Alitza Zeefanya Bella, atau sering disapa Zee adalah seorang gadis cantik yang ceria. Seperti nama yang diberikan oleh orang tuanya yang berarti gadis cantik yang ceria yang selalu ada dalam lindungan Tuhan.
Hidupnya baik-baik saja, terlahir cantik serta besar di lingkungan keluarga kaya yang harmonis membuat dirinya tumbuh menjadi gadis ceria dan penuh kepedulian.
Semua baik-baik saja sampai dirinya harus kehilangan seluruh alasan kebahagiaan nya. Membuat dirinya harus bekerja untuk menghidupi dirinya dan seorang wanita tua yang menjadi pengasuhnya sejak bayi.
Bekerja didunia malam membuat dirinya dipandang miring oleh semua orang. Namun dirinya tak peduli, hanya dirinya yang tahu seperti apa sesungguhnya yang ia jalani.
Akankah nasib baik kembali berpihak padanya? atau justru kehidupannya semakin sulit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novia_dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sadar
Jarum jam sudah menunjukkan angka 11. Artinya sudah dua jam Maya ada didalam ruang operasi.
Zee sudah terlihat lebih baik daripada sebelumnya. Tubuh dan pakaiannya sudah bersih dari darah yang tadi mengotori wajah dan tangan serta pakaiannya.
Zacky dan Ben masih ada disana karena Leon berpesan untuk menemani Zee dan Aurel selagi dirinya membereskan kekacauan di club nya. Dan Zacky serta Ben tak berkeberatan.
"Makasih baju nya ya kak.. " Ucap Zee saat Aurel baru kembali dari mengurus administrasi rumah sakit untuk Maya dan duduk di samping Zee.
"Syukur deh kalau pas. Kakak takut kegedean tadi". Ucap Aurel menatap Zee dari ujung rambut hingga kaki.
Saat ini gadis cantik itu sudah berganti pakaian yang tadi ia belikan secara online dan dadakan. Sebuah celana panjang berwarna abu-abu dan blouse maroon membuat wajah Zee nampak segar, apalagi Zee mengikat tinggi rambut panjang nya.
" Zee.. " Yang dipanggil segera menoleh. Menatap Aurel yang memanggil nya.
"Kakak boleh tanya? ". Zee menganggukkan kepalanya pelan.
" Sebenernya apa yang terjadi sama Maya? ". Tanya Aurel membuat Zee terdiam dan menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Aurel.
" Aku nggak tau kak.. " Suara Zee terdengar sendu.
"Waktu aku masuk, Maya udah kaya gitu pas aku nyampe. Tapi.. "
"Tapi apa Zee? ". Tanya Aurel mendesak. Sementara Zacky dan Ben mendengarkan dengan seksama.
" Aku sempet senggolan sama mbak Sinta waktu mau ke loker, dan.. "
"Apa?! ". Tanya Aurel tak sabar membuat Zacky menggeleng pelan
" Biar dia menjelaskan dulu. Kalau terus kamu potong nggak selesai-selesai dia jelasinnya". Potong Ben cepat, ia juga penasaran dengan apa yang terjadi. Namun Aurel malah membuat mereka semakin penasaran karena terus memotong cerita Zee.
"Ish.. iya.. iya. Maaf. Lanjut Zee.. " Aurel menatap Zee intens.
"Mbak Sinta pegang gunting di tangannya. Aku nggak terlalu yakin sih mba, soalnya mbak Sinta langsung pergi" . Akhirnya Zee menceritakan apa yang dilihatnya tanpa terlewat.
"Kalau aja aku dateng lebih cepet, Maya nggak akan kaya gini kak.. " Zee menghela nafasnya lagi, sedikit banyak ia menyesal karena tak lebih cepat datang.
"Ini bukan salah kamu Zee, memang sudah takdirnya harus begini". Aurel mengelus pundak Zee.
" Sinta.. " Geram Aurel mengingat kembali semua kesalahan-kesalahan Sinta sebelumnya.
