NovelToon NovelToon
Tiba-tiba Jadi Istri Petani Tampan

Tiba-tiba Jadi Istri Petani Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Fantasi Wanita / Penyeberangan Dunia Lain
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aida

Luna, seorang mahasiswi jurusan teknologi informasi semester akhir selalu begadang mengerjakan tugas-tugasnya yang menumpuk. Suatu malam ia tertidur di meja belajar bersama tumpukan kertas-kertas nya lalu tiba-tiba ia merasa seperti jatuh dari kursi. Tapi saat ia membuka matanya rupanya ia berada di dalam tubuh seseorang yang mirip dengannya. Ia yakin itu bukan dirinya yang sebelumnya. Tempat itu juga sangat asing baginya. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah seorang pria tampan berparas lembut berbicara padanya. "Annette, kau sudah lebih baik ? Bangunlah, aku membuatkan mu sarapan,"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Melihat Leon

Nyonya Vivian benar-benar murka mengetahui Annette masih hidup. Bahkan keadaannya sangat baik.

"Dokter sialan. Sia-sia aku membayar mahal untuk membeli racun yang tidak berguna," teriaknya menggema di dalam rumah besarnya.

Sedangkan Emilie tidak peduli dengan ibunya. Ia sibuk memeriksa lehernya yang terdapat bekas jeratan melingkar di bagian depannya.

Dengan membawa kaca kecil ia mulai memperhatikan dan sedikit mengelus lehernya. "Kak Annette benar-benar keterlaluan," isaknya. Bukan karena rasa sakit ia menangis. Melainkan karena lehernya sudah terdapat luka dan itu mempengaruhi kecantikan nya. Apalagi besok ia diundang ke sebuah acara pernikahan untuk bermain piano.

"Tidak apa-apa, Emi. Ibu akan membawamu berobat ke dokter. Kita akan membeli obat terbaik yang bisa menghilangkan luka mu," kata Nyonya Vivian mendekati Emilie. Emilie hanya mengangguk dan masih fokus pada lehernya.

"Ibu, apa tidak sebaiknya kau kembalikan saja barang-barang milik Kak Annette yang kau ambil. Aku takut dia akan melukaimu juga," kata Emilie panik.

"Heh bisa apa dia di rumah ini. Dulu dia tidak berkuasa apalagi sekarang dia sudah keluar dari rumah ini," jawab Nyonya Vivian dengan angkuh. Tidak ada rasa takut dalam dirinya. Justru rasa ingin melenyapkan Annette semakin besar.

"Betul juga," kata Emilie tersenyum. Ibunya memang tidak bisa diragukan lagi. Ia adalah panutan untuk Emilie.

"Kalau begitu aku ingin kalung berlian milik Kak Annette yang Ayah hadiahkan tahun lalu, Bu. Milikku kan sudah hilang di laut. Tapi milik Kakak masih ada kan ? Kurasa kalung itu bisa menutupi luka di leherku," kata Emilie. Ia berharap ibunya menyetujui apa yang ia inginkan.

"Tentu saja, Emi. Kau bisa mendapatkan itu. Biar pelayan yang membantumu mencari kalung itu di kamarnya," kata Nyonya Vivian mengelus pipi Emilie. Baginya Emilie adalah pencapaian besarnya. Seorang putri yang cantik dengan bakat bermusik yang luar biasa. Mana mungkin ia tidak menuruti keinginannya.

"Ibu ingin beristirahat," katanya lagi.

"Pelayan, ikut aku ke kamar dan pijat seluruh tubuhku. Rasanya aku lelah sekali," teriaknya lagi memanggil pelayan yang berjejer di depan pintu.

Dua orang pelayan mengikuti kepergian Nyonya Vivian dan seorang lagi mengikuti Emilie masuk ke dalam kamar Annette berniat mencari kalung milik Annette. Sebuah hadiah yang sama untuknya dari sang ayah ketika pulang dari luar negeri.

...

Leon menyuruh Annette untuk beristirahat, tapi dia tidak bisa tidur lagi.

