Arvella terlahir kembali sebagai bayi dengan kesadaran dari kehidupan sebelumnya. Dengan ingatan masa lalunya, ia mampu melihat bahaya dan mencegah masalah sebelum terjadi. Sebagai anak tunggal dalam keluarga kerajaan, Arvella belajar menghadapi dunia yang penuh intrik, rahasia istana, dan tanggung jawab besar meski tubuhnya masih kecil.
Seiring tumbuhnya Arvella, ia menemukan lorong rahasia, ramalan kuno, dan misteri yang mengancam kerajaan. Ia belajar memecahkan masalah sosial, menghindari bencana, dan menghadapi intrik politik dengan kecerdasannya yang luar biasa.
Di tengah semua itu, sosok laki-laki misteriusKsatria Anjing kerajaan yang kelak menjadi bagian penting hidupnya muncul secara samar, membangkitkan rasa penasaran dan ikatan takdir yang halus. Bersama ingatan masa lalu dan insting alaminya, Arvella perlahan menemukan kekuatannya, belajar tentang kepercayaan, cinta, dan akhirnya menentukan jalannya sendiri dalam menghadapi takdir yang telah menunggunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 : Taman Terlarang dan Pelajaran Pertama
Pagi itu kabut tipis menyelimuti halaman istana, menciptakan nuansa misterius yang jarang terjadi di taman kerajaan.
Burung-burung kecil berkicau di pepohonan, sementara aroma mawar dan lavender memenuhi udara.
Aku, Arvella, terbaring di buaian yang digoyang lembut oleh pelayan setia bernama Elira, mataku merah menyala tetap mengamati setiap gerakan di sekeliling.
Meski baru lahir beberapa hari, bayi ini sudah memiliki kesadaran yang melampaui usiaku.
Aku ingat semua kejadian dari kehidupan sebelumnya.
Segala kesalahan, kegembiraan, bahkan tragedi kecil yang biasanya diabaikan oleh bayi lain, kini tercatat dengan jelas dalam ingatanku.
Elira tersenyum lembut sambil menepuk tangan kecilku.
“Arvella… hari ini kita akan melihat taman istana. Jangan takut, semuanya aman,” katanya.
Aku menggeliat kecil, tangan mungilku menahan buaian agar tidak bergoyang terlalu keras.
Bayi ini tahu, meski kecil, setiap gerakan dapat mengubah jalannya peristiwa.
Setiap daun yang jatuh, setiap batu di jalan setapak, bahkan suara burung atau riuh langkah pelayan di kejauhan, semuanya diperhitungkan.
Saat kami melintasi lorong istana, mataku menangkap sesuatu yang aneh.
Sebuah pelayan muda hampir menumpahkan nampan berisi makanan di lantai marmer.
Aku menggeliat, tangan kecilku menstabilkan nampan itu sebentar.
Kue tidak jatuh, air tidak tumpah ke lantai.
Pelayan itu menatapku dengan mulut terbuka, penuh kekaguman.
“Ia… bayi ini… bagaimana bisa melakukan itu?” tanyanya dengan suara berbisik.
Ibuku yang mengikuti di belakang tersenyum lembut.
“Arvella sudah tahu sebelumnya, jadi ia bisa mencegah sebelum terjadi,” katanya.
Setibanya di taman, aku melihat kolam ikan di ujung halaman.
Permukaan air tenang, memantulkan cahaya pagi yang hangat.
Namun ingatan dari kehidupan sebelumnya muncul terjadi di kolam serupa, seorang anak pernah tergelincir dan hampir tenggelam.
Bayi ini tahu apa yang harus dilakukan.
Aku menggeliat, energi halusku mengalir
ke tepi kolam, membuat permukaan air beriak lembut sehingga ikan merasa aman dan tidak panik.
Elira menatapku kagum, bibirnya terbuka.
“Kau… kau sudah tahu sebelumnya?” katanya.
Aku tersenyum kecil, bayi ini tahu, mencegah bencana lebih baik daripada menunggu menyesal.
Di salah satu lorong taman yang biasanya dilarang, tanaman berduri tampak rapuh dan bisa melukai siapa saja yang tidak berhati-hati.
Aku menggeliat, energi halus dari tubuhku menundukkan ranting berduri itu, membuat jalur aman untuk siapa pun yang melewatinya.
