NovelToon NovelToon
BADAI PUSAKA DI TANAH GADHING

BADAI PUSAKA DI TANAH GADHING

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Fantasi Timur / Action / Balas Dendam
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: Restu Agung Nirwana

Malam itu, di Desa Gadhing yang damai, Tirta hanyalah seorang pemuda biasa yang lebih akrab dengan cangkul daripada pedang. Wajahnya selalu menunduk malu, bicaranya pelan, dan tubuhnya kurus. Ia tak punya minat pada dunia persilatan yang sering dibicarakan para tetua di gardu. Baginya, kebahagiaan adalah melihat ladang bapaknya subur dan senyum ibunya mengembang.

Namun, ketenangan itu hancur saat desa mereka diserang. Sekelompok perampok yang dipimpin oleh Lurah Karta, seorang demang serakah yang terkenal bengis, datang dengan tujuan menjarah. Tirta menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana kedua orang tuanya tewas di tangan mereka saat berusaha melindunginya. Suara pedang yang beradu dan jeritan pilu ibu masih terngiang-ngiang di telinganya. Dalam duka dan amarah yang meletup, sesuatu di dalam dirinya pecah. Sebuah kekuatan terpendam bangkit. Dengan tangan kosong, ia berhasil melumpuhkan beberapa perampok, membuat Lurah Karta terkejut dan mundur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RITUAL PEMURNIAN DAN PESAN DARI MASA LALU

Pagi itu, kompleks Kuil Teratai Putih yang terletak di bagian tertinggi istana Pajajaran diselimuti oleh kabut yang berbau harum dupa cendana. Matahari yang baru saja muncul di ufuk timur memberikan warna keemasan pada atap-atap kuil yang terbuat dari tembaga murni. Berbeda dengan kegaduhan di balairung istana semalam, di sini hanya terdengar suara gemericik air suci yang mengalir dari pancuran batu dan lantunan mantra rendah dari para rahib kerajaan.

Tirta berdiri di pelataran kuil, mengenakan pakaian putih bersih pemberian istana. Di sampingnya, Mayangsari nampak anggun sekaligus penuh misteri. Ia mengenakan kain putih panjang dengan rambut yang dibiarkan terurai, sementara Mustika Samudra diletakkan di atas altar batu yang dikelilingi oleh kelopak bunga teratai.

Prabu Jayawikrama duduk di kursi kayu sederhana di sudut pelataran, memberikan ruang bagi para pendekar untuk melakukan apa yang harus dilakukan.

"Mayang, kau siap?" bisik Tirta, ia bisa merasakan kegelisahan yang memancar dari energi Mayangsari.

Mayang mengangguk pelan. "Aku merasa mustika ini memanggilku, Tirta. Seolah-olah ia ingin menceritakan sesuatu yang selama ini tersembunyi di balik kegelapan."

Rahib Agung kuil, seorang pria tua dengan janggut putih panjang bernama Ki Ageng Sepuh, melangkah maju. Ia membawa sebuah mangkuk perak berisi air murni yang telah dibacakan doa selama tujuh malam.

"Wahai pembawa cahaya dan putri rembulan," suara Ki Ageng Sepuh bergema tenang. "Ritual ini bukan untuk mengambil kekuatan mustika, melainkan untuk membersihkan residu kegelapan yang ditinggalkan oleh para pemuja Mata Meratap. Hanya dengan jiwa yang murni, pesan dari para leluhur bisa tersampaikan."

Ki Ageng Sepuh memercikkan air suci ke arah Mustika Samudra. Seketika, bola kristal biru itu berpijar hebat. Cahayanya bukan lagi biru gelap, melainkan biru langit yang cerah. Mayangsari melangkah mendekati altar, tangannya terulur dan menyentuh permukaan kristal yang bergetar.

WUUUUUSH!

Gelombang energi murni meledak dari titik sentuhan itu. Tirta segera memasang kuda-kuda, siap menahan ledakan, namun ia menyadari bahwa energi ini tidak menyakiti. Sebaliknya, ia merasa seolah ditarik masuk ke dalam sebuah dimensi ruang dan waktu yang berbeda.

Tirta dan Mayang mendapati diri mereka berdiri di atas permukaan laut yang tenang seputih cermin. Langit di atas mereka tidak berwarna biru, melainkan ungu kemerahan dengan bulan purnama yang sangat besar—Rembulan Merah.

Di hadapan mereka, muncul sosok wanita yang selama ini menghantui mimpi Mayang. Wanita itu mengenakan mahkota karang dan jubah yang seolah terbuat dari riak air. Wajahnya sangat mirip dengan Mayangsari, namun dengan sorot mata yang telah menyaksikan ribuan tahun sejarah.

"Ibu?" suara Mayang bergetar hebat.

Sosok itu tersenyum sedih. "Aku adalah sisa ingatan dari garis darahmu, anakku. Aku adalah Penjaga Samudra yang gagal menahan gerhana seribu tahun yang lalu."

Wanita itu melambai ke arah Tirta. "Dan kau, pemegang Sinar Gadhing... Kau adalah kepingan terakhir yang kami tunggu. Pedangmu bukan sekadar besi, ia adalah kunci untuk mengunci kembali gerbang alam bawah yang coba dibuka oleh Mata Meratap."

Tirta melangkah maju, Sasmita Dwipa di punggungnya bergetar selaras dengan detak jantung wanita itu. "Apa yang sebenarnya mereka inginkan? Mengapa mereka begitu terobsesi dengan Mayang?"

