Di balik kemewahan mansion Omerly, Zerya Clarissa Omerly hidup dalam dunia yang tak pernah memberinya hangat. Prestasi dihitung sebagai kewajiban, senyum dihargai sebagai topeng, dan setiap kata bisa menjadi kesalahan.
Hingga suatu malam di sebuah kafe, Zerya bertemu seorang pria yang bertolak belakang dengan dunianya—Javian Arka Talandra, CEO yang dingin namun misterius. Satu pertemuan itu membuat Javian merasakan sesuatu yang jarang ia rasakan di rumahnya yang hangat: rasa ingin tahu… dan rasa ingin melindungi.
Saat kedua keluarga bertemu dalam pertemuan bisnis, topeng Zerya mulai retak. Perlahan, Javian menyadari bahwa di balik penampilan sempurna, ada rahasia dan luka yang selama ini tersembunyi. Kini, di tengah intrik keluarga, ambisi, dan ekspektasi yang menekan, Zerya harus menemukan keberanian untuk menjadi dirinya sendiri—atau terus tersesat di bayangan rumahnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerrys_Aram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: Skakmat yang Elegan
Kantor pusat Omerly Group mendadak tegang pagi ini. Aldric Omerly yang biasanya tenang, kini menatap layar tabletnya dengan rahang yang mengeras. Sebuah dokumen adendum kontrak dari Talandra Group baru saja mendarat di mejanya, dan isinya jauh lebih "berbisa" daripada sebelumnya.
"Panggil Zerya sekarang," perintah Aldric, suaranya lebih rendah dari biasanya—pertanda kemarahan yang tertahan.
Saat Zerya masuk, ia melihat ayahnya sedang berdiri membelakangi pintu, menatap jendela besar yang menghadap ke gedung Talandra Group di seberang sana.
"Papih manggil aku?"
Aldric berbalik, melemparkan tabletnya ke atas meja. "Javian Talandra baru saja menaikkan nilai investasi proyek CSR kita sebesar lima puluh persen."
Zerya tertegun. "Bukankah itu berita bagus, Pih?"
"Bagus?" Aldric tertawa sumbang. "Dia menaikkan modal, tapi dengan syarat proyek ini harus menjadi wajah utama kampanye global Talandra tahun ini. Dan di sana tertulis jelas: Zerya Clarissa Omerly wajib hadir dalam seluruh roadshow internasional sebagai pembicara utama selama dua belas bulan ke depan."
Lutut Zerya terasa lemas. Dua belas bulan.
"Jika kamu pergi ke Singapura dan menikah bulan depan, proyek ini batal. Dan Talandra akan menuntut ganti rugi atas pelanggaran kontrak wajah publik yang nilainya bisa membuat Omerly Group goyah," Aldric menatap Zerya dengan pandangan yang sangat tajam, mencoba mencari apakah ada keterlibatan putrinya dalam hal ini. "Apakah kamu yang memintanya melakukan ini?"
Zerya menggeleng cepat, matanya memancarkan keterkejutan yang tulus. "Aku tidak tahu apa-apa, Pih. Aku bahkan tidak bicara padanya sejak kemarin lapangan."
Aldric mendengus. "Dia tidak sedang melindungimu, Zerya. Dia sedang mengikat kita. Dia tahu Papih sedang menyiapkan aliansi di Singapura, dan dia sengaja menyabotase itu dengan alasan 'stabilitas wajah proyek'. Dia benar-benar pengusaha yang licin."
\*\*\*
Satu jam kemudian, Zerya sudah berada di kantor Javian. Ia masuk tanpa janji temu, namun asisten Javian seolah sudah diperintahkan untuk membiarkannya masuk kapan saja.
Javian sedang duduk di balik meja kerjanya yang luas, meninjau beberapa dokumen fisik. Ia tidak mendongak saat Zerya masuk dan berdiri di depannya.
"Apa maksud rencana itu, Javian?" tanya Zerya langsung. "Dua belas bulan? Roadshow internasional? Anda tahu betul apa yang Ayah saya rencanakan."
Javian meletakkan pulpennya perlahan, lalu mendongak. Matanya sedingin es, namun ada kilatan kecerdasan yang mematikan di sana. "Ini murni keputusan bisnis, Nona Zerya. Data menunjukkan investor lebih merespon positif pada representasi asli ide, daripada dewan direksi yang hanya membaca teks."
"Bohong," bisik Zerya. "Anda sengaja menjebak saya agar saya tidak bisa pergi ke Singapura."
Javian berdiri, berjalan perlahan mengitari mejanya hingga ia berdiri tepat di hadapan Zerya. Ia tidak menyentuh Zerya, namun jarak mereka cukup dekat hingga Zerya bisa merasakan tekanan auranya.
"Jebakan adalah kata yang kasar," ucap Javian pelan. "Sebut saja ini... asuransi. Saya tidak suka investasi saya hancur karena alasan domestik yang tidak relevan. Jika Omerly ingin uang Talandra, maka Omerly harus memberikan jaminan bahwa aset terbaiknya tidak akan menghilang ke Singapura bulan depan."
Aset terbaik. Javian menyebutnya aset, namun tatapannya berkata lain.
Zerya menatap mata Javian, mencari celah. "Anda membuat Ayah saya sangat marah. Anda sedang bermain api dengan keluarga saya."
"Saya tidak bermain api, Zerya. Saya sedang membangun benteng," sahut Javian dengan nada yang hampir tidak terdengar. Ia lalu sedikit membungkuk, menyejajarkan wajahnya dengan Zerya. "Pilihannya sekarang ada di tangan Ayah Anda. Reputasi perusahaannya, atau ambisinya untuk menjual Anda ke Singapura. Kira-kira, mana yang lebih berharga bagi Aldric Omerly?"
Zerya terdiam. Ia tahu jawabannya. Bagi Aldric, perusahaan adalah segalanya. Javian baru saja menyandera Aldric menggunakan satu-satunya hal yang pria itu cintai: Kekuasaan.
"Anda sangat kejam," bisik Zerya.
"Saya efektif," koreksi Javian. Ia kembali ke kursinya seolah tidak terjadi apa-apa. "Sekarang, silakan kembali bekerja.
Roadshow pertama kita dimulai minggu depan. Di London."
Zerya berbalik, namun sebelum ia mencapai pintu, ia berhenti sejenak. "Terima kasih."
Javian tidak menjawab. Ia kembali pada dokumennya, namun jemarinya berhenti bergerak saat pintu tertutup. Ia menghela napas panjang yang sedari tadi ia tahan.
Ia tidak menyelamatkan Zerya sebagai pahlawan berkuda putih. Ia menyelamatkan Zerya dengan cara yang paling dipahami oleh dunia mereka: Lewat angka, kontrak, dan tuntutan hukum.
"London," gumam Javian. "Setidaknya di sana, Papihmu tidak bisa mematikan lampumu."