Sinopsis Novel – Kelas Penyihir IX B
Rifky adalah seorang anak manusia biasa yang tiba-tiba terjebak di dunia sihir dan masuk ke sebuah sekolah misterius bernama Sekolah Sihir IX B. Di sana ia bertemu dengan Wida, seorang penyihir baik hati yang kemudian menjadi sahabatnya. Bersama Zahira, Oliv, Deni, Rais, Gofirr, dan teman-teman lainnya, Rifky mulai menjalani kehidupan baru penuh keajaiban, latihan sihir, dan petualangan yang tak terduga.
Namun kehidupan di sekolah itu tidak selalu aman. Tiga murid berbahaya, Mila, Diva, dan Eva, diam-diam merencanakan sesuatu yang gelap. Ketika Rifky tanpa sengaja menyentuh sebuah kristal sihir kuno, kekuatan misterius bangkit di dalam dirinya. Kekuatan itu membuat banyak orang terkejut, bahkan kepala sekolah sihir, Nenek Misel.
Kini Rifky harus belajar mengendalikan kekuatan yang tidak ia mengerti, sambil menghadapi ujian sihir, rahasia masa lalu, dan ancaman dari musuh yang ingin merebut kekuatannya. Petualangan, persahabatan, dan misteri besar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifky Hemuto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15-Latihan Sihir Rahasia
Setelah pertemuan di kantor Kepala Sekolah, kehidupan Rifky di sekolah sihir mulai berubah. Jika sebelumnya ia hanya murid biasa yang masih belajar memahami dunia sihir, sekarang ia menjadi pusat perhatian.
Semua itu karena "Aerion Crystal" yang ada di dalam dirinya.
Pagi itu, setelah pelajaran selesai, Rifky dipanggil kembali oleh Kepala Sekolah Misel.
“Datanglah ke halaman latihan belakang saat matahari mulai tenggelam,” kata Misel sebelumnya.
Rifky tidak tahu latihan seperti apa yang akan ia jalani, tapi ia merasa sedikit gugup.
Sore pun tiba.
Langit berubah menjadi warna jingga ketika matahari perlahan turun di balik menara sekolah. Rifky berjalan menuju halaman latihan belakang yang jarang digunakan murid.
Tempat itu dikelilingi pepohonan tinggi dan batu-batu besar yang dipenuhi simbol sihir.
Di tengah lapangan sudah berdiri **Misel**.
Ia memegang tongkat sihir panjang dengan ujung kristal ungu.
“Kamu datang tepat waktu,” katanya.
Rifky mengangguk.
“Apa yang akan kita lakukan?”
Misel tersenyum tipis.
“Latihan.”
---
## Mengendalikan Energi
Misel berjalan ke tengah lapangan.
“Pertama, kamu harus belajar merasakan energi kristal itu.”
Rifky menatap tangannya.
“Energi?”
“Ya,” jawab Misel.
“Kristal Aerion adalah kristal angin dan energi alam. Itu sebabnya kamu bisa menciptakan pusaran angin kemarin.”
Rifky mencoba mengingat saat ia mengalahkan naga bayangan di arena.
Saat itu semuanya terasa otomatis.
“Aku bahkan tidak sadar melakukannya,” kata Rifky.
Misel mengangguk.
“Itulah masalahnya.”
Ia menunjuk sebuah batu besar di depan mereka.
“Sekarang coba arahkan energimu ke batu itu.”
Rifky berdiri di depan batu besar.
Ia menarik napas dalam-dalam.
“Baiklah… aku akan mencoba.”
Ia mengangkat tangannya.
Namun tidak terjadi apa-apa.
Rifky mencoba lagi.
Tetap tidak ada reaksi.
Candra yang tiba-tiba muncul di balik pohon berbisik,
“Kalau aku jadi dia, aku sudah panik.”
Riski yang berdiri di belakang langsung menarik telinganya.
“Kamu tidak boleh di sini!”
Candra meringis.
“Maaf…”
Rifky mencoba fokus lagi.