"Mereka tidak menginginkan Mayang sebagai pemimpin," suara wanita itu berubah menjadi serius. "Mereka menginginkannya sebagai Bejana. Saat gerhana bulan total terjadi, Mata Meratap akan mengorbankan garis keturunan rembulan untuk memanggil Sang Pemunah—entitas kuno yang akan menelan seluruh air di bumi dan menyisakan kekeringan abadi. Mustika Samudra adalah satu-satunya hal yang bisa menahan ritual itu, tapi ia butuh pengorbanan yang tulus, bukan paksaan."

Wanita itu mendekati Mayang, menyentuh keningnya. "Anakku, di dalam benteng terakhir mereka—Istana Dasar Segara—terdapat sebuah altar yang disebut Nadi Bumi. Kau harus meletakkan mustika ini di sana sebelum bulan tertutup sepenuhnya. Jika kau terlambat sekejap saja, dunia yang kau kenal akan berubah menjadi padang pasir."

"Bagaimana kami bisa sampai ke sana? Istana itu berada di bawah laut!" seru Mayang.

"Mustika itu akan membukakan jalan. Tapi waspadalah... di antara kalian, ada satu bayangan yang belum terungkap. Seseorang yang sangat dekat, namun hatinya telah dicuri oleh kegelapan."

Pemandangan itu mulai memudar. Suara ombak yang tenang berubah menjadi deru angin yang kencang.

Tirta dan Mayangsari tersentak kembali ke dunia nyata. Mereka masih berada di pelataran kuil, namun Mustika Samudra kini memancarkan cahaya biru yang stabil. Mayang jatuh berlutut, napasnya memburu. Tirta segera menangkapnya, menahan tubuh gadis itu agar tidak jatuh ke lantai batu.

"Apa yang kau lihat, Mayang?" tanya Prabu Jayawikrama yang segera mendekat dengan wajah cemas.

Mayang menatap Tirta dengan mata yang penuh ketakutan.

"Istana Dasar Segara... kita harus ke sana sebelum gerhana. Dan... ada pengkhianat di antara kita."

Kata-kata terakhir itu membuat suasana di kuil yang tenang menjadi sangat tegang. Tirta menoleh ke arah Dimas dan Sekar Wangi yang berdiri tak jauh dari sana. Dimas nampak bingung, sementara Sekar tetap diam dengan wajah datarnya yang sulit dibaca.

"Pengkhianat?" Dimas mendekat, suaranya sedikit meninggi.

"Mayang, kau tidak bermaksud menuduh salah satu dari kami, kan? Kita sudah bertarung mati-matian bersama!"

Tirta mengangkat tangannya, menghentikan perdebatan sebelum dimulai. "Ingatan itu mungkin hanya peringatan umum, Dimas. Kita tidak boleh saling mencurigai sekarang. Fokus kita adalah menuju pesisir selatan dan mencari jalan masuk ke istana bawah laut itu."

Ki Ageng Sepuh mengamati Mustika Samudra yang kini memiliki ukiran baru di permukaannya—peta aliran arus laut yang menuju ke sebuah palung dalam. "Kalian tidak bisa pergi sendirian. Prabu, armada Jaladri harus mengawal mereka sampai ke perbatasan laut terlarang."

"Tentu saja," sahut Raja. "Panglima Dyandari akan memimpin pasukan elit untuk memastikan Tirta dan kawan-kawannya mencapai koordinat tersebut. Namun setelah itu... hanya kalian berempat yang bisa masuk ke dalam istana bawah laut itu karena tekanan energinya yang hanya bisa ditahan oleh pemegang mustika."

Malam harinya, paviliun tamu terasa lebih sunyi dari biasanya. Peringatan tentang pengkhianat itu menggantung di udara seperti awan mendung. Tirta tidak bisa tidur. Ia duduk di teras, mengasah bilah Sasmita Dwipa dengan batu asah halus.

Seseorang mendekat dari belakang. Itu adalah Sekar Wangi.

"Kau mencurigaiku, Tirta?" tanya Sekar langsung, tanpa basa-basi.

Tirta berhenti mengasah, namun tidak menoleh. "Aku mencurigai semua orang, Sekar. Termasuk diriku sendiri. Kekuatan kegelapan bisa merasuki siapa saja tanpa mereka sadari."

Sekar duduk di samping Tirta, menatap pedang perak itu.

"Ayahku dulu bilang, saat seekor harimau dikejar oleh pemburu, ia akan mencurigai bayangannya sendiri. Tapi jika ia berhenti berlari hanya karena takut pada bayangannya, ia pasti tertangkap. Jangan biarkan pesan itu menghancurkan tim kita sebelum perang dimulai."

Sekar kemudian berdiri dan berjalan pergi, meninggalkan Tirta dalam keheningan yang lebih dalam.

Di kamarnya, Mayangsari menggenggam erat mustika itu. Ia bisa merasakan denyut energi yang aneh. Bukan dari mustika, tapi dari luar jendela. Ia melihat seekor burung gagak hitam bertengger di dahan pohon, menatapnya dengan mata merah yang berpijar.

Burung itu membawa sebuah pesan kecil di kakinya. Mayang ragu, namun ia membuka jendela dan mengambil pesan itu. Isinya hanya satu kalimat pendek yang ditulis dengan darah:

"Darah dibayar darah. Temui aku di dermaga tua saat lonceng tengah malam berbunyi jika kau ingin tahu kebenaran tentang kematian ibumu."

Mayangsari terdiam. Haruskah ia memberi tahu Tirta? Atau haruskah ia menghadapi masa lalunya sendirian agar tidak membahayakan misi mereka?

Ritual pemurnian telah memberikan jawaban, namun ia juga membuka kotak pandora yang lebih berbahaya. Gerhana semakin dekat, dan kepercayaan adalah kemewahan yang kini sulit mereka miliki.

1
anggita
like👍iklan👆bunga🌹, dukungan buat novel silat fantasi timur lokal. moga lancar👌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!