"Apa yang harus ku lakukan. Tidak ada ponsel atau televisi disini," katanya mondar-mandir di depan kamarnya. Ia sudah berkeliling rumah ini. Hanya ada satu kamar tidur dan ruangan tanpa sekat yang tidak terlalu besar. Kemudian ada dapur di sisi belakang rumah dan menyatu dengan kamar mandi yang hanya ditutup dengan kain seadanya.

Annette sudah pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil. Kamar mandinya memang luas namun sangat seram baginya. Sebuah gentong dari tanah liat sebagai penampungan air dan ada beberapa ember kayu berjejer di sampingnya.

Lantainya yang terbuat dari kayu membuat Annette berpikir yang tidak-tidak. Takut bila ada ular atau hewan kecil yang bisa menyelinap melalui celah nya.

"Apa disini listrik juga belum ada ?" tanya nya bingung. Karena ia tidak melihat adanya lampu di setiap ruangan. Hanya ada beberapa lentera yang tergantung di dekat pintu dan di dapur.

Annette memutuskan untuk keluar melihat lingkungan sekitarnya. Barangkali beraktivitas diluar rumah bisa menghilangkan kejenuhannya.

Ia mulai melangkahkan kakinya keluar. Dengan sepatu slop yang alasnya terbuat dari kayu ia mulai melangkah. Semilir angin langsung menerpa wajahnya.

Cuaca hari ini cerah dan sedikit hangat. Tidak terlalu panas. Sangat cocok untuk beraktivitas diluar seperti memanen sayuran seperti yang dikatakan oleh Leon tadi.

Annette melihat di sisi kanan rumah Leon tidak ada rumah lagi. Sekitar sepuluh meter baru ada rumah. Sedangkan di sisi kiri terdapat banyak rumah. Semuanya terbuat dari kayu.

Annette berpikir apa ini rumah sementara selama menggarap kebun dan mereka memiliki rumah lain atau memang ini satu-satunya rumah mereka.

"Annette, kau mau kemana ?" tegur seorang perempuan yang mungkin seusia nya.

"Melisa .." gumam Annette seakan mengenal perempuan itu.

"Apa kau akan melihat Leon ? Biasanya kau hanya melihat Leon bekerja dari sini. Kenapa sekarang keluar rumah ?" tanya Melisa heran.

"Iya karena aku ingin melihat Leon bekerja dari dekat," jawab Annette. Ia tersenyum ramah pada Melisa. Sepertinya gadis itu baik.

"Apa kau ingin pergi bersama ?" tanya Melisa dan Anneth mengangguk.

Sebenarnya Annette sudah bisa melihat keberadaan Leon dari tempatnya berdiri. Tapi ia ingin melihat lebih dekat.

"Kau belum pernah kesana kan walaupun tempatnya ada di dekat rumahmu ? Disana ada sungai. Kau bisa mandi disana jika mau," jelas Melisa.

"Kau membawa apa ?" tanya Annette penasaran melihat keranjang rotan yang dibawa oleh Melisa.

"Aku tadi membuat kue pie apel. Ini percobaan ke-dua karena sebelumnya aku membuat dan tidak jadi. Apa kau mau mencobanya ?" tanya Melisa. Tangannya merogoh keranjang yang tertutup kain motif bunga.

Annette mengangguk. Ia menerima sepotong kue pie apel yang diberikan oleh Melisa. Ia mengendusnya perlahan. Baunya tidak seperti pie apel yang biasanya ia beli di depan kampusnya.

Tapi untuk menghargai Melisa, ia mulai mencobanya dan ternyata rasanya juga enak. Tidak kalah dengan buatan di masa modern.

"Bagaimana ? kau pasti terbiasa makan pie apel dari toko ternama," kata Melisa tertawa kecil. Ia tidak tersinggung apabila Annette mengatakan pie apel nya tidak enak. Sebab dulu ia pun pernah memberi makanan pada Annette dan jawaban Annette begitu. Tidak enak, jangan memasak kalau tidak bisa.

"Ini enak. Aku menyukainya. Lain kali bisakah kau mengajakku kalau membuat kue ?"