Ia memejamkan mata.
Ia mencoba merasakan energi di dalam tubuhnya.
Beberapa detik kemudian…
Cahaya biru mulai muncul di tangannya.
Angin kecil berputar di sekitarnya.
Misel tersenyum.
“Itu dia.”
Rifky membuka matanya.
“Sekarang… arahkan.”
Rifky mengayunkan tangannya ke arah batu.
*WUUUUSH!*
Angin kuat menghantam batu itu.
Namun bukan hanya batu yang terkena.
Angin itu juga menerbangkan daun-daun, debu, bahkan hampir menjatuhkan Candra.
“AAAA! Aku hampir terbang!” teriak Candra.
Semua tertawa.
Namun batu besar di depan Rifky **retak**.
Misel terlihat cukup terkesan.
“Lumayan.”
Rifky sendiri terkejut.
“Aku tidak menyangka sekuat itu…”
---
## Latihan Semakin Sulit
Misel lalu menciptakan beberapa **target sihir** berupa bola cahaya yang melayang di udara.
“Sekarang hancurkan semuanya.”
Rifky mengangguk.
Ia mencoba mengendalikan energi kristal lagi.
Kali ini ia lebih fokus.
Angin biru muncul dari tangannya.
Ia mengarahkannya ke bola pertama.
*BOOSH!*
Bola itu hancur.
Bola kedua.
*BOOSH!*
Bola ketiga.
Namun bola keempat bergerak cepat.
Rifky mencoba menyerang.
Tapi ia meleset.
Bola itu terbang ke belakangnya.
“Hati-hati!” teriak Wida yang tiba-tiba datang bersama Zahira dan Oliv.
Rifky cepat membalikkan tubuhnya.
Energi kristal meledak dari tangannya.
*WHOOOOSH!*
Angin besar menyapu bola itu hingga hancur.
Namun angin itu juga membuat pohon-pohon di sekitar mereka bergoyang keras.
Misel mengangkat tangannya.
“Cukup.”
Angin langsung berhenti.
Rifky terengah-engah.
“Aku belum terbiasa…”
Misel berkata dengan tenang,
“Itulah sebabnya kamu harus terus berlatih.”
---
## Bahaya yang Mendekat
Di tempat lain di sekolah…
Mila, Diva, dan Eva sedang berada di ruang bawah tanah tua yang tersembunyi.
Ruangan itu dipenuhi simbol sihir gelap.
Di tengah ruangan terdapat **lingkaran sihir besar**.
Eva bertanya,
“Apakah kita benar-benar akan melakukannya?”
Diva menatap lingkaran sihir itu.
“Kalau kita ingin kekuatan kristal, ini satu-satunya cara.”
Mila tersenyum dingin.
“Benar.”
Ia mengeluarkan sebuah **batu sihir hitam** dari sakunya.
“Dengan ini… kita bisa memanggil sesuatu yang cukup kuat.”
Eva terlihat sedikit gugup.
“Kamu yakin kita bisa mengendalikannya?”
Mila menatap lingkaran sihir itu dengan penuh ambisi.
“Kita tidak perlu mengendalikannya.”
Diva bertanya,
“Lalu?”
Mila tersenyum tipis.
“Kita hanya perlu membuat kekacauan.”
Ia menaruh batu hitam itu di tengah lingkaran sihir.
Energi gelap mulai berputar.
Eva berkata pelan,
“Kalau Kepala Sekolah tahu…”
Mila memotongnya.
“Dia tidak akan tahu.”
Lingkaran sihir mulai bersinar merah gelap.
Udara di ruangan itu menjadi dingin.
Sesuatu mulai bangun dari dunia bayangan.
Dan di halaman latihan—
Rifky tiba-tiba merasakan sesuatu yang aneh.
Ia memegang dadanya.
“Ada apa?” tanya Wida.
Rifky menatap ke arah gedung sekolah.
“Entah kenapa… aku merasa…”
Angin di sekitarnya berputar pelan.
“Ada sesuatu yang akan terjadi.”
---