Apa yang sebenarnya di maksud dengan cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karang Biru Samudera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ngedate
Enjoy your time gaya.....
Menghabiskan waktu di dalam kamar adalah salah satu pilihan Aurora ketika tak ada kegiatan. Entah itu bermain game, atau membaca buku seperti sekarang.
Tok tok tok....
Bunyi ketukan pintu terdengar.
"Ra? Gue boleh masuk gak?" Tanya Luca dari balik pintu meminta izin.
"Masuk aja, gak di kunci." Memberikan izinnya, Aurora menutup buku yang dia baca dan meletakkannya di atas meja nakas sebelah tempat tidur.
Pintu terbuka. Dengan masih berbalut pakaian kerjanya, Luca masuk lebih dalam lalu berdiri di samping tempat tidur Aurora.
"Lo sibuk gak?" Tanya Luca.
"Enggak, kenapa?"
"Ngedate yuk?"
"Huh??" Kaget Aurora karena itu terdengar begitu tiba-tiba.
"Kalo lo gak mau ya juga gak papa."
Sedari awal dia memiliki rencana itu, Luca memang tak menaruh harapan tinggi jika Aurora akan menerimanya. Jadi, dia tak terlalu terkejut dengan ekspresi kaget yang Aurora tunjukkan karena mereka memang belum pernah jalan berdua. Kecuali untuk membeli cincin pernikahan waktu itu.
"Kemana?" Tanya Aurora setelah cukup lama terdiam.
"Hmmm.... Nanti deh gue kasih tau. Yang penting lo siap-siap aja dulu."
"Sekarang?" Luca mengangguk dan tersenyum.
"Oke. Gue siap-siap dulu."
"Oke."
Bersamaan dengan Aurora yang turun dari tempat tidurnya, Luca juga melangkah pergi meninggalkan kamar Aurora untuk bersiap.
***
Duduk di sofa ruang keluarga sembari memainkan handphonenya, sudah hampir 10 menit Luca menunggu Aurora keluar dari kamarnya.
"Luca?" Panggil Aurora membuat Luca seketika menoleh ke belakang.
Ibarat dalam sebuah adegan film yang tengah tercipta, Luca yang berdiri mematung hanya mampu diam terpaku dan terpesona menatap Aurora.
Dress tali setengah paha berwarna pink dengan motif bunga-bunga, tas selempang kecil berwarna senada yang menggantung di pundak kirinya, sepatu cat's berwarna putih, serta topi jenis flat cap yang terpasang di kepala berwarna ungu.
Sederhana, tapi itu terlihat begitu anggun dan elegan saat Aurora memakainya.
"Luca?" Tegur Aurora mencetakkan tangannya di depan wajah mengejutkan Luca.
"Kenapa gitu banget sih ngeliatinnya? Gue gak cocok ya pake baju kayak gini?" Lanjut Aurora bertanya dengan wajah kebingungan seraya memperhatikan penampilannya.
"O-oh. Sorry." Ucap Luca tergagap setelah tersadar.
"Cocok kok. Lo.....keliatan lebih cantik." Tersenyum malu seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal, Luca memuji.
"Harus doang......jadi istrinya Luca itu kan harus cantik. Biar gak ada saingan di luar sana." Bukannya tersipu malu mendapat pujian dari sang suami, Aurora justru terang-terangan menyahutinya dengan rasa percaya diri.
"Ya udah yuk, jalan." Ajak Luca seraya menggandeng tangan Aurora untuk pergi.
***
Seseorang dengan penuh kejutan. Mungkin itu salah satu hal yang mulai Aurora mengerti sekarang dari sosok Luca.
Jika kemarin dirinya di bawa makan malam di warung angkringan, hari ini Luca mengajaknya ke sebuah acara musik festival.
Seperti biasa, setelah turun dari mobilnya, Luca langsung bergegas mengitari mobilnya untuk membukakan pintu Aurora dan membantu sang istri turun dengan perlahan.
"Teman-teman lo bilang, lo suka jajanan street food. Jadi, lo bisa sepuasnya jajan sambil kita nonton festival." Ucap Luca menjawab kebingungan Aurora seraya membuka pintu mobil bagian belakang dan mengambil sesuatu dari sana.
"Thank you Luca." Balas Aurora tersenyum bahagia. Lagi-lagi dia di buat terkesima karena Luca yang begitu mengenal tentang dirinya.
