengenakan setelan jas hitam yang rapi, membuatnya terlihat sangat berwibawa dan serius. Namun, di balik tatapan tajamnya yang khas, ada kilatan perhatian dan kekhawatiran yang ditujukan khusus pada Ae Ra.
"Sudah siap semua?" tanya Jae Hyuk pelan, melangkah mendekat ke meja Ae Ra.
Ae Ra mengangguk, mencoba menyembunyikan kegugupannya di balik senyum profesionalnya. "Sudah, Tuan. Semua dokumen sudah tersusun dan sudah disalin ke dalam tablet juga."
Jae Hyuk mengangguk pelan, lalu diam sejenak, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.
Akhirnya, ia berkata dengan nada yang lebih lembut,
"Dengar, Ae Ra. Aku tahu hari ini akan berat buatmu. Terutama setelah apa yang kita bahas kemarin sore. Tapi ingat, kau hanya perlu melakukan tugasmu seperti biasa. Jangan biarkan perasaan pribadimu mengganggu fokusmu, tapi juga jangan terlalu memaksakan diri. Jika ada apa-apa, atau jika kau merasa tidak nyaman, langsung bilang padaku. Mengerti?"
Kata-kata itu membuat hati Ae Ra terasa hangat, sedikit meredakan ketegangan yang ia rasakan.
"Mengerti, Tuan. Terima kasih."
"Baik. Ayo kita berangkat. Tim lain sudah menunggu di tempat pertemuan."
Perjalanan menuju hotel bintang lima di mana pertemuan akan diadakan terasa begitu panjang bagi Ae Ra.
Di dalam mobil mewah yang melaju mulus, ia hanya diam menatap ke luar jendela, melihat pemandangan kota Seoul yang lewat begitu saja.
Jae Hyuk di sampingnya juga tampak sibuk dengan pikirannya sendiri, sesekali memeriksa ponselnya atau melihat catatan di tabletnya.
Suasana di dalam mobil hening, namun bukan keheningan yang canggung, melainkan keheningan yang penuh dengan persiapan mental.
Sesampainya di lantai VIP hotel itu, suasana sudah terasa sangat formal dan kaku.
Beberapa eksekutif dari Aegis Corp sudah berkumpul di ruang tunggu, berbicara dengan nada rendah sambil mempersiapkan diri.
Ae Ra mengikuti Jae Hyuk masuk, berusaha menjaga postur tubuhnya tetap tegak dan percaya diri.
"Tuan Hyun," sapa salah satu manajer senior Aegis, mendekat untuk menyambut Jae Hyuk. "Semua sudah siap. Ruang pertemuan sudah disiapkan sesuai permintaan."
"Bagus. Bagaimana dengan pihak Haesung? Apakah mereka sudah datang?" tanya Jae Hyuk dengan nada tegas.
"Belum, Tuan. Mereka dijadwalkan datang lima belas menit lagi."
Jae Hyuk mengangguk singkat, lalu menoleh ke arah Ae Ra.
"Tunggu di sini sebentar, atau kau bisa masuk ke ruang pertemuan dan memastikan semuanya sudah siap di sisi kita."
"Saya akan masuk ke ruang pertemuan dulu, Tuan. Memastikan semuanya beres," jawab Ae Ra.
"Baik."
Ae Ra berjalan menuju pintu ruang pertemuan besar yang terletak di ujung koridor.
Jantungnya berdebar kencang di dalam dadanya. Ia tahu, begitu ia melangkah masuk ke dalam ruangan itu, dan nanti saat pintu itu terbuka lagi untuk menyambut pihak Haesung, ia akan menghadapi kenyataan yang selama ini hanya ia bayangkan.
Ia akan melihat Seo Jun dalam sosok yang berbeda—bukan lagi sebagai pekerja toserba yang santai, melainkan sebagai pewaris perusahaan besar yang duduk di kursi lawan.
Ia mendorong pintu ruang pertemuan itu perlahan dan masuk.
Ruangan itu luas dan mewah, dengan meja panjang berbentuk huruf U di tengahnya, dan kursi-kursi kulit yang empuk berjejer rapi.
Ae Ra berjalan ke sisi yang ditentukan untuk tim Aegis, lalu mulai memeriksa tata letak dokumen, botol air mineral, dan peralatan presentasi. Semuanya sudah sempurna, tapi ia tetap memeriksanya sekali lagi hanya untuk memastikan.
Saat ia sedang sibuk memeriksa koneksi proyektor, suara pintu terbuka terdengar dari belakangnya.
"Permisi."
Suara itu. Suara yang begitu familiar, yang setiap hari ia dengar di toserba, namun hari ini terdengar berbeda.
Lebih tegas, lebih formal, dan membawa aura yang berbeda sama sekali.
Ae Ra membeku sejenak di tempatnya. Jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat sebelum akhirnya berpacu jauh lebih cepat dari sebelumnya.
Ia perlahan menoleh, berharap dugaannya salah, meskipun ia tahu itu tidak mungkin.
Dan benar saja. Di ambang pintu, berdiri sosok yang sangat ia kenal. Lee Seo Jun.
Namun, penampilan Seo Jun hari ini benar-benar berbeda. Ia tidak lagi mengenakan kemeja polos sederhana dan celemek toserba.
Hari ini, ia mengenakan setelan jas berwarna abu-abu gelap yang disesuaikan dengan sempurna di tubuhnya, kemeja putih bersih di dalamnya, dan dasi yang diikat rapi.
Rambutnya yang biasanya agak berantakan kini disisir rapi ke belakang, memperlihatkan dahinya yang lebar dan matanya yang tajam.
