" menikahlah dengan ku dan jadilah ibu untuk putriku, apa kamu mau ?"
" apa om meminta ku hanya untuk menjadi ibu untuk anak om bukan istri om ?"
Apa jadinya jika di lamar secara mendadak oleh duda dingin yang bahkan baru Mala temui dimana bukan menjadi istrinya tapi hanya menjadi ibu dari anaknya ?
Apakah Mala akan menerima pinangan duda dingin itu ?
Dan apakah cinta itu akan tumbuh saat keduanya masih memiliki luka yang di sebabkan karena cinta orang di masa lalu ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R-kha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pukulan Berat
" ayah akan baik baik saja kan om ?" ucap Mala sambil menatap ke arah Darrel dengan mata yang sudah berkaca kaca sedangkan Darrel hanya bisa tersenyum berharap dengan senyum itu bisa menguatkan Mala karena sejujurnya iya pun tidak tau apa yang terjadi pada pak Darmo saat ini.
" ayah pasti akan baik baik saja kan ?" tanya Mala lagi tapi langkahnya begitu berat untuk mendekat kearah ibu dan kakak tirinya.
" kita lihat kondisi ayah ya " ajak Darrel sambil memapah Mala, dalam hati Darrel pun sama berharap jika kondisi pak Darmo baik baik saja karena bisa Darrel lihat jika Mala sangat menyayangi ayahnya meski ada amarah dan kecewa yang ada di hati Mala saat ini.
" Bu, bagaimana kondisi pak Darmo ?" tanya Darrel sedangkan Mala menatap nanar pintu ruangan yang ada di hadapannya seolah di dalam sana ada sesuatu yang memanggil manggil dirinya.
" gara gara kamu, ayah sampai seperti ini ?" ucap Bu Reva sambil menunjuk tepat di wajah Mala.
" dasar anak durhaka, serakah !" umpat Okta yang kembali merasa kesal apalagi saat melihat Darrel merangkul pundak Mala tepat di depan wajahnya.
" bagaimana kondisi ayah ?" tanya Mala yang tak memperdulikan cacian dan makian ibu dan kakak tirinya.
" apa peduli mu ?"
" kamu sudah mengambil apa yang menjadi hak mu kan ?"
" jadi kamu tak berhak lagi untuk melihat ataupun tau kondisi ayah !" ucap Okta yang entah kenapa mengatakan hal itu seolah ada yang sedang Okta rencanakan tanpa ibunya tau.
" aku anaknya, kamu tidak berhak melarang ku untuk bertemu dengan ayah kandung ku sendiri !" ucap Mala yang masih mencoba menekan nada suaranya karena Mala ingat dimana mereka saat ini.
" kamu masih berani menyebut dirimu anak setelah apa yang kamu lakukan pada ayah mu ?" tanya Bu Reva yang tiba tiba saja kesal karena Mala sudah berani menjawab ucapan Okta dan juga dirinya.
" kamu sudah kehilangan hak itu saat dengan berani dan dengan egoisnya kamu mengambil sertifikat rumah yang hingga saat ini masih di tempati ayah mu dan kami "ucap Okta yang langsung bisa Mala mengerti kemana arah tujuan mereka saat ini.
" oh jadi ini masih tentang sertifikat rumah ?" tanya Mala dengan tatapan dingin dan kecewa yang bercampur menjadi satu.
" maaf, permisi apa sudah di putuskan apakah jenazah akan di urus di rumah sakit langsung atau bagaimana ?" tanya seorang suster yang datang menghampiri Bu Reva.
Mata Mala langsung menatap serius ke arah suster tadi dan tanpa di duga Mala mencengkram erat pundak suster itu sambil menanyakan apa maksud dari ucapannya itu.
" jenazah ?"
" jenazah siapa yang suster maksud ?" tanya Mala dengan sorot mata takut, marah dan sedih yang bercampur menjadi satu tapi Darrel menarik kedua tangan Mala yang masih mencengkram erat pundak suster itu.
" tenang lah, kamu harus sabar dan kamu harus kuat " ucap Darrel sambil mengarahkan tubuh Mala ke hadapannya.
" ayah masih baik baik saja om "
" ayah tak memiliki penyakit jantung, lalu kenapa tiba tiba saja ayah bisa terkena penyakit itu " ucap Mala dengan perasaan yang tak bisa di gambarkan lagi apalagi saat mengingat ucapan ibu tirinya jika ayahnya terkena serangan jantung.
" sus segera lakukan apa yang menjadi prosedur di rumah sakit ini tapi sebelum itu izinkan saya dan putrinya melihatnya dulu " ucap Darrel meminta izin.
" baik akan kami siapkan dan sebelum itu silahkan melihat jenazah itu untuk terakhir kalinya " ucap suster itu yang langsung meninggalkan Mala dan Darrel untuk menyiapkan segala keperluan pengurusan jenazah pak Darmo.
