NovelToon NovelToon
A Feeling Rising In Chaos

A Feeling Rising In Chaos

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Misteri / Hari Kiamat / Fantasi / Romansa / Action
Popularitas:49
Nilai: 5
Nama Author: Aurora Veganadia

Dunia runtuh bukan karena virus itu sendiri—melainkan karena vaksin yang dijanjikan sebagai penyelamat. Saat wabah menyebar dan ketakutan menguasai setiap sudut kota, pemerintah memerintahkan seluruh rakyat untuk menerima vaksin demi mencegah penularan. Mereka percaya itu adalah harapan terakhir umat manusia. Namun harapan itu berubah menjadi bencana.

Vaksin yang seharusnya melindungi justru memicu mutasi tak terduga. Tubuh manusia berubah, naluri mereka terdistorsi, dan kemanusiaan perlahan terkikis. Dalam hitungan waktu, peradaban yang dibangun selama ratusan tahun runtuh—bukan oleh penyakit, tetapi oleh “obat” yang diciptakan untuk menghentikannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Dua Puluh Enam — Menyusup ke Kota Abadi

Selamat membaca semoga suka sama ceritaku yaa

Udara sore terasa lebih berat dari biasanya.

Arsya sudah berdiri dengan ransel yang lebih ringan dari sebelumnya, hanya beiris air, perban, pisau kecil, dan sedikit makanan kering. Tongkat baseball tetap di tangannya. Jay memeriksa ulang jalur di peta kecil yang sudah ia lipat. Niki mengencangkan tali sepatu dan memastikan pisaunya terpasang di pinggang.

Vano berdiri lebih tenang dari biasanya, tapi matanya tajam.

Di sisi lain, Lyno melangkah mendekati kakak nya, Arsya.

“Kak..” suaranya pelan, hampir tertelan angin. “Kau yakin? Tidak mau tukar saja? Aku yang ikut.”

Arsya langsung menggeleng, “kamu diam disini,” nada suaranya lembut, tapi tidak bisa ditawar. “Aku pasti akan kembali.”

Ia mengangkat tangannya, mengelus pipi halus Lyno, gerakan kecil yang sudah ia lakukan sejak mereka masih jauh lebih kecil dan dunia belum sekejam ini.

Lyno menahan nafas. “Kak..” Arsya mendekat sedikit, berbisik pelan agar yang lain tidak mendengar.

“Kakak ingin melihat mereka.” tatapannya berubah. Tajam. Bukan hanya karena vaksin atau karena eksperimen, melainkan karena luka lama.

Karena masa kecil yang dipenuhi hinaan.

Karena keluarga angkat yang menjadikan mereka beban.

Karena dunia yang selalu menempatkan mereka di sisi yang salah.

“Kakak ingin melihat wajah orang-orang yang menyakiti kita.. Dan memastikan mereka tidak menyakiti orang lain lagi.” Lyno terdiam. Ia tahu tatapan itu, tatapan saat Arsya sudah memutuskan sesuatu di dalam hatinya.

Dulu, Arsya selalu berdiri di depannya saat mereka di rundung. Kini, ia kembali berdiri di depan. Namun kali ini musuhnya lebih besar.

“Arsya,” panggil Jay pelan. “Waktunya.” Arsya mengangguk, ia menatap Lyno sekali lagi, kali ini lebih lembut. “Aku akan segera pulang, jaga mereka. Itu tugasmu sekarang.” kalimat itu membuat bahu lyno sedikit menegang.

Beban tanggung jawab. Namun juga kepercayaan. Lyno mengangguk mantap, “kakak juga hati-hati.” Arsya tersenyum tipis, lalu ia berbalik.

Jay memimpin langkah turun dari perbukitan melalui jalur tersembunyi yang sudah mereka tandai. Niki mengikuti, lalu Vano, dan Arsya terakhir sebelum benar-benar menghilang dari pandangan kelompok.

Angin sore berhembus pelan.

Lyno berdiri cukup lama, menatap punggung kakaknya yang semakin kecil di antara pepohonan. Regan mendekat dan menepuk bahunya. “Dia kuat.” Lyno menelan ludah. “Aku tahu.”

