Sage Iskandar atau lebih sering dipanggil Ge, merupakan murid badung di sekolah. Sejak kecil dia memang dirawat oleh pasangan rentenir. Orang sering menganggapnya preman, karena memang kebanyakan orang terdekatnya adalah preman.
Sampai suatu hari, seorang pria asing mendatangi Ge dan mengatakan sesuatu yang selama ini dirahasiakan darinya. Apakah itu?
"Kamu tuh ya, Ge! Nggak capek kamu tiap hari kerjaannya keluar masuk ruang BK terus, hah?!" omel guru BK.
"Nggak capek lah, Bu. Kan guru BKnya cantik," sahut Ge gamblang. Dia langsung kena jewer.
"Ge! Kamu ya yang ambil duit Mamak? Dasar anak kurang ajar!" timpal ibunya Ge sambil berlari keluar.
"Makasih, Mak! Love yuhh!" Ge langsung pergi dengan motornya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9 - Bolos
Bel istirahat pertama akhirnya berbunyi keras di seluruh sekolah.
TRIIINGGG!
Suasana kelas langsung berubah. Buku ditutup, kursi digeser, dan obrolan mulai ramai. Beberapa siswa langsung berkerumun di sekitar Naya yang baru saja datang. Ada yang pura-pura menawarkan jajanan kantin, ada yang pura-pura jadi tour guide sekolah.
Namun di pojok belakang kelas, Ge justru terlihat santai seperti biasa. Dia meregangkan badan sambil menatap Bimo dan Taufik dengan ekspresi penuh arti.
“Gimana?” tanya Ge.
Bimo langsung menyeringai lebar. “Gas?”
Taufik ikut mencondongkan badan. “Temen kita dari SMA Timur udah nunggu katanya.”
Ge mengangguk pelan. “Yaudah. Rencana tetap.”
Bimo melirik ke arah Naya yang sedang dikelilingi cowok-cowok lain. “Lu nggak mau pamer dulu di depan murid baru?”
Ge mengangkat bahu santai. “Cewek cantik mah nggak bakal ke mana.”
Taufik tertawa kecil. “Lu percaya diri banget.”
“Bukan percaya diri,” sahut Ge sambil berdiri. “Gue realistis.”
Mereka bertiga langsung berjalan keluar kelas dengan santai seolah hanya mau ke kantin. Namun arah langkah mereka justru menuju tangga belakang sekolah yang terkenal sebagai jalur favorit para pembolos.
Koridor itu agak sepi. Hanya terdengar suara kipas angin tua dan beberapa siswa yang lewat.
Bimo berbisik, “Aman?”
Ge melirik kanan kiri. “Kayaknya aman.”
Namun saat mereka hampir sampai ke pintu belakang, seseorang muncul.
“GE!”
Suara keras itu membuat mereka bertiga langsung membeku. Mereka menoleh perlahan.
Di ujung koridor berdiri Pak Rudi, guru olahraga yang terkenal galak. Tubuhnya besar dan kumisnya tebal seperti sapu ijuk.
Pak Rudi menyipitkan mata. “Kalian bertiga… mau ke mana?”
Bimo langsung gugup. “Eh… olahraga, Pak.”
Pak Rudi melipat tangan. “Olahraga di luar pagar?”
Taufik langsung menyikut Ge pelan.
Ge berbisik, “Plan B.”
“Plan B apaan?” bisik Bimo.
Ge langsung berteriak, “LARI!”
Mereka bertiga langsung sprint.
“WOY!” teriak Pak Rudi.
Koridor sekolah langsung berubah seperti arena kejar-kejaran.
Ge berlari paling depan sambil tertawa. “Cepetan goblok!”
Bimo hampir menabrak tong sampah. “Anjir! Jantung gue!”
Taufik berlari sambil menoleh ke belakang. “DIA MASIH NGEJAR!”
Pak Rudi benar-benar mengejar mereka dengan langkah besar. “BERHENTI KALIAN!”
Namun bagi Ge, ini justru terasa seperti permainan. Adrenalin langsung naik. Dia melompati dua anak tangga sekaligus.
“Lewat sini!”
Mereka turun ke tangga belakang lalu keluar menuju lapangan parkir.
Pak Rudi masih berteriak dari belakang. “KALIAN BERTIGA AWAS SAJA YA BESOK!”
Ge malah tertawa. “Kalau ketangkep aja, Pak!”
Begitu sampai parkiran, mereka langsung menuju motor masing-masing.
Bimo buru-buru memakai helm. “Cepetan! Cepetan!”
Taufik hampir menjatuhkan motornya karena panik. “Anjir tangan gue gemeter!”
Ge sudah duduk di motornya. “Gas aja!”
Saat Pak Rudi akhirnya muncul di parkiran, ketiga motor sudah menyala.
BRRAAAKK!
Motor Ge meraung keras.
Pak Rudi menunjuk mereka dengan wajah merah. “GE! BIMOO! TAUFIK!”
Namun semuanya sudah terlambat. Ketiga motor langsung melesat keluar gerbang sekolah. Angin menerpa wajah mereka. Adrenalin masih terasa.
Bimo tertawa keras di atas motor. “ANJIR SERU BANGET!”
Taufik ikut tertawa dari belakang. “Pak Rudi hampir nangkep kita!”
Ge memacu motornya lebih cepat. “Makanya jangan lelet!”
Momen seperti ini memang sudah jadi kebiasaan mereka. Bagi Ge, Bimo, dan Taufik, membolos bukan sekadar kabur dari kelas. Rasanya seperti petualangan kecil yang memacu jantung. Ada sensasi tegang, ada rasa bebas, dan tentu saja ada cerita yang bisa mereka tertawakan nanti malam di warung.
Namun tanpa mereka sadari, saat ketiga motor itu keluar dari gerbang sekolah dan menghilang di tikungan jalan, seseorang berdiri di seberang jalan sambil memperhatikan.
Seorang pria kurus dengan kemeja abu-abu dan celana bahan. Rambutnya rapi, tapi wajahnya terlihat dingin dan sulit ditebak. Tangannya memegang rokok yang sudah hampir habis.
Pria itu baru saja menyaksikan seluruh kejadian tadi. Dia melihat Ge tertawa saat kabur dari guru. Melihat cara Ge mengendarai motor dengan percaya diri. Melihat ekspresi bebas di wajah anak itu. Pria tersebut menghembuskan asap rokok perlahan. Matanya tetap mengikuti arah motor Ge yang semakin jauh.
Lalu dia bergumam pelan pada dirinya sendiri. “Wajahnya... Sangat mirip."
Pria itu tersenyum tipis. Seolah baru saja menemukan sesuatu yang sudah lama dia cari.