NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Diam-Diam Pada CEO Cantik

Jatuh Cinta Diam-Diam Pada CEO Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Cintapertama / CEO
Popularitas:749
Nilai: 5
Nama Author: Djginting

gimana kalo cowok pas-pasan kebelet cinta sama bosnya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Djginting, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dewa Telat Siap Kembali

Di balik dinding kaca ruang kantornya yang kedap suara, Rijal Adiwijaya menyesap cerutunya dengan ketenangan seorang predator yang telah berhasil menggiring mangsanya ke tepi jurang. Di hadapannya, Nathan duduk dengan raut wajah waspada, sementara Eko hanya terdiam sambil memainkan korek api. Berita nasional tentang penangkapan armada Wiratama Trading masih terus bergulir, namun Rijal tahu kapan harus menarik tali kekang agar jebakannya tidak putus sebelum waktunya.

"Nathan, perintahkan semua pabrik rekanan kita untuk kembali ke jalur produksi yang benar. Hentikan dulu semua pengiriman barang ilegal itu," ujar Rijal dengan nada dingin namun penuh otoritas.

Nathan mengernyitkan kening. "Kenapa harus berhenti sekarang? Kita sedang punya momentum untuk menghabisi mereka."

Rijal terkekeh, sebuah suara serak yang tidak menyenangkan. "Tunggu sampai masalah mereda, Nathan. Kita biarkan mereka bernapas sebentar agar kecurigaan polisi tidak langsung mengarah pada kita. Mainkan lagi dalam tiga atau empat minggu ke depan. Masih ada sisa dua bulan kontrak, kan? Kita punya banyak waktu."

Rijal berdiri, menatap kerlap-kerlip lampu Jakarta dari ketinggian. "Ini strategi pengikisan. Kita biarkan nilai saham Wiratama menurun perlahan-lahan akibat sentimen negatif publik. Di saat itulah kita meraup keuntungan dengan membeli aset-aset mereka lewat tangan kedua. Jika kita terlalu frontal sekarang, itu justru berbahaya bagi posisi kita. Biarkan Alina mati pelan-pelan dalam kepungan rasa bersalahnya sendiri."

Nathan dan Eko mengangguk setuju. Namun, Eko yang merupakan penguasa akar rumput tidak ingin melemaskan cengkeramannya sepenuhnya. "Saran Bapak saya ikuti. Tapi, supir-supir saya akan tetap berada di semua anak cabang Wiratama dan perusahaan rekanannya, termasuk di tempat Anton. Mereka adalah mata dan telinga saya. Jika ada pergerakan sekecil apa pun dari intelijen mereka, saya akan tahu duluan," sahut Eko dengan seringai tipis.

Sementara itu, di kantor pusat Wiratama Trading, atmosfer terasa begitu menyesakkan seolah-olah oksigen telah habis dihisap oleh ketegangan yang ada. Alina Wiratama duduk di kursi kebesarannya dengan bahu yang tampak lebih merosot dari biasanya. Beberapa hari ini ia hampir tidak tidur, turun langsung ke lapangan untuk memastikan pengiriman berjalan normal meski di bawah bayang-bayang penyelidikan kepolisian.

Namun, ketenangan sementara itu pecah saat ruangannya didatangi oleh beberapa pemimpin perusahaan rekanan. Wajah-wajah pria paruh baya yang biasanya ramah dan penuh hormat saat bernegosiasi, kini berubah menjadi hakim yang siap mengeksekusi.

"Bu Alina, apa sebenarnya yang terjadi?! Kenapa perusahaan kami harus terseret dalam hal gelap dan ilegal ini?!" seru salah satu pimpinan perusahaan rekanan dengan nada tinggi. "Reputasi kami dibangun berpuluh-puluh tahun, dan sekarang nama perusahaan kami disebut-sebut dalam berita penyelundupan karena bekerja sama dengan Wiratama!"

"Kami menuntut penjelasan dan pertanggungjawaban! Jika masalah ini tidak segera selesai, kami akan menarik semua investasi dan memutuskan kontrak secara sepihak!" timpal yang lain sambil menggebrak meja.

Alina merasa dunianya sedang runtuh. Tekanan yang ia terima seolah datang dari segala arah: dari buruh pelabuhan yang membencinya, dari kepolisian yang terus mengawasi, hingga kini dari rekan bisnis yang ia anggap sekutu. Gadis yang dijuluki Ratu Es itu hanya bisa terdiam, tangannya yang berada di bawah meja saling meremas dengan kuat untuk menahan gemetar.

Susi, yang meskipun masih menaruh dendam pada Alina karena masalah Bima, tidak tega melihat sahabat sekaligus atasannya itu diperlakukan seperti pesakitan. Jiwa loyalitasnya sebagai sekretaris bangkit melihat Alina yang mulai terpojok dan tampak tertekan.