Ucapan Annette disambut anggukan serta senyum dari Melisa. Melisa merasa Annette tidak sejahat itu. Buktinya sekarang dia mau bicara dengannya dan memakan pie apel buatannya.

Mereka sampai di tempat orang-orang memanen kubis. Melisa mengajak Anneth duduk di bawah pohon rindang agar tidak kepanasan.

Lalu ia izin memberikan kue nya pada suaminya yang berada di tengah kebun.

Nampak di pandangan Anneth jika Leon bekerja dengan gesit memanen sayur kol dan membersihkan helaiannya yang rusak.

Mungkin Melisa memberitahu bahwa Anneth ada disana. Jadi Leon segera mengarahkan pandangannya pada Anneth kemudian bergegas menghampirinya.

"Annette, kenapa kau ada disini ?" tanya Leon terkejut. Ia membuka topi dan sarung tangannya yang kotor sebelum mendekati Annette.

"Aku bosan dirumah. Tidak ada hiburan sama sekali," kata Annette memajukan bibirnya. Bibir berwarna merah muda itu seakan memancing Leon untuk menciumnya.

Leon menggelengkan kepalanya. Bisa-bisanya ia berpikir seperti itu. Mereka tidak sedekat itu untuk melakukannya.

"Kenapa kau keluar tanpa mengenakan topi mu ?" Leon mengalihkan perhatiannya dari bibir Annette dan duduk di samping Annette.

"Aku tidak menemukannya," jawab Anneth asal.

"Kau ingin melukis ?" tanya Leon. Mendengar kata melukis, Annette segera menoleh pada Leon dengan tatapan berbinar lalu mengangguk cepat.

"Saat kita ke kota, kita akan membelinya," kata Leon. Tangannya bergerak menyingkirkan daun kering yang ada di rambut Annette. Lalu dengan berani Leon mencium kening Annette sembari bersiap-siap jika Annette akan memaki atau memukul nya.

...

Jangan lupa tap love nya ya. 🌟 lima nya jg othor tungguin 😉😉

1
Dew666
🌹🌹🌹🌹🌹
≛⃝⃕|ℙ$ Ŋบ𝑟ļịãŊã ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🍃
Pasti diracun
Susi Akbarini
apa rahasia yg akan anette temukan di kamaar ibunyaaa..

😍😍💪❤❤
Susi Akbarini
waaahhh..
paati meninggalnya diracun ama vivian..
❤😍😍💪💪💪❤❤❤
≛⃝⃕|ℙ$ Ŋบ𝑟ļịãŊã ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🍃
Siap2 annette bakal dijebak lagi
Susi Akbarini
akankah vivian kerahuan sama suaminya😍😍💪💪
Susi Akbarini
lnjutttt😍❤❤💪
Susi Akbarini
so Sweet...
❤❤❤💪💪💪
Susi Akbarini
mudah2an bapak anette nemu dakangnya dan ngehukum vivian dan emely..
🤣😄😄❤💪💪
Susi Akbarini
soga anettw selamat❤😍😍💪💪11
≛⃝⃕|ℙ$ Ŋบ𝑟ļịãŊã ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🍃
Nah loh kerjaan siapa tuh
≛⃝⃕|ℙ$ Ŋบ𝑟ļịãŊã ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🍃
Moga aja bpk na cepet sadar
≛⃝⃕|ℙ$ Ŋบ𝑟ļịãŊã ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🍃
Waah bikin esmosi aja nih duo racun 😤😤
aku
sisilia klo bs jgn pggil anet dg KAU. kurang sopan bacanya 🙏
Aida: Oke kak, othor perbaiki 🙏😄
total 1 replies
Susi Akbarini
lanjutttttt
😍❤❤❤💪💪💪💪
Dew666
😍😍😍😍😍
Susi Akbarini
sekamat gatal2 ya emely...
🤣😄❤❤💪
Susi Akbarini
apalagi yg akan vivian lakukan...
❤❤😍😍💪
Dwi Agustina
Semangat up trs othor 💪💪💪🫰
Dew666
🥰🥰🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!