Elira berhenti dan menatapku, heran.
“Bagaimana ia bisa tahu semuanya?” bisiknya.
Bayi ini tahu jawabannya sendiri.
Setiap gerakan kecil bisa menyelamatkan nyawa atau mencegah luka, dan aku tidak akan membiarkannya terjadi.
Tiba-tiba terdengar suara riuh dari bangunan utama istana.
Seorang pelayan menumpahkan nampan berisi air dan kue di lantai marmer.
Aku menggeliat lagi, tangan kecilku bergerak, menstabilkan nampan di udara sebentar.
Air berhenti tumpah, kue tetap di tempatnya.
Pelayan itu menatapku, tidak percaya, sementara Elira menepuk bahunya lembut.
“Arvella… kau selalu tahu,” katanya.
Saat matahari semakin tinggi, aku dibawa ke area bunga mawar.
Bunga-bunga itu indah, tetapi durinya tajam.
Seorang pelayan hampir tersengat duri ketika ia menunduk memetik bunga.
Aku menggeliat, menyingkirkan duri yang paling tajam dari jalannya.
Pelayan itu mundur perlahan, wajahnya dipenuhi kekaguman.
“Elira… bayi ini bisa merasakan bahaya sebelum terjadi?” tanyanya lagi.
Elira menatapku dengan mata membelalak.
“Arvella… memang luar biasa,” katanya.
Di tengah taman, aku memperhatikan kolam kecil dengan ikan koi.
Namun mataku menangkap bayangan samar yang bergerak di permukaan air.
Di ingatan masa lalu, pernah terjadi insiden di kolam serupa dimana hewan liar masuk dan menakuti ikan-ikan, menyebabkan beberapa terluka.
Aku menggeliat, menyalurkan energi halus, membuat permukaan air beriak lembut sehingga ikan merasa aman.
Elira menatapku kagum, “Kau… bayi ini sudah tahu sebelumnya?”
Aku tersenyum kecil.
Bayi ini memahami satu hal penting bahwa mencegah lebih baik daripada menyesal.
Saat sore menjelang, angin membawa aroma bunga ke wajahku.
Aku mendengar tawa anak-anak pelayan yang bermain di kejauhan.
Mereka menggulirkan bola kecil, tetapi satu bola hampir menimpa vas bunga mahal di sudut taman.
Aku menggeliat, tangan kecilku menahan bola itu di udara sebentar, kemudian menjatuhkannya perlahan ke tanah.
Pelayan yang melihatnya terkejut dan terkagum, sementara anak-anak itu menatapku bingung.
“Apa bayi itu… bisa menahan bola?” tanya salah satu dari mereka.
Aku tersenyum kecil.
Bayi ini tahu, mencegah bencana lebih baik daripada menunggu menyesal.
Ketika malam mulai turun, kabut tipis kembali menyelimuti taman.
Aku dibawa ke kamar, tetapi mataku tetap menatap halaman dari jendela.
Bayangan samar muncul di ujung taman.
Rambut hitam, mata biru, sosok laki-laki misterius yang seolah menunggu sesuatu.
Bayi ini merasakan energi yang familiar, tapi malam ini aku belum bisa memahaminya sepenuhnya.
Namun satu hal jelas itu sosok itu kelak akan menjadi bagian penting dari hidupku.
Ibuku duduk di sebelah buaian, membelai rambutku dengan lembut.
“Arvella… kau berbeda dari bayi lain. Dunia ini akan menuntut banyak darimu,” katanya pelan.
Aku menggeliat, tangan kecilku menyentuh pipinya, seakan menjawab, “Aku tahu itu, Ibu. Aku siap belajar dan menjaga semuanya.”
Bayi ini menutup mata, tertidur dengan kesadaran penuh.
Aku tahu, setiap napas, gerak tangan, dan keputusan yang aku ambil akan menjadi awal dari kisah panjang yang tak terlupakan.
Malam itu hanyalah permulaan perjalanan seorang bayi yang terlahir kembali, yang tidak hanya bijaksana sebelum waktunya tetapi juga mampu mengubah nasib.
Dan setiap detik yang berlalu, aku belajar lebih banyak tentang dunia ini, tentang bahaya yang tersembunyi, dan tentang diriku sendiri.