Namun kali ini, Arsya tidak hanya pergi untuk bertahan hidup, ia pergi dengan tujuan yang jelas, yaitu Kota Abadi.

Belum tahu bahwa seseorang yang pernah diremehkan, pernah dirundung, pernah dianggap tidak berarti sedang berjalan menuju pusatnya. Bukan sebagai korban. Melainkan sebagai badai yang perlahan terbentuk.

🍂

Langkah mereka melambat saat bayangan gedung itu mulai terlihat jelas di antara pepohonan perbatasan.

Kota Abadi.

Dari kejauhan terlihat tertata, bersih dan terorganisir. Namun jika dilihat dari dekat, terlalu sunyi. Jay memberi isyarat tangan. Mereka berbelok ke jalur pintas belakang, melewati semak lebat dan akar pohon besar yang menjalar seperti ular. Tanah di sini lebih keras, bercampur kerikil dan beton retak, tanda pembangunan pernah diperluas sampai ke area ini.

“Naik,” bisik Jay pelan.

Tanpa suara, mereka memanjat pohon besar yang berdiri tepat menghadap halaman belakang gedung terbesar di kompleks itu.

Arsya naik lebih dulu setelah Jay, tubuhnya ringan dan terbiasa. Niki menyusul dengan gerakan cepat dan efisien. Vano terakhir, memastikan tidak ada jejak tertinggal di bawah. Mereka duduk di dahan paling atas yang cukup kokoh. Menyatu dengan dedaunan, menjadi bagian dari pohon.

Dari ketinggian itu, halaman gedung terlihat jelas, luas. Terlalu luas untuk sekedar pusat evakuasi.

Truk militer terparkir berjajar rapi. Beberapa petugas berseragam putih berjalan membawa tablet data. Di sisi kanan, terlihat pintu logam besar yang dijaga dua tentara bersenjata. “Bukan tempat pengungsian.” gumam Niki sangat pelan.

Jay mengangguk pelan.

Di tengah halaman, garis-garis putih membentuk jalur antrian. Beberapa kelompok warga berdiri dengan jarak teratur, diawasi ketat. Tidak ada keributan, tidak ada protes. Terlalu tertib. “Lihat mata mereka,” bisik Arsya.

Jay memperhatikan lebih seksama.

Kosong.

Beberapa orang berdiri terlalu tegak. Gerakan mereka serempak saat diperintah maju, seperti telah disinkronkan. Vano menelan ludah. “Yang sudah divaksin.”

Di sisi lain halaman, satu rombongan baru diturunkan dari truk. Ada yang menangis, ada yang melawan, dan ada yang langsung dipisahkan ke jalur berbeda. Jay menyipitkan mata, “penyaringan.”

Arsya merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Gedung itu bukan hanya luas. Ia seperti jantung dari seluruh sistem.

Dindingnya tinggi, jendelanya sempit, sebagian tertutup kaca gelap reflektif. Di atap, terlihat antena dan mungkin kamera pengawas yang berputar perlahan. Niki berbisik, “kita butuh akses dalam. Dari atas kita cuma dapat pola luar.”  Jay mengangguk pelan.

Tatapannya berhenti pada satu pintu kecil di sisi barat gedung, tidak dijaga namun dekat dengan jalur logistik. “Shift malam,” gumamnya. “Kita masuk saat pergantian.” Arsya tetap menatap halaman itu. Di antara kerumunan warga, ia seperti melihat bayangan masa lalu.

Orang-orang yang percaya.

Orang-orang yang berharap.

Lalu dikhianati.

Angin menggerakan dedaunan, menyamarkan keberadaan mereka. Di bawah sana, mesin kendaraan menyala. Pintu logam besar terbuka sebentar, dan dari celah itu terdengar gema berat. Langkah besar. Tidak stabil.

Arsya langsung menegang, Jay juga mendengarnya. Suara itu tentu bukan berasal dari halaman, melainkan dari dalam, sesuatu yang besar. Disimpan dan dipelihara. Jay menoleh ke mereka bertiga. “Kita bukan cuma masuk ke dalam gedung,” bisiknya.

“Tapi kita masuk ke dalam sarang, sarang yang berbahaya.”