"Bapak-bapak, tolong tenang!" Susi melangkah maju ke tengah ruangan dengan tatapan berani. "Saat ini semuanya sedang dalam proses penyelidikan. Perusahaan tidak tinggal diam. Tim pengacara kami sedang bekerja sama dengan pihak berwajib untuk membuktikan bahwa ada pihak lain yang mencoba menyabotase pengiriman ini. Kami minta waktu dan kesabaran Anda sekalian."

"Waktu tidak bisa mengembalikan nama baik kami, Susi!" balas salah satu pimpinan itu dengan sengit.

Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka lebar. Reni Silvia masuk dengan langkah anggun namun penuh aura dominasi yang membuat semua orang di ruangan itu seketika terbungkam.

"Jika Anda semua menginginkan kepastian, maka saya yang akan memberikannya," ujar Reni dengan suara yang tenang namun berwibawa. "Saya sudah meminta perusahaan intelijen dan keamanan andal yang dulu pernah membantu almarhum suami saya untuk menangani kasus ini secara tertutup. Kami tidak hanya mengandalkan polisi. Kami akan menemukan dalangnya, dan siapa pun yang mencoba menjatuhkan Wiratama akan membayar harganya berkali-kali lipat."

Mendengar nama perusahaan keamanan legendaris tersebut, para pimpinan rekanan itu saling berpandangan. Mereka tahu kekuatan jaringan yang dimiliki keluarga besar Wiratama jika Sang Ibu sudah turun tangan. Satu per satu dari mereka akhirnya melunak dan memilih untuk pergi, meski dengan raut wajah yang masih menyimpan keraguan.

Setelah ruangan itu kosong, Reni mendekati putrinya. Ia menatap Alina yang tampak begitu rapuh di balik meja kerjanya. "Alina... Putriku, katakan pada Mama. Bagaimana semua ini bisa terjadi? Apa yang sebenarnya kamu lewatkan?"

Alina hanya bisa menunduk. Ia tidak mampu menjawab. Ia hanya bisa menggelengkan kepala pelan seakan-akan seluruh energinya telah habis diserap oleh beban yang ia pikul. Sikap pasrah Alina membuat Reni semakin yakin bahwa putrinya sedang dijebak oleh seseorang yang sangat mengenal kelemahan Alina: egonya.

Di waktu yang bersamaan, jauh dari kemegahan kantor Wiratama, Bima Pradana sedang duduk di depan televisi di ruang tamunya yang sederhana. Rambutnya masih berantakan, namun sorot matanya yang hampa mulai berubah saat layar televisi menampilkan sosok yang sangat ia kenali.

Anton sedang melakukan konferensi pers di depan apartemennya. Wajahnya tampak terpukul, namun kalimat yang keluar dari mulutnya membuat Bima seketika mengepalkan tinju.

"Kami memang menjalankan kerja sama logistik, namun saya ingin mengklarifikasi bahwa mobil dan armada saya telah dijebak oleh pihak Wiratama Trading. Saya pribadi tidak tahu-menahu tentang barang apa saja yang dikirim karena semua prosedur teknis dan muatan ditangani sepenuhnya oleh tim Alina Wiratama. Saya adalah korban dari ketidaktelitian atau mungkin... rencana gelap mereka," pungkas Anton dengan wajah yang dibuat seolah-olah menderita.

Bima yang tadinya sedang berusaha "memadamkan" energinya, kini merasakan sebuah api yang menyulut kembali cakranya. Kemarahan besar mengalir di dalam pembuluh darahnya.

"Kurang ajar!" geram Bima pelan. Suaranya yang serak kini terdengar seperti gemuruh sebelum badai.

Bima tahu betul bahwa Alina, meski kaku dan dingin, memiliki integritas yang sangat tinggi soal kejujuran bisnis. Tidak mungkin Alina menjebak Anton. Bima melihat dengan jelas lewat kacamata "kosmiknya" bahwa Anton sedang berusaha menyelamatkan diri sendiri dengan cara menginjak kepala Alina yang sedang tenggelam.

"Makhluk ini... dia benar-benar parasit dari dimensi rendah," gumam Bima lagi. Ia teringat bagaimana Alina menggandeng tangan Anton tempo hari, dan kini pria itu dengan mudahnya menusuk Alina di depan jutaan pasang mata rakyat Indonesia.

Luka hati Bima karena cemburu memang belum sembuh, tapi rasa setianya terhadap "Pusat Semesta"-nya—Alina—jauh lebih besar. Bima tidak tahan melihat wanita yang ia klaim sebagai calon istrinya itu dihina dan dikhianati oleh seorang pecundang seperti Anton.

Bima berdiri, melangkah menuju lemari kecilnya dan mengambil kembali rompi safety yang tempo hari ia lempar. Ia memandang rompi itu sejenak. Sinyal keberaniannya yang sempat padam kini kembali berpijar, meski warnanya sedikit berbeda—lebih gelap dan lebih tajam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!