Celina Andreas dijuluki sebagai bawang merah begitu tergila-gila dengan seorang pria sehingga berbagai cara ia lakukan buat menaklukkan hati sang pria incarannya. Meskipun pria itu mencintai adik tirinya.
Berhasilkah Celina menjadi istrinya atau cintanya hanya bertepuk sebelah tangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 11
Celina kembali ke tanah air setelah melakukan perjalanan ke luar negeri selama 2 pekan. Dia dijemput oleh suaminya. Azka terpaksa melakukannya karena permintaan kedua orang tuanya.
Celina memeluk suaminya dan tersenyum, "Aku akhirnya kembali, aku rindu sekali denganmu!"
"Ya, aku juga!" Azka membalasnya dengan ketus.
"Aku membeli oleh-oleh buatmu, semoga kamu suka!" kata Celina.
"Terima kasih!" lagi-lagi Azka ketus.
"Ayo pulang, aku sudah rindu dengan rumah dan ranjang kita!" celetuk Celina.
"Sejak kapan kita satu ranjang?" tegur Azka.
"Aku lupa kalau kita tidurnya berpisah!" Celina tersenyum nyengir.
"Bawa kopernya, aku mau balik ke kantor lagi!" Azka melangkah lebih dulu dan membiarkan Celina mendorong troli berisi kopernya. Azka memang menjemput istrinya masih di waktu jam kerja.
Mobil yang akan membawa keduanya ke rumah kini berada dihadapan mereka. Azka terlebih dulu masuk ke mobil. Sedangkan Celina masih sibuk memasukkan kopernya ke bagasi, dia pun dibantu sang sopir.
Kendaraan yang mengangkut mereka sampai di tujuan, sopir lalu menurunkan koper milik Celina. Tanpa permisi, Azka yang tak turun segera meminta sopir mengantarkannya kembali ke kantor.
Sopir yang sedang menyetir melihat ke arah spion dan berkata, "Maaf, jika saya lancang Tuan. Ada yang ingin saya sampaikan!"
Azka lalu menoleh ke arah sopir yang ada di depannya. "Ya, ada apa?"
"Tuan, saya sudah hampir lima tahun bekerja di keluarga orang tua anda. Apa Tuan sebenarnya tidak menyukai Nona Celina?"
Azka terdiam, ia tak segera menjawab.
"Maafkan saya, Tuan. Saya hanya kasihan dengan Nona Celina, dia masih muda dan cantik. Mungkin banyak lelaki di luar sana yang sangat begitu tertarik padanya. Kasihan kalau di sia-siakan!"
"Kau tidak perlu ikut campur urusan hatiku dan rumah tanggaku, fokus saja dengan pekerjaanmu!" singgung Azka datar, ia tak suka orang lain mengurusi masalah pribadinya.
"Saya tidak sengaja pernah melihat Nona Celina bersama seorang pria. Itupun sebelum Tuan menikah dengannya. Sepertinya pria itu menyukai Nona Celina. Dia memberikan bunga dan boneka besar!"
"Di mana kamu melihatnya?" Azka penasaran.
"Di kafe Melodi, Tuan. Kebetulan mereka duduk di bagian luar sehingga saya yang sedang melintas melihatnya!"
"Apa kau yakin itu istriku?" tanya Azka.
"Saya ada bukti fotonya," jawab sang sopir.
"Coba saya lihat!" Azka semakin penasaran.
Sopir mengurangi kecepatan kendaraannya dan menepi dipinggir jalan, ia lalu mengeluarkan ponsel dari saku kantong kemejanya, membuka benda pipih itu, membalikkan setengah badannya dan menyodorkan ponselnya.
Azka meraihnya dan melihat foto tersebut, terukir senyuman seringai di wajahnya. "Kirimkan foto ini ke nomorku!" sembari mengembalikan ponsel sopirnya.
"Baik, Tuan!" si sopir segera mengirimkan foto itu.
Azka membuka ponselnya, dia terlihat begitu senang. "Kau kena sekarang!" batinnya.
-
Malam harinya, Azka pulang lebih cepat 1 jam dari biasanya, ia lalu bergegas ke kamarnya dan membersihkan diri. Azka memang tak pernah makan bersama dengan istrinya sejak menikah.
Setelah dirinya segar dan bersih, Azka menemui istrinya yang berada di lantai bawah. Tampak Celina sedang menatap layar laptop yang dipangkunya.
"Apa kau sebenarnya sudah punya kekasih?" tebak Azka.
Celina mendongakkan wajahnya dan menoleh ke samping. "Coba ulangi pertanyaanmu?"
"Tidak usah berbasa-basi, kau sebenarnya punya kekasih 'kan? Kenapa tidak menikahinya saja? Mengapa aku yang menjadi korban keegoisanmu itu?" Azka memberikan rentetan pertanyaan yang membuat Celina mengernyitkan dahinya.