"Sama-sama." Mendapatkan barang yang di carinya, Luca pun menutup pintu mobilnya kembali.
"Yuk." Ajaknya seraya menggandeng tangan Aurora.
Berbaur dengan lautan manusia yang lain, Luca dan Aurora berkeliling mencari makanan apa yang ingin mereka beli. Hampir semua mereka beli, dari mulai telur gulung hingga Takayuki.
"Makanan mulu? Gak beli minuman emang?" Tanya Luca sedikit protes tapi diiringi senyum bercanda.
Keduanya kini tengah duduk berdampingan menunggu pesanan mereka selesai di buatkan.
"Beli, es teh, sama air putih juga." Sahut Aurora yang masih sibuk memperhatikan penjual di depannya menyiapkan pesanan pembelinya.
Tak pernah ketinggalan, Aurora pasti memasukkan martabak telor ke dalam list jajanan yang di belinya.
"Silahkan mbak, pesanannya." Ucap penjual laki-laki itu memberikan kresek berisikan pesanan Aurora.
"Makasih mas." Menerimanya, Aurora juga tersenyum dan memberikan uangnya.
"Ambil aja mas kembaliannya." Ucap Luca saat penjual itu hendak mengambilkan uang kembalian Aurora.
"Makasih mas."
Pergi dari sana, keduanya langsung mencari pedagang es teh dan air mineral sebagai penutup wisata jajanan pinggir jalan mereka.
Menghentikan langkahnya di depan salah satu pedagang kaki lima di sana, Aurora terlebih dulu melihat menu yang di sajikan sebelum memesan.
"Mas, es teh original yang ukuran sedang dua ya?" Ucap Aurora pada sang penjual setelah menentukan pilihan.
Sembari menunggu karena masih ada 2 antrian, Aurora mengambil 2 botol air mineral yang ada di sana.
"Apalagi mbak?" Tanya penjual itu setelah selesai menyiapkan pesanan Aurora.
"Sama ini air mineralnya dua. Jadi berapa?" Seraya memperlihatkan air mineral yang ada di tangannya, Aurora mengambil dompetnya di dalam tas untuk mengambil uang.
"20.000"
"Makasih mas." Memberikan uang pas, Aurora mengambil pesanannya lalu pergi dari tempat itu bersama Luca yang mengikutinya dari belakang.
Di rasa cukup dan sudah tidak ada lagi yang ingin di beli, keduanya pun menuju tempat acara festival music diadakan. Mencari tempat yang pas, cocok dan nyaman untuk mereka melihat pertunjukan sembari menikmati berbagai macam jajanan yang sudah mereka siapkan.
Sebelum itu, Luca juga tak lupa menggelar karpet kecil yang sejak tadi dia bawa agar keduanya bisa duduk dengan nyaman tanpa bersentuhan langsung dengan tanah.
Tak hanya itu, selimut yang Luca bawa juga dia berikan pada Aurora untuk menutupi tubuhnya sekaligus menghalau hawa dingin yang mulai menyerang.
Setengah jam berselang, Aurora mulai bosan. Mengambil handphonenya di dalam tas, Aurora berniat mencari kegiatan lain yang mungkin bisa dia mainkan.
"Luca?" Panggil Aurora seraya menepuk-nepuk lengan Luca pelan.
"Hm?" Sahut Luca menoleh.
"Foto bareng yuk?"
Menjawabnya dengan senyuman, Luca mengarahkan pandangannya ke layar handphone Aurora yang sudah terarah ke mereka.
Tanpa rasa canggung sedikitpun, Aurora pun langsung mempersempit jarak diantara mereka, melingkarkan tangannya di lengan Luca dan menyandarkan kepalanya di bahu Luca lalu tangan yang memegang handphone menekan tombol kamera untuk memotret momen mereka.
Mengambil beberapa kali jepretan dengan posisi yang sama, Aurora akhirnya melepas lingkaran tangannya setelah merasa puas.
Sementara Luca kembali fokus dengan tontonan yang ada di depannya, Aurora justru terlihat sibuk memilih foto yang dia suka untuk di unggah di jejaring sosialnya tanpa sepengetahuan Luca.
Mendapatkan satu yang terbaik, dengan senyum bangga dan rona bahagia Aurora menuliskan caption di foto itu sebelum akhirnya mempostingnya.
Meletakkan handphonenya kembali ke dalam tas, Aurora mencoba menikmati waktu yang tersisa seraya menyandarkan kepalanya di bahu Luca.