Seorang pria tua, mantan narapidana, harus berusaha mencari kebenaran dari rentetan pembunuhan yang menyeret namanya.
"Aku masih tak mengerti, apa motif si pembunuh dengan menjadi peniru?"
"Tapi pembunuh kali ini, dia tampak lebih cerdas. dia sudah memikirkan dengan matang semua langkahnya."
"Kurasa bukan peniru, tapi memang dia sendiri pelakunya, dia... Santaroni ingin mengulang pembunuhannya dengan lebih sempurna."
Mampukah Santaroni—si residivis, membuktikan pertobatannya, dan menemukan pelaku pembunuhan yang telah meniru jejaknya?
note: mungkin akan ada beberapa adegan keji, mohon bijak saat membaca. ingat: 'ini hanya cerita karangan, jika ada kesamaan nama tokoh dan situasi, hanya kebetulan yang sengaja dibetul-betulkan.'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kerja Keras Petugas, akankah membawa hasil?—Rencana Matang Komplotan
Sarah tak benar-benar pergi, ia hanya meninggalkan halaman kecil kedai itu, tapi ia kembali memarkirkan mobilnya tak jauh dari sana.
Sarah menatap layar ponselnya, matanya tak berkedip memantau waktu. Mobilnya masih bergetar pelan karena ia membiarkan mesin tetap menyala. Ia menunggu kabar dari seseorang, sebuah konfirmasi yang akan membuatnya memilih arah selanjutnya.
“Tatapan dingin, caranya berbicara… itu bukan berasal dari wanita biasa yang bergulat dengan bumbu dan asap dapur. Pasti ada sesuatu yang mereka sembunyikan!” monolognya tanpa mengurangi sedikitpun kewaspadaan.
Tak lama kemudian ponselnya bergetar. Sarah langsung menatap layar, jantungnya berdetak lebih cepat, namun tangannya bergerak cepat membuka pesan itu.
Matanya memindai kata-kata dalam ponselnya, —Perubahan ekspresi dan bagian pekerjaan—
Sarah menarik napas dalam, matanya melebar karena prediksinya tepat. Ia kembali memutar kemudi, menginjak gas dengan cepat dan kembali memasuki kedai itu.
“Jangan bergerak! Kami petugas!” serunya dengan pistol teracung lurus di tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya menjadi landasan pada grip pistol, menopang tangan kanannya.
Beberapa pengunjung tampak terkejut, menatap takut pada petugas wanita itu, tanpa berani membantah atau berusaha kabur.
“Letakkan tangan di atas meja! Sekarang!” perintah Sarah, suaranya tegas dan tidak bisa dibantah. Matanya memindai seluruh ruangan, dengan pistolnya masih terarah pada beberapa targetnya, siap untuk ditembakkan kapan saja.
Rekan-rekan Sarah yang menyamar sebagai pelanggan bangkit dari tempat duduk mereka, menunjukkan identitas polisi dan mulai mengamankan lokasi. Mereka dengan cepat mengarahkan pengunjung ke sudut kedai, memisahkan mereka dari area yang diduga menjadi target operasi.
“Semua orang, tolong tetap tenang dan ikuti instruksi kami!” seru salah satu petugas dengan suaranya tegas namun tetap terkendali.
Sementara itu, beberapa petugas lainnya mulai mengarahkan karyawan kedai untuk berdiri di satu tempat, tangan di atas kepala, sambil memeriksa identitas dan latar belakang mereka. Salah satu polisi memeriksa CCTV kedai, memastikan tidak ada yang mencoba melarikan diri atau menghancurkan bukti.
“Kamu, kamu, dan kamu… tetap di sini,” kata Sarah, menunjuk beberapa karyawan yang terlihat mencurigakan. “Kami perlu bertanya beberapa hal kepada kalian.”
Karyawan-karyawan yang ditunjuk terlihat gelap mata, mungkin menyadari bahwa mereka telah terdeteksi. Polisi mulai menggeledah area kerja mereka, mencari bukti-bukti yang mungkin terkait dengan penyelidikan.
"Kalian berempat amankan tempat ini, sisanya ikuti aku menggeledah tempat ini!" perintah Sarah menunjuk pada timnya.
"Wanita itu masuk ruangan di sana, namun tak kunjung kembali," lapor Zoam salah satu tim Sarah yang bertugas mengikutinya.
Sarah menyeret pramusaji yang tadi membawakan majalah untuknya. "Namamu, Ham kan!" panggilnya yang lebih terdengar seperti perintah. "Tunjukkan jalan rahasia kalian!"
Zoam mencekal lengan pria itu, kemudian sedikit mendorongnya agar mendekat ke arah Sarah. Bekerjasamalah dengan kami atau hukumanmu akan bertambah berat karena menghalangi penyelidikan!" gertak Zoam.
Pramusaji itu—Ham, terlihat menelan ludah keras, matanya melebar karena takut. Ia mengangguk-angguk, "I-iya, saya tunjukkan."
Ham memimpin Sarah dan timnya ke arah belakang kedai, melewati dapur yang sedang sibuk dengan aktivitas memasak. Mereka berhenti di depan sebuah pintu tersembunyi di balik rak penyimpanan barang.
"Di-di sini," tunjuk Ham.
Sarah mengambil alih, mendorong pintu terbuka dengan pistolnya. Sarah memimpin di depan, melewati lorong kecil sedikit gelap.
Tepat seperti yang dilalui Yomi sebelumnya, mereka pun berakhir di gymnasium. Sarah mengernyit waspada. Ia memimpin menuruni tangga, disambut dengan tatapan beberapa pria dan wanita yang sedang berolahraga.