" tidak, kalian tidak aku izinkan melihat kondisi ayah !" ucap Okta sambil merentangkan kedua tangannya menghadang Darrel dan Mala yang akan melihat jenazah pak Darmo.
" minggir atau aku panggilkan security !" ucap Darrel yang sudah mulai kehabisan kesabarannya menghadapi Okta dan juga Bu Reva.
" baiklah, ada satu syarat yang harus Mala lakukan untuk bisa melihat ayahnya untuk terakhir kalinya " ucap Okta.
" akan ku berikan sertifikat rumah yang kamu dan ibu mu inginkan " ucap Mala dingin.
" tapi akan ku bawa jenazah ayah ku dari sini dan kalian tak akan pernah tau dimana aku akan memakamkan jenazahnya !" ucap Mala yang merasa keputusan itu sangat setimpal karena Mala juga tau jika Bu Reva begitu sangat mencintai ayahnya.
" tidak !"
" aku setuju " ucap Bu Reva dan Okta berbarengan.
" aku janji akan memberikan sertifikat itu besok tapi saat ini biarkan aku melihat ayah ku dulu dan mengurusnya untuk terakhir kalinya " ucap Mala yang memang tak membawa sertifikat itu ke rumah sakit.
" apa ucapan mu bisa aku pegang ?" tanya Okta yang langsung di jawab oleh Darrel.
" aku yang menjaminnya " ucap Darrel.
" tidak, ibu tidak setuju kamu membawa jenazah suamiku " ucap Bu Reva yang tak sependapat dengan keputusan yang di buat sepihak oleh Okta.
" ayo om " ajak Mala yang tak memperdulikan ucapan ibu tirinya apalagi Okta memegang dan menahan Bu Reva untuk bisa mencegah dirinya untuk masuk ke dalam ruangan dimana pak Darmo berada saat ini.
Dengan langkah yang terasa berat Mala memberanikan diri dan menguatkan hatinya untuk melihat apa yang tak pernah Mala bayangkan akan datang secepat ini.
Langkah Mala terhenti saat memasuki ruangan dimana di hadapannya terbaring tubuh yang di selimuti kain putih tepat dari ujung kaki sampai ke ujung kepala, hingga tubuh Mala pun lemah dan akhirnya tak sadarkan diri sebelum sempat melihat apakah itu memang benar pak Darmo atau bukan.
" Kemala !" Darrel refleks menahan tubuh Kemala yang tiba tiba saja ambruk tak sadarkan diri dan beruntungnya langsung di bantu salah satu perawat yang memang ada di ruangan itu, Mala di bawa ke unit gawat darurat tak jauh dari ruangan yang baru saja mereka datangi.
" kenapa ini ?" tanya suster yang sedang mengurus administrasi untuk pengurusan pak Darmo.
" maaf sus, kami belum sempat melihat jenazah " ucap Darrel yang berharap masih di beri waktu sebelum pemulasaraan jenazah di mulai.
" baik pak, kami bisa memakluminya" ucap suster tadi dan tak butuh waktu lama Kemala pun akhirnya sadarkan diri dan air mata yang sejak tadi tertahan akhirnya mengalir tanpa bisa di hentikan lagi.
" ayah om " ucap Kemala yang langsung turun untuk kembali untuk melihat ayahnya untuk terakhir kalinya.
Darrel kembali memapah Kemala menuju ruang yang sempat mereka datangi tapi saat sampai di ambang pintu ruangan yang mereka tuju Darrel menahan langkah Kemala.
" aku tau ini berat, tapi kamu harus kuat dan kamu harus bisa menahan semuanya karena kini ayahmu sudah terbebas dari semua urusan duniawi " ucap Darrel menasehati agar kejadian seperti tadi tak sampai terulang.
" kenapa ayah pergi secepat ini ?"
" bukan kah ayah bilang mau menjadi wali di pernikahan ku ?"
" lalu kenapa ayah pergi saat belum menunaikan kewajiban nya ?" tanya Kemala yang merasa apa yang terjadi sejak iya lahir hingga saat ini sangat tidak adil bagi dirinya.
" kita akan menikah di depan jenazah ayah mu, apa kamu bersedia ?" tanya Darrel berharap dengan melakukan itu bisa membuat Mala jauh lebih ikhlas.
✍️✍️✍️ apa Kemala akan setuju dengan usulan Darrel ? Dan apa yang akan di lakukan Okta jika tau apa yang akan Darrel dan Kemala lakukan di hadapan jenazah pak Darmo ?
Pantengin terus ya ceritanya biar R-kha lebih semangat lagi update nya
Jangan lupa like dan tinggalkan jejak biar R-kha lebih semangat lagi update nya
Love you moreee 😘 😘 😘
terus si Reva dan si Okta diusir dari rumah itu😏