"Dia harus dihukum berat". Ucap Aurel tegas. Ia merogoh ponsel ditas nya. Berniat menghubungi Leon.
" Sayang.. kata Zee, sebelum nemuin Maya terluka dia sempet senggolan sama Sinta. Aku yakin ini ulah wanita ular itu". Geram Aurel dengan kilat amarah dimatanya.
"Kamu harus cepet temuin dia sayang. Jangan sampai ada korban lain lagi. Cukup Maya aja.. " Aurel mengakhiri panggilannya.
"Sinta nggak ada di club, Leon sama yang lain udah cari tapi nggak ada". Jelas Aurel menatap Zee.
" Kemungkinan besar memang Sinta pelakunya". Imbuh Aurel karena Zee diam saja.
"Memang pacarmu itu tidak memasang CCTV di ruangan itu apa?!. " Semua menoleh menatap Ben
"Club sebesar itu, keuntungannya juga besar pasti. Membeli CCTV saja apa tidak mampu? ". Pertanyaan yang terdengar sangat merendahkan terlontar dari bibir menyebalkan Ben.
Aurel mendelik menatap Ben yang tampak acuh saja setelah membuat orang yang mendengarkan ucapannya kesal.
" Ada kok. Tapi mungkin bang Leon lupa.. di loker sering pada kehilangan. Makanya aku minta bang Leon pasang CCTV. Letaknya nggak bisa keliatan langsung kak.. telpon bang Leon lagi kak. Ingetin kalo di loker ada cctv". Kini semua mata menatap Zee. Dan Aurel kembali menghubungi kekasihnya untuk mengingatkan perihal CCTV yang dibicarakan Zee.
"Hallo.. sayang.. "
"Kata Zee, diruang loker ada cctv yang kamu pasang. Zee bilang mungkin kamu lupa". Kini mereka akan secepatnya tahu apa yang terjadi pada Maya sebenarnya.
Tak lama pintu ruang operasi terbuka, membuat semua orang berdiri dengan perasaan was-was.
" Bagaimana kondisi teman saya dok? ". Zee bertanya langsung ketika melihat dokter membuka maskernya.
" Operasinya berjalan lancar, syukur alhamdulillah. Dan kondisi pasien juga stabil, kita hanya tinggal menunggu pasien sadar dan setelah itu bisa kita pindahkan ke ruang rawat inap.. " Kini semua orang bisa bernafas lega saat dokter selesai menjelaskan.
"Terimakasih dok.. " Zee membungkukkan tubuhnya, menunduk berulang sebagai ucapan terimakasih nya yang begitu besar pada dokter yang sudah menyelamatkan nyawa teman baiknya.
Dokter hanya tersenyum sambil menepuk pelan pundak Zee.
Jam menunjuk pukul 1 dini hari saat tubuh Maya dipindahkan ke ruang rawat inap. Zee dengan setia menemani Maya.
"Aw.. sakit banget.. " Desis Maya lirih. Tenaganya belum sepenuhnya pulih.
"Sabar ya.. nanti juga sembuh kok" Zee mengelus punggung tangan Maya dengan lembut. Memberi semangat pada Maya.
"Aku haus Zee.. " Zee menggeleng, Maya belum boleh minum untuk saat ini. Itu pesan dokter tadi.
"Belum boleh minum May.. Sebentar lagi yaaa.. nanti kalau kamu udah buang angin, baru boleh minum. Itu juga sedikit-sedikit dulu.. " Jelas Zee penuh kesabaran.
"Haus banget tapi.. " Rengek Maya
"Iya.. sabar dulu dong ya.. " Semua yang ada disana menatap interaksi Zee dan Maya. Mereka yang tak tahu seperti apa Maya, akan mengira jika Zee dan Maya adalah sepasang kekasih.
"Biar aku yang jagain Maya disini. Kamu pulang aja istirahat.. " Leon menyentuh kepala Zee yang duduk disamping ranjang Maya.
Pekerjaan nya lebih mudah setelah Zee mengingatkan perihal cctv yang ia pasang diam-diam diruang loker. Polisi sudah membawa salinan cctv ruangan itu untuk barbuk.