"Jangan bergerak! Kami petugas!" Seru Sarah lagi mempercepat langkahnya.
Dua petugas selain Zoam, merosot melalui rail tangga, bokong mereka bertumpu pada besi pegangan tangga, meluncur turun dengan cepat. Mereka mendarat dengan lincah di lantai gymnasium, langsung mengamankan pengunjung yang masih membeku karena terkejut.
"Semua orang, tetap di tempat! Jangan bergerak!" seru salah satu petugas dengan pistol siap teracung.
Sarah mendengus kesal, menghitung jumlah timnya yang tak memadai. "Mark, hubungi pusat, minta bantuan pasukan!" perintahnya. Sedangkan matanya terus memindai mencari Yomi.
"Katakan, apa masih ada ruangan rahasia lain di sini?" gertak Sarah menempelkan ujung pistolnya di wajah Ham.
Pria itu merosot bersimpuh, "Tidak ada, hanya ini ruangan rahasia kami. Sebenarnya bukan ruangan rahasia, pengunjung bisa masuk langsung ke tempat ini dari pintu di sana!" ucapnya berbohong seraya menunjuk pintu masuk yang benar-benar ada.
Sarah berpikir sejenak, membaca peta bangunan itu. 'Jika kedai menghadap ke dalam pasar, berarti bangunan ini berada di samping pasar, menghadap jalan bawah di sisi kiri pasar. Secara denah, mereka tak berbohong, tapi tak mungkin hanya berakhir di sini!' pikir Sarah. Matanya terus mencari sesuatu yang mungkin saja bisa menjadi petunjuk.
.......
Sementara itu, di ruangan lain, tepat di balik dinding kaca, Yomi duduk di sebuah meja, membelakangi Marco mengawasi situasi gymnasium dari monitor. "Sial!" umpatnya, kemudian meraih ponselnya, mengirimkan pesan pada tuannya. —Kucing liar menghabiskan persediaan bahan, tinggal tersisa sarang lebah madu—
"Auh...." terdengar lirih Marco menggeliat dan mulai tersadar.
Yomi membalikkan badan dengan cepat, lalu meraih suntikan yang sudah ia siapkan sejak tadi diatas meja. Langkah Yomi tegas menghampiri Marco, kemudian menyuntikkan sesuatu ke lengan Marco, membuat pria itu kembali terbius. "Kamu akan tetap di sini, sampai aku selesai," bisik Yomi dingin.
............
Di tempat lain,
James melangkah dengan percaya diri melewati lobi Rumah Sakit Forensik, suasananya sunyi dan dingin, hanya terdengar suara langkah kakinya yang berjalan menuju ke arah lift, menekan tombol, dan menunggu beberapa detik sebelum pintu terbuka.
Dia masuk ke dalam lift, menekan tombol lantai 3, dan ruangan mulai bergerak naik. Jack memandang ke cermin di dinding lift, wajahnya terlihat serius dan fokus.
Pintu lift terbuka, Jack melangkah keluar dan langsung menuju ke arah ruangan laboratorium forensik. Dia membuka pintu, dan suara mesin serta cahaya lampu neon menyambutnya.
"Hai, James," sapa seorang teknisi lab yang sedang bekerja di meja kerjanya.
"Hai, Mike. Gimana hasilnya?" sahut James langsung pada tujuannya.
Mike mengangkat kepalanya, "Kau lihat sendiri, aku masih mengujinya, tinggal menunggu langkah terakhir. Mencocokkan dengan sample dari database."
James hampir tak berkedip, menatap monitor komputer yang menampilkan grafik pencocokan DNA. Layar itu menunjukkan progress bar yang perlahan-lahan bergerak, menandakan proses pencocokan sedang berlangsung.
Mike sangat fokus pada pekerjaannya, jari-jarinya bergerak cepat mengetik perintah di keyboard. James memperhatikan grafik yang menampilkan pola-pola DNA, mencoba membaca apa pun yang bisa dia pahami dari sana.
Suasana di laboratorium menjadi sunyi, hanya terdengar suara mesin pendingin dan dentuman lembut dari komputer. James terus menatap monitor, menunggu hasil pencocokan DNA yang bisa mengubah arah investigasi mereka.
Tiba-tiba, monitor menampilkan pesan 'MATCH FOUND' di layar, diikuti dengan data-data yang terkait dengan sampel DNA. Mike mengangkat kepalanya, menatap Jack dengan ekspresi serius. "Kita punya kecocokan, sesuai dengan yang kau harapkan,” ujar Mike dengan senyum puas.
"Binggo!" jerit James hampir melompat karena senang. Pencariannya selama ini, kerumitan kasus yang membuatnya tak pulang beberapa hari, kini mulai menampakkan jalan.
"Tunggu sebentar aku buatkan salinannya!" ujar Mike kembali bekerja.
Mike dengan cepat menekan beberapa tombol, mencetak hasil pencocokan DNA ke dalam bentuk dokumen. James tidak bisa menyembunyikan senyumannya, rasa lega dan harapan baru mulai muncul.
"Ini dia," kata Mike, menyerahkan dokumen cetak kepada James. “Nama Rey Rokas, usia 33.”
James menerima dokumen itu, membaca dengan cepat, matanya memindai informasi yang ada di sana. "Akhirnya, kita punya petunjuk yang solid. Aku harus segera memberitahu senior Sam!” girangnya kemudian berpamitan.
...****************...
Bersambung....
Silakan membantu Rey menyiapkan jawaban, jika polisi berhasil menangkapnya dan bertanya, "Apa yang kau lakukan di bengkel Marco, hingga terlibat perkelahian dengan seorang pria tua?"🤣