Mereka sadar, pertama kali sejak mendekati Kota Abadi. Apapun yang terjadi di dalam sana, mungkin lebih buruk daripada yang mereka bayangkan.

🍂

Malam turun perlahan, menyelimuti Kota Abadi dengan cahaya lampu putih yang terlalu terang untuk disebut alami. Dari atas pohon, mereka masih diam.

Tak bergerak dan tak bersuara.

Lampu sorot di sudut gedung menyapu halaman secara berkala. Setiap tiga puluh detik, sinar itu berputar melewati jalur yang sama. Jay sudah menghitung polanya. “Dua penjaga di pintu barat,” bisiknya hampir tak terdengar. ”Pergantian tiap satu jam. Lima menit celah saat serah terima.”

Niki melirik.

“Oke, mari kita bersiap.”

Suara Vano rendah, tapi tegas.

Di bawah cahaya bulan yang terpotong dedaunan, mereka berempat menyusun posisi dengan cepat, tanpa banyak kata. Semua sudah paham perannya.

Formasi berubah.

Vano di depan.

Niki tepat di belakangnya.

Arsya di depan Jay.

Jay di baris paling belakang untuk mengawasi, menghitung, memastikan tidak ada variabel yang terlewat.

Lampu sorot berputar.

Satu… dua…. Tiga…

Saat cahaya bergerak ke sisi timur dan dua penjaga mulai berganti posisi untuk serah terima, Vano turun lebih dulu. Gerakannya cepat dan bersih. Ia meluncur dari bayangan ke bayangan.

Niki menyusul, memotong jalur mundur. Arsya dan Jay menutup sisi lain. Satu penjaga baru sempat menoleh—terlambat.

Tangan Vano membekap mulutnya, siku menghantam leher bagian bawa. Tubuh itu langsung melemah.

Di sisi lain, Niki menarik penjaga kedua ke balik dinding beton, Arsya menahan tubuhnya sementara Jay melucuti senjatanya dengan presisi cepat. Tidak ada suara teriakan maupun tembakan.

Hanya suara nafas tertahan dan gesekan sepatu di tanah. Dalam hitungan detik dua tubuh sudah terbaring diam. Arsya memeriksa denyut nadi.

“Aman.”

Jay mengangguk. Mereka menyeret tubuh penjaga ke balik semak tebal di sisi barat, menggali tanah secukupnya menggunakan pisau dan besi pendek dari gerbang. Tidak dalam, tapi cukup tersembunyi. Niki menatap wajah salah satu penjaga sejenak. “Orang biasa,” gumamnya.

“Orang biasa yang memilih berdiri di sisi yang salah,” balas Varo pelan.

Setelah tertutup tanah, mereka merapikan permukaan dengan dedaunan dan batu kecil. Jay memeriksa senjata yang mereka ambil, ada dua pistol militer serta satu alat komunikasi kecil.

Alat komunikasi itu langsung ia matikan dan lepaskan baterainya. “Jangan aktifkan apapun kecuali darurat,” katanya.

Pintu logam itu dingin, memantulkan bayangan mereka samar. Dari baliknya terdengar suara langkah dan dengungan mesin. Jantung Arsya berdetak lebih cepat. Ini bukan lagi pengintaian, ini infiltrasi.

Vano memberi isyarat tangan, “tiga menit sebelum patroli berikutnya sadar ada yang aneh.” Jay mengangguk, “Masuk, cepat dan tenang. Kita cari jalur data atau ruang kontrol dulu.”

Arsya menggenggam tongkatnya lebih erat. Niki menarik nafas panjang sekali.

Lalu, pintu barat itu didorong perlahan. Mereka melangkah masuk ke dalam gedung paling luas di Kota Abadi, dan saat pintu tertutup kembali di belakang mereka, dunia di luar terasa jauh.

Di dalam, udara lebih dingin, lebih berat, dan bau antiseptik bercampur sesuatu yang lain. Sesuatu yang samar, seperti besi. Dan darah yang baru saja dibersihkan.

Terima kasih sudah membaca jangan lupa like dan votenya yaa, kita lanjut besok lagi..

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!