Terlahir dengan kutukan yang memakan usia, Boqin Tianzun terpaksa menempuh jalan berdarah demi melawan waktu yang kian menipis. Di tengah pengkhianatan keluarga dan dunia yang memuja kekuatan, ia merajut rencana keji untuk merangkak ke puncak tertinggi.
Bagi sang iblis berbakat, nyawa hanyalah pion catur dan cinta hanyalah teknik manipulasi, kecuali untuk satu jiwa yang tersisa. Di ambang batas kematian, ia bersumpah akan menaklukkan takdir dan menghancurkan siapa pun yang menghalangi langkahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Gerhana di Tengah Terik
Ketegangan di Sekte Matahari Suci mencapai titik didih. Berkat surat-surat palsu dan bisikan beracun Boqin, Han Ruoli dan kakak keduanya, Han Feng, kini saling memandang sebagai ancaman nyawa.
"Kau berani mengirim pembunuh ke paviliunku, Kak?!" raung Han Ruoli di depan gerbang utama. Ia memegang pedang apinya, wajahnya merah padam karena amarah yang telah dipupuk Boqin selama berminggu-minggu.
"Apa maksudmu?! Kau yang mencoba meracuni Ayah dan menuduhku!" balas Han Feng, mengeluarkan tombak peraknya.
Pertempuran pecah. Bukan hanya antara mereka berdua, tapi juga melibatkan para pengikut dan pelayan setia masing-masing. Di tengah dentingan senjata dan ledakan energi panas matahari, sosok Qin Mo (Boqin) menghilang dari sisi Han Ruoli.
Boqin tidak tertarik pada drama keluarga mereka. Saat semua mata tertuju pada duel berdarah di lapangan, ia bergerak menuju Menara Cahaya Abadi, tempat artefak paling suci sekte itu disimpan: Inti Api Matahari.
Penjaga menara sedang gelisah, perhatian mereka teralih oleh keributan di luar. Boqin muncul di belakang mereka seperti bayangan. Dengan dua gerakan tangan yang sangat presisi, ia mematahkan leher para penjaga tanpa suara.
Ia berdiri di depan pintu ruang pusaka. Ia menyentuh simpul formasi yang telah ia infeksi dengan energinya berminggu-minggu lalu.
Klik.
Pintu itu terbuka tanpa suara alarm. Di tengah ruangan, sebuah bola energi emas yang sangat panas melayang di atas altar batu. Inilah sumber kekuatan Sekte Matahari Suci.
"Dengan ini, kultivasiku akan melompat ke jiwa sejati, dan Sua Mei tidak akan pernah menua." gumam Boqin. Ia segera memasukkan artefak itu ke dalam cincin penyimpanannya. Seketika, suhu di seluruh gunung sekte mulai turun drastis. Energi matahari yang biasanya menyelimuti tempat itu meredup.
Boqin kembali ke lapangan tepat saat Han Ruoli berhasil melukai lengan Han Feng. Han Ruoli tampak kelelahan, napasnya tersengal.
"Qin Mo! Di mana saja kau?!" teriak Han Ruoli saat melihat pelayannya kembali. "Bantu aku menghabisi pengkhianat ini!"
Boqin melangkah maju, namun ia tidak menyerang Han Feng. Ia berjalan tepat ke depan Han Ruoli. Ia tidak lagi menundukkan kepala. Postur tubuhnya tegak, dan auranya meledak—bukan lagi Inti Qi Level 2 yang lemah, melainkan aura penghancur yang membuat Han Ruoli tercekik.
"Nona Muda," ucap Boqin, suaranya kini kembali ke nada aslinya: dingin, berat, dan penuh wibawa. "Terima kasih telah menjadi hiburan yang sangat menyenangkan."
Han Ruoli terpaku. "Kau... auramu... Qin Mo, apa yang terjadi?"
Boqin tersenyum tipis. Ia merobek topeng penyamarannya, memperlihatkan wajah aslinya yang lebih tampan namun jauh lebih mematikan.
"Namaku bukan Qin Mo. Dan aku bukan pelayanmu," bisik Boqin. Ia mengangkat tangan, dan seketika api dari pedang Han Ruoli berbalik menyerang pemiliknya sendiri karena Boqin kini memegang Inti Api Matahari. "Aku adalah suami dari orang yang kau hina di pasar. Sekarang, lihatlah siapa yang merangkak di bawah kaki siapa."
Boqin mengayunkan tangannya, melepaskan gelombang energi yang melemparkan Han Ruoli dan Han Feng sekaligus ke dinding batu. Mereka tergeletak tak berdaya, menatap dengan ngeri pada sosok yang selama ini mereka anggap remeh.
Di rumah danau, klon Boqin sedang memakaikan selimut pada Sua Mei yang tertidur di kursi panjang teras. Sang klon merasakan kepuasan luar biasa dari diri aslinya.
Ia mengecup kening Sua Mei dengan lembut. "Tidurlah yang nyenyak, Mei. Badai di luar sana hampir berakhir. Esok hari, kita akan memiliki seluruh matahari hanya untuk kita sendiri."