"Apa tujuanmu ingin aku menikahimu?" tanya Azka yang berpindah posisi, ia duduk dihadapan istrinya.
"Aku cuma mau menyelamatkanmu dari orang-orang yang ingin menjatuhkanmu!" jawab Celina.
Azka tertawa mendengar jawaban istrinya.
"Aku serius, Azka. Wanita yang selama ini kau anggap baik sebenarnya memiliki niatan lain!" kata Celina mencoba menjelaskan.
"Maksud kau Elma?" tebak Azka.
"Ya, siapa lagi? Wanita licik yang selalu memakai topeng kebaikan buat menjerat korbannya."
Azka berdiri dan berkata lantang, "Aku tidak percaya Elma seperti itu!"
"Kau memang melihatku seperti orang yang jahat, padahal dia dan ibunya yang licik!" Celina meletakkan laptopnya dan ia juga beranjak dari tempat duduknya.
"Cukup, Celin!!" sentak Azka. "Jangan pernah menjelekkan Elma!" ia memberikan peringatan.
"Kau memang putri kandung dan dia cuma anak sambung, lalu dia bisa kau injak-injak!!" Azka terlihat marah dan tersinggung karena istrinya menuduh Elma sebagai seorang wanita yang jahat.
"Aku membicarakan fakta, Azka!" nada suara Celina juga tak kalah tinggi.
"Aku tetap tidak percaya dan kau memang seorang pembohong!" tuding Azka menunjuk ke wajah istrinya.
"Aku pembohong?" Celina tertawa getir.
"Ya, kau memang sengaja ingin menyiksaku secara perlahan. Kau punya kekasih dan kau memiliki tujuan buat menyelamatkan dirimu sendiri!" lagi-lagi Azka menuduh.
"Aku tidak punya kekasih, jikapun aku memang memiliki kekasih tak mungkin aku meninggalkannya demi pria yang tak pernah mencintaiku!" Celina menjelaskan dengan suara tinggi.
"Lalu ini apa?" Azka mengarahkan ponselnya ke arah wajah istrinya, lalu menunjuk sebuah foto.
Celina tertawa tanpa suara melihat foto itu.
"Dia kekasihmu, 'kan?" tanya Azka.
"Dia temanku," jawab Celina.
"Kenapa Elma tidak mengenalnya?" tanya Azka lagi.
"Apa dia harus tahu siapa saja temanku?" Celina balik bertanya. "Sepertinya dia tak perlu mengetahuinya!"
"Berarti ini memang bukan temanmu!" kata Azka.
"Terserah kau mau menilainya!" Celina mengambil laptopnya dan melangkah ke kamar.
Azka tak suka ditinggal begitu saja menyusul istrinya, ia menerobos masuk sebelum pintu tertutup.
"Kenapa kau di sini? Apa yang mau lakukan?" Celina mundur satu langkah, ia tampak ketakutan karena suaminya muncul di kamarnya.
Azka merampas laptop istrinya dan melemparkannya ke atas ranjang. Ia lalu mencengkram kedua lengan Celina dengan kuat. "Kenapa kau menyiksaku? Apa salahku, hah?"
"Azka, sakit!!" Celina meringis.
"Sakit ditubuhmu itu tak sesakit hatiku, Celin. Kau menghancurkan aku!!" Azka berbicara lantang didepan wajah istrinya.
"Aku minta maaf, aku melakukannya demi kebaikanmu!" Celina berkata dengan menahan rasa sakit.
Azka mendorong tubuh Celina hingga wanita itu tersungkur di lantai. "Kau penipu!!"
"Azka, percaya padaku. Elma dan ibunya menginginkan perusahaanmu!!" kata Celina lantang.
Azka yang tak tahan melayangkan tamparan keras ke wajah istrinya. "Jangan pernah memfitnah Elma dan ibunya!!"
Celina memegang pipinya yang memerah, bukannya menangis dan marah ia malah tertawa getir menahan rasa perih.
"Jangan meledekku seperti itu!!" Azka mendekati Celina dan jongkok lalu menarik rambut istrinya.
"Suatu hari kau akan menyesal melakukan ini kepadaku!" Celina tersenyum menatap suaminya.
Azka melepaskan genggamannya dengan kasar. "Aku membencimu, Celina. Sampai kapanpun aku tetap membencimu!" perlahan ia bangkit.
"Silahkan membenciku!" Celina menampilkan senyuman meskipun ujung bibirnya berdarah.
Azka yang tak tahan lagi dengan sikap istrinya memilih pergi, ia tak mau bertindak lebih parah lagi.
Setelah suaminya berlalu, Celina menundukkan wajahnya dan menangis. "Aku tidak pernah membencinya, Ma. Aku rela begini, asal dia selamat. Demi janjimu kepada mereka!"