Ia tidak sendirian; di belakangnya ada beberapa pria yang tampak seperti asisten atau pengawal, yang mengikutinya dengan sikap hormat.
Itu adalah Lee Seo Jun yang asli. Lee Seo Jun, pewaris Haesung Group.
Mata mereka bertemu.
Di ruangan yang luas dan hening itu, waktu seakan berhenti berputar untuk sejenak. Ae Ra bisa melihat kilatan emosi yang cepat melintas di mata Seo Jun—keterkejutan, rasa bersalah, dan sesuatu yang lain yang sulit ia artikan, mungkin rasa sedih atau rindu.
Seo Jun juga tampak tidak menyangka akan melihat Ae Ra di sana, di ruang pertemuan ini, sebagai bagian dari tim lawan.
"Ae Ra…" bisik Seo Jun pelan, suaranya terdengar ragu, seolah ia tidak yakin apakah boleh memanggil nama gadis itu di situasi formal ini.
Ae Ra menelan ludah, berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk bersuara. Ia harus profesional.
Ini adalah tempat kerja, ini adalah urusan bisnis. Ia tidak boleh membiarkan perasaan pribadinya mengambil alih sekarang.
"Selamat pagi, Tuan Lee," ucap Ae Ra akhirnya, dengan suara yang ia usahakan tetap tenang dan formal, meskipun ada sedikit getaran yang tak bisa ia sembunyikan sepenuhnya.
Ia bahkan tidak menyadari bahwa ia menggunakan sapaan resmi "Tuan Lee" untuk pria yang biasanya ia panggil "Seo Jun" dengan santai.
Wajah Seo Jun tampak sedikit menegang mendengar sapaan itu, namun ia segera menguasai dirinya kembali.
Ia mengangguk pelan, senyum tipis yang biasanya ia berikan kini terlihat lebih kaku dan formal.
"Selamat pagi."
Saat itu juga, pintu ruangan terbuka lagi, dan Hyun Jae Hyuk masuk diikuti oleh para eksekutif Aegis lainnya.
Suasana di ruangan itu seketika berubah menjadi lebih tegang dan resmi. Jae Hyuk berhenti sejenak saat melihat kehadiran Seo Jun dan rombongannya, lalu berjalan mendekat dengan langkah tegap.
"Tuan Lee," sapa Jae Hyuk, mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
Tatapan kedua pria itu bertemu, penuh dengan ketegangan yang tak terucapkan—dua pewaris perusahaan besar, dua pria yang memiliki hubungan khusus dengan Ae Ra, kini berhadapan secara resmi sebagai wakil dari dua perusahaan rival.
"Tuan Hyun," balas Seo Jun, menerima uluran tangan Jae Hyuk dengan jabatan yang kuat dan tegas. "Maaf jika kami datang sedikit lebih awal dari jadwal."
"Tidak masalah. Justru lebih baik kita bisa memulai lebih cepat jika semuanya sudah siap," jawab Jae Hyuk dengan nada dingin namun sopan.
Ae Ra berdiri di samping meja, memperhatikan interaksi di depannya dengan perasaan yang campur aduk.
Ia melihat Jae Hyuk yang tampak begitu tegas dan berwibawa, dan ia melihat Seo Jun yang kini tampak begitu berbeda, begitu jauh dari sosok yang ia kenal di toserba. Ia merasa seolah-olah sedang berdiri di tengah-tengah dunia yang asing, di mana orang-orang yang ia kenal ternyata memiliki sisi lain yang besar dan rumit.
"Silakan duduk," ajak Jae Hyuk, menunjuk ke arah meja pertemuan.
Mereka semua pun mengambil tempat duduk masing-masing.
Ae Ra duduk di sisi Jae Hyuk, sedikit di belakang, siap untuk mencatat dan membantu jika diperlukan.
Di seberang meja, Seo Jun duduk di posisi utama bagi pihak Haesung.
Setiap kali Ae Ra tidak sengaja melirik ke arahnya, ia selalu mendapati Seo Jun sedang menatapnya, namun dengan cepat pria itu akan membuang muka saat sadar tertangkap basah.
Pertemuan pun dimulai.
Seorang moderator membuka acara dengan kata-kata pembuka yang formal, namun telinga Ae Ra seakan tidak menangkap apa-apa. Pikirannya masih kacau. Ia mendengarkan pembicaraan tentang angka-angka, strategi pasar, dan rencana kerja sama, namun fokusnya terus terganggu oleh kehadiran Seo Jun di depannya.
Ia terus bertanya-tanya dalam hati: apa sebenarnya tujuan Seo Jun ada di sini? Apakah ini murni urusan bisnis, atau ada alasan lain yang berkaitan dengan dirinya? Dan bagaimana ia harus bersikap pada Seo Jun mulai sekarang?
Namun, saat Jae Hyuk mulai berbicara, menyampaikan visi dan posisi Aegis Corp dengan suara yang tenang namun meyakinkan, Ae Ra perlahan mulai menarik napas panjang dan mencoba fokus kembali.
Ia tahu, ia tidak bisa membiarkan dirinya hanyut dalam keragu-raguan sekarang. Ia harus kuat. Ia harus membuktikan bahwa ia layak berada di sini, terlepas dari segala drama pribadi yang sedang terjadi di sekitarnya.
Pertemuan besar ini baru saja dimulai, dan Ae Ra sadar, ini bukan hanya awal dari negosiasi bisnis yang panjang dan rumit, tapi juga awal dari babak baru dalam hidupnya—babak di mana ia harus berhadapan langsung dengan kenyataan, dengan rahasia-rahasia yang belum terungkap.
Dan dengan dua pria yang kini memiliki peran yang sangat berbeda dalam hidupnya dari yang pernah ia bayangkan.