"Enggak bang. Aku yang akan jagain Maya.. "
"Abang anter kak Aurel pulang aja. Kasian kak Aurel pasti capek. " Zee menatap Aurel yang duduk di sofa yang ada diruang rawat Maya. Wanita anggun itu sudah menguap berkali-kali. Bahkan sebentar tertidur dan kemudian terjaga lagi.
"Tapi kamu juga pasti lelah". Leon menatap wajah Zee yang terlihat kuyu. Matanya masih sedikit bengkak, dan gurat lelah nampak jelas disana.
" Aku nggak apa-apa bang. Abang anter kak Aurel aja terus pulang juga istirahat.. " Putus Zee. Ia akan menjaga Maya selama dirawat dirumah sakit.
"Yasudah. Aku tinggal dulu kalau begitu". Zee mengangguk sambil tersenyum pada Leon.
Aurel pamit pada Zee dan berjanji akan datang lagi saat siang. Zee mengatakan baik-baik saja dan meminta Aurel tidak terlalu memikirkan dirinya.
" Jangan sungkan jika butuh sesuatu. Langsung telepon aku. Mengerti?! ". Zee mengangguk lagi dengan yakin. Ia tahu lelaki yang memperlakukannya bagai adik sendiri itu khawatir pada dirinya.
Sementara Ben dan Zacky sudah pulang sejak Maya selesai dipindahkan ke ruang rawat inap nya. Leon sengaja menempatkan Maya diruang VIP agar memudahkannya untuk memantau. Juga memberi kenyamanan bagi penunggu nya.
Kini tinggal Zee dan Maya berdua saja. Zee melirik Maya yang rupanya kembali tertidur. Gadis cantik itu merapikan selimut yang menutup tubuh Maya hingga sebatas dada.
" Hari ini berat banget ya May.. " Zee menggenggam tangan Maya dengan sangat pelan. Tak ingin mengganggu tidur sahabatnya.
"Makasih udah bertahan ya May.. " Dan akhirnya Zee jatuh tertidur dengan posisi duduk disamping ranjang Maya. Hari ini sangat melelahkan, bukan hanya untuk Maya namun juga untuk dirinya.
°°°°
Zee terbangun saat merasakan pergerakan diatas ranjang. Ia segera duduk tegap dan mengucek matanya yang terasa berat.
"Kamu mau apa? ". Tanya Zee saat melihat Maya mencoba duduk.
" Aku haus say.. " Suara Maya sudah lebih bertenaga daripada setelah operasi semalam.
Zee melirik jam yang menempel didinding ruangan. Pukul 4 subuh.
"Sudah kentut? ". Tanya Zee langsung.
" Udah.. emang yey nggak ngebauin tadi eike kentut" . Zee tersenyum melihat Maya yang sudah bisa melawak.
"Ooh.. yang bau tadi kentut kamu to". Balas Zee untuk lelucon Maya.
Keduanya lantas tertawa, namun sesaat kemudian Zee panik karena Maya meringis kesakitan.
" Kenapa? Sakit lagi? ". Tanya Zee panik.
" Duh, jangan ngajakin eike ketawa dulu deh. Cenut-cenut begini dipake ketawa" Maya mengatur nafasnya guna mengurangi sakit yang mendera saat dirinya tertawa barusan.
"Iya.. iya. Maaf May.. "
"Minum say.. eike haus banget nih". Zee mengangguk dan mengambil gelas berisi air putih.
" Sebentar May. Aku tambahin air panas dulu biar hangat. Takutnya kamu mual". Zee mengurangi isi dalam gelas dan mengganti dengan air panas.
...¥¥¥°°°¥¥¥...
...Huft.. syukur deh ya Maya selamat🤗🤗...
...Happy reading semuanyaa, jangan lupa ritualnya yu ah.. like komennya jangan ketinggalan ya bestiee 🫰💋💋💋...
...Sarangheyo sekebon readers💋💋💋💋😍😘🥰😍😘😘🤩❤❤❤...